
Tangan kokoh pria barbar itu masih mencengkeram kerah bajuku, hingga terasa susah bernapas. Untuk sesaat aku merasa begitu kesal, ingin berontak dan marah. Kusadari hal ini sia-sia saja, karena jelas tidak mungkin aku melawan dua orang pria yang secara kasat mata saja berbeda ukuran. Bisa mati konyol digebuk mereka. Baiklah, aku harus mengikuti alur permainannya.
“Iya, saya Abi!” jawabku setengah berbisik.
Masih tak terbayang apa yang akan terjadi setelah aku menyebut nama. Semoga bukan hal buruk. Kalaupun ingin mengambil ponsel atau dompet silakan saja, karena aku sudah mengantisipasi sejak dari kontrakan, untuk tidak membawa uang banyak dan ponsel yang murah. Namun segera kusadari motifnya bukan masalah harta benda. Pasti ada sesuatu yang lebih pribadi.
“Kamu dapat pesan dari Pak Yudi. Nih!” ujar pria itu sambil melayangkan pukulan di perut.
Buuk!
Pukulan dahsyat menghunjam perut, menciptakan rasa nyeri yang hebat. Bahkan aku hampir muntah dibuatnya. Sementara pria lainnya tertawa-tawa di atas penderitaanku. Andai aku punya kekuatan super, sudah kulibas mereka. Sayangnya aku hanya bisa merintih kesakitan.
Pak Yudi? Tentu saja aku mengingat nama ini dengan baik. Pria sombong mantan suami Bu Roffi ini rupanya masih menyimpan bara dendam di dadanya. Padahal, secara teknis aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Bu Roffi. Malahan, aku memutuskan untuk tidak masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Rupanya Pak Yudi masih menyimpan api amarah itu saat dia tahu aku menginap di rumah Bu Roffi. Ternyata benar dugaanku, ini bukan masalah harta.
“Habisi saja dia, Ndut!”
Aku mendengar suara pria yang satu lagi seperti memberi semangat untuk menghabisiku. Sejenak aku berpikir, mungkin ini adalah akhir dari riwayatku. Kalau para pria ini terus memukuli, maka besar kemungkinan akan tinggal nama. Dalam hati aku berdoa, semoga berakhir dalam keadaan khusnul khotimah.
Pria yang dipanggil ‘Ndut’ itu tersenyum sinis, hendak melayangkan satu pukulan lagi ke bagian perut. Ah, menyesal aku tidak pernah ikut latihan bela diri. Baru menyadari kalau pertahanan diri sangat penting di saat seperti ini. Padahal dahulu banyak yang menawari untuk latihan bela diri. Sesal tiada berguna, lebih baik fokus dengan apa yang ada. Nasibku seperti seekor tikus kecil yang dipermainkan kucing sebelum disantap.
Belum sempat si Ndut melayangkan pukulan ke perut, seberkas cahaya motor menyorot tempat kami. Syukurlah, ada motor yang lewat. Kuharap dia bisa memberi pertolongan atau paling tidak bisa menghentikan aksi gila ini. Doaku juga diijabah oleh Allah, motor itu berhenti di tepi trotoar. Dua orang pria yang duduk berboncengan turun, dengan helm yang masih tertutup di kepala, sehingga aku juga tak bisa melihat wajahnya.
“Ada apa ini?” tanya pria yang baru turun dari motor dengan suara tegas.
__ADS_1
Sepertinya dia mulai curiga, saat melihatku terhuyung sambil memegangi perut. Mulutku terkatup, tak berani menjawab pertanyaan pria itu, takutnya si penyerang akan berbuat nekat. Jadi aku memilih memberi isyarat melalui mata bahwa saat ini tengah memerlukan pertolongan.
“Mau apa kamu!” bentak si Ndut tak kalah barbar.
“Cari mati saja kalian!” tambah si penyerang yang satu lagi.
Para pria yang baru turun dari motor itu sama sekali tak menunjukkan rasa takut. Mereka kelihatan tenang, tak terpengaruh oleh ocehan para penyerang barbar itu.
Tanpa membuka helm, salah seorang pria berbicara dengan tegas,” Kami adalah polisi yang sedang berpatroli. Kami mendapat laporan banyak kejadian kriminal di sekitar tempat ini. Jadi jangan macam-macam ya! Kalau kalian aneh-aneh, bisa saja pistol ini meledak di kepala kalian!” kata pria ber-helm itu tegas. Ia membuat gerakan hendak mengeluarkan sesuatu dari balik pinggangnya.
“Pergilah atau kami bawa ke kantor!”
Ancaman yang cukup keren! Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Aku sendiri juga tak menyangka kalau dua orang pria itu adalah polisi yang berpatroli, walaupun agak sangsi karena selama bertahun-tahun tempat ini tak terjamah oleh polisi dan semacamnya.
Pria ber-helm itu membuka helm dan menatapku khawatir.
“Bi, kamu nggak apa-apa? Ngapain kamu malam-malam di sini?” tanya si pria ber-helm.
Tepat seperti dugaanku. Makanya tadi sepertinya aku tidak asing dengan suara yang sengaja dibuat garang. Padahal aslinya suara tidak seperti itu. Ya, aku melihat sosok Andre dan sosok pria satu lagi yang tidak kukenal. Secara fisik, Andre memang tinggi atletis mirip perawakan polisi, jadi wajar saja para penyerang itu keder juga.
“Aku mau ke rumah dosen, Ndre. Makasih ya. Untung kamu datang. Kalau nggak besok namaku sudah terpampang di koran dengan tulisan besar ‘Mahasiswa Tampan Tewas secara Mengenaskan di GOR Kampus’” selorohku dengan penuh kelegaan.
“Iya. Aku kaget banget loh tadi lihat kamu dikeroyok. Kukira kamu mau diperkosa atau diapain. Malam-malam di tempat gelap, kok mencurigakan sekali. Untung aku lewat sini. Aku baru dari kampus, ponselku ketinggalan di kelas.”
__ADS_1
“Diperkosa? Enak aja! Aku masih perawan tau!”
“Haha. Ini aku sama calon kakak iparku, Mas Arbi. Dia kakaknya Inneke. Tadinya aku di rumah Inneke, terus baru nyadar kalau ada yang ketinggalan, jadi aku minta tolong Mas Arbi buat nganterin aku,” terang Andre.
“Ooh, dari rumah mertua? Makasih ya Mas Arbi,” ucapku sambil tersenyum. Pria itu membalas dengan senyuman pula.
“Terus kamu mau kemana nih? Mau lanjut ke rumah dosen atau pulang ke kontrakan?”
“Sepertinya aku harus batalkan kunjungan ke rumah dosen. Perutku sakit banget kena bogem para penjahat tadi. Sumpah sakit banget. Mau berbaring aja sepertinya ....” Aku berkata sambil meringis menahan sakit.
“Astaga! Jangan mati dulu, Bi! Kasian Dahlia. Mau kupanggilkan taksi atau ambulans nih!” celoteh Andre.
Kok dia tahu perihal Dahlia segala ya? Jangan-jangan kisahku ini sudah mengharum di seantero kampus bak kisah Romeo-Juliet?
“Aduh, terserah saja deh. Aku hanya mau ke kontrakan saja!” rintihku.
Rasa sakit di perut bukan main-main. Masih terasa nyeri hingga ulu hati. Baru pertama kali dalam hidupku aku menerima pukulan dahsyat seperti ini. Sekejam-kejam bapak, tak pernah sampai memukulku seperti ini.
“Yo wes, tak anter dulu pakai motor saja! Mas Arbi tunggu di sini yo Mas. Aku tak ngantar perawan satu ini!”
Seperti yang kubilang sebelumnya, masa tugas akhir adalah masa penuh cobaan. Bukan hanya faktor internal, tetapi faktor eksternal juga. Contohnya adalah peristiwa yang terjadi barusan. Apa salahku coba? Aku sudah serapi mungkin menghindari masalah, nyatanya masalah yang mendekati.
Jelas aku sudah menutup kisah yang berkaitan dengan Bu Roffi, tetapi ternyata masih ada saja yang tertinggal. Jengkel rasanya. Gara-gara hal ini, janji bertemu dengan dosen pembimbing jadi batal. Dapat kupastikan Pak Kusumo akan marah, dan mungkin akan lebih susah ditemui. Namun apa dayaku? Perutku rasanya nyeri. Kuharap Pak Kusumo bisa menerima alasan ini.
__ADS_1
***