DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XLIII : Sesal


__ADS_3

Azan dzuhur berkumandang dari menara-menara masjid yang menjulang di pelosok Malang. Suara muazin yang merdu, meliuk-liuk begitu indah bagai gemericik air pegunungan yang mendinginkan hati. Guncangan di bahu, menyadarkan dari lelap tidurku. Kepenatan telah membawa langkah ini ke sebuah masjid berarsitektur modern di jantung Kota Malang. Tampak para jamaah mulai berdatangan, beberapa mengambil air wudhu.


Siang tak begitu terik, mendung bergelayut di sana-sini, sesekali menyelimuti matahari. Alam seperti ikut berduka. Semuanya berubah kelam. Sekelam jiwa yang terluka ini.


“Salat dulu, Mas ...,” sapa seorang bapak berkumis yang menyapaku ramah.


Aku mengangguk. Segera kuberanjak menuju tempat wudhu yang berjajar di samping masjid. Air yang begitu sejuk membasahi wajah yang dipenuhi debu, menentramkan jiwa yang terluka. Air itu terasa menembus pori-pori, merasuk ke dalam aliran darah, mengalir ke otak, dan mengembalikan kewarasanku.


Ya, aku harus bangkit!


Aku adalah Abimanyu Prasetyo, tak akan tumbang dengan urusan perempuan seperti ini. Lusi adalah sekeping kisah yang harus aku kubur dalam-dalam. Dia bukan satu-satunya wanita cantik di dunia. Masih ada dua peluang lain untuk mengakhiri status jombloku.


Peluang pertama, Dahlia Sukmawati. Memang dia tak semolek Lusi, namun dia memiliki hati yang terbuat dari emas. Tak pernah sedikit pun dia membuat kecewa. Dan yang lebih penting, dia tak banyak merepotkanku.


Emak pernah berkata, lebih baik dicintai daripada mencintai. Kisah saling mencintai hanya terdapat di drama-drama televisi dan roman picisan. Hampir mustahil terjadi dalam kehidupan nyata yang penuh kepalsuan. Ketika seseorang mencintaimu, maka jangan sia-siakan kesempatan itu. Chance never comes twice. Kesempatan tidak akan datang dua kali.


Peluang kedua adalah Larasati binti Turonggo, gadis ayu nan lugu tipikal istri idaman. Sangat terampil dengan pekerjaan rumah tangga, penurut dan mempunyai senyuman bak lukisan Leonardo Da Vinci, Monalisa. Seandainya mungkin, akan kubingkai senyuman itu dan kupajang dalam Museum Louvre di Perancis, niscaya Monalisa akan iri kepadanya. Dibalik semua keindahan itu, hanya satu yang mengganjal di hati. Keberadaan Jono, pria misterius yang muncul di kehidupan Larasati.


Setelah salat, hati terasa sedikit lebih tenang. Aku sudah bisa menikmati lezatnya kuah soto lamongan yang kutemui pinggiran jalan. Urusan lambung yang meronta minta diisi tak bisa dianggap sebelah mata. Episode kehancuran telah usai, kini saatnya kudongakkan kepala sambil membusungkan dada.


Tunggu aku Lusi!


Aku akan tetap datang di pestamu sebagai ksatria yang terluka, namun tetap bisa berdiri gagah memberikan seulas senyum terindah di hari bahagiamu. Ingat suatu hari nanti, kamu akan berkubang dalam penyesalanmu. Ratapanmu nanti akan kuanggap nyanyian palsu, karena sesungguhnya kamu yang rugi.


Bukan aku.


Camkan itu, Lusi!


Setelah bertanya-tanya ke lebih dari lima orang, kini aku berhasil keluar dari Kota Malang. Kunikmati perjalanan menuju bumi perkemahan Gunung Panderman, dengan tatapan kosong ke arah luar jendela bus.


Sepanjang perjalanan, aku hanya bungkam seribu bahasa. Tak dapat dipungkiri, bayangan Lusi masih bergentayangan di otakku. Semakin kutepis, semakin dekat pula menghampiri. Aku harus berusaha lebih kuat.


Pasti bisa!

__ADS_1


Aku sampai di perkemahan menjelang malam. Rasa lelah membelenggu, sehingga yang kuinginkan saat ini hanya mengistirahatkan jiwa dan raga. Tak peduli dengan Darwis yang memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan membabi-buta. Biarlah kupejamkan mataku. Tak ingin berbagi kisah pilu ini pada siapa pun. Biarlah kehancuran ini kunikmati sendiri.


Kuabaikan pula Rini yang menyodorkan laporan keuangan. Segala macam kertas laporan membuatku seketika mual. Untungnya Rini paham. Dengan tanpa berkata pun, dia mundur teratur, seolah bisa membaca apa yang kurasakan. Irawan juga paham. Dia mengisyaratkan agar aku istirahat saja, karena besok penutupan acara perkemahan pasti membutuhkan energi lebih.


Hanya Darwis yang susah diajak bicara dengan bahasa manusia!


Dia terus saja memburuku dengan pertanyaan-pertanyaan tak bermutu, bagai paparazzi yang tak tahu malu. Untung aku masih bisa bersabar. Sebab kalau tidak, bisa saja sepatu yang kupakai ini melayang ke mukanya!


Dahlia?


Dia belum menyambutku. Kemanakah gerangan sosok tuan putri yang berhati mulia itu? Kusapukan pandangan berkeliling. Tenda-tenda tampak gegap - gempita dengan peserta camp, namun sosok Dahlia tetap raib bagai ditelan bumi.


Rasa kantuk dan lelah hilang seketika. Kulangkahkan kaki ke tempat rahasia saat Dahlia menumpahkan air mata di pelukan. Sebuah balkon raksasa di atas kota yang menghampar indah di bawah sana.


Sayangnya tempat itu lengang. Hanya gulita yang menyelimuti, ditingkahi desir angin yang membekukan tulang. Tak ada sosok Dahlia. Padahal, ingin juga kumenumpahkan air mata di bahunya yang berlemak!


Baiklah.


Aku harus segera beristirahat malam ini. Besok segudang kegiatan masih menanti. Pasti membutuhkan konsentrasi yang tidak sedikit. Sayangnya, ada yang kurang tanpa kehadiran Dahlia di perkemahan. Lebih baik kembali ke tenda, menyeruput kopi susu panas, dan mendengarkan rentetan angin yang keluar dari perut.


“Loh, katanya mau istirahat?” tiba-tiba kudengar suara Irawan.


Secangkir kopi beruap tergenggam di tangannya. Sedikit takjub ia memandangku yang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan di gelap malam.


“Lihat-lihat sebentar ke atas tadi,” ujarku.


“Sama siapa?”


“Sendiri saja,” jawabku datar.


“Mau ikut ngopi nggak sama teman-teman yang lain? Banyak gorengan juga loh,” tawar Irawan.


Aku menggeleng. Rasa lelah begitu mendera, tak ada hasrat untuk bercengkrama dengan siapa pun malam ini.

__ADS_1


Kecuali bersama Dahlia.


“Ke mana Dahlia?” tanyaku kemudian.


“Loh, kamu belum tahu? Tadi siang sepulang dari kota, Dahlia mengeluh tidak enak badan, jadi dia harus kembali ke Surabaya duluan,” terang Irawan.


Aku terdiam seketika. Bahkan ketika Irawan meninggalkan, sudah tak kupedulikan lagi. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Maka lengkap sudah penderitaanku hari ini. Rasanya seperti sendirian berkubang sepi di tengah Sahara yang luas. Kupercepat langkah menuju ke tenda, segera kubenamkan tubuh dalam sarung legendaris.


Aku yakin, mimpi akan menghapus semua kenangan-kenangan buruk. Berharap pagi segera menjelang, dan mengakhiri kegiatan perkemahan ini. Diam-diam, ada rasa sesal. Seharusnya aku tak pernah menginjakkan kaki di tempat ini, kalau hanya pil pahit yang kutelan. Kembali kutelusuri masa yang telah terlewat. Harusnya kegiatan perkemahan ini tak pernah ada. Harusnya tak kutemui Diana di tempat parkir ....


Bahkan, harusnya aku tak pernah berkenalan dengan Lusi!


Haparanku terkabul. Pagi memang menyapa lebih cepat. Keindahan lereng gunung ini seolah pudar oleh kesedihanku yang meraja. Sedianya, Dahlia akan menjadi pembicara di upacara penutupan untuk menutup acara perkemahan. Karena tidak ada, maka otomatis tampuk pimpinan beralih ke pundakku sebagai ketua panitia.


Aku gelagapan. Artinya, aku harus berbicara di depan sekian banyak peserta camp tanpa konsep terlebih dahulu. Padahal biasanya aku menyiapkan semacam resume sebagai bahan pidato. Desakan dari panitia lain benar-benar membuat tak berkutik. Tak ada pilihan selain tampil di depan peserta. Tak ada tempat berlari dari tanggung jawab ini.


Aku berdiri di tengah-tengah lingkaran manusia, ketika mentari naik sepenggalah. Cahaya hangatnya menimpa tubuhku yang sedikit gemetar. Percayalah padaku, sepintar apa pun kalian bicara di depan orang banyak, pasti tetap akan merasakan apa yang dinamakan demam panggung.


Kuhirup napas dalam-dalam, sebelum melontarkan kata. Gerahamku saling beradu. Di saat genting seperti ini, tiba-tiba bayangan wajah Lusi hadir di depan mata, dengan senyumnya yang ....


Jahat!


Kegugupan melanda. Para peserta camp masih menunggu sepatah dua patah kata dariku. Sayangnya lidah terasa kelu. Apa yang harus kukatakan? Podium ini lebih terasa bagai kursi terdakwa. Bayangan Lusi terus menari-nari, menjungkir-balikkan kewarasanku.


Kumohon, pergilah Lusi! Aku sedang pidato ....


“Maaf ...,” ucapku pendek.


Otakku benar-benar tersumbat. Tak ada satu huruf pun terucap. Kutinggalkan podium disertai pandangan penuh tanya dari peserta puluhan camp. Kegusaran menuntunku menuju tenda panitia.


Sempat kulihat, Irawan buru-buru meng-handle jalannya upacara penutupan. Aku sudah tak peduli. Kewarasanku sudah di ambang batas normal. Kuhempaskan tubuh di tikar dengan geram. Kebencian terhadap diri sendiri mulai memuncak.


Ya Tuhan, mungkin aku sudah mulai gila?

__ADS_1


Dahlia, kamu di mana?


***


__ADS_2