
Libur tlah tiba ....
Libur tlah tiba ....
Hatiku gembira ....
Klik!
Suara si mungil Tasya Kamila yang sedang bersenandung di televisi seketika terhenti, karena TV kumatikan. Libur semester genap memang telah menghampiri. Perasaan suka-cita sudah bertebaran di seantero kos-kosan sekitar kampus. Sudah jadi tradisi, para mahasiswa kebanyakan menghabiskan waktu liburan untuk pulang ke kampung halaman.
Doni juga sudah mulai berkemas mulai kemarin. Semua baju disumpalkan dalam tas ransel kumalnya. Aku tahu, itu pasti baju-baju kotor yang sudah ditumpuk berhari-hari karena malas dicuci.
Doni adalah spesies terjorok yang pernah kutemui.
“Jadi kamu nggak pulang kampung nih?” tanya Doni sambil menjejalkan lembar-lembar terakhir bajunya. Aroma keringat yang telah mengering , membuat perut mual.
Aku menggeleng. Tak bersemangat.
“Jadi hadir ke pernikahan Lusi?” tanya Doni lagi.
“Nggak tau. Males. Nggak ada gandengan ....,” keluhku.
“Hubungi Andre. Dia akan memberikan solusi yang terbaik buat kamu,” kerling Doni.
Aku menjawab dengan dengusan. Ya, aku tahu Andre punya stok berlimpah untuk urusan perempuan, tetapi tak ada seorang pun yang lolos kualifikasi penilaian. Kami mempunyai stadar yang berbeda dalam menilai perempuan.
Masih ingat Amel?
Menurutku, gadis seksi yang kutemui dalam sebuah pesta itu terlalu agresif. Tak dapat kubayangkan jika berpasangan dengan gadis dominan macam dia. Dapat dipastikan kepala akan berpindah di kaki, dan kaki di kepala.
Kesimpulannya, tak mungkin aku menyewa gadis-gadis koleksi Andre untuk menjadi pendamping di resepsi pernikahan Lusi.
Jadi siapa?
Dahlia?
Seluruh penghuni bumi tak dapat menafikkan kebaikan hati Dahlia. Sayangnya, secara tampilan dia masih belum terlalu berkilau. Aku harus mencari seseorang dengan kilau luar biasa, yang mau sukarela menemaniku berjalan angkuh dengan kepala terdongak di hadapan Lusi.
Ah, sepertinya aku tahu siapa dia ....
***
Sore baru saja beranjak menuju gerbang malam, ketika aku melangkahkan kaki dengan gagah berani, mengetuk pintu sebuah rumah kos bernuansa hijau. Angin semilir deras mengacak rambut, turut merestui usahaku kali ini.
Tok-tok-tok!
Seorang gadis membuka pintu dengan penuh tanda tanya. Ia memakai kacamata tebal, sehingga harus mengernyitkan kening untuk menatapku lekat-lekat.
“Siapa ya?” selidik gadis itu.
“Anu ... anu Mbak,” ucapku ragu-ragu.
“Anu-nya siapa, Mas?” tanya gadis berkacamata itu.
__ADS_1
“Oh, maksud saya. Mmm. Saya ingin bertemu dengan Laras. Apakah ada?”
“Ooh, Mbak Laras. Sebentar ya Mas ...,” gadis itu tersenyum, lalu masuk ke dalam.
Sesuai peraturan yang berlaku, aku menunggu sambil menikmati sore yang temaram di kursi teras. Satu set kursi rotan yang terlihat keren, dipadu dengan pot-pot besar yang ditanami tumbuhan hias gelombang cinta. Sampai sekarang, asal-usul penamaan gelombang cinta ini bagai misteri Segitiga Bermuda bagiku.
Apakah cinta memang harus bergelombang?
Laras menghampiri dengan senyum Monalisa-nya. Kerudung warna coklat susu, dipadu dengan gamis warna senada, membiaskan kecantikan alami, walau wajahnya yang oval nyaris tak tersapu make up. Ada sesuatu yang mendobrak nurani. Hati yang membeku niscaya akan segera mencair karena ini.
“Tumben Mas Abi kesini?” sapa Laras. Dia menempatkan diri di kursi yang letaknya berseberangan dengan kursiku.
“Kebetulan aku tadi dari rumah teman terus mampir kesini,” dustaku.
“Apa kabarnya, Mas?”
“Alhamdulillah, baik bla ... bla ... bla,”
Obrolan berlanjut dengan sediikit basa-basi, sampai akhirnya kami saling terdiam seribu bahasa. Ada rasa canggung yang tak terungkap. Otakku juga terasa buntu, tak mengalir seperti biasanya. Laras juga terdiam, tak tahu harus berkata apa.
“Ras,” akhirnya aku kembali membuka suara.
“Iya, Mas?”
“Hari Sabtu ini kamu ada acara nggak?”
“Belum tahu sih, Mas. Memangnya kenapa?”
Laras terdiam, berusaha mencerna kalimatku. Binar matanya menyiratkan kebimbangan yang tak terucap.
“Pakai acara nginep ya, Mas?” ucapnya kemudian.
“Nggak kok. Kita langsung balik ke Surabaya kalau acara sudah selesai.”
“Hanya kita berdua?”
“Iya.”
Kembali dia terlarut dalam pikiran sendiri. Apakah mungkin ia mempunyai pikiran buruk kepadaku? Sangat disayangkan. Seburuk-buruknya diriku, menghormati wanita adalah hal prinsip yang ditanamkan emak sejak memasuki usia baligh. Tak mungkin aku melakukan hal buruk kepadanya.
“Gimana ya, Mas?” Laras tampak bimbang.
Ayo dong, Ras! Harapku dalam hati.
“Bukannya gimana-gimana sih, Mas. Kalau saya pribadi, sangat percaya sama sampeyan. Wong saya mengenal Mas Abi sejak sampeyan masih suka hujan-hujanan sambil telanjang lari-lari di sawah bersama Pardi,” Laras mengulum senyum.
Baru pertama kali ini aku merasa sangat malu teringat masa kecil konyol itu. Kenangan saat telanjang bermain hujan-hujanan bersama Pardi ternyata masih lekat di otaknya. Untunglah, dia melihatku telanjang pas masih bocah.
Coba kalau sekarang ....
“Jadi gimana, Ras?” tanyaku meminta kepastian.
“Masalahnya kalau dilihat orang kan nggak baik, Mas. Kita bukan muhrim, terus jalan ke luar kota berdua-dua. Wah, bisa heboh nanti teman-teman di kost-ku.”
__ADS_1
Aku mencoba memahami kalimat Laras. Kalau ditelisik lebih dalam, memang benar. Bagaimanapun aku harus menjaga nama baik Laras. Tak boleh mengajak jalan berdua sembarangan. Yang namanya kabar burung, pasti akan cepat menyebar seiiring dengan hembusan angin.
Aku tergugu dalam rasa putus asa. Harapanku untuk bisa mengajak Laras di pesta pernikahan Lusi sepertinya hanya angan yang sia-sia belaka.
“Kalau aku ngajak Mas Jono gimana, Mas?” tanya Laras lagi.
Jono?
Mendengar nama ‘Jono’ rasanya seperti ada bom atom yang meledak di dadaku. Mengapa harus ada Jono diantara kami?
Aku hanya terdiam. Tak mengiyakan.
“Pasti Mas Abi kemarin marah gara-gara Mas Jono ya? Mas Jono itu beneran sepupuku lho, Mas. Kalau nggak percaya sampeyan boleh telepon bapakku. Mas Jono itu putranya budhe Tarmini, kakaknya bapak,” terangnya.
“Ndak kok. Aku ndak marah,” kilahku.
“Mas Jono itu juga baru saja menikah dengan Mbak Ida. Sampeyan kok mikir macem-macem? Jangan cemburu to Mas? Hehe ....”
Sungguh, mukaku langsung memerah bak kepiting rebus. Sayangnya aku tak bisa mengelak. Apa yang dikatakan Larasa bagai serangan telak langsung menohok ke ulu hati. Secara tidak langsung, Laras tahu bahwa aku menyukainya.
Duh, malunya aku!
“Sudahlah, nanti sama Mas Jono saja ya? Nanti Mas Jono biar ngajak Mbak Ida jalan sekalian ke Malang. Mereka punya mobil kok. Jadi nanti kita berangkatnya nyantai. Nanti biar aku yang ngomong. Pasti Mas Jono setuju. Nanti pas di resepsi nikahan temannya Mas Abi, baru kita masuk berdua. Biar Mas Jono dan Mbak Ida bulan madu sendiri. Gitu aja ya, Mas?”
Terungkap sudah misteri si Jono. Selama ini aku telah berburuk sangka pada Laras. Kelegaan merebak memenuhi rongga ada.
Diam-diam aku mempertimbangkan tawaran Laras. Tawarannya memang menarik. Jiwa gratisan ini kembali menggeliat kegirangan. Kalau menggunakan mobil Mas Jono, berarti bisa hemat biaya transportasi. Mungkin nanti mereka akan kuajak makan saja di perjalanan. Aku tak punya pilihan lain selain mengiyakan tawaran Laras.
“Tapi nanti pacarnya Mas Abi nggak marah?” pancing Laras.
“Pacar?”
“Mbak-mbak yang pernah sampeyan ajak ke sini itu lho! Sepertinya serasi banget sama Mas Abi,” ujar Laras sambil tersenyum.
“Ooh, Dahlia. Dia cuma teman kok,” senyumku.
Laras membalas senyum penuh arti. Kali ini lebih manis, Monalisa kalah jauh. Setiap melihat senyum Laras, perasaan menjadi lebih tenang. Bukan hanya Menara Eiffel yang runtuh, tetapi Patung Liberty di New York juga akan tumbang.
“Nanti dandan yang paling cantik ya, Ras ...,” godaku.
“Beres! Apa sih yang nggak buat Mas Abi?”
Dhuarrr!!
Meledak bom atom untuk kedua kalinya di dadaku mendengar itu. Hiroshima dan Nagasaki seketika hancur. Tetiba aku merasa sebagai pria paling beruntung sedunia. Aku ingin Laras mengulangi kata-katanya itu.
“Apa Ras?” tanyaku.
“Nggak apa-apa!”
Aku tersenyum penuh kemenangan.
***
__ADS_1