
Ternyata terlalu lama di rumah dapat memicu rasa bosan menghebat. Pola hidup serba teratur yang biasa kuterapkan di Surabaya mulai luntur, seiring kebebasan yang kudapat selama di rumah. Hari-hari tanpa kuliah membuat produktivitas menurun. Sehabis salat Subuh, aku bebas melanjutkan mimpi sampai jam delapan. Bahkan emak kadang harus turun tangan untuk membangunkan.
Selain itu, terlalu lama di rumah ternyata juga menyebabkan ketumpulan akut di otak, malas bergerak dan nafsu makan menjadi meningkat drastis. Aku khawatir menderita obesitas. Padahal untuk urusan pola makan, sudah kusesuaikan dengan kebutuhan kalori yang diperlukan tubuh dalam satu hari. Nyatanya, aku masih merasa tidak ideal. Perut ini kedodoran kemana-mana!
Bagaimana tidak? Jumlah kalori yang masuk sungguh tidak seimbang dengan jumlah kalori yang dibakar. Tak heran tumpukan lemak menyusup ke lipatan perut dan sebagian menggelembung di pipi.
Di antara rasa bosan menjadi-jadi, kadang kucoba untuk berjalan-jalan berkeliling kampung untuk menikmati suasana sore yang romantis, bermandikan cahaya matahari yang keemasan dan semilir angin sepoi yang menentramkan hati. Hanya satu kekurangannya. Tak ada pasangan untuk beromantis ria!
Setiap kumelangkah, tak lupa untuk menyapa kepada semua warga kampung yang kutemui. Ibu-ibu yang bergerombol mencari kutu di teras sambil berbisik-bisik, entah kabar burung apa yang sedang menjadi trending topic di antara mereka.
“Mak, aku tak balik ke Surabaya ya?” tanyaku pada emak yang sedang memarut kunyit. Aku duduk sambil menjelajahi meja makan, mencari sesuatu yang bisa masuk ke perut.
Hampir tiap hari emak membuat jamu kunyit untuk penangkal segala macam penyakit. Emak tidak salah, kunyit adalah tumbuhan rimpang yang berfungsi sebagai anti oksidan yang baik. Lidah sudah kapalan mencicipi jamu kunyit asam yang fenomenal ini.
“Liburnya kan masih lama to, Bi?” ujar emak. Beliau masih fokus memarut.
“Masih seminggu, Mak. Tapi aku bosen di rumah. Ndak ada teman. Hanya makan tidur aja tiap hari. Emak tega melihat aku ngobrol sama sapi tiap hari?” rajukku.
“Ya jalan-jalan kemana gitu. Ngumpul sama anak-anak muda di pos kamling. Kan bagus juga?” saran emak.
Berkumpul di pos kamling?
Bersosialisasi untuk membahas hal-hal yang mudharat bukan tipeku. Apalagi diselingi dengan main gaple dan merokok. Rasanya suram sekali hidup ini apabila dihiasi hal-hal demikian. Makanya, mungkin beberapa orang mengecap aku sombong. Sayangnya aku tak peduli dengan kaum-kaum penggunjing.
“Jalan-jalan kemana sih, Mak? Aku sampai khatam jalan-jalan di kampung ini. Ibu-ibu sampai bosan lihat wajahku karena mondar-mandir kayak setrikaan,” ucapku lagi.
“Kamu tau ndak, Bi. Banyak lho ibu-ibu yang nanyain kamu. Ada Bulek Ratiyem, emaknya si Nunik nanyain kamu, kemarin emak pas belanja juga ada ibu-ibu kampung sebelah nanyain kamu juga. Dua orang lagi juga pernah nanyain kamu, sampai emak lupa namanya,” terang emak. Kini beliau memeras parutan kunyit ke dalam gelas besar.
“Ngopo to Mak kok mereka pada nanyain aku?” tanyaku antusias.
“Kamu ini kok kayak ndak tau aja. Ya mereka pengen kamu jadi mantunya. Anak emak kan pinter, ganteng, alim, baik ... kurang apa coba?”
Kurang kasih sayang, Mak. Batinku.
__ADS_1
Pujian emak tak membuatku terbang sampai ke langit tujuh. Karena itu adalah pendapat subjektif. Semua emak di dunia pasti akan memuji putranya sendiri. Jadi pujian emak tak membuat besar kepala sama sekali. Malahan aku merasa, apa yang dikatakan emak sangat bertolak belakang dengan kondisi real di lapangan.
Ya, mungkin aku istimewa di kampung ini. Di Surabaya, aku hanya remah-remah peradaban yang terlupakan. Di kampung mungkin aku dipuja, tetapi di Surabaya namaku tenggelam. Bahkan di kontrakan, namaku tak layak apabila dibandingkan dengan Andre.
Dalam hati, aku merasa heran juga. Apa yang merasuki pikiran ibu-ibu di kampung ini sehingga bisa khilaf? Baru melihatku saja, mereka mendadak histeris dan meminangku menjadi calon mantu idaman? Tak heran setiap aku jalan, mata ibu-ibu selalu melirik dan berbisik-bisik di belakangku. Jadi ini alasannya?
Ah, masa bodohlah!
Lagipula, aku mau masih fokus belajar dan menuntut karir. Tak ingin terburu-buru terbelenggu dengan komitmen. Aku masih muda, ingin mengepakkan sayap ke seluruh tempat di penjuru dunia. Masih banyak mimpi-mimpi yang belum kuraih.
“Mau nggak jalan-jalan ke Jatim Park, Bi?” tawar emak. Beliau mulai menuang jamu-jamunya ke dalam botol-botol plastik.
“Malang ya, Mak?”
“Iya yang di Malang.”
Malang, mungkin kota yang indah bagi sebagian orang. Bagi aku, Malang adalah kota yang menyimpan trauma tersendiri. Di kota ini, perasaanku dihempaskan menjadi keping-keping kecil berserak hingga tak bisa disatukan. Batinku melakukan penolakan ketika emak menyebut nama kota itu.
“Tempat lain aja ya, Mak?” tawarku.
“Nggak usah jauh-jauh dari Jombang, Mak.”
“Lha iya mana?”
“Surabaya.”
Ujung-ujungnya aku menyebut nama Surabaya. Diam-diam rasa rindu terhadap Surabaya menggejolak tak terkendali. Lagipula, kalau hanya melihat pemandangan alam, emak sudah sangat sering karena kampungku ini tak kalah indah dengan wasata alam Bedugul di Bali. Sekali-kali, emak dan Weni harus merasakan menginjak mal atau melihat gedung-gedung yang megah menjulang. Sekali-kali merasakan kerasnya hidup di Surabaya, atau mendengar kata ‘da****’ yang sudah mendarah-daging di sana.
“Lha, itu kan tempat kuliahmu to Bi?” tanya emak.
“Emak kan jarang nengok ke sana. Maksudku, nanti aku sekalian balik ke kontrakan sambil ajak emak dan Weni jalan-jalan. Bosen Mak di kampung terus, lihat gerobak sapi hampir tiap hari. Sekali-kali lihat banyak mobil. Bosen makan sayur terong terus, sekali-kali makan ayam suntik. Mau to Mak?” Bak seorang sales, aku mencoba mempromosikan Surabaya kepada emak.
“Ayam suntik?”
__ADS_1
Aku tak menjawab.
Ah, nanti emak juga tahu.
“Gimana Mak? Kalau jadi minggu depan kita berangkat. Sekali-kali refreshing, Mak,” ajakku mantap.
“Lha terus nanti siapa yang ngurusin sapi, Bi?” Emak terlihat risau. Sorot matanya memancarkan keraguan.
“Serahkan sama Pak Turonggo. Pasti beliau mau. Anak buah Pak Turonggo kan banyak. Pasti dia bisa nyuruh salah satu dari mereka. Nanti kita upah juga. Gimana?” bisikku sambil tersenyum.
Untuk urusan memberdayakan sumber daya manusia, serahkan sama Abimanyu!
Sejenak emak masih galau. Begitulah orang tua. Pertimbangannya banyak. Selain sapi, sepertinya ada yang masih mengganjal di pikirannya. Perlu sedikit rayuan maut untuk membujuk beliau.
“Tapi jangan-jangan lama ya, Bi. Nggak usah nginep kalau bisa,” kata emak.
“Ya nginep lah Mak. Barang sehari. Kontrakan lagi kosong kok, Mak. Teman-temanku pada pulang kampung. Jadi nanti emak sama Weni tidur di kamarku saja.”
“Satu lagi, Bi.”
“iya, Mak?”
“Kita naik kereta api saja ya berangkatnya?”
“Siap, Mak!”
Aku bisa menerima alasan mengapa emak lebih memilih naik kereta api daripada naik kendaraan umum lain. Pasti karena mabuk darat. Emak tidak biasa naik bus atau mobil. Diguncang sedikit saja, kepala sudah puyeng. Kalau sudah begini, beliau akan dihajar rasa mual.
Pernah suatu kali beliau ikut ziarah walisongo bersama grup pengajian ibu-ibu di kampung, yang ada malah tak bisa menikmati perjalanan, karena dihajar mabuk berkepanjangan. Padahal berbagai sugesti sudah dilakukan untuk mencegah.
Fix!
Aku akan bawa emak dan Weni untuk mencicipi gemerlap Surabaya. Semoga tidak ada aral-melintang.
__ADS_1
***