DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XCIV: Mulut Berbisa


__ADS_3

Suara azan Ashar membangunkan dari mimpi indah di siang bolong. Aku menyempatkan pulang sebentar ke kontrakan untuk meregangkan otot setelah sedari pagi berada di kamar rumah sakit yang beraroma obat-obatan. Bagaimanapun, kamarku adalah tempat paling nyaman yang ada di muka bumi. Di sini aku menyembunyikan diri dari hiruk-pikuk dunia yang menghimpit dari segala penjuru. Kamar yang tak seberapa luas ini telah menjadi istana, dengan ranjang butut sebagai singgasana, dan sarung kumal sebagai mahkotanya.


Nanti sore, aku akan berangkat kembali ke rumah sakit untuk menggantikan Inneke yang tengah berjuang melawan kantuk menunggu Andre. Sungguh luar biasa dia. Dalam keadaan hamil muda begitu setia kepada pria yang notebene belum sah menjadi suaminya, tetapi sudah pasti menjadi bapak dari janin yang dikandungnya. Tentu Andre akan sangat berdosa kalau sampai menyia-nyiakan wanita sebaik Inneke. Jadi apakah kecelakaan ini adalah hukuman yang layak bagi Andre? Entahlah. Aku tak berani berspekulasi apapun.


Rencananya Doni dan Farhan akan berangkat bersamaku, jadi sekalian menunggu mereka tiba dari Pasuruan. Selepas salat Ashar aku segera beberes kamar, karena mungkin aku tidak pulang malam ini, melihat kondisi di lapangan. Kuabaikan segala macam pernik-pernik yang berhubungan dengan tugas akhir, karena fokus dulu menjaga Andre. Entah mengapa orangtua Andre belum juga tiba. Atau mungkin belum dihubungi oleh Mas Arbie?


Doni dan Farhan tiba sekitar pukul lima sore. Ini sudah terlalu lambat menurutku. Walaupun begitu, aku tidak bisa melayangkan protes, karena mereka berangkat menggunakan angkutan umum. Tentu ada hal-hal di luar kuasa kita yang terjadi saat di perjalanan. Mereka tiba di Surabaya dengan selamat saja, aku sudah sangat berterima kasih.


Kami tak banyak mengobrol , dan segera memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit. Sebenarnya Doni begitu penasaran dengan kronologi kejadian yang menimpa Andre. Sayangnya aku juga tidak bisa menjawab. Untuk bertanya pada Inneke juga merasa segan, karena gadis itu masih belum stabil. Khawatir kalau-kalau banyak bertanya akan membangkitkan kenangan buruk. Lagipula, dia tak henti mencucurkan air mata. Aku tak bisa berkutik dengan yang satu itu.


Kami tiba di rumah sakit menjelang Magrib. Suasana rumah sakit masih dipadati pengunjung seperti biasanya. Bergegas kami menuju ruangan tempat Andre dirawat. Ternyata di sana ada ayah dan ibu Andre. Kulihat Inneke sudah tak ada di sana. Mungkin pulang untuk beristirahat, dan digantikan oleh Mas Arbie. Kakak Inneke itu juga berada di sana.


Yang lebih menyenangkan dari semuanya, adalah Andre yang terlihat mulai siuman. Walaupun parasnya masih terlihat pucat, ia sudah bisa diajak berkomunikasi. Kami tak berani bertanya tentang kronologis kejadian karena kondisi Andre belum pulih betul. Mungkin nanti, kalau dia sudah bisa tertawa. Kami hanya menatap Andre dengan tatapan prihatin. Ibu Andre sedang menyuapi putranya dengan makanan jatah dari rumah sakit.

__ADS_1


Tak ada obrolan panjang, hanya sapaan-sapaan ringan. Aku melipir ke luar, karena ruangan yang tak seberapa besar itu terasa penuh sesak. Sirkulasi udara menjadi tak baik. Aku duduk di kursi-kursi tunggu yang berada di depan ruangan, karena di dalam juga tak ada tempat lagi. Di kursi tunggu, kami berbaur dengan berbagai rupa manusia yang datang menjenguk atau keluarga pasien.


Sedikit tak nyaman, karena bapak di sebelahku tak henti-henti menghembuskan asap penuh nikotin ke udara. Di mana empatinya? Sudah jelas ini lingkungan rumah sakit, dan tentu saja himbauan dilarang merokok terpampang di mana-mana. Mungkin bapak ini buta huruf atau tidak lulus SD?


Doni membeli minuman dan makanan ringan untuk mengusir kebosanan. Sambil menunggu, kami mengobrol santai. Tema yang diusung pun cukup beragam. Mula-mula Doni menanyakan perihal sejauh mana progres tugas akhirku.


“Ya begitulah, Don. Masih lama. Lagian dosen pembimbingnya jarang ada di rumah, jadi buat janjinya harus seminggu sebelumnya. Kalau pas asistensi, dia cukup perfeksionis. Kurang satu titik aja sudah main coret. Padahal udah tua, tetapi matanya jeli sekali. Udah puluhan kali aku revisi,” keluhku.


“Itu belum seberapa dengan dosen di jurusanku. Kakak tingkatku pernah cerita. Ada salah satu dosen yang nggak ada belas kasihan sama sekali. Masih untung cuma dicoret-coret dan ditegur kesalahannya. Dosen di jurusanku, pekerjaan tidak rapi dan benar langsung dirobek-robek di depanmu, sambil dicaci-maki. Bayangkan rasa sakit hatinya! Padahal itu tugas sudah dikerjakan lembur sampai dini hari. Pokoknya kalau sudah berhadapan dengan dosen yang satu itu, otomatis harga diri kita sebagai mahasiswa jatuh serendah-rendahnya!” papar Doni bersemangat.


Ketika kami membicarakan kesadisan para dosen, Farhan malah bercerita tentang kebaikan dosen di jurusannya. Tentunya ini sangat kontradiktif. Dengan bangga, ia menceritakan dosen di jurusannya yang super baik dan ....


“Kalau dosen di jurusanku lain lagi. Orangnya ramah-ramah, murah senyum dan nggak segan-segan membantu mahasiswa apabila ada kesulitan. Usianya juga muda-muda. Jadi gaul dan enak diajak ngobrol, dan nggak ada kesan menggurui. Malahan dosen cewek ada yang masih muda dan single. Digodain mahasiswa dia nggak marak kok,” ucap Farhan.

__ADS_1


“Terus kamu ikut godain dia, gitu?” tuduhku.


“Eh, ya nggak dong. Bisa hancur reputasiku sebagai tukang kasi tausiyah. Aku mah menundukkan pandangan kalau ketemu yang bukan muhrim. Kalau terlalu banyak melihat yang bukan muhrim takutnya zina mata.” Farhan berkata dengan serius.


“Gayamu, Han. Bilang zina mata tetapi adikku kamu embat juga. Maksa-maksa minta nomor teleponnya. Zina mata kalau sama yang jelek-jelek, tapi kalau yang bening-bening mah rezeki. Iya kan?” cibir Doni.


Maksud hati ingin tertawa, tetapi kutahan dalam hati. Farhan hanya tersenyum kecut. Memang kurang ajar betul si Doni. Padahal Farhan maksudnya memberi nasihat yang baik, malah dibalas dengan hinaan telak. Kebiasaan buruk , mulut Doni ini berbisa seperti kobra. Sempat terlintas dalam pikiran, suatu saat mulut Doni harus diberangus agar bisa menempatkan diri kalau berbicara.


Kami masih bercanda-canda, ketika Inneke tampak berjalan dari arah lorong, sambil membawa rantang nasi. Kami seketika diam. Bagaimanapun kami sangat segan dengan Inneke, karena memang tak begitu mengenalnya. Gadis itu mengangguk penuh takzim, segera kami balas dengan anggukan serupa. Ia masuk ke dalam ruangan tempat Andre dirawat.


“Kasihan dia,” gumam Farhan.


“Kenapa kasihan? Itu kan salah sendiri dia juga. Mau-maunya diajak indehoy sama Andre. Kalau gadis kuat iman mah nggak bakalan mau. Kalau menurutku sama-sama salah,” celoteh Doni.

__ADS_1


Aku hanya terdiam, tak ingin berkomentar karena takut salah. Keinginanku sudah bulat. Besok, aku akan membeli lakban hitam, dan kusumpalkan pada mulut Doni yang tak ada empati itu. Biar lunas segala hutangku!


***


__ADS_2