
Sepekan menjelang UAS, aku benar-benar menutup semua akses yang merujuk
ke masalah asmara. Tak sudi lagi mendengar manisnya kata cinta. Kututup telingaku erat-erat agar tak mendengar berita-berita menarik mengenai percintaan.
Di pintu kamar, kutempel kertas dengan tulisan spidol besar bertuliskan DON’T DISTURB. Hal ini menjaga agar Andre tidak seenaknya saja masuk untuk melantunkan ayat-ayat cintanya. Itu urusan nanti. Saat ini yang menjadi prioritas adalah UAS. Bukan yang lain.
Kenangan-kenangan bersama Lusi juga sudah kubuang jauh-jauh agar tidak mengganggu konsentrasi belajar. Bukan hanya Lusi, sengaja juga aku tidak menemui Dahlia. Pendek kata, aku hanya ingin sendirian. Lagu-lagu cinta yang biasa kuputar via radio juga sudah kubungkam. Radio tua itu resmi kusegel di dalam kardus, agar tak tergoda untuk memutarnya kembali. Aku hanya ingin menikmati literatur-literatur tebal, berasyik-masyuk dengan duniaku sendiri.
Setali tiga uang dengan di kontrakan, di kampus aku sengaja menghindari interaksi dengan orang-orang yang tidak berkompeten. Darwis tampak heran melihat perubahanku, namun aku segera berpaling menghindari rentetan pertanyaan yang membabi-buta. Sengaja aku tak menampakkan diri di kantin, seperti kebiasaan selama ini.
Tempat favoritku adalah perpustakaan pusat yang lebih mirip tembok ratapan di Yerussalem. Di sini, aku mengucilkan diri di lorong gelap di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi. Jarang mahasiswa bertandang ke lorong itu, kecuali mahasiswa frustasi sepertiku.
Raungan telepon genggam bertubi-tubi juga sengaja kuabaikan. Mode silent kuaktifkan sepanjang hari. Menjelang sore yang sendu, aku mengecek telepon genggam, mendapati ada seratus lebih panggilan tak terjawab, dan lima puluh persen panggilan itu berasal dari Dahlia. Sementara notifikasi pesan juga tak
terhitung jumlahnya, hingga jari menjadi kram untuk men-scroll notifikasi itu satu persatu. Biarlah untuk saat ini aku menjadi Pjithecantrophus erectus. Menjadi manusia gua yang terisolasi dari kehidupan luar.
Aku hanya ingin belajar.
Sepulang kuliah, aku langsung bermeditasi di kamar tanpa ada hasrat keluar dari kamar. Hanya keluar saat mencari makan malam atau ke kamar mandi.
Lain itu tidak.
Sejujurnya, rasa rindu akan peradaban mulai tumbuh berkuncup-kuncup. Demi kebaikan, kuabaikan rasa rindu yang menggerogoti hati.
Bayangan Lusi sekilas muncul di buku literatur tebal yang kupelajari. Perlahan, kuhadirkan rasa benci, bukan lagi rasa simpati seperti sebelumnya. Kutepis surat undangan pernikahan darinya, kusimpan dalam sebuah buku tebal. Bayangan pesta pernikahan Lusi yang meriah, dengan alunan electone kampung, dan penyanyi dangdut berbaju ala kadarnya meliukkan pinggul, membuat simpati ini berkurang hebat.
Lusi menghilang, muncul Dahlia. Selama ini nyaris tak ada kesalahan yang telah diperbuatnya kepadaku. Catatan amalnya putih bersih tak bernoda. Ada sejumput rasa bersalah di hati karena selama ini mengabaikan, atau memanfaatkan
kebaikan-kebaikan Dahlia. Janjiku, akan menemuinya nanti setelah urusan UAS
selesai. Saat ini harus bertarung menghadapi musuh yang di depan mata, sekaligus ego yang meraja.
Laras?
Dia menghampiri lewat bayangan, dengan senyum Monalisa saat aku hendak beranjak ke peraduan. Wajah cantik alaminya sempat menyeretku agar lebih lama bercengkrama dalam khayal. Hampir saja aku terjebak dalam permainan ilusi. Untuk menghentikannya terpaksa kubayangkan wajah Jono.
Wajah Jono sukses membuat perutku mual!
Sehari sebelum UAS, aku kembali berjuang dengan tumpukan buku tebal. Jarum jam berhimpit ke angka dua belas. Sebentar lagi
tengah malam. Namun, masih banyak buku yang harus kulalap. Di luar, sepi mulai
merayap. Sepertinya semua sudah terlelap, atau sibuk belajar seperti aku?
__ADS_1
Kurasa, hanya aku mahasiswa yang menyiapkan UAS dengan serius. Banyak
warung-warung kopi sekitar kontrakan masih dijejali mahasiswa. Mereka ngobrol tak tentu arah, menyebar gosip dan hanya menghabiskan waktu sia-sia.
Pukul dua kurang sepuluh menit, alam benar-benar terlelap. Sepasang mata ini sudah berat, ingin segera terkatup. Kutumpuk
literatur-literatur itu meninggi, agak miring mirip Menara Pisa di Italia. Tetes terakhir cappucino latte telah kureguk, meninggalkan gelas kosong di atas meja, mengundang sepasukan semut mengerubutinya. Suasana senyap, hening dan agak dingin. Berharap mimpi segera membawaku berpetualang.
Rasa penasaran membawaku menjelajah ponsel yang baru kudapatkan dari Andre. Mencoba semua fitur-fitur yang baru kulihat.
Kameranya memiliki resolusi yang lebih tinggi, sehingga bayanganku terlihat lebih tampan tertangkap kamera. Sayangnya, ada jerawat sebiji yang muncul di jidat.
Ah, sudahlah!
Kubuka pesan-pesan yang tak sempat terbaca dari siang. Ada beberapa pesan dari Dahlia yang menanyakan kabar dan satu pesan yang cukup menggelitik.
Kangen. Begitu isi pesan singkat itu.
Senyum getir kukulum. Ingin sekali kuhubungi Dahlia tetapi hari mulai merangkak dini hari. Pasti Dahlia sudah mengarungi
mimpinya sendiri. Rasa iseng menghipnotis untuk menghubungi nomor Dahlia.
Tuuuuut!
“Kamu belum tidur?” bisik Dahlia di seberang.
Aku sama sekali tidak menyangka kalau panggilan tak sengaja itu diangkat. Padahal mataku sudah mulai berat. Haruskah kutanggapi atau kututup lagi?
“Belum ...,” jawabku setengah berbisik.
“Tidur aja yuk!” ajak Dahlia.
Tunggu, Dahlia!
Ajakan Dahlia ini sedikit ambigu. Dia mengajak aku tidur bersama atau ...?
“Sudah malam, Dahlia. Aku tidak bisa ke tempatmu sekarang,” candaku.
“Dasar mesum! Kamu tidur di kamarmu sendiri ya!”
Aku tertawa terkikik. Wanita adalah makhluk
paling aneh. Jelas tadi dia mengajak tidur, kini diingkari sendiri ajakan itu.
__ADS_1
Salahku di mana?
“Kemana saja selama ini, Bi?” tanya Dahlia.
“Maaf ya, Dahlia. Aku ngantuk banget ...,”
tolakku.
“Kamu menghindariku ya?”
“Nggak kok. Aku hanya fokus buat UAS saja. Habis itu kamu boleh traktir aku sepuasmu,” ujarku.
“Ya udah, Bi. Good luck ya. Sepertinya aku
tidak bisa wisuda tahun ini. Tugas akhirku macet ....”
“Good night, Dahlia!” tutupku.
Lebih baik segera kuakhiri telepon dini hari ini. Aku khawatir, jika terus kulayani maka pembicaraan tidak romantis ini akan berlanjut
hingga Subuh. Padahal aku harus menjaga stamina agar selalu prima. Ya, dalam masa UAS ini aku tidak boleh sakit sedikit pun. Walau hanya penyakit yang tidak elit.
Kali ini benar-benar kumatikan telepon, kemudian kuhubungkan dengan charger. Sudah biasa seperti itu, sehingga pas pagi
hari aku akan mendapati telepon dalam keadaan daya terisi penuh. Beberapa teman
berkata bahwa hal itu tidak baik, karena apabila batere terlalu panas bisa menimbulkan ledakan. Toh, aku tak begitu peduli. Aturan seperti itu malah jadi pelanggaran setiap hari.
Alarm menjerit tepat pukul 04.30. Udara dingin menyusup ke selimut, ditingkahi dengung nyamuk yang berposta-pora mencicipi darahku. Kepala agak pening, karena kurang tidur. Tetapi untuk tidur lagi, rasanya tidak bisa. Bisakah aku mengikuti UAS hari ini dengan lancar?
Azan Subuh berkumandang tak lama kemudian. Alam mulai membuka mata. Kukumpulkan semangat yang mulai berserakan. Dalam menghadapi UAS kali ini, aku tak boleh tampil sebagai pecundang. Hasrat sebagai pemenang mulai berkobar kembali, mumpung godaan para wanita agak menjauh.
Nyatanya, aku bisa lebih baik dari Andre. Nafsu untuk bercinta telah kubelenggu
rapat-rapat. Segala kekotoran yang mengendap di otak sudah kumusnahkan. Yang ada hanya rumus-rumus mekanika teknik, hukum-hukum fisika, teori dasar matematika dan kumpulan-kumpulan angka yang membuat hampir gila.
Tak boleh menyerah!
Satu pekan ke depan, aku akan ditempa dalam kawah candradimuka. Segala kegundahan dan kegalauan kuusir jauh-jauh, seiring mentari yang berpijar di ufuk timur.
Aku hanya mengganjal perut dengan roti tawar yang kuoles selai kacang plus taburan muisjes. Ditutup dengan segelas kopi panas. Cukup mewah untuk ukuran mahasiswa sepertiku. Tak apa, ini persiapan terbaik buat UAS. Jadi semua harus istimewa.
***
__ADS_1