
Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Setelah memuaskan hasrat belanja, kami mampir di food-court untuk memuaskan hasrat kuliner. Lama tak berjalan jauh, cukup penat juga terasa di kaki. Selama bekerja aku lebih banyak menghabiskan waktu duduk memelototi layar komputer, sehingga otot kaki masih kaget saat diajak berjalan agak jauh.
Lemon tea dingin mengalir membasahi kerongkongan sambil menunggu makanan dihidangkan. Mamah Dahlia sedang sibuk memeriksa belanjaannya. Beliau termasuk orang yang teliti. Jenis belanjaannya dimuat dalam satu daftar panjang dari A sampai Z. Tak heran, beliau adalah seorang pebisnis yang memang dituntut harus jeli dengan pekerjannya.
“Tadi sudah beli jarum jahit belum ya?” tanya Mamah Dahlia.
“Sudah kok, Mah. Tadi aku sudah beli satu set. Kurang?” jawab Dahlia.
“Nggak kok! Tapi aku kok merasa ada sesuatu yang belum lengkap. Apa ya?” Mamah Dahlia mengernyitkan dahi sambil mengingat-ingat.
Sebagai seorang yang sudah berumur, ingatannya cukup melekat kuat. Barang-barang kecil yang dianggap sepele tak luput dari perhatiannya. Malah aku yang masih muda ini sering kena amnesia. Karena bertumpuknya masalah dalam otak, kadang aku melupakan hal-hal kecil seperti letak kunci, lupa menaruh ponsel dan sebagainya.
Untunglah, aku masih waras untuk membedakan yang mana Dahlia, yang mana Laras dan yang mana Lusi.
Taraaa!
Hidangan yang kutunggu-tunggu telah datang. Beberapa hari ini aku merindukan ayam bakar. Menu yang kudapat dari perusahaan lambat laun menimbulkan kebosanan yang akut. Mau beli sesuatu yang berbeda di luar, takut kehabisan uang. Antara hemat dan pelit hanya berbeda tipis. Aku terjebak di antara keduanya. Karena itu, tak kusia-siakan kesempatan ini, mumpung ada yang mentraktir.
Drrrttt!
Drrrttt!
Baru beberapa suap, ponselku bergetar. Kenikmatan ayam bakar sedikit terganggu. Kulirik nama pemanggil yang berkedip di layar ponsel.
Bu Roffi Kantor sedang memanggil ....
Agak bimbang, antara mengangkat atau tidak. Aku khawatir dia akan membicarakan masalah pekerjaan. Aku tidak suka ada interupsi di hari libur seperti ini. Dalam agendaku, tak ada urusan kantor, hanya ingin menikmati waktu luang. Jadi lebih baik kuabaikan saja.
“Telepon tuh!” Dahlia mengingatkan, sambil menikmati mi ramen kesukaannya.
“Dari kantor kok!” jawabku pendek.
“Kok nggak diangkat?”
__ADS_1
“Malas! Palingan ngomongin kerjaan. Sudah tahu hari libur, masih saja ngomongin kerjaan. Biarin aja!” tepisku.
“Ya siapa tahu penting. Angkat dulu lah! Mamah juga begitu, kadang nelepon karyawan saat hari libur, tapi nggak ngomongin kerjaan sih.”
Daripada berdebat dengan Dahlia, aku akhirnya mengalah. Mungkin Dahlia benar, terkadang ada hal darurat yang perlu dibicarakan. Dengan sedikit malas kuangkat juga panggilan itu.
“Halo ...,” sapaku dengan nada malas.
“Halo, Bi! Maaf mengganggu liburmu. Kamu ada acara nggak hari ini?” suara Bu Roffi di seberang terdengar bersemangat.
“Ini lagi jalan sama teman, Bu. Ada apa ya, Bu?”
“Ooh. Kirain lagi di rumah aja. Kalau nggak repot, aku mau undang kamu. Hari ini kan ulang tahun Vina, tapi nggak dirayakan di rumah. Vina minta dirayakan di Surabaya. Siapa tahu kamu bisa hadir. Salah juga sih undangannya dadakan. Maaf ya, Bi!” Ada nada kecewa dari kalimat yang diucapkan Bu Roffi.
“Jam berapa Bu undangannya. Siapa tahu nanti bisa hadir!”
“Jam empat sore sih di Plaza Tunjungan. Ini kami masih di rumah kok. Sebentar lagi mau meluncur ke Surabaya!”
“Sama-sama. Ajak juga pacarmu, Bu. Kalau ada!”
“Hehehe. Saya masih jomblo kok Bu!”
Mau tak mau, aku harus menghadiri undangan dari Bu Roffi. Andai yang mengundang orang biasa atau yang tak begitu kukenal, sudah pasti akan kutolak. Berhubung yang mengundang adalah pimpinan, maka harus diusahakan.
“Undangan apa, Bi?” tanya Dahlia.
“Eh, ini ulang tahun anaknya boss-ku di perusahaan. Nanti sore di Tunjungan. Cuman aku nggak tahu bisa datang atau nggak. Soalnya dadakan banget undangannya!” keluhku.
“Oh, kok buat pengumuman kamu jomblo segala!”
“Becanda saja tadi, Dahlia. Hehe. Mmm ... gimana ya enaknya? Datang atau enggak?”
“Datang aja! Nggak enak kan kalau pimpinan yang mengundang,” saran Dahlia.
__ADS_1
“Maunya sih gitu. Eh, habis ini aku beli kado sekalian ya. Kalau anak cewek bagusnya apa ya? Boneka aja kali ya!”
“Boneka bagus aja. Cuman kan nggak semua anak perempuan suka boneka. Aku aja lebih suka main robot daripada Barbie!”
Aku terdiam. Kalau anak perempuannya seperti Dahlia ya terang saja tidak suka main boneka. Tapi tidak bisa juga menggeneralisasi bahwa semua anak perempuan seperti Dahlia. Aku yakin, spesies seperti Dahlia ini sangat langka dan perlu dilestarikan.
Seusai mengisi perut, aku berencana membeli kado di sebuah toko mainan di mal itu juga. Banyak boneka dengan karakter lucu, sehingga agak bingung untuk memilih.
Karakter apa yang disukai Vina?
Setelah memilih, aku melihat harga yang tertempel. Harganya lumayan membuat stres. Apa daya, aku harus tetap membeli, karena tidak mungkin aku membeli boneka yang biasa dijual di pasar. Bu Roffi adalah kalangan atas yang sangat tahu kualitas barang, tanpa peduli dengan harga. Untuk menghormati diriku sendiri, aku tidak boleh membelikan kado asal-asalan.
Yang perlu dicatat di sini, aku membeli boneka dari kantongku sendiri, tidak sepeser pun dari Dahlia!
Acara belanja berakhir ketika matahari hampir merapat di titik kulminasi. Agak penat, tetapi tak apa. Pikiran juga lumayan fresh melihat banyak orang hari ini. Apalagi dapat makan siang gratis. Emak benar, silaturrahmi dapat memperpanjang umur dan memperbanyak rezeki.
Setelah sampai di rumah Dahlia, aku buru-buru pulang ke kontrakan karena sore nanti aku harus menghadiri undangan dari Bu Roffi. Agak malas sebenarnya. Dalam bayanganku, acara ulang tahun anak-anak tidak lepas dengan acara nyanyi-nyanyi, balon dan badut. Kemungkinan besar, aku akan jadi satu-satunya laki-laki dalam acara ulang tahun itu. Karena, biasanya yang menemani anak ulang tahun adalah ibu-ibu.
Yang paling membuatku takut sebenarnya adalah pandangan orang ketika aku menemani Bu Roffi dalam acara ulang tahun anaknya. Gosip bisa saja berembus, karena kehadiranku memang dapat memancing kecurigaan. Bu Roffi adalah seorang single parent, tentu kehadiranku akan menjadi sasaran empuk para tukang ghibah.
Kuharap Pak Imron tidak diundang dalam acara itu.
Masih ada beberapa jam sebelum acara ulang tahun dimulai. Aku ingin sekali berbaring sebentar untuk melepas penat. Bumi Surabaya yang membara siang ini rasanya ingin membuatku menenggelamkan diri di kolam air penuh es batu. Kipas angin kecil yang berputar tertatih-tatih di kamar, seolah tak mampu mengurai rasa gerah. Kalau ada rezeki nanti, aku berencana membeli kipas angin baru.
Oya, bagaimana kabar Laras?
Kuharap dia juga segera selesai dengan permasalahan dompetnya yang hilang. Rasa sayang muncul kepada Laras, tetapi setelah kukaji lebih dalam, rasa sayang kepada Laras ini lebih mirip rasa sayang seorang kakak ke adik. Padahal keluarga sepertinya sangat berharap bisa bersama Laras. Sayangnya, aku membutuhkan seseorang yang lebih menggetarkan jiwa.
Apakah itu Dahlia dengan segala kebaikan dan ketulusan hatinya?
Aku juga belum yakin.
***
__ADS_1