DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXXX: Good Bye, Bu Roffi!


__ADS_3

Hari yang dinanti-nantikan telah tiba. Perasaanku bercampur aduk ketika merapikan meja kerja. Gembira karena terbebas dari rutinitas membosankan dan tatapan dengki Pak Imron, sedih karena berpisah dengan beberapa teman baik di sini. Mungkin aku akan merindukan mereka, walau hanya sedikit. Mungkin besok aku tak dapat memegang mouse komputer ini lagi, atau memencet-mencet keyboard sambil menatap screen komputer.


Setiap benda yang ada di atas meja kerja menyimpan kenangan dan cerita tersendiri. Mug cantik bergambar karakter Tazmanian Devil isinya akan kosong. Biasanya aku menggunakan untuk mengisi air putih, dan kucampur dengan serbuk vitamin C. Stabilo berwarna hijau dan orange itu juga akan berganti pemilik. Staples, gunting, dan selotip seolah bersedih, rindu akan sentuhan tanganku. Kutinggalkan semua pernak-pernik di atas meja kerja.


Tia Wijayanti berdiri di dekatku, menatap dengan pilu. Mungkin setelah ini tak ada lagi yang menjadi pahlawan pembela kebenaran saat dia diomeli Pak Imron atau Bu Roffi. Mata gadis belia itu berkaca-kaca, seraya berusaha membantu merapikan berkas di atas meja.


“Ndak usah, Tia. Biar aku sendiri. Nanti kalau ketahuan Bu Roffi bisa dimarahi lho!” cegahku.


“Aku nggak peduli, Pak. Lagian Bu Roffi marah bukan karena aku membantu Bapak. Tapi karena dia cemburu!” ucap Tia.


Aku menghela napas, tak bisa berkata apa-apa lagi. Paras Tia terlihat murung, jauh dari bahagia. Entah apa yang di pikirannya. Sebenarnya berat juga meninggalkan Tia, tetapi perjalananku masih panjang. Aku masih ingin menyingkap tabir yang membentang di hadapanku.


“Bapak kok tega ninggalin aku?” lirih Tia.


“Bukan tega, Tia. Tapi masa belajarku di sini sudah berakhir. Sama saja seperti anak yang sudah lulus sekolah. Jadi nggak perlu sedih. Nanti kalau perlu bantuanku kamu bisa kontak aku. Kayaknya aku masih di Surabaya aja kok! Nanti kalau ada waktu, aku juga bisa main-main ke sini,” hiburku.


Tia terdiam menahan rasa. Kalimat tadi rupanya tak menghibur, justru membuatnya makin sedih. Lalu apa yang harus kulakukan? Aku sadar, bagi Tia mungkin aku bukan figur pria idaman hati, tetapi lebih ke figur kakak yang melindungi dan mengayomi.


Pak Imron mendekat saat aku menulis memo di atas meja. Menyadari kehadiran Pak Imron, Tia segera beringsut menjauh untuk mengerjakan pekerjaan lain. Gadis belia itu sudah malas berbicara dengan si bujang lapuk. Aku sendiri tak terlalu memperhatikan kehadiran Pak Imron.


“Kamu jadi selesai hari ini, Bi?” tanya Pak Imron.


Sedikit terkejut aku mendengar pertanyaan itu. Nada suaranya yang biasanya tinggi dan penuh kebencian mendadak musnah. Yang ada nada pertanyaan yeng terdengar sedih.


“Oh iya, Pak. Hari ini hari terakhir. Makanya saya lebih sibuk dari biasa. Menyelesaikan yang tertinggal sekaligus berburu tanda tangan. Maklum mahasiswa seperti saya ini masih harus banyak belajar. Terima kasih ya, Pak sudah banyak membantu dan memberi banyak pelajaran kepada saya.”


Pak Imron terdiam seribu bahasa menatapku. Sedikit aneh, biasanya aku melihat sosok bertanduk iblis namun kini aku melihat pria setengah tua yang dirundung sedih. Masa iya Pak Imron bersedih karena kepergianku?

__ADS_1


“Saya secara pribadi minta maaf ya, Bi. Saya sadar banyak buat salah ke kamu. Maaf yang banyak, dan jangan benci aku ya. Jujur aku sedih karena setelah ini aku ngak akan punya lawan yang sebanding.” Pak Imron tersenyum kecut.


“Ndak usah minta maaf Pak. Saya yang harusnya minta maaf karena datang tiba-tiba ke kantor ini lalu membuat rusuh. Saya paham kok. Tentu saja saya nggak pernah benci Bapak. Itu biasa saja. Bapak yang semangat ya, Insya Allah luluh kok hatinya ...,” selorohku.


“Eh, apa maksudnya ini Bi?”


“Oh, maaf Pak saya hanya bercanda Pak. Maksud saya Bapak semangat kerjanya biar dapat meluluhkan hati gadis pujaan Bapak hehe. Maaf kalau saya lancang ya Pak.”


“Ooh, bisa aja kamu Bi. Ada gadis atau tidak saya selalu semangat kok. Yo wes, tak doain kamu sukses ya. Urusanmu dimudahkan dan semuanya lancar.”


“Terima kasih banyak, Pak Imron. Doa yang sama buat Bapak!”


Kami bersalaman sebagai tanda perpisahan. Dalam hati ada rasa haru juga. Masih ingat hari-hari pertama masuk kantor, tatapan Pak Imrom menatap bagai seekor serigala yang hendak memangsa bulat-bulat. Kini, tatapan itu memudar, mendadak menajadi tatapan kelinci yang menggemaskan.


Tak hanya Pak Imron, semua yang bekerja satu kantor denganku memberi ucapan selamat tinggal dan doa. Saat-saat haru seperti ini membuatku sisi humanis-ku tersentuh. Walau tak sampai menangis, tapi sukses membuat mata berkaca-kaca. Bagaimanapun, kami telah bekerja bersama selama lebih kurang empat bulan atau lebih. Waktu yang relatif singkat, tetapi cukup efektif untuk merekatkan ikatan. Sejatinya manusia adalah makhluk sosial, yang tak bisa hidup tanpa orang lain. Karena itu, wajar saja kalau sebenarnya kami saling membutuhkan.


“Aku sudah tahu maksud kedatangamu, Bi. Silakan duduk!” perintah Bu Roffi.


Rangkaian kata yang sudah kususun mendadak musnah. Tatapan Bu Roffi yang penuh kesedihan perlahan mulai mempengaruhi emosi. Kucoba untuk menguatkan hati.


“Kamu akan pergi dari kantor ini hari ini. Sungguh, aku nggak tau harus berkata apa. Kontribusimu tak bisa dianggap remeh. Jarang ada anak muda yang mempunyai etos kerja yang baik sepertimu.


Sayangnya di sini posisimu hanya karyawan magang. Ini membuatku sedih, Bi. Kamu juga berkepribadian baik dan santun kepada semua orang. Mungkin kalau aku mampu, aku akan mecegahmu untuk tidak pergi. Namun aku sadar, kalau itu sama saja dengan membelenggu kesuksesanmu. Jalanmu masih panjang. Mimpi-mimpimu juga tinggi.”


Bu Roffi berhenti sejenak.


Aku hanya diam mendengarkan. Lebih baik tidak menginterupsinya berbicara.

__ADS_1


“Aku nggak ngerti harus ngomong apa lagi, Bi. Yang jelas aku orang yang paling kehilangan saat kamu meninggalkan kantor ini,” kata Bu Roffi.


Duh, lebay ....


“Saya minta maaf kalau punya banyak salah ya, Bu. Mungkin ada tingkah laku yang kurang berkenan mohon dimaafkan. Terima kasih atas ilmu dan bimbingannya selama ini. Saya juga berat meninggalkan kantor ini, tetapi seperti yang ibu bilang tadi saya harus berjuang dulu menyelesaikan kuliah. Insya Allah kalau ada waktu saya akan mampir ke sini.”


“Selama ini aku tak pernah menganggap karyawanmu, Bi.”


Ungkapan hati Bu Roffi itu membuat sedikit tidak enak. Posisi dudukku mendadak canggung. Kutundukkan kepala, tak berani menatap matanya.


“Aku yang banyak minta maaf kepadamu karena sering merepotkanmu. Bahkan membuatmu terlibat dalam masalah keluargaku. Maakan aku ya, Bi. Terima kasih selama ini sudah baik dengan Vina. Aku yakin, dia akan sangat kehilangan sosok sepertimu. Entah aku harus ngomong apa lagi ....”


Bu Roffi menyerahkan selembar amplop kepadaku.


“Apa ini, Bu?”


“Ini adalah rasa terima kasihku secara pribadi karena banyak membantu dalam perusahaan. Ini bukan dari perusahaan, jumlahnya nggak seberapa tapi aku yakin kamu akan banyak membutuhkan untuk keperluan kuliahmu. Terimalah!”


“Nggak usah repot-repot, Bu! Saya nggak bisa. Ini terlalu berlebihan ....”


“Aku akan sangat kecewa kalau kamu menolak!”


“Terima kasih ya, Bu!”


Setegar-tegarnya Bu Roffi, dia tetap wanita biasa yang perasaanya rapuh. Tak kuasa ia membendung bulir air mata yang luruh di pipi. Air mata wanita adalah sisi terlemahku. Sayangnya tak ada yang bisa kulakukan. Setiap perjumpaan pasti berakhir dengan perpisahan. Bagaimanapun juga, aku tinggalkan kantor itu, walau air mata Bu Roffi berderai-derai.


Good bye, Bu Roffi!

__ADS_1


***


__ADS_2