DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter L : Revenge will Begin!


__ADS_3

Hal paling utama yang perlu dipersiapkan sebelum pernikahan adalah hati. Gaun-gaun pengantin, dekor, catering atau apalah itu adalah perkara nomor sekian. Karena menurut pendapatku, pernikahan adalah suatu hal yang sakral, sekali seumur hidup. Hati harus siap dibelenggu dengan sesuatu yang bertajuk komitmen. Ironis bukan?


Karena aku belum pernah menikah.


Aku sudah beribu kali menghadiri sebuah pesta pernikahan. Dari kelas electone kampung sampai musik jazz yang berkelas. Sayangnya, posisiku selalu menjadi tamu undangan. Tidak lebih. Aku hanya berkesempatan naik ke panggung sekali untuk bersalaman dengan mempelai, kemudian mengantre berdesakan sambil membawa piring rotan dan tisu, menunggu giliran mengambil seperangkat nasi beserta lauk-pauk.


Jadi, aku tidak mempunyai ekspektasi lebih dalam sebuah pesta pernikahan. Terlebih dalam pernikahan seseorang yang harusnya menjadi milik kita, namun jatuh ke pelukan orang lain. Tak ada yang istimewa. Hanya kepedihan yang mengiris, berbaur dalam derai tawa bahagia tamu undangan.


Kali ini aku membawa misi lain.


“Jam berapa undangannya?” tanya Mas Jono, membuyarkan lamunanku.


“Jam sebelas, Mas,” jawabku singkat.


“Oh, masih lama. Kita nyantai aja ya nyetirnya ...,” kata Mas Jono.


“Iya Mas,” aku mengangguk.


Mobil yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Kota Surabaya. Jalanan terlihat agak ramai menjelang akhir pekan, hari kebebasan bagi kaum profesional. Mereka memilih untuk menghabiskan liburan di luar kota bersama keluarga, pasangan atau bahkan pacar gelap.


Dalam relung hati yang terdalam, sebenarnya timbul rasa bersalah yang tak dapat diungkapkan. Pandangan buruk terhadap Mas Jono punah seketika itu juga. Keramahan Mas Jono dan istrinya membuat kebencian yang tertanam di hati serta-merta meranggas bagai daun jati di musim kemarau. Dengan tulus ikhlas, pasangan itu mengantar ke Malang, yang bahkan tak ada sangkut-pautnya dengan urusan mereka.


“Sampean ndak pulang, Mas Abi?” celetuk Mbak Ida, istri Mas Jono yang mendampingi menyetir. Beberapa kali ia menyodorkan air mineral botol kepada suaminya.


Mbak Ida, wanita muda berkulit putih dan berparas cantik, didukung dengan dandanan yang sedikit berkilau. Mas Jono mempunyai selera bagus dalam memilih perempuan. Padahal, modal Mas Jono bisa dibilang pas-pasan. Secara tampilan, Mas Jono tak lebih baik dariku. Sungguh, suatu prestasi yang membanggakan karena bisa membuat wanita seperti Mbak Ida bertekuk lutut. Kuharap kelak, aku bisa seberuntung dirinya.


Tiba-tiba, petuah emak kembali terngiang di telinga.


“Namanya orang ganteng, mau cari di jalanan juga banyak. Tetapi orang ganteng yang hatinya baik hanya segelintir. Wanita itu melihat pria tidak hanya gantengnya saja. Tapi ...,” emak berpikir sejenak.


“Tapi dari isi dompetnya ya, Mak?” celetukku.


“Iya. Ndak ada wanita yang mau hidup melarat!” kata emak.

__ADS_1


Aku tersenyum sendiri mendengar petuah emak. Itu adalah petuah paling realistis di zaman penuh kepalsuan seperti saat ini. Tak peduli tampang sehancur apa, yang penting isi dompet berbicara.


Mas Jono sudah sukses menerapkan ilmu itu.


“Rencana mau pulang, Mbak. Tapi habis dari Malang saja,” aku menjawab pertanyaan Mbak Ida.


Di sampingku, kulihat Laras yang terkantuk-kantuk. Beberapa kali, kepalanya tanpa sengaja bersandar di bahuku. Ia bagai anak kucing yang lucu, meringkuk manja. Perjalanan ini terasa begitu nyaman buat dia.


Teruslah mengantuk selama perjalanan, Laras! Kamu aman di pundakku.


“Sudah lama kenal sama Laras?” tanya Mbak Ida lagi.


“Sejak masih kecil, Mbak!” aku tersenyum.


“Ooh. Kok nggak pacaran saja?”


Pertanyaan Mbak Ida bagai sebutir peluru yang melesat menusuk jantung. Aku gelagapan mencari oksigen. Untung, Laras masih menikmati tidurnya jadi aku bisa menepis rasa malu.


“Abi itu maunya yang cantik bohay, Dek. Kayak kamu ...,” celetuk Mas Jono.


Apa yang dikatakan Mbak Ida itu kurasa benar. Aku kenal Laras cukup lama, walau tidak berkomunikasi secara intens. Kutelusuri wajah Laras yang sedang dibuai mimpi. Kecantikannya memang begitu alami, jarang tersentuh kosmetik berharga mahal. Kulitnya begitu licin seperti seluncuran anak TK, putih bersih dan tanpa sebutir jerawat pun menyatroni.


Tapi kalau untuk urusan bohay, pemenangnya adalah Dahlia. Gadis itu tidak gemuk, hanya sedikit padat merayap seperti jalur pantura menjelang lebaran. Tak banyak pria dekat dengannya, karena aku yakin, sekali tepis dapat dipastikan akan jatuh terjengkang.


Obrolan hangat terus mengiringi perjalanan, ditemani renyahnya keripik singkong pedas yang dibeli dekat SPBU sebelum berangkat. Obrolan tentang kerinduan pada kampung halaman yang indah, dengan air sungai yang mengalir lambat, udara yang penuh oksigen, serta kicau burung yang sedap didengar.


“Oya, di mana tempat resepsinya?” tanya Mas Jono.


“Di Hotel Tugu, Mas.”


“Oh ya, aku tahu hotel itu. Pernah ada meeting di sana,” kata Mas Jono.


Kami tiba di Malang sekitar pukul setengah sepuluh. Waktu yang lebih dari cukup untuk menyiapkan segala sesuatunya. Kami mampir di sebuah masjid untuk berganti pakaian. Sengaja kupilih baju batik terbaik yang pernah kupunya. Batik yang kubeli langsung dari sebuah butik di Kota Solo. Motifnya perpaduan parang kusumo dan motif batik modern, berwarna putih tulang melambangkan keanggunan dan biru laut yang elegan.

__ADS_1


Beberapa kali mematut diri di depan cermin. Perasaan narsis mulai menginfeksi sedemikian parah. Begitu gagahnya aku memakai batik ini. Sekilas mirip dengan model-model yang ada di majalah. Rambut juga kupoles pomade, dan sedikit semprotan parfum beraroma lembut akan membuat penampilan makin sempurna hari ini.


Sementara, kulihat Laras yang berkilauan diterpa sinar mentari pagi. Subhanallah. Kerudungnya berwarna peach, serasi dengan gamis panjang yang modis, dengan aksen keemasan tampak mewah. Di tangannya tergenggam clutch bag bermotif batik yang senada dengan busananya. Pesona Laras sungguh kinclong bak artis papan atas, memikat setiap mata memandang. Penampilan Laras sukses membuatku terkesima. Ini adalah penampilan terbaik sejak awal aku mengenal Laras.


Aku yakin, kamu akan menyesali semuanya Lusi!


Melihat penampilan kami, bahkan Mas Jono bertepuk tangan, seolah melihat raja dan ratu dari kerajaan antah berantah.


“Waah, kalian sangat serasi. Ganteng dan cantik sekali!” puji Mas Jono.


Seperti biasa, bagi orang yang gila pujian seperti diriku, akan melesat jauh menembus langit. Pujian itu membuat rasa percaya diriku terkatrol di atas normal.


“Tinggal naik ke pelaminan milik sendiri nih!” tambah Mbak Ida.


Laras tersipu-sipu mendengar pujian mereka. Aku tertawa senang. Harapanku tercapai. Paling tidak, aku bisa bersombong ria di hadapan Lusi yang menepis perasaanku. Kutunjukkan padanya, bahwa aku bisa menggandeng perempuan yang memesona seperti Laras.


Maafkan aku yang dulu, Lusi!


“Apa yang kurang Mas Jono?” tanya Laras kepada Mas Jono.


“Siip! Siip! Kamu ndak kalah sama Zaskia Adya Mecca! Seratus wes pokokke...,” puji Mas Tono.


“Kalau aku, Mas?” aku tidak mau kalah minta pendapat.


“Ya, lumayanlah ....,” goda Mas Jono.


Huh!


Setelah semua siap, kami kembali menaiki mobil, menuju hotel tempat resepsi diselenggarakan. Sepanjang perjalanan, aku sudah merasa gugup. Tak dapat kubayangkan apabila bertemu Lusi di pelaminan. Rasa sakit memang masih menyisakan luka. Mungkin luka ini akan terus berbekas sepanjang hidupku. Tapi biarlah. Walau terluka, aku akan membusungkan dada di depan Lusi.


Aku penasaran, pria macam apa yang menyunting Lusi? Kalau ini masalah isi dompet, baiklah! Aku akan menyerah. Isi dompet adalah persaingan kejam, yang akan menghempaskanku di titik terendah.


Balas dendam akan dimulai.

__ADS_1


Revenge will begin!


***


__ADS_2