
Tugas Akhir adalah perjuangan pertama sebelum menjalani proses wisuda. Sebelum bergelut mengerjakan, aku ingin bersenang-senang sebentar. Paling tidak persiapan amunisi sebelum terjun ke medan perang. Sayangnya, aku malas pulang ke Jombang, jadi aku lebih memilih menghabiskan waktu di Surabaya.
Sebenarnya, ini lebih ke alasan pribadi. Tiap kali aku pulang kampung, emak pasti akan menyuruh mampir ke Pak Turonggo. Artinya apa? Artinya perjodohan telah dekat. Bukannya aku tidak mau dengan Laras, tetapi menurutku aku yang tidak pantas untuk dia. Kesetiaan dan komitmen, dua kata ini seolah menjadi semacam hantu yang bergentayangan di pikiran. Mudah diucapkan, tetapi sangat sulit dilakukan. Tak ingin aku menyakiti hati seorang gadis gara-gara aku belum siap dengan komitmen. Mimpi-mimpiku masih banyak yang belum kuraih.
Semenjak Laras bermasalah dengan dompetnya yang hilang, ia belum memberi kabar lagi. Tak pula ingin menjadi sok pahlawan. Dalam hati terbersit rasa kasihan juga, tetapi biarlah. Aku sudah jera, tak ingin mengumbar rasa. Biarlah aku jadi manusia bebas tanpa ikatan cinta, mungkin itu lebih baik daripada menebar pesona ke segala penjuru. Toh aku juga tak terlalu istimewa. Jarang ada seseorang yang suka kepadaku karena fisik. Biasanya mereka harus mengenal beberapa lama terlebih dahulu.
Pagi mulai berlabuh di Kota Surabaya, menghantarkan sinar hangat ke segala pelosok. Aku sedang menikmati nasi pecel yang rasanya tak seberapa enak dibanding pecel legendaris Mbok Painem yang ada di kampung. Rasa kencur begitu kuat menyergap lidah, sehingga bumbunya terasa lebih mirip jamu. Okelah, aku berdamai dengan itu, karena tak kutemukan penjual pecel lain yang ada di sekitar kontrakan.
Aku bangun agak terlambat pagi ini, dengan rasa letih yang mendera sekujur tubuh. Manusia adalah makhluk yang serba salah. Ketika disibukkan dengan aneka kegiatan yang berlimpah, mereka mengeluh, tetapi ketika tak ada kegiatan mereka juga mengeluh dengan hal yang sama. Jadi maunya apa?
Jadwalku hari ini adalah menyusun pendahuluan, lalu membuat janji dengan dosen pembimbing. Kedengarannya sederhana, bukan? Padahal sejatinya, ini adalah fase yang berat. Membuat janji dengan dosen pembimbing adalah perjuangan kuliah yang sebenarnya. Mereka selalu sok sibuk dengan banyak kegiatan, pergi ke luar kota dan alasan-alasan lain yang kadang-kadang sengaja membuat kita mengernyitkan dahi.
Dosen pembimbingku kali ini adalah Pak Kusumo Sastrowardoyo, ST. MT. Jelas beliau bukan bapaknya Dian Sastrowardoyo. Beliau adalah seorang dosen senior yang sangat cemerlang di bidang ilmu logam. Usianya belum terlalu sepuh, mungkin sekitar empat puluh sekian, tetapi reputasinya layak diacungi jempol. Secara pribadi aku tak mengenal beliau, karena beliau hanya mengajar satu semester saja. Dalam pandanganku, beliau adalah orang yang bijak, tidak temperamental seperti si monster botak, Pak Anto Darsono.
Karena aku tidak punya komputer pribadi, untuk kegiatan ketik-mengetik aku meminjam komputer milik Doni. Entah mengapa belakangan ini dia sering pulang kampung, jadi kamarnya ditinggalkan dalam keadaan kosong. Aku sudah mengutarakan niat untuk meminjam komputer selama dia tidak memakai.
“Pakai saja, Bi! Tapi sabar ya. Agak-agak lemot, maklum Pentium 2, jadi harus ekstra sabaar!”
“Siap! Aku akan siap bersabar,” ujarku.
“Hari ini aku mau pulang ke Pasuruan. Disuruh Mimi pulang lagi. Padahal aku lagi banyak tugas. Huh!” keluh Doni.
__ADS_1
“Loh bukannya dua hari kemarin sudah pulang? Kok disuruh pulang lagi?” tanyaku, sambil menyalakan komputer yang memang terlihat mengenaskan secara fisik.
.
Pada dasarnya Doni ini jorok, tak heran komputernya bermandikan debu. Sebutir debu menyusup manja ke lubang hidungku, sehingga sukses membuat bersin-bersin. Tak menunggu waktu lama, segera kuambil tisu dan membersihkan komputer kumal itu.
“Nanti kukasi tau alasannya. Pokoknya kejutan deh! Mimi itu kalau ada perlu apa-apa sukanya mendadak. Ya terpaksa aku harus pulang hari ini,” ucap Doni sambil rebahan di kasur yang berbau tengik.
“Jangan-jangan kamu mau nikah sama Monik!” tebakku.
“Nggak lah! Belum siap kali aku. Memang nikah cukup bermodal dengkul? Harus punya pegangan, karir yang bagus, jadi harga diri tetap terjaga sebagai seorang pria. Malu tau kalau habis nikah tingganya di Pondok Mertua Indah!”
“Lho, memangnya Monik mau nungguin kamu sampai dapat kerjaan layak, punya rumah, punya mobil gitu?”
“Harus mau nungguin lah! Kalau nggak, aku mau berpaling ke lain hati!” ujar Doni.
“Cangkem-mu, Don! Syukur-syukur loh Monik itu mau sama kamu. Toh, kisah cintamu mayoritas berisi penolakan. Monik itu adalah anugerah terindah yang pernah kamu miliki. Nggak boleh disia-siakan!”
“Halah! Mending sering ditolak daripada kayak kamu, jomblo terus! Deket sama banyak cewek tapi nggak ditembak-tembak. Sukanya mainin perasaan doang!”
Ups!
__ADS_1
Aku terdiam seketika. Kali ini serangannya tepat pada sasaran.
Aku terus menyelesaikan ketikan dengan semangat. Konsentrasi kufokuskan pada layar, untuk menghindari typo atau salah tanda baca yang kadang lolos dari pengamatan. Kebanyakan para dosen sangat jeli. Terutama dosen senior. Mereka selalu tahu, walaupun kurang tanda titik sekalipun. Kuharap perjuanganku membuahkan hasil.
Menjelang siang, aku sudah selesai mengetik beberapa lembar, langsung ku-print, kuamat-amati dengan saksama agar tak ada kesalahan sekecil apapun. Malu rasanya jika sudah asistensi di depan dosen pembimbing, kemudian dia mencoret-coret pekerjaan kita. Tak apalah, aku yakin dosen-dosen itu juga melalui proses yang sama. Bahkan mungkin mereka sudah kenyang dengan segala cacian yang memanaskan telinga.
Doni sudah siap dengan segala amunisinya, bertolak menuju Pasuruan. Sebelum berangkat, tak lupa ia memberi wejangan kepadaku. Sudah mirip emak-emak saja dia.
“Nanti kalau kamu keluar kamar, jangan lupa lampunya di matikan ya. Terus komputer dan kipas anginnya juga. Kalau kamu mau, tidur saja di tempat tidurku biar nggak bolak-balik ke kamarmu!”
“Ogah! Kamarmu bau. Mendingan juga kamarku!” ujarku.
“Sialan! Kalau gitu bayar aja kamu pake komputerku. Udah nebeng, pake protes lagi!”
Aku tertawa. Jelas itu hanya candaan semata, jadi tak kubawa masuk ke dalam perasaan. Kami berdua terbiasa saling bantai dengan candaan-candaan, tetapi tak sampai ke hati. Tergantung suasana hati. Pernah juga aku marah besar, gara-gara Doni bercanda di saat suasana hatiku tak baik.
Segala ketikan sudah kuselesaikan dengan sukses, kini masuk dalam fase berat, yakni janji bertemu dosen. Perlu kesabaran ekstra untuk hal satu ini. Setelah berulang kali bernegosisasi untuk janji bertemu, akhirnya Pak Kusumo Sastrowardoyo menyanggupi di hari Selasa selepas Maghrib di kediamannya.
Untung, beliau tinggal di Perumahan Dosen yang lokasinya tak terlalu jauh dari kampus. Kadang ada dosen yang tinggalnya jauh di pelosok Surabaya, seperti di kawasan Surabaya Utara atau malah dekat Bundaran Waru.
Menghadapi dosen pembimbing, juga jarus mempunyai mental baja. Kadang mulut para dosen juga sangat pedas. Alih-alih melontarkan pujian, yang ada hanya cemooh yang menyakitkan. Bagi mahasiswa yang bermental kerupuk, pasti akan menangis guling-guling di hadapan dosen.
__ADS_1
Dengan bermodalkan Bismillah, aku berangkat menuju kediaman Pak Kusumo Sastrowardoyo.
***