DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXXVI : Overdosis


__ADS_3

Bu Roffi masih terbaring di lantai, sementara di sebelahnya kulihat banyak butiran pil berserakan. Pil apakah itu? Apa Bu Roffi sakit? Selama ini kulihat dia sehat-sehat saja. Apakah Bu Roffi masih bernapas? Pikiran buruk mulai menyergap.Takut kalau-kalau hal fatal terjadi padanya. Dalam kepanikan, aku segera mencari pertolongan. Kantor sudah sepi, karena para pegawai lain sudah pulang.


Tia yang sedang membereskan gelas-gelas kotor tampak terkejut melihatku dalam keadan panik.


“Ada apa, Pak?” tanya Tia.


“Yang lain udah pada pulang ya, Tia?” tanyaku.


“Iya Pak. Jam segini udah pada pulang. Bapak kok belum pulang?”


“Tia, aku bisa minta tolong nggak? Kamu panggilkan sekuriti atau siapa pun yang kamu temui. Bilang kalau Bu Roffi pingsan, butuh pertolongan!” kataku dengan cepat.


“Pingsan? Loh kenapa, Pak? Bukannya tadi pagi nggak apa-apa?” tanya Tia.


“Udah nggak usah banyak tanya dulu, Tia. Ntar aja. Cepat cari pertolongan! Aku khawatir dia kenapa-kenapa!”


“Oh, baik Pak!”


Tia segera meletakkan nampan berisi gelas-gelas kotor di atas meja, kemudian setengah berlari ia keluar kantor. Dalam kecemasan, kudekati kembali Bu Roffi yang masih terbaring tak bergerak. Kurasa ia masih bernapas. Entah apa yang menyebabkannya tergolek tak berdaya. Atau gara-gara pil yang berserakan itu?


Pertanyaanku tak terjawab, saat Tia bersama beberapa pria masuk ke dalam kantor. Dengan sigap mereka menggotong tubuh Bu Roffi ke dalam sebuah mobil. Aku hanya menguntit dari belakang, tak tahu apa yang harus dilakukan. Menghadapi kejadian luar biasa seperti ini membuat panik. Tak bisa kuberpikir tenang.


“Bapak ikut ke rumah sakit ya? Nanti takutnya tidak ada yang ngurusin di sana!” kata Pak Atmo, sekuriti gendut yang biasa menjaga pintu gerbang perusahaan.


Aku? Mengapa harus aku?


Agak canggung mendengar perkataan Pak Atmo. Aku bukan keluarga atau kerabat Bu Roffi, mengapa harus ikut ke rumah sakit? Sayangnya aku tidak punya pilihan lain. Di saat seperti ini aku harus mengesampingkan ego, dan harus mengutamakan rasa kemanusiaan. Karena aku tahu, Bu Roffi hanya tinggal sendirian bersama putri semata wayangnya. Mau minta tolong ke siapa lagi?


Dalam hitungan menit, aku ikut mobil yang melaju menuju rumah sakit terdekat. Bu Roffi segera dibaringkan ke hospital bed, kemudian beberapa perawat mendorong menuju ke UGD. Sedangkan aku mengurus segala sesuatu di bagian administrasi. Tak bisa kubayangkan bila aku tak ikut, pasti Bu Roffi akan terlantar.

__ADS_1


Setelah beres, aku menyusul ke ruang gawat darurat. Sayangnya, petugas medis tak mengizinkanku untuk masuk. Aku hanya diperbolehkan menunggu di ruang tunggu. Gelisah menyusup perlahan merasuki hati. Tak terbayang bila hal buruk terjadi dengan wanita itu. Kehilangan bapak masih menyisakan trauma mendalam. Aku tak mau terulang lagi.


Kasihan Vina ....


Seorang dokter pria senior keluar dari ruang perawatan mendekatiku.


“Mas ini keluarga atau siapanya ya?” tanya dokter itu.


“Eh, saya adiknya Pak!” dustaku.


Tak peduli andai dokter itu membatin ‘adik kok tidak ada mirip-miripnya? Adik dari Hongkong?’


Sejenak ia menatapku dalam-dalam.


“Oh, keadaan kakaknya sudah stabil. Tadi memang sempat tak sadarkan diri akibat overdosis obat penenang. Sekarang sudah sadar, tetapi perlu istirahat,” kata dokter yang lumayan sepuh itu.


“Terima kasih, Dok. Boleh saya masuk sekarang?”


Setelah dokter itu berlalu, aku masuk ke dalam kamar perawatan. Bu Roffi masih terbaring lemah dengan mata terpejam. Lebih baik aku tidak bertanya bermacam-macam, membiarkan dia mengistirahatkan pikiran.


Sungguh, hal ini membuatku terkejut. Aku kira, kehidupan pribadinya baik-baik saja, tetapi ternyata ada sesuatu yang membebani pikiran Bu Roffi hingga mengonsumsi obat penenang.


Setelah berkonsultasi, ternyata Bu Roffi tidak harus menjalani rawat inap. Ia diperbolehkan pulang. Sopir perusahaan mengantar kami ke kediaman Bu Roffi. Saat memasuki kamarnya, wanita itu sudah mulai sadar. Sayangnya, dia belum ingin berkata sepatah kata pun. Hanya kesedihan yang tergambar di wajahnya. Ingin meninggalkannya, tetapi ada rasa tak tega yang menyeruak. Apalagi Vina sedari tadi bergelayut manja padaku. Bagimana mungkin aku meninggalkannya?


“Nggak apa, Bi. Kamu pulang saja. Terima kasih atas segalanya ya. Maafkan aku sudah merepotkan,” kata Bu Roffi dengan suara lemah. Kutatap sorot matanya yang menyiratkan putus asa. Rasa khawatir berkecamuk, bagaimana kalau ada apa-apa dengan dia?


Urung juga aku pulang ke kontrakan. Lagipula, hari sudah cukup malam. Rasanya nanggung untuk pulang ke kontrakan, sebab pagi-pagi sekali aku harus berangkat ke kantor. Malam itu, terpaksa aku bermalam di rumah Bu Roffi. Entah apa yang ada di pikiran orang, ketika seorang lajang seperti aku bermalam di rumah seorang janda.


Aku tak peduli.

__ADS_1


Niatku hanya ingin membantu, mengingat Bu Roffi hanya tinggal bersama Vina, putri semata wayangnya. Tak secuil pun ada niat tidak baik pada atasanku itu. Aku akan merasa sangat bersalah apabila terjadi apa-apa dengan Bu Roffi.


Setelah mandi, Bulek Sur, wanita paruh baya yang biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga di kediaman Bu Roffi membuatkan kopi dan mi instan kuah hangat-hangat. Aromanya sungguh harum, membangkitkan selera. Tanpa pikir panjang kusantap hidangan khas anak kost itu. Mi instan buatan Bulek Sur memang juara. Aku sering membuat mi instan di kontrakan, mengapa tidak sesedap ini?


Kuahnya yang sedikit berminyak itu, dicampur telur, diirisi sawi, cabe dan tomat. Tak lupa taburan bawang goreng melengkapi hidangan istimewa itu. Terasa begitu nyaman ketika melewati kerongkongan. Sepertinya, aku perlu berguru pada Chef Sur.


Hari mulai larut, ketika Bulek Sur mempersilakan aku istirahat di kamar tamu yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Sebuah kamar bersih yang luas. Ranjangnya tidak seperti di kontrakan, tetapi jenis spring bed yang sebenarnya membuat agak pusing. Ranjang ini selalu terpantul-pantul ketika digunakan untuk tidur. Penuh perjuangan untuk bisa tidur nyenyak di sana.


Sambil berbaring menikmati goyangan kasur, aku termenung. Masih tak habis pikir penyebab Bu Roffi merasa depresi, sehingga mengonsumsi obat penenang. Sebab, aku melihat kehidupannya yang mendekati sempurna. Bu Roffi hidup berkecukupan, tak khawatir akan kekurangan. Selain itu ia juga mempunyai karier yang bagus di perusahaan. Mempunyai putri yang cantik. Jadi apa yang kurang?


Ah, iya aku lupa!


Bagiamanapun Bu Roffi adalah seorang wanita normal yang masih relatif muda. Tentu dia membutuhkan kasih sayang pria. Itu mungkin kekurangan yang ia miliki.


Ketika mataku hendak terpejam karena didera lelah, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Kudapati wajah lugu Vina menatap sendu. Kedatangan bocah kecil itu, seketika membuatku bangkit.


“Ada apa, Vina?” tanyaku.


“Malam ini aku tidur sama Om Abi saja ya?” pinta Vina.


“Lho kenapa?”


“Mama sedang sakit, sehingga belum boleh diganggu. Aku takut tidur di kamar sendiri, ntar kalau digondol wewe gimana?” ujar Vina.


Wewe?


Aku tersenyum kecil, seraya mengangguk. Mana mungkin wewe mau menyatroni rumah sebesar ini? Kurasa Vina terlalu banyak nonton film horror. Permintaan kecil itu segera kukabulkan. Tak tega rasanya membiarkan gadis kecil ini tidur sendirian di kamarnya. Binar-binar bahagia terpancar dari wajahnya.


Malam itu, Vina pulas tertidur di sampingku. Dalam hati aku berpikir, pria mana yang sanggup meninggalkan putri secantik ini?

__ADS_1


***


__ADS_2