
Jumat sore yang cerah, kemilau cahaya matahari sore mulai merapat ke ufuk barat. Halaman parkir kampus yang menjadi titik kumpul mulai dipadati peserta camp. Dengan bersemangat kugendong tas backpacker pinjaman dari Doni. Tak sabar rasanya untuk menghirup sejuknya udara di Kota Malang. Aku berharap, peristiwa buruk di Pasuruan beberapa waktu lalu tak terulang kembali.
Tak hanya diriku, semua juga tampak ceria menghadirkan senyum terbaiknya. Irawan dengan tampilannya yang keren bak selebriti yang lagi travelling, Rini dengan tawanya yang renyah bak rengginang, Darwis yang tampak innocent memakai sandal jepit, serta Dahlia yang ....
Loh, mana Dahlia? Dari tadi aku belum melihatnya?
Aku mengitari seputaran titik kumpul, berharap Dahlia terselip di suatu tempat yang tak kuketahui. Namun jejak Dahlia sama sekali tidak kutemukan. Kekhawatiran mulai memuncak. Mungkinkah Dahlia tidak ikut ke Malang? Kulihat kemarin dia sudah sehat dan bersemangat. Atau mungkin dia berubah pikiran?
“Semua sudah siap? Tolong semua segera naik ke bus ya! Biar tidak terlalu malam sampai di Malang!” cuit Irawan melalui TOA.
Dalam acara camp ini, ia bertanggungjawab sebagai koordinator lapangan. Tak heran, dalam beberapa hari ke depan ia akan sangat cerewet mengatur kami.
Satu-persatu, anak-anak mulai naik ke atas bus. Pikiranku masih didera rasa tidak tenang. Dahlia tidak muncul juga. Kalau dia tidak ikut camp, bisa kehilangan percaya diri aku nanti. Bagaimanapun, aku butuh back up seorang perempuan tangguh seperti beliau.
“Bi, kamu nggak naik?” ajak Darwis. Dia sudah siap melangkah ke dalam bus.
“Kamu naik duluan ....,”ujarku tanpa menoleh.
“Lagi nunggu Ibu Suri? Kayaknya aku tadi lihat dia,” lanjut Darwis.
“Di mana? Kok aku nggak ketemu?”
“Kamu kan dari tadi wara-wiri nggak jelas ....” ujar Darwis dengan tersenyum jahat.
Darwis, kamu belum pernah makan sandal?
Ingin sekali kulempar sandal mulut Darwis! Wara-wiri tidak jelas? Dari tadi siang aku sudah teraniaya oleh urusan transport dan segala perlengkapan remeh-temeh, sekarang dibilang wara-wiri tidak jelas?
Baiklah. Kumaafkan kali ini.
Ingin kuhubungi via telepon, namun kuurungkan. Biarlah Dahlia tidak ikut. Mungkin kondisinya belum sepenuhnya pulih, sehingga ia perlu istirahat. Sayangnya, ketidakhadiran Dahlia membuat pikiran bergeser menjadi sedikit tidak waras. Aku merasa seolah anak rusa yang dilepas di sabana Afrika. Tentunya, aku adalah mangsa empuk bagi singa, hyena, atau cheetah.
Tiga puluh menit kemudian, bus yang kami tumpangi merayap menyusuri jalan beraspal mulus yang cukup lebar. Kami meninggalkan Kota Surabaya menuju Malang bersamaan dengan burung-burung yang kembali ke sarang. Suasana dalam bus masih riuh, penuh dengan canda. Beberapa asyik dengan gawai, beberapa asyik makan snack, dan beberapa meraung-raung tidak jelas di bangku belakang, dengan alunan gitar.
Aku mencoba memejamkan mata, mengabaikan huru-hara di sekitarku. Sungguh, ini hari yang teramat menguras tenaga. Seharian tadi aku sudah mirip romusha. Nyaris patah kaki ini kesana-kemari meng-handle segala persiapan. Bagian transportasi melaporkan bahwa peminjaman bus di-cancel, sehingga memaksa lari pontang-panting untuk menghubungi beberapa agen perjalanan yang menyewakan bus. Belum lagi kelar masalah bus, bagian perlengkapan melaporkan bahwa jumlah tenda tak mencukupi. Lalu bagian lain-lain melaporkan tentang ini-itu yang tidak terlalu penting.
Mungkin dikiranya aku Captain America?
Tapi mau bagaimana lagi? Aku adalah ketua panitia acara ini. Tanggung jawab sekecil apapun akan ditaruh di pundakku. Tentunya keberadaanku sangat vital.
Akibat laporan yang membabi-buta itu, aku jadi terburu-buru menyantap makan siang . Baru lima kali suap, telepon sudah meraung-raung minta diangkat. Maka sudah dapat dipastikan hilang sudah selera. Kutinggalkan sepiring nasi ayam yang telah ternoda itu. Telepon tak berhenti bergetar, membuat kewarasan otak mendadak dalam fase stress stadium akhir . Andai saja berdiri di tengah jembatan Suramadu, sudah pasti aku akan meloncat dan membiarkan paru-paruku meledak karena kekurangan oksigen.
“Permen?” tawar Darwis yang duduk di sebelahku.
__ADS_1
Ia menyodorkan lima butir permen yang bisa membuat nafas lebih segar, sehingga lebih nyaman untuk berciuman.
Aku menggeleng. Mataku masih terpejam sambil menikmati keriuhan dan gelak tawa di dalam bus. Nafsu berbicaraku seolah lenyap.
“Kamu pusing ya?” tanya Darwis lagi. Gagal menyodorkan permen, kali ini ia menyodorkan minyak kayu putih. Mungkin berikutnya akan menyodorkan tisu, air minum atau cemilan lain.
Sudah mirip pedagang asongan saja dia!
“Darwis, aku butuh bantuanmu bisa nggak?” ujarku kemudian.
“Oh, iya siap! Kamu butuh apa?” tanya Darwis antusias.
“Aku hanya ingin kamu diam!” tegasku.
Kututup kepala dengan hoodie agar meminimalisir suara ribut dalam bus.
Dia langsung terdiam. Tak peduli apa yang tertulis di otaknya saat ini. Mungkin dalam pikiran Darwis, aku sedang menderita sindrom kerinduan yang akut pada Dahlia. Tingkat sensitivitasku memang sedang dalam fase puncak. Sayangnya, bukan rindu yang kurasakan saat ini. Aku hanya merasa lelah.
Itu saja.
Mungkin karena lelah yang mendera, tak sadar aku sudah berkelana ke alam mimpi. Tentu saja tak berharap bertemu Freddie Krueger. Mimpiku selalu dalam nuansa abu-abu. Tak ada warna lain.
Aku terdampar di sebuah padang rumput luas berwarna abu-abu. Sepi merayap, tak kulihat kehidupan apapun di sana. Hanya sebuah rumah kayu di kejauhan, tentu saja berwarna abu-abu. Perlahan kumenapaki jalan setapak bertanah abu-abu, berharap ada seseorang dalam rumah tersebut.
Satu-satunya orang yang ingin kutemui dalam mimpiku adalah bapak. Atau kalau memungkinkan, aku juga ingin bertemu dengan Pardi.
Sayangnya impianku itu belum pernah terkabul!
Rumah berwarna abu-abu itu tak terlalu luas, namun sedikit menyeramkan. Pintunya langsung terbuka sebelum kuketuk. Tak lama, aku sudah berada dalam ruangan khayal yang cukup aneh. Sebuah meja panjang terhampar, seorang gadis cantik tersenyum duduk di belakangnya. Samar kulihat raut mukanya.
Semoga bukan gadis bermuka keriput!
Untuk memuaskan hasrat penasaran, aku mendekat. Gadis itu sungguh menawan dengan sepasang bening bola mata yang abu-abu. Lesung pipitnya begitu manis. Rambutnya yang indah tergerai sempurna.
“Lusi ...,” gumamku.
Bahuku terguncang.
“Bangun! Bangun!” suara Darwis sontak meruntuhkan rumah abu-abu menjadi kepingan-kepingan kecil. Padang rumput itu menguap begitu saja, berubah menjadi hiruk-pikuk suasana bus. Air-conditioner bus ini terasa menggigit. Aku merapatkan jaketku.
“Sudah sampai?” tanyaku pada Darwis.
“Belum. Kita istirahat dulu. Ada yang mau kencing, ada yang mau muntah ....” terang Darwis.
__ADS_1
Kupalingkan muka ke arah luar jendela yang gelap. Rupanya bus berhenti di sebuah SPBU. Banyak penumpang bus yang turun untuk menyelesaikan hajat manusiawinya.
Dalam hati, aku mendongkol. Kalau cuma istirahat, mengapa tadi aku dibangunkan? Kesempatanku untuk bersua dengan Lusi jadi gagal.
“Kamu nggak kebelet? Kencing yuk!” tanya Darwis. Ia bersiap turun.
Darwis ini tidak waras atau bagaimana? Mau buang air kecil kok ajak-ajak?
Aku tidak menjawab. Kurapatkan kembali jaket, dan mencoba memejamkan mata. Sayangnya tak mudah dilakukan.
“Jangan tidur Bi. Setengah jam lagi nyampe,” ujar Irawan yang tiba-tiba saja naik ke atas bus.
“Sampai Gunung Panderman atau belum?”
“Belum. Nyampai di tempat peristirahatan awal. Besok subuh-subuh baru ke lokasi,” terang Irawan.
Seleraku untuk bercinta dalam mimpi mendadak hangus. Aku membuka ponsel, berharap ada pesan yang masuk. Sayangnya tak kutemukan apapun di sana kecuali pesan pengumuman tidak penting dari orang yang tidak bertanggungjawab. Pesan itu mengabarkan bahwa aku adalah pemenang pertama dari suatu undian dan berhak mendapatkan hadiah uang seratus juta.
Lagu basi.
Aku ingin berkata kotor, tetapi kurasa hanya buang-buang energi saja.
Selepas dari SPBU, bus kembali melaju menuju peristirahatan pertama. Yang disebut peristirahatan ini adalah dua buah bangunan luas yang akan menjadi tempat istirahat kami malam ini. Semua sudah diatur oleh Benny, anggota klub yang mempunyai famili di sekitar lokasi perkemahan.
Dengan masih setengah tertidur, aku menjejakkan kaki keluar bus. Terhuyung aku mengangkat ransel. Kudapati sesosok gadis di dekat sebuah mobil Honda Civic berwarna merah, yang parkir tak jauh dari bus.
“Dahlia?” takjubku.
Apakah aku masih bermimpi?
Kurasa tidak. Karena Dahlia tidak berwarna abu-abu seperti dalam mimpi sebelumnya.
“Hai, Bi. Gimana perjalananmu? Pasti ngorok aja kamu!” sapa Dahlia.
“Kamu kok ada di sini? Kirain nggak ikut ....”
“Aku ikut kok. Cuman aku naik mobil pribadi saja. Karena kondisi dalam bus mungkin akan membuatku lelah. Kan aku baru sakit. Aku mengajak salah satu karyawan di tokoku untuk nyetir,” ujar Dahlia.
“Memang kenapa? Kangen sama aku?” lanjut Dahlia.
Aku lega!
Sudah, itu saja yang hendak kukatakan.
__ADS_1
***