DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXXII: Birthday Party


__ADS_3

Sore yang cerah, balon warna-warni mewanai duniaku. Gelak tawa malaikat-malaikat surga riuh-rendah memenuhi ruangan restoran siap saji di salah satu gerai mal terbesar di Surabaya. Lagu anak-anak sudah terdengar mengalun, menambah keceriaan suasana. Ada pula badut lucu dengan pantatnya yang besar, bergoyang-goyang menyambut setiap orang yang baru tiba.


Termasuk diriku.


Agak terlambat aku hadir di pesta ulang tahun Vina. Sedianya ingin berangkat lebih awal, tetapi ketiduran sehingga semua dilakukan dengan serba terburu-buru. Untunglah, Doni sedang bagus suasana hatinya, sehingga aku bisa meminjam motor tanpa perlu syarat khusus.


“Jangan lupa isi bensin!” ucapnya sambil melempar kunci motor.


Kalau masalah isi bensin, itu selalu kulakukan. Bukan syarat rumit. Syukurlah, perjalanan menuju tempat acara juga relatif lancar. Kota Surabaya yang biasa didera macet berkepanjangan, sore ini seolah menyibakkan jalan untukku agar lebih cepat sampai.


“Eh, ada Om Abi!” celetuk Vina ketika melihat kehadiranku.


Di acara ini, sengaja aku menyesuaikan tampilan. Kalau biasanya di kantor aku menggunakan setelan resmi, khusus di sini aku memakai kaos casual, jelana jins dan sepatu kets. Tampilan berbeda ini sukses membuat mata ibu-ibu yang mengantar anaknya mencuri-curi pandang ke arahku.


Ingat suami di rumah, Bu-Ibu!


Beberapa ibu-ibu ada yang langsung bisik-bisik, entah bahan ghibah apa yang sedang dilantunkannya. Aku tak begitu memedulikan keriuhan sekitar, langsung saja kuserahkan bungkusan besar berisi boneka kepada Vina. Gadis kecil itu melonjak-lonjak kegirangan.


Bu Roffi terlihat bahagia melihat kehadiranku. Aku mengangguk tanda hormat kepadanya. Bagaimanapun dia adalah atasanku, aku harus menjaga etika walaupun di luar.


“Wah, ini toh calon Papa-nya Vina?” celetuk seorang ibu yang hadir di sana.


Deg!


Calon Papa?


Kalimat itu sangat menggangguku. Mungkin Bu Roffi senang-senang saja mendengar celetukan orang, tetapi tidak bagiku. Aku belum siap menerima anugerah, mendapat pasangan plus bonus satu orang anak bukanlah hadiah yang menyenangkan. Perlu komitmen yang kuat.


Acara segera dibuka oleh seorang MC, disambut teriakan riuh anak-anak. Acara berlangsung meriah. Beberapa game dimainkan, diikuti antusias oleh mereka. Ada juga pembagian doorprize berupa peralatan makan plastik dan alat tulis. Tang ditunggu-tunggu juga ada, yaitu acara tiup lilin dan potong kue.


Kue ulang tahun bermotif kodok hijau Keropi telah disiapkan, lengkap dengan pisau iris yang berkilau. Vina memotong kue dengan wajah sumringah, kemudian menatap wajah ibunya seolah bertanya kepada siapa potongan kue ini diberikan.

__ADS_1


Bu Roffi menerima potongan kue pertama dari putrinya, kemudian menghadiahi ciuman bertubi-tubi di pipi gadis mungil itu. Potongan kedua telah dipotong. Bu Roffi mengisyaratkan agar potongan itu diserahkan kepadaku.


Ha? Aku?


Vina yang masih polos, tentu saja langsung patuh dengan isyarat itu. Agak tergesa ia memberikan potongan kue kepadaku. Dengan perasaan nervous kuterima potongan itu, sambil tersenyum lebar. Ibu-ibu kembali berbisik melancarkan serangan ghibah ke segala penjuru.


“Terima kasih, Vina!” bisikku sambil mengusap rambutnya. Ingin kucium pipinya yang bulat, tetapi lebih baik kuurungkan karena tatapan ibu-ibu di sekitar. Mereka berharap aku akan mencium pipi Vina.


Maaf ibu-ibu, aku mengecewakan kalian ....


Sepanjang acara, tawa anak-anak berderai-derai tanpa beban. Mendengar ini, sumpah ada sepercik rasa sedih yang menyelinap. Aku terseret dalam kenangan masa lalu yang kelabu. Saat aku masih kecil, tak pernah ada perayaan ulang tahun seperti ini. Bahkan aku tidak yakin, ada orang yang ingat tanggal lahirku atau tidak.


Walaupun begitu, emak selalu ingat dengan weton hari lahirku. Dalam tradisi Jawa, weton juga memegang peranan penting dalam kehidupan, bahkan juga bisa menentukan karakter seseorang. Setiap Jumat Legi, beliau selalu membuat aku bubur dua warna yang rasanya gurih bukan kepalang.


Acara ditutup dengan foto bersama dengan seluruh anak. Tentu saja aku juga didapuk untuk turut serta dalam momen ini. Layaknya foto keluarga, aku menempatkan diri di samping Bu Roffi bersama Vina. Posisi ini tentu saja memicu gosip berhembus makin santar. Jelas posisi ini tak benar, sebab aku lebih mirip keponakan Bu Roffi. Terlalu muda untuknya.


Apakah Bu Roffi penyuka daun muda?


“Masih kuliah dia itu, Jeng!” bisik Bu Roffi.


Mendengar itu, segera aku melangkahkan kaki menjauhi arena agar perghibahan tidak semakin liar. Mulut ibu-ibu ini bagai kendaraan yang tak bisa direm, tabrak sana tabrak sini, hingga merambat semakin jauh.


Aku tidak sanggup.


“Bu Roffi, saya permisi dulu ya, kalau acara sudah selesai!”


Kuberanikan untuk pamit kepada Bu roffi yang masih sibuk melayani ibu-ibu lain. Wanita itu masih sibuk mengulurkan aneka balon kepada anak-anak yang berebutan minta dilayani duluan.


“Loh, kok buru-buru Bi?” Bu Roffi mengalihkan tugas pada asistennya, kemudian melangkah mendekatiku.


“Iya Bu, kebetulan setelah ini saya ada acara lain,” dustaku.

__ADS_1


“Oh, ya udah deh kalau gitu. Makasih banyak ya sudah datang. Vina seneng banget kamu datang. Apalagi kamu repot-repot bawa hadiah. Kamu mau dibawain apa nih?” tanya Bu Roffi.


“Ngak usah repot, Bu!” tolakku cepat.


“Adanya cuma ini, Bi!”


Bu Roffi buru-buru mengambilkan paket nasi bersama ayam goreng dan satu buah doorprize berisi seperangkat alat makan plastik.


“Nanti deh kapan-kapan kita makan bareng!” ujar Bu Roffi."


“Makasih Bu!”


Buru-buru aku tinggalkan keriuhan yang masih berlangsung. Kubuang perlahan napas yang berhimpitan di dada. Dalam hati berpikir, bagaimana aku agar lepas dari semua ini? Benarkah Bu Roffi mempunyai perhatian khusus kepadaku?


Aku tidak mau itu terjadi. Lebih baik fokus pada pekerjaan. Ingin bersikap tegas padanya, tetapi posisiku hanya karyawan magang, yang bahkan tidak digaji sepeser pun. Sedikit khawatir, kalau banyak bertingkah Bu Roffi akan memberi nilai jelek. Padahal kerja praktik ini nilainya cukup besar.


Lalu apa bedanya aku dengan mahasiswa yang kadang menghalalkan segala cara untuk memperoleh nilai tinggi dari dosen? Sempat terbetik cerita kelam tentang sejumlah mahasiswa yang rela digerayangi oleh dosen untuk memperoleh nilai idaman.


Tidak! Aku bukan tipe seperti itu.


Ini sungguh membuat beban tersendiri buatku. Aku khawatir, kebaikan Bu Roffi ini menyimpan udang di balik batu. Berbeda dengan kebaikan keluarga Dahlia yang tulus. Bagaimanapun kalau itu memang benar, aku harus menjaga jarak. Tak baik seorang perjaka sepertiku bergaul terlalu dekat dengan janda kembang macam Bu Roffi.


Aku yakin, banyak pria yang lain ingin juga dekat dengan Bu Roffi. Inilah sebabnya aku kadang menjadi bulan-bulanan cemooh di kantor. Kalau ngobrol sedikit saja dengan Bu Roffi, sudah dikira macam-macam. Padahal tiap hari aku harus berinteraksi dengannya untuk membahas masalah pekerjaan.


Atmosfer tak nyaman telah menyelimuti lingkungan kerja. Ternyata begini ya dunia kerja? Mereka saling menikam di belakang, padahal di depan bagai malaikat. Padahal aku masih percobaan kerja, bukan kerja secara nyata. Ya, ini adalah risiko yang harus kuambil agar nanti tidak kaget saat terjun ke dunia nyata.


Sikap Pak Imron yang intimidatif, dan sejumlah karyawan lain kuanggap sebagai angin lalu penghambat kemajuan. Terserah dengan segala pikiran mereka. Dalam hal ini, aku merasa lebih hebat, tak heran selalu ada yang ingin menggoyang. Lebih baik kuikuti alur ini.


Makin tinggi pohon, makin kencang angin bertiup!


***

__ADS_1


__ADS_2