
Sang surya sudah hampir mendarat ke peraduan ketika mobil yang kami tumpangi bergerak melambat melalui pemukiman yang cukup padat. Rumah-rumah berhimpitan, saling berjejal tak menyisakan sepetak ruang kosong. Pun pepohonan juga enggan tumbuh di sisi jalan. Yang ada hanyalah tiang-tiang listrik jangkung menjulang dengan kabel bergelantungan, saling berpilin berkelindan.
Sebentar lagi memasuki waktu magrib. Rona-rona merah semburat terlukis di angkasa. Saat aku masih kecil, ini adalah waktu yang krusial. Emak dengan wajah horor sudah menanti di depan rumah dengan berkacak pinggang. Beliau gemas ketika melihatku pulang menjelang magrib. Menurut beliau, senja adalah waktu para jin lelembut bergentayangan. Sayangnya hal ini tak begitu menakutkanku. Hampir setiap hari aku pulang terlambat.
“Nomor berapa rumahnya?” tanya Dahlia sambil celingukan ke kanan dan kiri, berharap tak satu rumah pun terlewatkan.
“Nomor 81. Ini masih nomor 60-an. Sepertinya agak maju sedikit,” jawabku. Mataku menyapu setiap rumah yang dilewati.
Mobil melaju pelan menyusur jalan sempit yang padat itu. Suasana mulai sepi.
Tiba-tiba, sebuah rumah bertingkat dua bercat hijau menarik perhatianku. Rumah itu agak berbeda, dengan halaman agak luas dipenuhi tanaman euphorbia, dilengkapi sebuah pohon palem botol yang menjulang tinggi.
“Ini nomor 81!” pekikku.
Dahlia segera memarkir mobil di pinggir jalan, di depan sebuah toko kelontong tak jauh dari rumah bercat hijau itu. Aku merasa ada sesuatu yang berdentum-dentum di dadaku. Agak malu untuk bertemu Laras, apalagi ditemani oleh Dahlia.
“Aku tunggu di sini saja ya?” enggan Dahlia.
“Ikut masuk dong. Nggak enak aku ninggal kamu sendirian di sini. Ntar kalau ada yang nyulik gimana? Ayo kukenalin sama Laras!” ajakku.
Dengan sedikit malas, Dahlia beranjak juga dari posisi nyamannya. Segera ia mengikuti langkahku menuju tempat kost yang cukup megah itu.
Di teras, aku melihat kursi tamu yang memang disediakan untuk menerima tamu. Khususnya tamu laki-laki. Di kursi itu, seorang gadis dengan paras ayu, berkerudung biru laut berkibar-kibar diterpa angin senja. Aku sangat mengenalnya.
Larasati binti Turonggo.
Sayangnya, mendadak perasaanku menjadi tak enak. Laras tidak sendirian. Ada seorang tamu lain. Seorang pria berkumis tipis berpakaian rapi sedang mengobrol penuh canda dengannya. Gemuruh di dadaku tak terelakkan.
Ah, aku kan bukan siapa-siapanya Laras. Batinku.
Dengan langkah gontai, bak narapidana menuju tiang gantungan, aku mendekati Laras yang bahkan tidak menyadari keberadaanku. Dahlia tersenyum kecil. Dia paham aku sedang cemburu.
“Ras ..., ” sapaku.
Gadis itu mengalihkan pandangan ke arahku. Ia langsung merasa canggung, buru-buru bangkit dari tempat duduk.
“Mas Abi? Kok nggak bilang-bilang kalau mau kesini?”
Aku hanya tersenyum getir. Entah, semua huruf dalam alfabet mendadak menghilang. Tak ada yang terucap satu huruf pun.
“Sebentar ya, kuambilkan titipan emak. Silahkan duduk dulu. Oya, kenalkan ini sepupuku. Ia kerja di Surabaya, namanya Mas Jono,” Laras mengenalkan pada pria berkumis tipis itu. Kepalanya terangguk memberi salam.
Sayangnya aku terlanjur malas. Jadi aku hanya membalas dengan senyum getir.
“Mbak, pacarnya Mas Abi ya?” tembak Laras kepada Dahlia.
Oh My God! Ini yang aku khawatirkan ....
__ADS_1
“Gimana Bi? Aku pacarmu bukan?” Dahlia menepuk pundakku. Tawa lebar menghias raut mukanya.
Dahlia! Bisa-bisanya di saat seperti ini ....
“Bu-bukan, Ras. Ini Dahlia, teman satu kampus,” jawabku kemudian.
“Kalaupun pacar kan nggak apa-apa juga, Mas. Aku turut senang.”
Dahlia tersenyum seolah menang banyak mendengar ucapan Laras. Jangan-jangan dia bersorak-sorai dalam hati. Sungguh tidak berperikemanusiaan.
Dasar Dahlia!
Laras tersenyum. Segera ia mengambilkan sebungkus besar tas plastik titipan dari emak. Dapat kuprediksi, isinya pasti seputar logistik. Aroma sambal pecel, dendeng daging, dan krupuk udang menguar dari tas plastik itu.
“Makasih ya Ras,” kataku.
“Biasa aja Mas Abi,” Laras kemudian menoleh ke pria berkumis itu,” Mas Abi ini tetangga satu kampung, Mas Jono. Dia kuliah di Surabaya juga,” terang Laras.
“Ooh ..., ” pria yang dipanggil Mas Jono itu hanya manggut-manggut.
Firasatku mengatakan, pria ini bukan sepupunya. Aku tidak belajar ilmu psikologi, tetapi gestur pria ini telah berbicara bahwa ada hubungan lebih daripada sekedar sepupu.
“Ras, aku pamit pulang dulu ya. Sudah mau magrib,” aku beralasan.
“Kok buru-buru, Mas?” Si Jono ikut unjuk suara.
Kulirik Dahlia yang hampir gagal menahan senyum. Aku tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Dasar pembual kelas wahid!
“Wah, padahal aku masih pengen ngobrol ...," tahan Laras.
“Lain kali saja, Ras.”
Setelah berbasa-basi sebentar, kutinggalkan rumah bercat hijau itu dengan lesu tepat saat azan magrib berkumandang. Rona-rona merah di angkasa kian melebur dengan pekatnya malam. Burung-burung berarak pulang ke sarang. Sayangnya keindahan sore tak berarti apapun. Bahkan sepanjang perjalanan pulang, aku mengatupkan erat mulutku, tak ada celoteh seperti biasanya.
“Yang sabar,” ujar Dahlia. Sepertinya ia sangat paham dengan apa yang kurasakan.
“Aku nggak apa-apa, Dahlia ....”
“Tadi katanya teman biasa?” cibir Dahlia.
“Ini bukan tentang Laras kok,” dustaku.
“Lah, terus kamu mikirin apa kok sampe jadi orang bisu gitu? Nggak usah bohong lah sama aku. Seluk beluk laki-laki aku udah tahu. Jelas banget kamu itu mikirin Laras,” tembak Dahlia.
Aku hanya tersenyum getir.
__ADS_1
“Lagian, belum tentu juga Jono itu pacarnya kan? Kan sudah dibilang tadi sepupunya? Kok kamu jadi sensi kayak begitu? Kamu itu cowok lho! Hilang satu tumbuh seribu,” Dahlia mulai berfatwa.
“Aku nggak apa-apa, Dahlia!” sanggahku.
“Udah deh, daripada kamu bete mikirin Laras, kutraktir makan malam saja, sekalian salat magrib. Tadi katanya biasa jamaah di masjid,” sindirnya.
Ups!
Mobil Dahlia berbelok ke sebuah rumah makan yang dilengkapi fasilitas tempat salat. Selama aku melaksanakan ibadah, pikiran ini tak bisa diajak kompromi. Sebuah batu besar seperti mengganjal dalam otakku. Mangapa ya aku jadi seperti ini?
Kami makan bebek kremes yang membangkitkan selera. Aroma gurihnya menari-nari menggoda lambung. Sudah pasti, rasa bebek ini jawara. Terbukti dengan jumlah pengunjung yang datang membludak. Dahlia memang terkenal mempunyai selera tinggi dalam hal rasa makanan.
Sayangnya, setiap suapan terasa berbeda di mulutku. Rasa lezat daging bebek yang berbalur rempah itu tak ubahnya makanan basi di depanku.
“Pokoknya kalau nggak habis, kita nggak pulang!” ancam Dahlia.
Busyet! Sudah mirip emak dia!
Aku tak menggubris ancaman itu. Hanya kuseruput sedikit jus alpukat dengan topping susu coklat di atasnya. Rasanya benar apa yang disabdakan ahli-ahli asmara. Bahwa cinta bisa mengubah tahi kucing rasa coklat. Sayangnya, ini sebaliknya!
Nasi bebek berasa tahi kucing!
“Tinggal saja aku, Dahlia. Nanti aku naik taksi,” keluhku putus asa.
“Aku loh nggak yakin kamu punya ongkos naik taksi. Kamu itu cowok kok kaya gitu sih, Bi? Come on. Jangan jadi pria bermental tempe!”
Dahlia kembali melecutkan semangat kepadaku. Kuhirup napas dalam-dalam, perlahan kulepas rasa sesak di dada. Aku hanya ingin lekas tidur malam ini.
Tak bangun lagi.
“Ya udah, sekarang maumu apa? Kamu mau bunuh diri? Ntar kubelikan Baygon di Indomaret, kamu tenggak habis sampai modar, nanti kudoakan semoga arwahmu tenang di alam sana!”
Aku masih mengunci rapat mulutku.
“Baru digitukan saja sudah kayak gini. Mana Abi yang kukenal cerdas itu? Mana Abi yang jago speaking Bahasa Inggris?”
“Ya udah! Kita pulang aja!” ucapku cepat.
“Oke. Kita pulang. Nggak usah mikir aneh-aneh. Sampai kontrakan cepet cuci kaki, gosok gigi, salat isya dan tidur. Nggak usah nonton TV!”
Dahlia kembali menjadi emak-emak jilid dua!
Apa yang dikatakan Dahlia ada benarnya. Baiklah. Aku akan segera istirahat malam ini, mendengarkan suara Didi Kempot semalaman, bercumbu dengen gelisah hingga fajar. Kuterima ini sebagai nasibku. Memang, tak ada seorang pun yang menyukaiku.
Kecuali emak.
***
__ADS_1