
Sinar matahari hangat menerobos masuk melalui jendela kamar. Aku menghirup oksigen dalam-dalam, memenuhi rongga dada. Sungguh berbeda udara kampung dengan udara Surabaya. Di sini masih banyak pepohonan, sebagai penghasil oksigen yang berlimpah. Tak ada pabrik atau kendaraan bermotor yang meracuni udara.
Lihatlah itu!
Burung-burung kutilang bebas beterbangan di dahan-dahan pohon mangga. Sementara lenguhan sapi terdengar dari kandang belakang rumah.
Lalu nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?
“Biiiii..! Biiii...!” teriak emak dari dapur.
“Iya, Mak!” buru-buru aku menghampiri emak yang sedang mengiris bawang merah. Kulihat beliau berulang kali mengusap matanya yang berair.
Ah, dasar bawang merah!
“Bantuin bapakmu kasi minum sapi dulu, Bi!”
“Sarapannya belum ada to Mak?”
“Sudah sana dulu! Sebentar lagi sarapannya!”
Bagiku, perintah emak adalah sabda ratu yang tak bisa dibantah. Aku segera menuju kandang sapi di belakang rumah. Bapak mempunyai tiga ekor sapi. Dua betina dan satu jantan. Bagi kami, sapi serupa dengan investasi yang tak bernilai harganya. Di bulan haji, sapi akan laku terjual dengan harga lumayan tinggi. Uang penjualan akan ditabung oleh bapak untuk biaya kuliahku dan biaya sekolah Weni.
Kadang emak juga merajuk ingin dibelikan kalung supaya sama dengan tetangga-tetangga lain. Tetapi dengan tegas bapak menolak.
“Buat apa to? Mereka pakai mbok ya biarin aja! Mending uangnya dipakai yang lain,” kata bapak suatu hari.
Ia sedang leyeh-leyeh sambil mendengarkan siaran wayang kulit di RRI.
“Emas kan bisa dijual lagi to Pak!” jawab emak.
“Sudahlah. Nanti kalau ada rezeki tak belikan. Saat ini yang paling penting kan sekolahnya anak-anak”
Emak terdiam. Belum pernah kulihat sekalipun emak membantah perkataan bapak. Beliau dibesarkan dalam tradisi Jawa yang kuat, yang memegang prinsip unggah-ungguh yang begitu kental. Bagi beliau, menghargai suami adalah segalanya.
Sungguh, itulah yang kemudian menjadi mindset buat aku. Aku selalu mengharapkan seorang wanita yang tangguh, namun punya adab yang baik terhadap suaminya.
Seperti emak.
Tak lama, akupun bisa menikmati rawon spesial buatan emak. Luar biasa pokoknya kalau di rumah. Inilah saat-saat melakukan perbaikan gizi. Setelah berhari-hari dihajar makan mi instant di Surabaya. Mendadak masakan di rumah menjadi istimewa. Emak merasa sedih kalau aku pulang, dan melihat badanku kurus. Beliau mengira aku jarang makan enak.
Padahal memang iya, Mak!
Menurutku, emak adalah chef yang terhebat yang pernah aku temui. Aku sudah mencoba rawon se-Surabaya, tetapi rasanya tidak ada yang mengalahkan rasa rawon buatan emak. Kuahnya hitam kental, dipadu dengan kecambah dan telur asin yang menggoda. Nasi satu bakul bisa habis karena ini. Tak hanya rawon, masakan apapun yang diolah emak rasanya begitu sempurna. Kalau lebih seksi sedikit, kurasa emak akan setara dengan Chef Farah Quinn.
Sehabis makan rawon yang fenomenal itu, aku dipanggil emak. Beliau menyerahkan sebungkus plastik rawon kepadaku.
“Tolong antarkan ke Pak Turonggo ya!”
“Pak Turonggo yang mana, Mak?”
“Yang rumahnya bersebelahan dengan balai desa, cat rumahnya warna hijau,” ujar emak.
__ADS_1
“Oh, yang temannya bapak di sawah itu ya?” tanyaku.
Tiba-tiba aku teringat seraut wajah garang dengan kumis melintang di atas bibirnya. Itulah Pak Turonggo. Dulu waktu aku kecil, Pak Turonggo ini sering membantuku mencarikan kumbang emas di sawah.
Segera aku meminjam sepeda motor butut milik bapak untuk mengantar rawon ke rumah Pak Turonggo. Menurutku ini tak layak disebut sepeda motor. Barang ini sudah layak masuk museum daripada dipakai untuk kendaraan. Tetapi bapak sangat sayang dengan sepeda motor ini. Pernah suatu kali emak menyuruh untuk menjual motor itu. Tetapi bapak menolak mentah-mentah. Beliau bilang, sepeda motor ini adalah simbol perjuangan beliau di masa lalu. Jadi tak boleh dijual.
Okelah. Itu adalah hak prerogatif bapak untuk tidak menjual sepeda motor kesayangannya.
Sesampai di rumah Pak Turonggo, aku disambut oleh Pak Turonggo sendiri. Sebenarnya aku ingin cepat pulang tetapi beliau menyuruh duduk dulu. Bahkan Bu Turonggo membuatkan kopi hitam yang kental.
Biasanya aku tidak pernah minum kopi hitam seperti ini. Aku lebih suka kopi yang dicampur krim, sehingga rasanya tidak begitu kuat. Tetapi karena menghormati tuan rumah, aku minum juga kopi itu.
“Ngopi to?” tanya Pak Turonggo.
“Kadang-kadang Pak,” jawabku segan.
“Mosok laki kok nggak ngopi! Gimana kuliahmu?”
“Alhamdulillah. Lancar.”
Pak Turonggo mengambil sebatang rokok. Ia mulai menghisapnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya ke udara. Aku sebetulnya sangat terganggu dengan ini, tetapi harus menjaga adab di hadapan beliau.
“Jangan ngerokok dulu kalau belum kerja,” ujarnya lagi.
“Nggeh, Pak!”
“Sudah punya pacar?”
“Belum”
Pak Turonggo manggut-manggut sambil tersenyum. Sepertinya ada yang disembunyikan di balik senyuman itu. Aku tidak pernah belajar ilmu psikologi, tetapi tentu saja aku paham arti senyuman itu.
“Laras! Ini lho ada Mas Abi baru datang dari Surabaya!” tiba-tiba Pak Turonggo memanggil dengan lantang.
“Iya pak!” terdengar suara lembut dari dalam rumah.
Seorang gadis berparas manis tiba-tiba keluar dari dalam rumah. Pakaiannya sederhana, dengan kerudung warna merah jambu.
Masya Allah!
Gadis itu berparas mempesona. Kulitnya putih bersih. Matanya melirik malu-malu.
Seperti biasa, akulah yang kelihatan canggung karena tak biasa menghadapi seorang perempuan.
Tapi ingatanku tiba-tiba terlempar ke masa silam. Saat kanak-kanak, aku pernah melihatnya beberapa kali. Aku masih ingat gadis ini. Namanya Larasati. Dia pemalu dan tidak banyak bicara. Seolah kupu-kupu, kini ia bermetamorfosis menjadi begitu sempurna. Pesona Lusi menjadi terabaikan seketika itu juga.
Sesaat lamanya aku seperti terhipnotis.
“Ini Larasati. Masih ingat kan? Kan dulu bapak pernah mengajak ke sawah juga.”
“Iya Pak. Saya masih ingat.”
__ADS_1
Larasati duduk di samping bapaknya dengan malu-malu. Senyumnya tersimpan rapi di balik bibirnya yang terkatup rapat.
Entah sengaja atau tidak, Pak Turonggo tiba-tiba meninggalkan kami berdua.
“Sebentar ya, aku tak lihat sapi-sapi dulu”
Aku mengangguk.
Untuk beberapa lama, kami saling diam. Suasananya sungguh canggung. Otakku serasa beku, tidak bisa berpikir apa-apa. Penyakit lamaku kambuh apabila berhadapan dengan perempuan. Aku kehilangan kata-kata. Mendadak mulut terkatup rapat.
“Kapan datang dari Surabaya, Mas?” tanya Laras memecah kebekuan di antara kami.
Waduh! Kalah satu langkah lagi nih!
“Tadi malam, Ras. Kamu sekolah di mana sekarang?”
“Aku ndak kuliah, Mas. Kata bapak aku ikut kursus saja. Toh sekolah tinggi-tinggi nanti aku kembalinya ke dapur juga,” Laras menerangkan.
“Kursus apa, Ras?”
“Kursus menjahit. Alhamdulillah, belum lulus kursus sudah ada beberapa yang minta tolong dijahitkan.”
“Oh, bagus itu!”
Mendadak aku teringat beberapa celanaku yang robek di rumah.
Dalam hati, aku merasa sangat kasihan dengan gadis ini. Tetapi rata-rata pola pikir orang di kampungku memang begitu. Tidak banyak orangtua yang anaknya kuliah di luar kota. Mereka tidak menganggap terlalu penting pendidikan untuk anaknya. Terutama perempuan. Sebagian mereka malah memilih menikahkan anaknya di usia muda.
Diam-diam aku bersyukur mempunyai orangtua seperti bapak dan emak. Beliau memang orang kampung, sama seperti yang lain. Tetapi aku harus mengakui bahwa pemikiran mereka selangkah lebih maju. Bapak tidak ingin anak-anaknya hidup susah seperti mereka.
Aku permisi pulang, ketika di antara kami benar-benar kehabisan kata. Tak banyak yang kami obrolkan. Hanya bertanya keadaan masing-masing. Tak juga kami bertukar nomor telepon. Aku terlalu malu untuk minta nomornya.
Emang aku cowok apaan?
“Sering-sering mampir ya?” ujar Pak Turonggo.
“Insya Allah, Pak!”
“Sampaikan salamku buat emak dan bapakmu.”
“Nggeh, Pak”
Dengan perasaan berbunga-bunga aku mengendarai motor kembali ke rumah. Wajah gadis itu mulai bergentayangan menghantui pikiranku.
Duh, Larasati binti Turonggo!
Sebenarnya aku tidak ingin memikirkannya. Tetapi kok wajahnya menari-nari di pikiranku? Lalu tiba-tiba seraut wajah Lusi yang berlesung pipit juga muncul tanpa diundang?
Apa lagi ini?
Apakah aku berbakat jadi playboy?
__ADS_1
Tentu saja tidak. Aku saja yang berlebihan!
***