DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XX : Bidadari Turun dari Angkot


__ADS_3

Hari yang dinantikan telah tiba. Suatu hari ketika burung-burung kutilang beterbangan di pucuk-pucuk akasia melantunkan melodi cinta. Suatu hari ketika sang mentari dengan gagahnya menebar pesona di langit timur, berselimut awan pekat yang berarak tindih-menindih.


Kembali kulingkari kalender di kamar. Pertengahan Desember yang lumayan cerah, ketika aku kembali menjemput Larasati untuk yang kedua kalinya. Tentu saja tak perlu kuceritakan persiapan yang sudah kulakukan.


Pengalaman di terminal pekan kemarin menyisakan trauma. Tak lagi kupoles rambut dengan pomade, ataupun berbalut baju agak keren. Takutnya, ada ibu-ibu naksir lagi. Cukup sudah. Bau ikan bandeng itu masih membekas hingga sekarang.


Nasib orang ganteng.


Semuanya berjalan cepat dan rapi. Yang terpenting, pagi itu terasa berbeda. Surabaya yang biasanya panas seperti padang Sahara, menjadi lebih sejuk. Seulas senyum Larasati terbukti telah menjadi air conditioner raksasa yang mampu menurunkan suhu serupa dengan Siberia. Kota Surabaya jadi mirip Kota Paris di musim semi. Senyum Larasati juga otomatis membuat lupa bahwa aku punya utang tugas gambar pada Pak Anto. Amnesia akut tetiba menyeruak.


“Maaf ya, Mas. Jadi repot gara-gara aku,” ujarnya lembut. Ia menenteng beberapa tas bawaan.


Mau mudik, Mbak?


“Nggak apa-apa kok, Ras. Aku senang kamu datang,” balasku malu-malu.


Kami bertetangga lama, tetapi rasa canggung sungguh tak terbendung. Bagiku, Laras bukan tetangga ataupun teman bermain waktu kecil yang imut. Dia sudah menjelma menjadi sosok bidadari yang baru turun dari angkot line P.


Tak banyak berbasa-basi. Kami langsung meninjau lokasi kerja Laras di kawasan Rungkut Industri. Kunjungan itu berlangsung singkat. Setelah melihat lokasi kerja Laras, kami langsung kembali. Tak banyak obrolan tercipta. Mulutku lebih banyak terkunci. Motor melaju membelah Surabaya. Tak terlalu padat lalu-lalang kendaraan kala itu. Cuaca juga tak begitu gerah. Dengan kecepatan 50 Km/jam, berusaha kunikmati setiap inchi jalanan Kota Surabaya. Gedung-gedungnya yang menjulang, deretan pohon yang rindang dan rawon setan, menu makan siang kami hari itu.


Mengapa disebut rawon setan?


Ini adalah salah satu warung rawon legendaris di Surabaya. Konon, pada awalnya warung ini dibuka pada pukul 23.00 hingga dini hari. Itulah asal muasal nama rawon setan bermula. Makan rawon membuatku selalu teringat kampung halaman. Rawon buatan emak tak kalah sedap dari rawon setan.


“Bagaimana kabar keluarga di Jombang, Ras?” tanyaku di sela-sela makan. Aku menikmati setiap suapan yang terasa begitu gurih di mulut.


“Alhamdulillah baik, Mas. Mas Abi sibuk terus ya?”


“Ya beginilah, Ras. Mondar-mandir mencari jati-diri.”


Tsaaaah! Bahasaku.


“Aku jadi nggak enak ngrepotin Mas Abi yang lagi sibuk di sini. Takutnya kalau hari Minggu gini lagi berduaan sama pacarnya,” ucapnya sambil tersenyum.


Deg!


Pertanyaan pancingan nih!


“Oh, nggak! Aku loh masih jomblo. Siapa to Ras, yang mau sama cowok lugu dari kampung seperti aku,” aku merendah.


Norak nggak sih?


Larasati kembali mengumbar senyumnya yang misterius mirip Monalisa. Sungguh, aku gagal mengartikan arti senyumnya. Berharap Laras tertarik padaku tentu sesuatu yang agak naif.


Tak banyak lagi obrolan tercipta. Kami lebih fokus dengan hidangan yang tersaji siang itu. Sesekali kucuri pandang ke arahnya. Wajahnya yang bersaput make up tipis begitu lembut dan mempesona.


Diam-diam, aku mulai membandingkan wajah Laras dengan wajah dua gadis yang kukenal sebelumnya. Dalam skala satu hingga sepuluh, skor Lusi tetap paling tinggi. Yaitu sembilan. Disusul Laras sebagai kuda hitam dengan skor delapan. Dan yang terakhir Dahlia, dengan skor enam koma lima.

__ADS_1


Acara makan siang yang jauh dari romantis itu berakhir. Tentunya, pengalaman makan siang bersama Lusi menjadi pengalaman berharga buatku. Dengan percaya diri kukeluarkan dompet, dan kukeluarkan selembar uang seratus ribuan hasil ngutang dari Dahlia jilid tiga.


Mengapa jilid tiga? Nanti akan kuterangkan.


Kali ini aku harus bersikap bossy, bukan lagi bersikap seperti jongos yang nunggu ditraktir.


Paling tidak, ketika Laras pulang ke kampung nanti dia bisa bercerita pada emak dan seluruh keluarganya yang tersebar di penjuru kampung, bahwa dia pernah ditraktir oleh Abimanyu Prasetyo.


“Terima kasih ya Mas sudah ngajak aku makan siang,” ujar Laras.


“Nggak apa-apa lah. Sekali-kali. Kamu kan tamu, jadi ya wajar itu.”


“Takutnya ngrepotin Mas Abi.”


“Ndak repot. Tenang aja. Oya, kamu langsung balik ke Jombang siang ini?”


“Iya Mas. Nanti anterin aku ke Joyoboyo lagi ya?” pinta Laras.


“Nggak mampir ke kontrakan dulu?” tawarku.


“Ntar takutnya kesorean, Mas. Kapan-kapan aja ya!”


“Ooh..”


Sedikit kecewa mendengarnya. Padahal tadinya aku akan memamerkan Laras pada kawan-kawan di kontrakan. Semacam pembuktian, bukan hanya Andre dan Doni saja yang bisa menggaet cewek. Sekaligus mengumumkan pada mereka bahwa seleraku tidak main-main untuk urusan perempuan.


Tidak seperti Doni.


Ucapan Laras seolah meniupkan angin segar.


Boleh sering ketemuan?


Siap!


“Nggak apa-apa, Ras. Nanti kalau sampai Jombang terlalu malam juga akan repot nyari kendaraan. Salam saja ya buat semua keluarga di Jombang,” kataku.


“Mas Abi kapan pulang ke Jombang? Emak sudah kangen sepertinya....”


“Belum tau juga sih Ras. Sepertinya aku mau tahun baruan di Surabaya saja. Bingung juga mau ngapain di Jombang.”


“Mending di Surabaya saja, Mas. O ya, hampir lupa....” Laras menyerahkan sebuah paper bag kepadaku.


“Apa ini, Ras?”


“Titipan dari emak sampean. Katanya sih sambel pecel, supaya nggak sering beli lauk di luar. Disuruh ngirit katanya. Ada juga sedikit lemper buatanku. “ ujar Laras.


“Oalaaah ... kok pada repot! Terima kasih ya, Ras!”

__ADS_1


Setelah semua urusan beres, kuantar Laras kembali ke Terminal Joyoboyo. Hari itu, cuaca sangat bersahabat. Tak terlalu panas seperti biasa. Bahkan di langit selatan, awan hitam sudah mulai menggantung. Semoga hujan tidak segera turun.


“Motornya bagus, Mas. Minjem temannya ya?” celetuk Laras ketika kami siap berpisah.


Plaak!


Wajahku berasa di tampar. Heran bercampur malu, bagaimana Laras tahu ini motor pinjaman? Tak pernah sepatah katapun sebelumnya membahas masalah motor. Karena aku tahu itu adalah area sensitif!


“Iya Ras. Hehe. Maklum, masih belum bisa beli sendiri,” jurus memelas mulai kukeluarkan.


“Aku doain ntar bisa beli sendiri ya, Mas. Kalau perlu bisa beli mobil supaya ndak kehujanan.”


“Aamiiin. Makasih Ras.”


Kami berpisah. Tanpa drama seperti di sinetron Indonesia. Kutatap kepergian gadis yang menorehkan kenangan manis hari ini.


Wooee...ingat tugas gambarmu!


Hati kecilku mengingatkan. Sayangnya aku tak peduli. Masih terlihat mobil angkutan yang ditumpangi Laras sayup-sayup menjauh.


Woee...ingat utangmu pada Dahlia lekas dibayar!


Kembali hati kecilku mengingatkan. Mendadak aku menjadi lesu. Dengan menggunakan kalkulator telepon genggam, kuhitung total hutangku pada Dahlia. Utang pertama, seratus ribu. Utang kedua untuk membayar jasa tugas gambar seratus ribu, utang jilid tiga hari ini untuk menjamu Laras seratus ribu.


Totalnya tiga ratus ribu.


Banyak juga ya?


Jujur, aku masih belum ada gambaran bagaimana cara membayar hutangku pada Dahlia. Tapi toh Dahlia tidak memberi tanggal jatuh tempo seperti para renternir yang suka berkeliaran di pasar. Jadi aku mempunyai waktu untuk mengumpulkan sedikit uang.


Menghadapi fakta itu, aku harus lebih berhemat untuk urusan makan dan jajan. Hutang adalah hutang. Aku memang miskin, tetapi masih mempunyai secuil harga diri. Tak mau orang memberi cap tidak bertanggungjawab. Tidak ada kalimat itu dalam kamus hidup Abimanyu Prasetyo.


Kupacu kembali motor pinjaman dari Andre pulang ke kontrakan. Segera para penghuni kontrakan menginterogasi tentang pertemuan singkat dengan Laras.


“Loh, mana ceweknya kok nggak diajak ke sini?” tanya Andre.


“Buru-buru pulang dia Ndre,” jawabku.


“Aku curiga nih....” celetuk Doni.


“Curiga kenapa?”


“Aku pernah lho lihat kamu ngobrol asyik sama Dahlia. Jangan-jangan....”


Sumpah, aku kesal kalau Doni ekspresinya seperti itu. Untuk menghindari bullying, aku segera kabur ke kamar. Kubiarkan mereka berfantasi dengan bayangannya sendiri.


Duh!

__ADS_1


Jangan sampai kedekatanku dengan Dahlia terbongkar!


***


__ADS_2