
Tragedi Valentine yang dialami Andre sontak mempengaruhi atmosfer kontrakan. Mungkin hanya perasaanku, namun suasana muram menjadi semakin kentara. Area di depan TV seakan kehilangan ruh. Andre jadi semakin sering mengurung diri di kamar, enggan bergabung dengan kami. Biasanya Andre yang paling duluan heboh dengan cerita-cerita seru di dunia asmara.
“Kenapa si Andre?” tanya Doni sambil membuka nasi bungkusnya di depan TV. Aroma semerbak rendang daging memenuhi ruangan seketika. Oh, nasi padang.
“Lagi patah hati dia ....” jawabku pendek.
“Patah hati sama siapa? Bisa juga dia patah hati? Biasanya matahin hati ....” gelak Doni.
“Udah nggak usah kepo! Paling semingguan aja dia kayak gitu.”
“Kita lihat aja nanti hihihi ....”
Doni kembali khusyu’ menikmati makan siangnya. Sebenarnya perutku lapar, tetapi aku malas keluar untuk beli makan siang. Semua warung yang bertengger rapi di sepanjang jalan menuju kampus, hampir semua sudah kucoba. Sedikit membosankan.
“Gimana Monik?” tanyaku berbasa-basi. Sebenarnya ada rasa perih mengiris saat mengajukan pertanyaan ini.
“Baik aja kok. Kami mau nonton The X Files malam ini. Lagi premiere. ”
Doni telah menyelesaikan ritual makan siangnya. Selanjutnya, ia tengah menyesap es jeruk langsung dari ujung bungkus plastik!
“Selera kalian ngeri ....”
“Ngeri gimana? Kamu aja yang kutu kupret! Dunia yang kita tempati ini menyimpan banyak misteri. Film itu cerdas sekali, mengungkap sisi gelap dunia yang jarang diceritakan. Otak kamu mah mana nyampai! Kebanyakan nonton sinetron azab!” hina Doni.
Benar kan?
Doni terkenal sadis kalau sudah urusan hina-menghina. Padahal aku dikenal sebagai pribadi yang pintar, tetapi dengan semena-mena dia berkata otakku tidak sampai menonton film The X Files. Film bergenre misteri yang dibintangi David Duchovny ini bercerita tentang pengungkapan misteri-misteri yang ganjil yang ada di muka bumi. Memang dikemas secara cerdas dan butuh pemikiran mendalam. Sayangnya tuduhan Doni bahwa aku tidak bisa memahami film ini adalah tuduhan yang jahat!
Baiklah. Kuterima hinaan dahsyat itu!
“Keren tau. Di film itu kita jadi tau misteri-misteri yang ada di dunia. Aliens, area 51, crop circle ....” cerocos Doni.
Aku malas menanggapi perkataan Doni. Sudah terlanjur tergores hati ini. Menit selanjutnya ia asyik berceloteh tentang Monik. Menurutku, dia sungguh tidak peka. Memamerkan kemesraan bersama pacar di depan seorang jomblo adalah kejahatan kemanusiaan yang harus dihukum seberat-beratnya.
Itu menurutku.
Eh, tapi sebenarnya itu bukan salah Doni. Harusnya dari awal aku tidak bertanya tentang hubungannya dengan Monik. Memang, hati seorang jomblo sangatlah sensitif, melebihi seorang perempuan yang sedang PMS. Tersentil sedikit, emosi bisa membara membakar kewarasan.
Getar telepon membuyarkan kegundahanku. Sontak bunga-bunga di taman hati bermekaran ketika melihat nama si penelepon yang berkedip-kedip di layar. Paling tidak, kesempatan selalu ada. Allah menakdirkan hamba-Nya untuk berpasang-pasangan. Jadi, tak mungkin selamanya aku menganyam kehidupanku sendirian.
__ADS_1
Mungkin ini jodohku.
Untuk menjawab panggilan telepon, segera aku menyingkir dari ruang TV. Sangat berbahaya apabila pembicaraan didengar oleh Doni. Temanku yang satu itu biasanya suka membocorkan rahasia negara.
“Mas Abi di mana?” suara selembut sutra menggelitik telinga, membangkitan semangat. Terdengar mendayu di ujung sana.
“Aku lagi di kontrakan aja. Kamu di mana Ras?”
“Aku udah nyampe Surabaya dari siang tadi sama bapak. Terus nyari kost. Besok hari Senin aku sudah mulai kerja,” suara yang mendamaikan itu sangat kukenal. Tiada lain tiada bukan.
Larasati.
“Wah, seneng aku dengernya, Ras. Mana bapakmu? Mau mampir ke sini kah?”
“Bapak sudah balik ke Jombang, Mas. Kan aku sudah dapat kost ....”
“Kok nggak telepon tadi. Kan aku bisa bantuin kamu nyari kost,” langsung kukenakan topeng malaikatku. Aku harus tampil sempurna di depan Larasati.
“Nggak usah, Mas. Nggak enak ngrepotin Mas Abi terus. Mas Abi kan mahasiswa, pastinya sehari-hari banyak tugas dan belajar. Ntar takutnya malah mengganggu,” terang Laras.
“Nggak ganggu lah. Kita ini kan tinggal di rantau. Sudah seharusnya kita saling bantu, karena kita berasal dari kampung yang sama. Kalau ada apa-apa, bilang saja. Siapa tahu aku bisa bantu,” tawarku.
“Iya Mas. Tapi sepertinya belum untuk saat ini. Oya Mas, besok Mas Abi ada di kos jam berapa?” tanya Laras.
“Aku ada titipan dari emak sampean, aku besok mau ke sana memberikan titipan ini..”
“Oh, nggak usah repot, Ras. Biar aku saja yang ngambil titipan itu. Sekalian biar tahu kost-mu,” modusku.
“Iyakah, Mas? Wah, senengnya aku dikunjungi. Tapi sepertinya ibu kost nggak ngebolehin masuk kamar lho mas,” ujar Laras.
Duh.
Lugu sekali Laras. Tentunya aku juga tahu aturan. Aku tidak akan masuk kamar perempuan sembarangan.
“Ya kita ngobrol di teras aja, Ras!” tandasku.
“Oke Mas, nanti kukirimkan alamatnya padamu,” suara Laras terdengar antusias.
Pembicaraan kami berakhir. Selebihnya obrolan tak penting.
__ADS_1
Dari obrolan singkat itu, aku menjadi agak lega. Kehadiran Laras di Surabaya membuatku merasa tidak sendirian. Paling tidak, kalau ada apa-apa aku bisa minta bantuannya. Salah satu kebahagiaan seseorang yang tinggal di perantauan yaitu ketika kita bertemu dengan orang yang tinggal di kampung halaman yang sama.
Maka, lengkap sudah. Ada Dahlia yang super baik, ada Laras yang kelembutanya mirip gula tabur di atas donat. Sayangnya masih ada satu yang kurang.
My Albert Einstein, Lusi Handayani.
Saat Laras mengirimkan alamat kost-nya kepadaku, mendadak kepala menjadi pusing. Alamat yang diberikan terlihat begitu asing. Aku juga masih buta dengan wilayah Surabaya ini. Takutnya nanti malah tersesat.
Karena tidak mau repot, aku harus memikirkan cara agar bisa menemui Laras tanpa terlalu repot. Seperti biasa, aku mengiba pada Dewa Penolong-ku yang serba bisa. Siapa lagi kalau bukan Dahlia?
Dia adalah warga Surabaya asli. Dibanding aku, pasti dia lebih tahu alamat ini. Secara runtut, kuceritakan kronologisnya. Mulai dari latar belakang Laras, alasan Laras datang ke Surabaya, dan alasanku mengapa harus bertemu dengan Laras.
“Alamat ini aku nggak tahu, Lia. Nanti yang ada aku malah nyasar-nyasar. Bisa bantuin nyari alamatnya kan?” sedikit memohon aku meminta bantuan pada Dahlia.
Inilah yang kusebut dengan merendahkan sedikit harga diri.
“Aku tahu sih daerah sini. Nanti lah kita cari sama-sama. Kasihan juga kalo ntar kiriman dari ibumu tidak nyampai. Mau berangkat jam berapa?”
Alhamdulillah.
Dahlia sama sekali tidak berkeberatan mengantar. Awalnya aku mengira dia akan cemburu dengan Laras. Toh nyatanya tak ada secuil pun raut cemburu di wajahnya.
“Nanti ya, pulang kuliah . Sekitar jam lima sore.” jawabku antusias.
“Oke. Tapi aku pulang dulu ya. Mandi dulu biar nggak bau!”
“Makasih Dahlia ....”
Selepas berterima kasih, aku sudah ambil ancang-ancang untuk meninggalkan Dahlia. Aku khawatir dia bertanya aneh-aneh mengenai Larasati. Semakin sedikit informasi mengenai Laras, maka akan semakin baik.
Sayangnya kekhawatiranku itu terjadi.
“Bi, cewek itu pacarmu ya?” selidik Dahlia kemudian.
Raut wajahnya tetap tenang, tanpa beban. Sebaliknya, wajahku spontan berubah paras. Pertanyaan itu sederhana tetapi membuat deg-degan.
“Oh, bukan! Bukan. Dia itu tetangga di Jombang. Dia itu yang ngantar kue pas kamu melayat ke rumahku di Jombang. Masih ingat, nggak?”
“Ya lupa lah! Aku kan tidak memperhatikan tetanggamu sampai segitunya. Tapi kalaupun dia pacarmu, nggak apa-apa juga. Pikirmu aku cemburu?” Dahlia tersenyum dingin.
__ADS_1
Astaga! Dia kok bisa membaca pikiranku sih?
***