DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LVI : Train to Surabaya


__ADS_3

Liburan berjalan cepat, nyaris tak ada makna. Apabila dihitung secara persentase, maka dapat diuraikan sebagai berikut : enam puluh persen waktu liburan kugunakan untuk tidur, lima belas persen untuk membantu emak, dua puluh persen untuk makan, dan lima persen untuk galau!


Mengapa galau?


Pertama, rasa kesepian yang menghebat memaksaku untuk lebih sering berkelana ke alam khayal daripada ke dunia yang sebenarnya. Kedua, kerinduan terhadap Surabaya dan segala isinya juga turut memicu kegalauan.


Yah, kadang manusia bisa dikategorikan makhluk Tuhan yang aneh. Waktu di Surabaya, besar keinginan untuk segera menghabiskan libur di kampung halaman agar terbebas dari himpitan beban kuliah yang menggunung. Sesampai di kampung halaman, malah ingin segera kembali ke Surabaya.


Terus maunya apa?


Untunglah, akhir pekan ini kami punya rencana untuk mencari nuansa lain dengan liburan ke luar kota. Mendengar kata liburan ke luar kota, mungkin sebagian orang berpikir harus mengeluarkan banyak uang dan bergelimang kemewahan. Adapula yang berpikir bahwa liburan identik dengan menginap di hotel bintang lima, makan di restoran untuk mencicipi kuliner aneh-aneh, atau jalan-jalan ke wahana wisata.


Bagi aku, liburan adalah berbaring seharian sambil mengamati cicak kawin!


Sehari sebelum hari H, emak telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan jelimet. Beberapa lembar pakaian sudah dilipat rapi, disusun dalam tas. Emak memilih gamis-gamis terbaik yang biasa dipakai pas lebaran. Bahkan untuk urusan perut, emak juga menyiapkan lontong dan serundeng daging. Secara khusus, emak bahkan memesan lemper untuk bekal di jalan. Biasanya Laras yang membuat lemper. Berhubung Laras tak ada, emak memesan pada orang lain.


Aku terkesima.


“Kok bawa lontong buat apa, Mak?” tanyaku sambil memijit-mijit lontong yang ditaruh dalam kardus. Aroma lontong sungguh khas. Lontong yang dibungkus daun pisang sungguh terasa lebih sedap dibanding nasi biasa. Apalagi kalau dijodohkan dengan opor ayam.


“Ini untuk makan nanti di kereta. Daripada jajan kan lebih baik bawa sendiri dari rumah,” ujar emak.


Ya Allah emak!


Perjalanan Jombang-Surabaya hanya ditempuh dalam waktu dua jam. Mungkin emak pikir perjalanan kereta api ke Surabaya membutuhkan waktu seharian.


Baikah.


Perkataan emak ada benarnya. Mungkin beliau berpikir banyak jajanan yang tak sehat, jadi lebih baik bawa bekal sendiri dari rumah.


Emak memang semakin di depan!


Satu jam sebelum keberangkatan, kami sudah siap di stasiun menuju Surabaya. Weni sudah tak sabar ingin naik kereta. Berkali-kali ia melongokkan kepala di kejauhan apabila terdengar suara kereta mendekat.


“Inikah Mas keretanya?” tanya Weni.


Saat itu, kereta api eksekutif Bromo Anggrek tengah berhenti, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Gerbong-gerbongnya yang mewah cukup menarik perhatian Weni.


“Bukan Wen. Ini kereta ke Jakarta,” jawabku.


“Nanti keretanya juga bagus seperti ini ya Mas?” tanya Weni lagi.

__ADS_1


“Nanti kita naik kereta kelas ekonomi, Wen.”


“Ooh. Lebih bagus dari yang ini?”


Aku terdiam. Lebih baik Weni merasakan sensasi sendiri naik kereta api kelas ekonomi. Aku tak perlu menjelaskan lebih lanjut.


Setiap kereta yang datang, tak luput dari perhatiannya. Ketika kereta yang akan kami tumpangi tiba, aku memberikan isyarat kepada emak dan Weni untuk bersiap-siap. Tas yang berat dan kardus sengaja aku bawa, sedang Weni menggandeng emak.


“Awas hati-hati lho kalau naik. Pegang emak kuat-kuat,” pesanku pada Weni.


Weni manggut-manggut.


“Nanti kalau sampai Surabaya, simpan semua dompet dan barang berharga. Di sana banyak copet!” lanjutku.


“Iya to, Mas?”


“Iyalah. Copetnya juga pinter-pinter. Tidak langsung ambil uang. Kadang ngajak ngobrol dulu supaya kita lengah. Bahkan ada yang cuma pegang pundak, kita jadi nurut sama copet itu,” terangku.


“Wah, kayak hipnotis ya?


“Memang hipnotis. Gendam.”


Weni belum paham dengan urusan itu.


Tak banyak penumpang yang naik hari itu. Malahan kereta cenderung kosong. Aku sengaja memilih jadwal keberangkatan pagi agar tak begitu ramai. Kondisi kereta ini berbanding terbalik apabila kami memilih jadwal di sore hari. Karena kereta akan cenderung lebih banyak penumpang di sore hari.


“Kok kotor keretanya?” protes Weni.


Pertanyaan itu hanya kujawab dengan senyuman.


Selang beberapa menit, kereta mulai berjalan. Bagi Weni, ini adalah pengalaman pertama naik kereta. Syukurlah, ia cukup menikmati perjalanan. Matanya tak lepas mengamati pemandangan yang tersaji dari jendela kereta. Deretan atap-atap rumah, hamparan sawah sampai jalan raya yang kami lewati.


“Ada yang mau makan lontong gak?” tawar emak.


Beliau sudah mulai bergerilya untuk mengeluarkan perbekalan yang disimpan dalam kardus. Sebenarnya aku tak terlalu lapar. Selain itu, aku juga tidak suka repot.


Makan di kereta api menurutku sangat repot, karena kondisi kereta yang terus bergoyang. Jadinya malah tak bisa menikmati makanan.


Sayangnya aku tak tega melihat semangat emak yang sudah terlanjur mengeluarkan amunisinya. Dengan cekatan beliau mengiris lontong, menempatkan dalam pincuk, kemudian menaburi dengan serundeng daging. Aromanya yang nikmat mengusik setiap hidung penumpang yang ada di gerbong itu.


Acara makan bersama dalam kereta terus terang membuatku sedikit tidak nyaman. Makan sambil dilihat orang mempunyai sensasi berbeda. Apalagi aku bukanlah tipe orang yang cuek. Tatapan dari orang lain bisa menimbulkan seribu tafsiran di otak. Dengan kata lain, aku terlampau sensitif dengan reaksi orang lain.

__ADS_1


“Aku kepengen tahu kost-nya Laras. Nanti mampir ya?” celetuk emak.


Duh!


Mengapa emak tidak fokus sama lontong dan serundeng saja? Hal apa yang memicunya, kok tiba-tiba ada nama Laras dalam benaknya?


Oh, aku tahu!


Saat ini emak tengah mengunyah lemper yang dipesannya dari Yu Habibah, tetangga di kampung yang memang biasa bikin kue-kue untuk acara. Jadi begini. Setahuku, Laras sangat piawai membuat lemper, nagasari dan berbagai macam kue tradisional lain. Rasanya pun juga maknyuus. Itulah kenapa emak langsung teringat Laras saat mengunyah lemper.


“Punya Laras lebih enak. Ini ketannya kurang matang,” keluh emak.


Aku hanya diam seribu bahasa. Tak berani menanggapi, agar emak tak lebih jauh melanjutkan investigasinya mengenai Laras.


“Dari kontrakanmu masih jauh kost-nya Laras?” tanya emak lagi.


Duh, emak! Please, stop dong!


“Ya lumayan, Mak.”


“Nanti kita ajak jalan-jalan bareng ya, Bi?” pinta emak.


Mendadak aku merasa tidak nyaman. Padahal ingin sekali mengajak emak dan Weni bersenang-senang tanpa melibatkan orang lain. Tabunganku hanya cukup untuk mengajak mereka. Tetapi kalau Laras diajak, terus terang aku jadi tak berselera melanjutkan liburan ini.


“Laras biasanya sibuk, Mak. Agak susah bila diajak keluar,” dustaku.


“Masa sih? Lah kemarin kok bisa jalan-jalan sampe ke Malang segala?” selidik emak.


Deg!


Padahal aku sudah simpan rahasia kepergianku ke Malang rapat-rapat. Mengapa bisa bocor rahasia negara ini? Pasti Laras telepon emak. Atau ... Pak Turonggo yang membisiki emak?


Entahlah.


Yang jelas aku merasa mati kutu untuk saat ini. Aku berharap agar Laras betul-betul sibuk saat emak berkunjung ke Surabaya, sehingga meminimalisasi pertemuan antara kedua wanita beda generasi itu.


Laras dan emak ini pasangan serasi. Kadang mereka kompak untuk menyudutkan aku. Padahal jelas-jelas aku anaknya, tetapi emak lebih suka membela Laras daripada aku.


Solidaritas perempuan emang layak diacungi jempol!


***

__ADS_1


__ADS_2