DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXXIX : Reuni Kecil


__ADS_3

Sungguh tak sabar rasanya menunggu kerja praktik ini berakhir. Ternyata, mengerjakan sesuatu dalam jangka waktu yang lama akan mengakibatkan kebosanan yang akut. Untuk saat ini aku sedang terjebak dalam fase itu . Fase di mana rasa bosan sudah memuncak di ubun-ubun. Kalau sudah begini, semangat kerja juga otomatis terjun bebas sampai ke level terendah.


Bagaimana tidak bosan? Aku harus melihat berkas-berkas yang hampir sama tiap hari, mengerjakan hal yang sama pula, bertemu dengan wajah jutek Pak Imron tiap hari. Tak ada yang benar-benar membangkitkan gairah hidup. Semua serba stagnan, tak ada dinamika yang signifikan.


Bu Roffi juga sudah masuk ke kantor. Bagaimanapun, kedekatan secara pribadi dengan sang atasan harus mulai kukurangi pelan-pelan. Tak boleh larut dengan kebaikan-kebaikan, yang berujung petaka di belakang hari. Cukup sudah drama rumah tangga yang kualami tempo hari. Aku harus segera meninggalkan arena pertempuran yang memang bukan panggungku.


Sepertinya Bu Roffi juga sadar, bahwa tak lama lagi kebersamaan kami akan segera berakhir. Tak ada harapan apa pun yang kuberikan, termasuk janji nanti akan bekerja di tempat ini. Paras sedih Bu Roffi jelas tergambar, murung sepanjang hari. Sungguh, aku sebenarnya kasihan melihat perubahan sikapnya. Pura-pura aku bersikap biasa, tak juga sok menghiburnya. Demi keamanan, tak kutanyakan penyebab wajah murung itu. Aku memilih mencari aman.


Laporan-laporan juga sudah kucicil tiap malam, walau badan remuk redam. Bergelas-gelas kopi kubuat, agar mata ini bisa tetap melek. Terlalu banyak kafein memang tak baik untuk kesehatan, tetapi demi kelancaran kuliah, terpaksa aku menenggak itu. Seperti halnya kopi, berbungkus-bungkus makanan ringan bertabur penyedap rasa aku beli untuk menemani malam-malam yang panjang. Puluhan channel radio juga kujelajahi, untuk mendapatkan musik-musik terbaik pengantar istirahat. Suara mendayu Sundari Soekotjo sampai suara seksi Bon Jovi juga telah mengalun mewarnai malam.


Karena terlalu fokus, bahkan aku mengabaikan setiap panggilan telepon yang masuk. Ada emak yang memanggil beberapa kali, tetapi terlewat begitu saja. Nanti kutelepon lagi. Beberapa lagi panggilan dari Dahlia. Itu juga akan kutelepon lagi nanti saat kau agak longgar. Semoga dia tambah langsing secara paripurna.


Yang paling menarik ada satu panggilan masuk dari Laras. Apa kabar dara manis itu? Terakhir bertemu saat ia bergelayut manja di boncengan motorku, menembus temaram Kota Surabaya di waktu malam. Apakah urusan dengan dokumen-dokumen yang hilang itu sudah selesai? Sayang sekali, aku tak dapat banyak membantu, mengingat urusanku sendiri juga tidak selesai-selesai.


Suatu kali kusempatkan main-main ke kampus di hari Sabtu, menengok kegiatan Victory English Club. Teringat kembali saat awal-awal masuk klub ini, saat aku demam panggung di hadapan para anggota klub yang lain. Kali ini tentu saja berbeda dengan masa-masa itu. Kehadiranku disambut hangat oleh rekan-rekan sejawat. Irawan memberiku tempat istimewa di depan para member yang baru bergabung. Ia sudah menganggap aku petinggi di klub ini. Demikian juga Rini. Gadis manis itu tersenyum-senyum melihat kehadiranku yang begitu tiba-tiba.


“Tumben muncul, Bro?” sambut Irawan.


“Iya nih, Bro. Lagi kangen sama kalian semua.” Jawabku.


“Katanya lagi kerja praktik, Kak ABi!” ucap Rini malu-malu.

__ADS_1


“Iya Rin, mumpung Sabtu libur aku sempetin main-main ke sini. Alhamdulillah, ternyata masih aktif ya para member-nya. Setelah acara kemping di Malang kemarin aku sibuk banget dengan tugas-tugas kuliah, maklum mahasiswa tingkat akhir,” tuturku.


“Nggak apa-apa Kak Abi, mending kakak fokus aja di kerja praktik, habis itu wisuda, cari kerjaan yang bener terus bisa lamar Kak Dahlia deh,” seloroh Rini.


“Apaan sih, Rin!”


Rini tergelak bersama Irawan. Walaupun aku jarang bergabung bersama mereka, klub bahasa Inggris ini sangat membuat nyaman. Para anggota sudah seperti saudara. Sayangnya aku tak melihat Dahlia di antara mereka. Mungkin dia ada kesibukan lain sehingga tak bisa membersamai teman-teman berlatih.


Berkumpul bersama mereka sejenak menepis tumpukan tekanan yang menyumbat otak. Gelak tawa yang mereka tawarkan benar-benar mujarab melupakan segala keruwetan hidup. Sejenak aku merasa seperti berada di atmosfer lain. Berbaur dengan suatu komunitas membangkitkkan semangat hidup, mumpung masih muda dan dan belum menikah.


Ketika aku berpamitan hendak pulang, tiba-tiba kulihat sosok Darwis dengan tampilan berbeda datang menghampiri kami. Sedikit takjub melihat perubahan tampilannya. Ini adalah kali pertama setelah kerja praktik aku melihat dia. Darwis terlihat lebih gagah, memakai setelan formal, berkacamata, bersepatu dan memelihara sedikit kumis. Padahal dahulu sewaktu kuliah, dia biasa memakai kaos kusam dan bersepatu yang diinjak bagian belakangnya. Untunglah, dunia kerja membawa angin positif kepadanya.


Darwis berbisik padaku.


“Kamu dicari sama Lusi tuh.”


“Memangnya kamu ketemu sama dia?”


“Lusi sering kok datang ke pabrik. Dia masih seperti yang dulu loh. Masih tetap cantik. Lesung pipinya juga nggak hilang-hilang. Sukanya nanyain tentang kamu,” ungkap Darwis.


“Terus kamu jawab apa? Kamu suruh move on gitu?”

__ADS_1


“Nggak lah! Kubilang saja ... Lusi, kalau kamu suka seseorang maka kamu harus perjuangkan cintamu. Jangan diam saja. Nanti cintamu dipatuk ayam. Gituuu ....”


“Gila ah! Itu sama saja kamu menyuruh dia untuk berpaling dari suaminya dan membangkitkan semangat untuk berselingkuh. Nasihatmu sama sekali nggak bener,” protesku.


“Habis jengkel juga aku lama-lama. Sudah tahu punya suami yang sah, yang diobrolin malah pria lain yang nggak jelas jluntrungannya! Kurang bersyukur apa dia. Suami baik dan kaya seperti Ilham Ramadhan itu spesies langka loh. Ini malah ngobrolin yang kagak jelas!”


“Yang kamu maksud pria lain yang nggak jelas itu siapa?”


“Ya kamulah!”


Hampir saja kusiram kuah bakso ini ke mukanya. Sembarangan saja dia bilang aku pria tidak jelas. Belum waktunya saja aku seperti Ilham Ramadhan. Lagian ya Darwis, masalah hati tidak bisa dibohongi dengan polesan harta dan semacamnya. Sah-sah saja kalau Lusi menyimpan rasa terhadapku.


Lagi-lagi, kuakui kebodohanku karena tidak dari dulu mengungkapkan rasa padanya. Kini setelah diambil orang baru menyesal.


Bagaimanapun, acara reuni kecil ini benar-benar menjadikan moodbooster tersendiri buatku. Untuk hari-hari ke depan mungkin aku jarang bergabung lagi, mengingat aku sudah sampai di tingkat akhir kegiatan perkuliahan. Jadi mungkin akan sibuk mengerjakan tugas akhir atau pernak-perniknya. Impian yang kurajut sejak lama tak boleh meleset.


Acara ramah-tamah masih berlangsung hingga azan Ashar berkumandang. Beberapa anggota sudah berpamitan pulang, dan beberapa di antaranya masih santai mengobrol. Walaupun suasana masih terasa hangat, tetap saja ada yang kurang menurutku.


Dahlia Sukmawati.


***

__ADS_1


__ADS_2