DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XLVIII : Welcome My Independence Day!


__ADS_3

Hari-hari penuh perjuangan terus bergulir menapaki waktu. Dengan bersemangat kulingkari angka-angka di kalender, berharap UAS segera usai. Berakhirnya UAS adalah suatu kebebasan tersendiri buatku. Sensasi yang ditimbulkan terasa seperti narapidana yang divonis hukuman gantung, kemudian dibebaskan menjelang ekseskusi mati. Selamat tinggal literatur-literatur tebal! Selamat datang liburan ceria!


Welcome my independence day!


Hari terakhir ujian, mendadak semangat meluap-luap. Beberapa hari sebelumnya telah kulalui dengan performa nyaris sempurna. Soal-soal ujian kubabat habis tanpa sisa, dengan probabilitas 90 % akan mendapatkan nilai A di setiap mata kuliah.


Semoga.


Terkadang fakta tak seindah harapan. Kalaupun meleset, semoga tidak terlalu jauh, sehingga IPK juga tidak terseok-seok. Besar harapan, bisa lulus dengan predikat cum laude, sehingga bisa mempersembahkan keberhasilan ini pada emak dan Weni. Hanya mereka motivasi terbesar dalam hidup.


Setelah ujian akhir ini usai, maka akan lebih fokus mengerjakan Tugas Akhir. Aku sedang memilah dan memilih topik yang hendak kuangkat menjadi sebuah analisis yang rumit. Referensi di perpustakaan sangat berlimpah, hanya otakku yang beku belum mampu mencerna semua seluk-beluk tugas akhir. Masih blank, seolah anak bau kencur yang baru terjun di dunia perkuliahan.


Teeeet!


Bel tanda berakhirnya waktu ujian telah berbunyi. Ini artinya aku akan melepas belenggu yang mengekang jiwa-raga selama satu pekan ini. Dengan langkah riang, akan kurayakan kebebasan kali ini dengan makan sate madura di kantin pusat yang letaknya bersebelahan dengan perpustakaan. Rasa sate ini sudah tersohor di penjuru kampus. Tiada lawan dan tiada banding!


“Aku ikuuut!” Darwis tiba-tiba muncul begitu saja. Dari mana dia muncul? Perasaan tadi tak ada siapa-siapa di belakangku?


Duh, mengapa jelangkung satu ini selalu ada?


“Aku sekalian mau ke perpustakaan lho!” kataku.


“Iya. Aku juga mau kesana. Pasti mau cari referensi buat TA kan?” tebaknya.


“Iya. Kamu sudah dapat?”


“Belum sih. Masih mau lihat-lihat. Aku pengennya sih analisis pengujian beberapa logam gitu,” ujar Darwis.


Aku mencibir dalam hati. Analisis pengujian logam? Nilai mekanika teknik saja merangkak malu-malu, mau sok-sok menguji logam. Walaupun begitu, aku tetap menghargai pilihannya.


“Baguslah,” aku tak banyak berkomentar.


Sejujurnya, aku akan mengajak Dahlia makan sate bersama di kantin. Sekalian mengucapkan banyak terima kasih kepadanya karena telah banyak berperan besar dalam lembar-lembar hidupku yang mengenaskan belakangan ini.


Sayangnya niat ini terpaksa kuurungkan sebab Darwis mengekorku. Padahal tadi aku sudah menyelinap diam-diam agar lepas dari pandangannya. Sengaja aku berjalan lewat koridor dekat kamar mandi. Tahu-tahu saja dia muncul di belakangku.


Dasar jelangkung!


Dua porsi sate dengan aroma bumbu yang menggelitik hidung tersaji cepat. Daging ayam yang coklat kekuningan, dengan noda arang di sana-sini, berpadu dengan gurihnya bumbu kacang dan irisan bawang merah. Nafsuku bergejolak ketika sate terhidang. Hampir saja lepas kendali, makan dengan tusuknya sekalian!


“Coba ada Dahlia di sini,” celetuk Darwis sambil menikmati tusuk demi tusuk sate yang terhidang di depannya. Keringat bercucuran saat menyantap makanan itu.


“Memang kenapa kalau ada Dahlia?” pancingku.

__ADS_1


“Ada yang bayarin kita lah!” jawabnya.


Sudah kuduga.


Ya, jiwa gratisanku sebenarnya juga liar tak terkendali. Walaupun begitu, aku masih punya batasan untuk tidak merendahkan harga diri. Aku masih bisa berbasa-basi untuk pura-pura mentraktir, atau menolak traktiran. Sayangnya Darwis adalah contoh manusia yang sudah menggadaikan harga diri demi seporsi makanan gratisan. Dia akan berterus terang, to the point, apabila dia minta ditraktir.


Aku tidak mau seperti dia.


“Rencana liburan semester ini kemana?” tanya Darwis.


“Mau pulang sih. Tapi sebelum pulang aku mau ke Malang terlebih dahulu. Kamu dapat undangan nggak dari Lusi? Dia mau nikah lho!” jawabku.


Ada rasa pedih saat mengatakan bab menikah ini di hadapan Darwis. Buru-buru kusembunyikan rasa galauku, pura-pura tegar di hadapannya.


“Lusi menikah? Hancur lebur dong dirimu!” seringai Darwis. Begitu puas dia berdansa di atas lukaku.


Kurang ajar!


“Nggak biasa aja. Berarti kan bukan jodoh! Lagian aku masih muda. Mau fokus di karir,” aku berdalih.


“Mukamu tuh nggak bisa bohongin aku, Bi. Kamu kan sudah mengincar dia sejak semester satu,” lanjut Darwis.


Aku terdiam. Apa yang dikatakan Darwis memang benar. Tetap saja aku keukeuh di hadapannya, bahwa semua akan baik-baik saja. Tak sudi menampakkan kelemahan diriku.


“Pantesan kamu galau kemarin pas kemah di Malang. Ini toh penyebabnya. Haha. Abi..Abi!” tawa Darwis.


Nada ketawanya sungguh tidak enak di dengar. Penuh pelecehan dan merendahkan harkat martabatku. Andai bukan di kantin, maka akan kucolok mata Darwis dengan tusuk sate!


“Sudah tidak usah dipikirin. Perempuan emang gitu. Kita udah setia, banting-banting harga diri, tau-tau ditinggal menikah. Cari yang lain saja! Banyak kok cewek. Siapa nama tetanggamu yang telepon tempo hari?” ulas Darwis.


Skak mat!


Aku hanya terdiam mendengar ceramah tak bermutu dari Darwis. Sungguh, kalimat-kalimat nasihat itu tak layak terucap darinya. Sejauh yang kutahu, dia adalah jomblo yang lebih mengenaskan dariku. Pernah ditolak Diana, dan entah berapa lusin cewek lagi menepiskan perasaannya.


Drrrttt!


Drrrttt!


Ponsel Darwis bergetar. Segera ia mengangkat dan menjawab dengan agak ragu-ragu. Rupanya dia merasa tidak nyaman dengan kehadiranku bersamanya.


“Halo,” sapa Darwis dengan nada suara aneh.


Raut muka Darwis terlihat gelisah.

__ADS_1


“Oh iya. Aku-aku ... aku sedang ini ... anu ... aku sedang sama temanku. Eh, nanti telepon lagi saja ya? Atau nanti biar aku yang meneleponmu,” ucap Darwis takut-takut. Buru-buru ia matikan panggilan telepon itu.


“Dari siapa?” tanyaku antusias.


“Teman ....”


“Siapa?” kejarku.


“Teman satu kost kok. Ngajak jalan.”


Aku tak percaya ucapannya.


Kecurigaan menyusupi ruang-ruang dalam otakku. Jelas aku mencium aroma dusta di balik bola matanya. Aku memang tidak pernah belajar ilmu psikologi, tetapi paham apabila seseorang sengaja berbohong atau menutupi kebenaran.


Darwis baru saja melakukan itu.


Tentu saja, tidak mungkin memaksanya untuk berterus terang, karena bagaimanapun itu adalah ranah privasi yang harus aku hormati. Walaupun kami bersahabat cukup dekat, masih ada batasan privasi masing-masing yang tak boleh dilanggar. Jadi, tak ada alasan untuk merisaukannya.


Selesai makan siang, kami beranjak ke perpustakaan pusat. Gedung berlantai lima dengan cat berwarna marun itu terlihat menyolok di antara gedung-gedung perkuliahan yang megah berjajar di sekitarnya. Desain juga unik, bukan seperti gedung perpustakaan pada umumnya. Letak juga pas di tengah-tengah kompleks kampus, sehingga menjadi salah satu ikon kampus yang cukup menarik.


Dengan menggunakan lift, kami tiba di lantai empat, tempat di mana kumpulan tugas akhir diarsipkan dengan rapi. Siang itu, tak banyak pengunjung di perpustakaan. Mungkin euforia liburan sudah bergaung di seluruh penjuru kampus, jadi para mahasiwa sudah bosan berlama-lama di area ini.


Akupun sebenarnya juga begitu. Ingin segera melangkah pulang ke kontrakan, dan membayar lunas segala lelah yang ditimbulkan sepekan sebelumnya. Lelah fisik dan mental. Ingin segera tenggelam dalam sarung legendaris, memejamkan mata, mengeluarkan radio bututku dan mendengarkan musik romantis sampai pagi menjelang.


Tak boleh seorang pun mengganggu.


“Sudah ada ide?” tanya Darwis sambil membuka-buka koleksi tugas akhir yang dibalut debu karena jarang dibuka.


“Aku tidak bisa konsentrasi,” jawabku jujur.


“Sama. Aku hanya pengen liburan untuk saat ini,” sambung Darwis.


“Terus ngapain kita kesini ya?” aku menutup buku tugas akhir yang kubuka.


“Lah, aku kan ngikut dirimu saja!”


“Makanya nggak usah ikut-ikutan! Jangan-jangan aku nyebur sumur, kamu ikut juga. Aku mau pulang!”


Kesimpulannya adalah, kunjungan ke perpustakaan kali ini sungguh-sungguh tidak berfaedah. Hampir satu jam kami hanya lontang-lantung tak berguna, mengitari dari satu rak ke rak yang lain tanpa tujuan jelas. Entahlah, pikiranku terpecah kemana-mana. Tidak bisa fokus.


Mungkin merindukan kasih sayang.


***

__ADS_1


__ADS_2