DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXVIII : Tamu Larut Malam


__ADS_3

Hari berganti hari, pekan berganti pekan. Tak terasa hampir satu bulan aku berkecimpung di dunia kerja. Pada awalnya memang agak sulit untuk mengatur jadwal, kini aku sudah mulai terbiasa. Tak ada lagi cerita harus berlari-lari mengejar angkutan karyawan, karena setiap menit sudah kuhitung dengan rapi. Aku berhasil menggunakan waktu dengan efisien. Demikian juga dengan tugas di kantor. Hampir semuanya dapat terselesaikan dengan baik. Kali ini ilmu manajemenku berjalan sesuai rencana.


Tentu saja, hal ini mengundang decak kagum Bu Roffi. Dalam usia yang belia, aku berhasil mempercundangi para senior yang lebih banyak merutuk daripada bekerja. Bahkan terang-terangan, dalam berbagai kesempatan, Bu Roffi memujiku di depan rapat. Wanita itu berbicara dengan lantang penuh wibawa di hadapan para bawahannya.


“Saya sangat bangga dengan Mas Abimanyu, dia masih muda tetapi menunjukkan dedikasi dan etos kerja yang tinggi bagi perusahaan kita. Saya harap, hal ini bisa menjadi teladan bagi semuanya. Dan kita juga harus berani mengakui, ternyata masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Kita harus banyak berterima kasih pada Mas Abi,” ucap Bu Roffi.


Mendengar segala pujian itu, tidak serta-merta membuatku mendongakkan kepala. Malahan aku lebih banyak tertunduk malu, karena beberapa senior terlihat kurang senang dengan pujian itu. Begitulah, ketika penyakit hati tumbuh subur, maka hati akan dibutakan saat kebenaran dipertontonkan di depan mata.


Aku sendiri tak mengerti apa maksud Bu Roffi memuji habis-habisan di depan karyawan lain. Mungkin, dia ingin melecut semangat karyawan lain yang selama ini melempem bagai kerupuk yang dibiarkan di ruang terbuka semalaman. Atau mungkin ada maksud lain di balik itu?


Entahlah.


Pada suatu waktu, Bu Roffi kembali memanggilku di ruangannya yang berarorama semerbak bunga melati. Sebenarnya aku tak terlalu suka aroma ini, alih-alih harum, malah berkesan seram. Seperti biasa, aku lebih banyak menunduk malu, ganteng, dan tak banyak bergerak. Tatapan Bu Roffi setajam anak panah yang langsung menghunjam jantungku.


“Aku nggak sabar nunggu kamu lulus, Bi.” Bu Roffi berkata sambil tersenyum penuh arti.


“Doakan saja segera ya, Bu!” Aku memohon.


“Pasti itu, Bi. Nanti kalau kamu lulus, jangan melamar kerja di tempat lain ya. Namamu akan kurekomendasikan pada direksi. Pasti lolos. Bahkan nanti kamu akan ditanyai berapa jumlah gaji yang kamu mau, pasti akan dikabulkan. Tak banyak anak muda yang mempunyai intregasi kuat dan berdedikasi tinggi sepertimu!” Lagi-lagi Bu Roffi memuji, membuat aku semakin membubung tinggi.


Aku takut segala pujian itu akan melalaikan, dan ujung-ujungnya akan menghempaskan ke bawah. Ada rasa bangga sekaligus senang.


Bayangkan!


Aku belum lulus, tetapi sudah dipesan jauh-jauh hari sebelumnya. Sekilas, aku merasa seperti barang berharga yang harus di-indent dulu sebelum dibeli. Tak apa, ini kebanggaan tersendiri.


Siang itu, setelah aku menyelesaikan salat dan makan siang, aku sudah bersiap di depan komputer untuk bekerja. Padahal beberapa karyawan lain lebih suka mengobrol, sambil bermain game solitaire atau mahjong di komputer. Jelas tak boleh kutiru, karena ini budaya yang kurang bagus. Tak peduli mereka menjuluki mencari muka atau sok rajin. Aku hanya berusaha patuh pada peraturan.

__ADS_1


“Percuma kamu seperti itu! Gaji di sini nggak seberapa tapi kerjaan berat. Jadi lebih baik santai dulu. Lagian Bu Roffi kan nggak ngawasin kita,” celoteh Pak Imron sambil menyeruput kopinya.


Untuk mencari aman, lebih baik aku tidak menanggapi. Lebih baik fokus dengan pekerjaanku sendiri tanpa peduli dengan omongan Pak Imron. Di sini, aku memang tidak mendapatkan gaji, tetapi bukan itu yang kukejar. Banyak pengalaman dan ilmu yang harus kugali-gali dalam di sini, agar nantinya tidak kaget saat mengarungi dunia kerja yang sebenarnya. Tak akan kusia-siakan waktu barang sedetik, apalagi harus mengurusi orang-orang dengan pola pikir negatif seperti Pak Imron.


Satu-satunya efek negatif yang kurasakan setelah berkecimpung di dunia kerja ini, aku jadi lebih mudah lelah. Pulang kerja, aku sudah tidak ada energi lagi untuk berkumpul dengan teman-teman. Biasanya setelah mandi, makan, salat, langsung beranjak tidur. Benar-benar tidak ada waktu bersosialisasi dengan dunia sekitar.


Kadang kalau ada waktu lebih, aku menelepon emak, hanya sekedar menanyakan kabar dan memastikan bahwa beliau baik-baik.


“Nitip salam sama Mbak Dahlia kalau ketemu ya, Bi!” ujar emak.


“Sudah jarang ketemu, Mak. Aku sekarang praktik kerja, pulangnya sudah malam, cape sampai kontrakan, langsung tidur.” Aku beralasan.


“Nggak pernah teleponan?”


“Nggak pernah, Mak. Jarang.”


“Sama Laras juga nggak pernah?”


“Ya sudah. Nggak apa-apa. Jaga kesehatan yo Bi! Jangan lupa minum jamu kunyit kalau ada,” pesan emak.


“Siap Mak!”


Perkataan emak membuat aku teringat dengan Dahlia. Bagaimana kabarnya? Apakah dietnya berhasil? Satu lagi yang kuingat, hutang-hutangku sudah menumpuk pada Dahlia. Rasanya tidak enak kalau bertemu dengannya, atau pura-pura menelepon tapi masih punya tanggungan hutang. Jadi lebih aku biarkan saja. Lebih baik aku menabung dahulu agar bisa membayar lunas hutang-hutangku padanya.


Semoga Allah memberi Dahlia lebih banyak rezeki yang berlimpah, agar aku tak kebingungan bila membutuhkan suntikan dana segar.


Mata ini sudah bersiap terpejam ketika tiba-tiba pintu kamar diketuk. Pasti Doni. Mengapa selalu begitu? Tidak bisakah bertamunya ditunda besok saja? Saat ini aku benar-benar butuh istirahat.

__ADS_1


“Apa sih Don?” ujarku dengan sedikit jengkel.


“Ada yang nyari tuh!” jawab Doni.


Aku membuka layar ponsel, terlihat waktu menunjukkan pukul 22.12. Sungguh waktu yang tidak tepat untuk bertamu. Aku yakin, si tamu ini tidak pernah diajari etika bertamu. Jam 21.00 adalah batas akhir bertamu.


“Bilang aja aku udah tidur, Don!”


“Kasianlah, Bi. Cewek loh!” kata Doni lagi.


Ha? Cewek?


Malam-malam begini ada perempuan bertamu? Aku menerka-nerka, siapa perempuan yang nekat mencariku larut malam begini? Kuharap kakinya masih menginjak tanah.


“Siapa?” tanyaku lagi.


“Aku nggak nanya namanya sih. Belum pernah lihat juga sepertinya.” Doni menjelaskan.


Tak punya pilihan lain, kecuali menemuinya. Mengingat wajah berantakan, aku harus mencuci muka agar terlihat lebih segar. Apalagi tamunya seorang perempuan, tidak boleh tampil asal-asalan. Kubasahi rambut dengan sedikit air agar tak terkesan baru bangun tidur.


Penasaran juga, siapa yang bertamu selarut ini. Apalagi seorang perempuan. Waktu selarut ini biasanya mereka sudah terlelap dalam mimpinya. Mungkin kalau pria lebih sering begadang, ada saja topik yang dibicarakan sampai larut malam. Apalagi kalau ditemani kopi, gaple atau rokok. Sampai dini hari pun pasti kuat untuk urusan yang satu ini.


Aku temui tamu perempuan yang sepertinya tak asing lagi. Wajahnya sendu, sedikit pucat dengan riasan tipis tersaput. Agak terkejut aku melihatnya. Tak biasanya ia datang di kontrakan. Firasatku mengatakan ada hal tidak baik yang terjadi. Ingin kupersilakan duduk di dalam, tetapi tidak enak. Sungguh tidak etis memasukkan wanita malam-malam di dalam lingkungan kontrakan.


“Mau duduk di dalam?” tawarku berbasa-basi.


“Di sini saja!” Ia menolak.

__ADS_1


Syukurlah!


***


__ADS_2