DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XIV : Tamu Istimewa


__ADS_3

Kebahagiaan dan kesedihan dalam kehidupan manusia jaraknya seperti dua sisi mata uang. Sangat dekat. Saking dekatnya, kita tidak bisa memprediksikan kapan datangnya. Keduanya silih berganti mengisi lembar-lembar hidup kita.


Beberapa menit yang lalu aku masih tertawa bahagia karena telah menyelesaikan UTS dengan baik. Menit berikutnya air mataku tertumpah karena kehilangan sosok yang amat kucintai.


Siapa yang bisa menebak?


Bus yang kutumpangi serasa berjalan seperti siput. Di sepanjang jalan, sekuat mungkin mencoba untuk tetap tegar. Toh nyatanya aku hanyalah manusia biasa yang rapuh. Air mata terus tertumpah tak terbendung. Seorang ibu yang duduk di sebelahku memberi selembar tisu.


“Habis putus cinta ya, Mas?” tanyanya lugu.


Tak kujawab.


Bullshit dengan cinta!


Sungguh ironis dengan definisi cinta yang baru saja kubahas bersama teman-teman beberapa malam kemarin.


Menjelang magrib, aku tiba di kampung halaman, disambut dengan air mata dan pelukan dari emak. Dalam dekapan emak, tertumpah segala emosi. Aku hanya ingin semua ini adalah mimpi. Tetapi nyatanya, ini adalah pil pahit yang harus kutelan.


Esoknya, aku disibukkan dengan segala keperluan prosesi pemakaman. Alhamdulillah, kami tinggal di desa yang masih menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan gotong-royong, sehingga aku sangat terbantu.


Para tetangga berduyun-duyun datang tanpa diundang. Tahlilan akan dilaksanakan di rumah tujuh hari berturut-turut. Tentunya tidak mungkin aku hanya bertopang dagu melihat para tetangga dan kerabat yang sibuk.


Agak canggung berkumpul dengan para tetua kampung. Mereka memberi instruksi apa yang harus kulakukan. Mengingat, aku adalah putra tertua dalam keluarga. Aku harus bisa mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Kehormatan dipertaruhkan di sini.


Hitung-hitung belajar apabila nanti menjadi kepala keluarga sungguhan.


Menjelang siang, warga kampung beriring-iring membawa keranda ke areal pemakaman yang tak jauh dari rumah. Beberapa warga berdiri di pinggir jalan, memberikan penghormatan terakhir kepada bapak. Pepatah mengatakan bahwa harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Sedangkan manusia mati meninggalkan budi. Alhamdulillah, nama bapak cukup semerbak di kampung kami.


Prosesi pemakaman bapak berjalan lancar. Aku sudah bisa mengendalikan emosiku. Emak dan Weni juga terlihat sangat tegar. Mereka adalah wanita-wanita luar biasa yang ada dalam hidupku.


Daun-daun kamboja luruh perlahan di atas tanah pekuburan. Para pelayat sudah meninggalkan areal pekuburan.


Aku masih bertahan.


“Aku janji, Pak. Aku akan jagain emak dan Weni. Aku akan buat mereka bahagia. Sekarang Bapak sudah tenang, sudah ndak bersama kami lagi. Semoga bapak mendapat tempat terbaik,” bisikku.


Emak dan Weni menunggu dengan setia.


Setelah puas meluapkan emosi, aku berjalan menuju rumah. Tetapi hati ini masih tertinggal di tanah pekuburan yang masih basah itu.


Memasuki gerbang siang, para tetangga masih datang tak henti-henti. Ada juga para kerabat dari jauh yang baru datang. Kini aku menggantikan bapak. Ya, aku adalah anak laki-laki nomor satu. Sudah tentu tanggung jawab terhadap keluarga beralih ke pundakku.


Jujur. Itu tidak mudah.


Selain tetangga dan kerabat, kunjungan sahabat-sahabatku dari Surabaya juga sangat menghibur. Teman seperjuangan satu kontrakan datang menjelang sore dengan menggunakan mobil Andre. Mereka mengucapkan ucapan dukacita yang mendalam. Bahkan Doni yang biasanya penuh tawa, tampak tulus memberikan pelukan padaku. Sayangnya, tak ada lagi air mataku yang tertumpah. Semua telah mengering.


“Yang sabar ya, Bi....” peluk Doni.

__ADS_1


Aku mengangguk.


“Kalau butuh apa-apa ngomong aja, Bi! Kami siap!” tawar Andre.


“Kami ini saudaramu, Bi. Jadi nggak usah sungkan-sungkan,” tambah Farhan.


Aku terharu. Sungguh, ini membuatku semakin sedih.


“Terima kasih. Kalian ndak usah repot-repot. Kami sudah cukup di sini,” ujarku.


Sayangnya mereka tak lama berkunjung. Mereka harus kembali ke Surabaya malam itu juga. Tak lupa mereka memberiku selembar amplop.


“Nggak usah pakai begini-begini ah!” tolakku.


Aku mengembalikan amplop itu.


Aku sadar, kami sama-sama mahasiswa yang belum punya penghasilan sendiri. Tentu seribu rupiah saja akan sangat berharga. Bagi kami, seribu rupiah bisa untuk membeli sampo sachet apabila sedang dilanda krisis keuangan.


“Sudah, terima saja!” paksa Andre.


“Jumlahnya ndak banyak, Bi. Kami harap bisa bermanfaat. Buat tambahan beli rokok....” imbuh Farhan.


Farhan benar. Dia paham sekali, bahwa rokok adalah sajian wajib di acara tahlil. Berbagai slogan larangan merokok yang sering didengungkan praktisi kesehatan dianggap angin lalu oleh mereka. Seolah kanker tenggorokan, serangan jantung dan impotensi serupa dengan penyakit pilek yang bisa datang dan pergi kapan saja.


Aku terdiam. Kemudian teringat petuah bijak perempuan tua di kereta waktu itu.


Baiklah. Aku mengalah.


Dengan penuh haru kuterima amplop itu. Kuintip isinya. Ada beberapa lembar uang berwarna merah di dalamnya.


Alhamdulillah.


Mereka adalah sahabat-sahabat terbaikku. Selamanya akan begitu.


Sepeninggal rombongan Doni, Darwis juga datang dengan beberapa teman satu jurusan. Satu-persatu mereka menyalami. Sungguh, kunjungan ini sangat di luar dugaan. Solidaritas mereka patut diacungi jempol walaupun di kampus aku dikenal sebagai pribadi yang tidak populer dan cupu. Ya, aku adalah pribadi yang kurang bersosialisasi di kampus. Ada sedikit rasa malu terselip. Mungkin setelah ini harus bersikap lebih ramah kepada mereka.


Mereka juga berkunjung sebentar, karena harus balik lagi ke Surabaya. Tetapi kebersamaan yang sebentar itu membuat suasana rumah menjadi hangat.


Di saat yang sama, tetangga-tetangga masih hilir-mudik mengurus segala keperluan untuk acara tahlil besok.


Sepeninggal Darwis, kukira kunjungan dari teman-temanku akan berakhir. Tetapi ternyata masih ada kloter ketiga.


Save the best for the last. Yang terakhir adalah kunjungan paling berkesan.


Seorang tamu istimewa yang tak pernah kuduga sebelumnya berkunjung ketika hari sudah melalui larut. Wajahnya tampak penat, tetapi masih bisa tersenyum untukku. Ia juga mencium tengan emak. Dengan ditemani salah seorang teman, ia datang membawa sebuah bingkisan besar.


Bingkisan?

__ADS_1


Ya, bingkisan!


Mungkin disangka aku sedang berulangtahun.


Aku sangat menghargai kedatangannya. Bingkisan itu berisi bantuan sekedarnya. Aku paham itu. Mereka datang tanpa bingkisan saja, sudah menciptakan bahagia tak terperikan.


“Kami semua turut berdukacita atas kepergian ayahmu, Abi....” katanya.


“Terima kasih,” jawabku.


Sebenarnya tidak banyak yang kami obrolkan karena tamu-tamu lain juga masih banyak yang berdatangan. Belum lagi kerabat bapak yang dari luar kota juga baru datang.


“Mas, teh dan kuenya....”


Tiba-tiba kulihat seraut wajah manis membawa nampan berisi teh dan kue ala kadarnya untuk tamu-tamuku.


Oh, Larasati.


Hampir saja aku lupa dengan raut wajahnya yang sendu.


“Terima kasih, Laras....”


Gadis itu mencuri pandang ke arahku dengan malu-malu. Ujung mataku menangkap pandangannya. Seperti biasa, kecantikannya begitu alami tersaput cahaya lampu neon yang agak suram malam itu.


Tamu istimewa itu rupanya banyak mengobrol juga. Ia menghabiskan dua gelas teh hangat dan tiga biji lemper.


Mungkin dia lapar karena perjalanan dari Surabaya.


Ada bagian dari ceritanya yang menyentuh hati, ketika ayahnya juga meninggal karena kecelakaan lalu-lintas tiga tahun lalu. Ia bercerita, saat itu ia sedang menghadiri ulangtahun sahabatnya ketika berita duka datang. Bukan hanya ayahnya, tetapi adiknya yang masih berumur lima tahun juga turut menjadi korban.


Ia bercerita dengan mata berkaca-kaca.


Aku menghela napas, merasakan tiap kalimat yang dicapkan. Mungkin hal itulah yang mempengaruhi kepribadiannya hingga saat ini. Kini aku tahu mengapa dia bersikap seperti itu.


Satu jam menjelang tengah malam, tamu istimewa itu berpamitan.


“Kami harus pulang. Yang tabah ya! Kami tunggu kehadiranmu pekan depan! Keep fight, Bi!” ujarnya.


“Hati-hati ya!”


Dia mengangguk.


Kutatap kepergian si tamu istimewa dengan takjub. Sungguh di luar dugaanku.


Sampai bertemu di Surabaya, Dahlia Sukmawati....


***

__ADS_1


__ADS_2