DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter CI : Rapuh


__ADS_3

*Tuhan, seandainya aku boleh meminta suatu permohonan, maka mohon cabut saja nyawaku ini, atau ambil saja otakku agar aku bisa melupakan semua yang terjadi di masa lampau.


Atau misalnya permintaanku terlalu berlebihan, maka pindahkan saja aku ke sisi lain dunia yang asing tanpa ada seorang pun bisa menemukan. Bawa aku ke pelosok dunia tanpa penghuni, di pulau terpencil di tengah Samudra Pasifik atau di kedalaman hutan Amazon, agar aku bisa bersahabat dengan para binatang, berbicara dengan tumbuhan dan bebatuan. Aku ingin menjadi gila, agar aku bahagia.


Tuhanku sayang, kalau perlu hapus saja namaku dari sejarah peradaban manusia. Persetan dengan prasasati-prasasti akademis, aku tidak peduli! Aku hanya ingin menyendiri dalam sepi, jauh dari riuh dunia yang menyayat hati. Biar aku menua bersama waktu. Biar aku hancur sehancur-hancurnya, karena aku memang manusia yang tak layak untuk mengecap lezatnya cinta. Aku hanya ingin mati*!


Deretan tulisan itu kutulis dalam bagian akhir buku agendaku. Aku tidak boleh menangis, karena aku seorang pria yang pantang meluruhkan air mata. Biar catatan ini menjadi saksi luapan perasaan sedihku, sekaligus protes kepada Tuhan atas ketidakadilan hidup. Bagaimana tidak? Aku sudah berusaha menjadi manusia baik, tetapi apa yang kudapat? Hanya perih yang sungguh tak tergambarkan dengan kata-kata. Adilkah ini?


Di saat sahabat-sahabatku yang lain bergelimang kebahagiaan karena menemukan pasangan hidup, aku terpuruk dalam kamar kontrakan yang pengap. Perih ini sungguh tak terlukis, bagai dihunjam ribuan sembilu. Mengapa harus kualami ini? Mengapa harus aku?


Aku sudah berusaha tegar saat kehilangan Lusi, tetapi saat kalimat Dahlia terucap, aku merasa bagai kapal kehilangan kemudi, terombang-ambing di tengah samudra. Atau baiknya aku tenggak saja cairan pembunuh serangga yang ada di gudang itu, agar jantung ini berhenti berdetak?


Perasaan tak nyaman menyelimuti hati seharian. Sengaja kumatikan ponsel, karena tak ingin menerima pesan dari siapa pun. Butuh waktu untuk menyembuhkan luka ini. Aku hampir tak sanggup. Ingin mendengar lagu sedih, nanti yang ada akan melemahkan hati. Jadi bagaimana? Duduk terasa salah. Berbaring juga tak nyaman. Otakku terus berputar tak karuan, memicu vertigo.


Bolehkah aku mati sekarang, Tuhan?

__ADS_1


Aku terbangun. Rupanya beban berat di otak telah melumpuhkan semangatku. Seharian aku tak mengerjakan apa-apa, bahkan tugas akhir yang sedianya harus kuselesaikan, malah mangkrak tak tersentuh. Tadi mencoba berbaring, malah ketiduran. Bangun-bangun sudah sore, hampir pukul empat. Astaghfirullah, aku tidak salat Zuhur? Rasanya malas keluar dari kamar. Mungkin selamanya aku akan mengurung di dalam ruangan ini.


Hari berikutnya, kondisiku juga tak kunjung stabil. Kucoba untuk berjalan-jalan sebentar di tempat paling sepi di dunia, yakni pemakaman kampung. Aku berharap saat ini bisa bertukar tempat dengan jasad-jasad yang terbaring di bawah batu nisan itu. Suasana pekuburan sangat sepi, tapi aku tak peduli. Biarlah kesunyian ini membunuhku perlahan, bersama luruhnya bunga-bunga kamboja.


Menjelang tengah hari, aku bersiap untuk pulang. Nafsu makan seolah musnah, anehnya juga tak terasa lapar. Aroma bakso yang biasanya mencubit-cubit lambung juga seolah tak bereaksi. Aku hanya ingin menyendiri, menikmati lara dalam hening. Ponsel masih dalam keadaan mati. Aku malas membukanya. Bahkan kalau boleh, ingin kubanting saja benda itu sampai hancur berkeping-keping!


Aku tiba di kontrakan dalam keadaan lelah. Kubaringkan raga tak berguna ini, berharap bisa memejamkan mata walau sejenak. Belum sempat memejamkan mata, tiba-tiba kudengar pintu diketuk. Sungguh, aku tidak ingin bersua dengan siapa pun. Mengapa ada orang yang tak tahu diri mengetuk pintu? Haruskah kutulis ‘tidak terima tamu’ di depan pintu?


Ketukan itu terdengar berulang kali. Rasa penasaran memaksaku bangkit dan mengintip dari balik korden yang sengaja kututup. Ya Tuhan, bukankah itu Dahlia? Buat apa dia mengetuk pintu kamarku? Apakah dia hendak membasuh luka ini dengan air garam? Kulihat parasnya yang dirundung cemas. Pasti itu topeng yang sengaja ia kenakan.


Aku hanya terdiam, sembari mengatupkan mulut erat-erat. Kuawasi gerak-gerik Dahlia, bagai mengawasi maling jemuran. Pokoknya aku tak mau ketemu dia. Kulihat dia berkali-kali menelepon, tetapi tentu saja usahanya gagal karena ponsel sudah kumatikan. Selamat kehilangan aku, Dahlia!


Dahlia berlalu, malam pun menjelang. Suasana kontrakan sunyi nyaris tak ada penghuni kecuali aku. Farhan sudah pindah, Andre juga masih di rumah mertuanya. Doni juga jarang berada di kontrakan. Ah, di saat seperti ini aku merindukan kehadiran mereka. Aku benar-benar terpasung dalam kesepian, tak tahu apa yang harus kuperbuat.


Selepas Isya, kembali pintu diketuk. Sengaja kumatikan lampu kamar agar tak terlihat dari luar. Dari dalam kamar, kali ini kulihat Darwis yang mengetuk. Buat apa dia kesini? Ingin menertawakan kebodohanku atau bagaimana? Aku juga tak mau bertemu dirinya. Kekecewaan ini menggumpal bagai tumor ganas dalam hati. Selama ini ia berbohong padaku kalau telah jadian dengan Dahlia.

__ADS_1


Ketukan yang cukup sering itu kuabaikan, tak peduli apa yang sedang dipikirkan Darwis. Yang jelas, aku tak mau bertemu dengan siapa pun. Aku butuh ketenangan untuk memulihkan kesehatan mentalku. Dahulu aku bisa bangkit saat kehilangan Lusi, kali ini aku juga harus bisa. Sayangnya proses untuk melewati tidaklah segampang menjentikkan ibu jari. Butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Kuabaikan ketukan itu sampai menghilang dengan sendirinya.


Kutatap tumpukan tugas akhir yang masih meninggi. Ada yang mendesak-desak dalam dada. Kalau tugas akhir ini terbengkalai, betapa keluarga akan kecewa. Kesedihan terasa tak terperikan. Bagaimana aku bisa melewati ini, Tuhan?


Dalam beberapa menit, aku menyadari bahwa aku harus melupakan segalanya. Itu tidak mungkin kulakukan selama aku masih di dalam kontrakan ini. Aku harus pergi jauh, melupakan segala kenangan yang ada di Kota Surabaya. Entahlah. Sepertinya mau pergi kemana juga tidak ada yang peduli. Paling tidak tiga atau empat hari, pasti bisa melupakan segala kenangan yang bersisa.


Kemana aku harus pergi?


Pulang kampung ke Jombang tak menyelesaikan masalah. Yang ada malah nanti emak akan banyak bertanya. Belum lagi nanti kalau ketemu dengan Pak Turonggo yang selalu mendorong agar aku segera mengikat Laras. Di Jombang, bukannya aku tenang, malah akan menimbulkan masalah baru. Jadi kemana aku harus pergi? Ke Ethiopia?


Dengan langkah gontai kembali kususuri kota ini tanpa ada tujuan pasti. Otakku semakin kacau, aku hanya ingin meninggalkan kota ini, mengembara ke sebuah negeri asing. Tak peduli berapa biaya yang harus kukeluarkan untuk ini. Aku harus menghapus semua bayangan Dahlia yang masih mengendap di otak. Tentu bukan perkara mudah, tapi aku yakin pasti bisa.


Rahangku bergemeretak, menahan semua rasa yang membuncah. Tanpa sadar, selusin pakaian sudah kukemas rapi dalam tas ransel. Tekadku sudah bulat, tinggal mengeksekusi agar menjadi nyata. Aku akan pergi.


Bali, I’m coming....

__ADS_1


***


__ADS_2