
Hari-hari selama di Bali memantik api semangat yang membara di dada. Kuputusakan untuk mengakhiri segala kegalauan ini. Aku sadar, ini sangat menguras energi, dan berakibat buruk untuk kesehatan mentalku. Apa pun yang terjadi, life must go on, aku harus tetap melanjutkan hidup. Kukemasi semua pakaian ke dalam tas, beserta serpih-serpih kegembiraan yang berserak. Hari terakhir di Bali, setelah tiga hari penuh petualangan dan kegembiraan. Saatnya kembali ke dunia nyata, yang penuh tantangan dan air mata.
Bagaimanapun sudah kupersiapkan mental untuk menhadapi likuan hidup. Kuakhiri pembicaraan dengan Laras, tanpa keputusan apa pun. Tak apa, berharap dia mengerti bahwa aku belum siap untuk menjalin hubungan yang lebih dalam. Biar waktu saja yang menjawab. Aku butuh waktu untuk lebih mengenalnya lebih dalam. Ironis memang, karena sejatinya Laras ini sudah kukenal sejak masih kanak-kanak. Entah mengapa, kadang aku tidak mengenalnya.
“Siap kembali ke Surabaya?” tanya Doni.
“Siap. On fire!” jawabku bersemangat.
Dengan ransel penuh oleh-oleh, kami kembali ke Surabaya. Perjalanan yang melelahkan, melintas dua provinsi besar. Alhamdulillah, selama perjalanan tak kutemukan kendala berarti. Malahan aku senang, melihat sekeliling dengan pikiran positif, dengan sahabat-sahabat yang positif pula. Kutepis semua kegalauan yang bersemayam.
Sesampai di Surabaya, Doni memilih untuk berhibernasi karena lelah. Sedangkan aku tidak ada waktu untuk sekedar menarik napas, karena harus mengejar ketertinggalanku dalam mengerjakan tugas akhir. Ketikan demi ketikan kukerjakan, praktikum di laboratorium juga kujalani. Pertemuan dengan dosen pembimbing kembali kujadwalkan. Ternyata benar, pertemuan dengan Pak Kusumo berakhir dengan makian-makian karena beliau menuduhku melalaikan tugas. Aku tidak marah lagi, kuterima segala caci-maki dengan lapang dada.
Semangat ini terlecut. Telepon dari emak dini hari, memberikan wejangan seperti biasa, adalah suntikan semangat yang tak bernilai harganya. Oleh-oleh dari Bali kukirim lewat Kantor Pos, berharap mereka menyukainya. Aku juga memohon maaf belum bisa kembali ke Jombang karena kesibukan yang luar biasa. Yang kuharap hanya doa-doa mereka, agar semua yang kukerjakan di sini diberi kelancaran.
Hari berganti menjadi minggu, minggu menjadi bulan. Tak terasa tugas akhir sudah menjadi satu jilid buku dengan hardcover warna biru muda. Namaku terukir dengan huruf timbul di atasnya. Bangga luar biasa, padahal belum menjalani sidang tugas akhir. Ini adalah salah satu kepingan peristiwa paling mendebarkan dalam hidup.
Sidang tugas akhir sudah kupersiapkan secara mental sejak jauh hari. Latihan berbicara di depan cermin rutin kulakukan setiap pagi. Kini aku sudah siap dengan berpakaian formal jas dan dasi, berdiri di depan sekumpulan dosen penguji. Sebelum berangkat, sempat aku bercermin dan mengagumi diriku sendiri. Betapa tampan diriku sebenarnya. Bodoh lah para gadis yang mencampakkanku!
Sidang tugas akhir, bagai arena pembantaian para gladiator, di mana kita harus bertarung hidup-mati. Para dosen penguji mencecar dengan pertanyaan tanpa ampun, menguliti hidup-hidup. Ini adalah peristiwa paling epik dalam sejarah hidupku. Aku seolah kehilangan napas, dalam balutan pakaian berdasi ini. Dalam hati tak henti-henti berdoa agar diberi kelancaran, jangan sampai lidah ini keseleo saat bicara. Semua harus kutata rapi, agar penampilanku tidak mengecewakan. Tidak perlu cumlaude.
Selepas sidang, aku bersorak kegirangan sehingga mengagetkan beberapa mahasiswa yang kebetulan ada di sana. Termasuk Darwis. Dia menatapku, kemudian mendekat.
__ADS_1
“Selamat ya, kamu sudah selesai.” Darwis menjabat tanganku. Aku mengangguk singkat.
“Terima kasih,” jawabku.
“Maaf....”
Segera kutinggalkan Darwis. Aku tak mau dia melihat kehancuranku. Sebaliknya, aku mengembangkan senyum lebar, berbaur dengan teman-teman yang lain, tetapi bukan Darwis. Aku tidak peduli dengan apa pun yang ada dalam pikirannya. Jangan sampai hanya karena seorang Darwis, hidup ini jadi berantakan. Biarlah!
Sidang tugas akhir adalah fase akhir dari rentetan kegiatan perkuliahan. Segala daya-upaya sudah kukerahkan agar hasil yang diraih bisa maksimal. Setelah berakit-rakit ke hulu, kini saatnya berenang-renang ke tepian. Rasanya layak aku mendapat segala yang telah kuperjuangkan dengan bersimbah peluh dan air mata. Segala cacian, jatuh bangun dan kegagalan adalah guru tak bernilai dalam perjalanan hidup.
Tiba saatnya final dari segala final, yaitu wisuda. Kugenggam undangan wisuda dengan mata berkaca-kaca. Segera kutelepon emak dan Weni untuk bersiap datang ke Surabaya, karena aku sendiri yang akan menjemput dan mempersembahkan kegembiraan ini. Fase pertama dalam hidup telah kulewati, walau belum sempurna. Biarlah, bukan kesempurnaan yang ingin kucapai. Paling tidak eksistensiku sebagai manusia intelektual akan segera diakui.
Prosesi wisuda berlangsung khidmat. Aku duduk di samping emak. Aura bahagia terpancar dari paras beliau yang keriput. Beliau mencium keningku, dengan mata berkaca-kaca, seraya membisikkan sesuatu di telinga.
“Bapakmu pasti bangga....”
Entah kenapa rasa haru tak terbendung. Kucoba menahan air mata, tetapi luruh juga walau tidak membanjir.
Maaf Pak, aku menangis hari ini....
Ketika nama ini dipanggil, dengan gagah aku melangkah ke podium. Senyumku mengembang ketika banyak jepretan foto mengarah kepadaku. Singkat, namun benar-benar terasa dalam. Tak dapat kutahan kegembiraan ini. Kupeluk tubuh emak dan Weni. Rasa gembira memancar meluber ke seluruh penjuru Gedung Graha.
__ADS_1
Pendamping wisuda? Aku tidak butuh itu. Cukup emak dan weni, dua orang yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidupku.
Aku melangkah keluar dari Gedung Graha dengan sejuta mimpi yang sudah kutoreh dalam otak. Setelah ini, aku akan benar-benar memasuki dunia nyata yang sebenarnya. Wisuda adalah fase awal dalam perjuangan.
Di halaman gedung banyak keluarga mahasiswa untuk berfoto bersama, atau berburu foto yang sudah dijepret oleh tukan foto dadakan. Deretan foto sengaja dipajang di berderet, agar memudahkan mahasiswa mencari miliknya. Aku mengambil dua lembar, dengan pose yang terbaik.
Tiba-tiba mataku tertumbuk pada sosok Laras yang tiba-tiba datang menyalamiku. Aku menyambutnya dengan canggung. Kubiarkan saja ia lebih banyak mengobrol dengan emak. Di sisi lain gedung, bahkan kulihat Dahlia yang menatapku dengan tatapan sendu. Tergenggam di tangannya sebuah buket bunga, kemudian diserahkan kepadaku. Peristiwa epik itu terjadi di depan Laras, emak dan Weni.
Tak banyak kalimat yang disampaikan. Seperti biasa ia mencium tangan emak, kemudian berlalu. Aku tak mau mengejar, seperti dalam adegan film-film romantis. Kubiarkan dia berlalu begitu saja. Toh, ada Darwis yang menunggu di tempat lain. Laras juga terlihat tidak nyaman dengan semua itu, namun tak kupedulikan lagi.
Untuk merayakan kelulusan, kami makan siang bersama di sebuah restoran sederhana di kawasan Gubeng Kertajaya. Sudah lama kami tak merasakan momen kebersamaan ini. Dunia ini ternyata indah, kalau kita bersyukur dengan apa yang kita punyai. Mengapa baru bertahun-tahun aku bisa merasakan ini? Biarlah kebisingan di luar sana berlalu. Aku akan memulai kembali hidup ini, bagai reinkarnasi ke tubuh yang baru, memulai lembar awal-awal di dunia yang lebih buas.
Selamat datang dunia baru! Aku menantangmu!
--THE END—
Dengan berakhirnya episode ini maka, berakhir pula kisah Abimanyu di season 1. Bagaimana kisah perjuangan Abi selanjutnya? Bagaimana hubungan cintanya yang rumit?
Temukan jawabanya di Season 2!
Terima kasih atas dukungannya selama ini...
__ADS_1