
Euforia bulan Februari yang penuh romansa telah berakhir, menyisakan kisah-kisah yang layak diceritakan kembali. Semua orang mempunyai kisah romansanya sendiri. Setidaknya bagi teman-teman dekatku. Tidak setragis Sampek-Eng Tay atau Samson-Delilah, tetapi paling tidak kisah asmara mereka menarik untuk dicermati.
Yang pertama, aku harus angkat topi dengan perjuangan Doni dalam usahanya mendapatkan perhatian Monika aka Monik. Bila ditampilkan dalam sebuah opera, niscaya para penonton akan berdiri untuk memberikan standing ovation. Bagaimana tidak? Dengan modal nekat, akhirnya Monik takluk juga di tangan Doni. Kisah ini sedikit memberi inspirasi buatku. Untuk menghadapi perempuan, kadang kita harus menurunkan derajat rasa malu. Sebenarnya, sudah kulakukan juga di depan Dahlia. Terutama di saat kondisi finansial mengalami krisis.
Di lain pihak, rupanya kisah asmara tidak selamanya berakhir manis. Setidaknya itu yang dialami Andre. Wajahnya tampak gusar, melukiskan kekecewaan yang mendalam. Sekonyong-konyong kehadirannya membuatku terperanjat. Andre duduk di tepi ranjangku dengan muram.
“Aku lelah ....” kata Andre.
Ada sesuatu yang tak beres. Pasti masalah perempuan ....
“Lelah? Mau kupijit? Sini!” candaku.
Tak biasanya ia bersikap seperti ini. Wajahnya semakin bertambah kusut. Butuh waktu untuk mengurainya kembali. Keceriaan yang biasanya menghiasi wajahnya, seolah meredup.
“Ternyata semua sama saja!” keluhnya.
“Sama gimana?”
“Mereka semua memanfaatkanku!” gerutu Andre. Dengan gemas ia meremas-remas jemarinya.
“Mereka? Mereka siapa? Vita, Amel, atau siapa?” tanyaku penuh selidik.
“Gadis-gadis murahan itu!”
Astaghfirullah.
“Hmmm. Sabar ... sabar! Ceritakan dari awal. Aku kan nggak ngerti apa yang kamu bicarakan. Perlu minum?” tawarku.
“Vita ....”.
“Ada apa dengan artis India itu?” tanyaku.
Aku pernah melihat sekali gadis bernama Vita itu. Andre pernah mengajaknya sekali ke kontrakan. Tak dapat dipungkiri, ia memang cantik. Postur tinggi semampai, dengan mata lebar, mengingatkanku pada Kareena Kapoor yang fotonya terpampang nyata menjadi model kalender di rumahku. Emak menyukai Kareena Kapoor, karena hobi menonton film India.
“Dia mengkhianatiku, Bi. Tadi malam, dia menolak saat kuajak nonton di Tunjungan. Tak tahunya dia keluar sama yang lain. Lalu aku hubungi Sari. Eh, ternyata sama saja. Sari juga punya janji dengan yang lain. Harapan terakhir Wendy. Ternyata mereka semua sama saja. Hanya mau sama aku karena modus ...” ratapnya dengan nada sedih.
Busyet! Banyak sekali nama gadis yang ia sebut. Vita, Sari, Wendy, kemudian siapa lagi?
Jangan-jangan Dahlia diembat juga!
“Kan kamu sendiri yang bilang, cinta terjadi karena sebuah modus. Katamu nggak ada cinta sejati,” aku mengingatkan tentang opininya mengenai definisi cinta beberapa waktu lalu.
“Iya sih. Tapi nggak gini juga. Tiga-tiganya lho Bi, semua ninggalin aku. Ibarat sudah jatuh, tertimpa Dahlia pula aku ini!”
Sial! Ngapain dia bawa-bawa nama Dahlia? Dahlia nggak seburuk itu. Huh!
“Ya udah yang sabar. Kan kita udah sering mengingatkan juga. Jangan terlalu sering tebar pesona. Akibatnya begini kan? Cari satu saja yang pasti ....”
Eh, kok mendadak aku jadi bijak sih? Habis makan apa aku ini? Padahal aslinya kisahku juga lebih kacau dari Andre.
“Maksudmu, kayak kamu dan Lusi, begitu?” tebaknya.
“Lusi?”
__ADS_1
Aku tertawa.
Mengapa Andre mengais kisah lama itu lagi?
“Aku trauma ....” kata Andre kemudian.
“Yakin? Palingan ketemu cewek lain kamu berubah pikiran lagi,” cibirku.
Sungguh, apa yang diucapkan Andre agak meragukan. Yang namanya karakter, tidak semudah itu dihilangkan.
“Nggak! Aku mau vakum dulu. Paling enggak sebulan lah!”
“Sebulan tanpa cinta? Yakin?” sangsiku.
“Yakin!”
“Oke. Aku dukung! Sebulan tanpa cinta loh ya. Harus ada punishment kalo melanggar!”
“We’ll see, Bi. Ntar kalau melanggar, maka aku akan kasih HP-ku padamu!”
“Serius kamu?”
“Iya aku serius lah!”
“Oke. Deal!”
Lumayan! Hapeku kebetulan sudah buluk. Lagipula Andre memunyai koleksi ponsel yang lumayan banyak, dan rata-rata ponsel mahal. Jadi dia tidak rugi jika menyedekahkan salah satu ponselnya kepadaku.
Sebenarnya, aku tidak yakin Andre akan kuat menghadapi gerusan cobaan yang tiada terkira ini. Bayangkan! Tiga puluh hari tanpa cinta. Ah, ini sih seperti sayur tanpa garam. Hambar! Hidupnya banyak dikelilingi wanita cantik, sepertinya statement yang dibuatnya hanya isapan jempol.
Welcome ponsel baru!
Sebelum keluar, Andre melempar sesuatu kepadaku.
" Apa ini? "
"Buatmu saja! "
Ooh. Coklat berpita pink....
***
Kutunggu hari ini. Makan bakso cinta di kantin pusat jam 12.30 tet! Nggak pake telat. Telat, end!
Aku mengulum senyum mendapat pesan pendek dari Dahlia. Karakter singa betina masih melekat kuat padanya. Ya, Dahlia sama sekali belum berubah, persis sama dengan yang pertama kutemui di Pusat Bahasa. Tegas, disiplin, dan garang. Itu kesan pertama yang kutangkap.
Sayangnya, semua itu adalah topeng. Dibalik kegarangannya, tersimpan perasaan yang serapuh kelopak mawar. Hampir mirip dengan kue onde-onde, garing dan renyah di luar, namun lembut di dalam.
Tak ada alasan lain untuk tidak memenuhi undangan Dahlia. Bahkan lima menit sebelumnya, aku sudah duduk manis memperhatikan beberapa mahasiswa lain yang tenggelam dalam aktivitasnya masing-masing.
Dahlia tak pernah terlambat walau sedetik. Dia selalu konsisten dengan janjinya. Pukul 12.30 tepat, dia mendatangiku dengan membawa nampan berisi dua mangkok bakso cinta.
Mengapa bakso cinta?
__ADS_1
Aku menduga karena bentuk daging baksonya yang berbentuk hati. Luar biasa kreatif para pedagang zaman sekarang. Mereka memodifikasi makanan menjadi menarik untuk menggaet konsumen. Mungkin penamaan bakso cinta ini lebih masuk akal dibanding dengan bakso granat! Karena aku sama sekali tak melihat ada unsur granat di baksonya.
“Tumben on-time?” kata Dahlia.
“Sebenarnya itu karakter asliku. Hanya saja kamu nggak tau,” jawabku.
Dahlia mencibir.
“Nih, punyamu yang tanpa saos dan kecap. Kamu kan suka makan bakso seperti itu ....” Dahlia menyorongkan satu mangkok bakso kepadaku.
Aneh bin ajaib!
Darimana dia tahu aku suka makan bakso tanpa saos dan kecap? Jangan-jangan apapun yang melekat pada diriku dia tahu? Jangan-jangan dia tahu juga ukuran celana dalamku?
Aku mulai curiga.
“Aku mau bicarain tentang rencana kegiatan klub english kita. Mau kan?” ujar Dahlia sambil mengunyah daging bakso yang masih panas.
“Kok aku? Kan kamu punya wakil,” jawabku.
Setahuku, dalam Victory English Club ada susunan kepengurusan yang lengkap. Bahkan namaku pun tidak tertera di sana. Bagaimana mungkin Dahlia mendiskusikan ini semua denganku? Ya, dia memang ketua, tetapi lebih afdol jika mendiskusikan ini dengan para pengurus lain.
Aku mah apa?
“Ah, malas! Mereka semua itu pada kayak kerbau semua. Baru mau kerja kalau dicambuk dulu. Kurang kreatif dan agresif. Mending kamu saja,” terang Dahlia.
Helooo, Dahlia! Aku juga tidak kreatif dan agresif kaliiiii ....
“Kamu punya rencana apa sih?” selidikku.
“ English Camp. How do you think?”
“Keren sih idenya. Rencana mau di mana emang?”
“Aku sih maunya di luar kota. Di Surabaya tak ada tempat yang keren buat nge-camp. Kalau di Malang gimana?” tawarnya.
Malang?
Aku langsung sensitif mendengar nama kota ini disebut. Ya, Malang adalah kota di mana Lusi tinggal, walau dia punya famili di kawasan Gubeng Kertajaya. Langsung otak kreatifku mulai menyusun rencana. Kalau camp akan diadakan di Malang, itu berarti akan menghemat ongkos pergi ke sana.
Aku akan mencari Lusi!
“Setuju!” jawabku spontan.
“Alasannya?”
“Di Malang banyak tempat menarik buat kemping. Mau di mana? Songgoriti? Atau ke Batu? Atau kawasan Coban Rondo,” paparku.
“Hmm. Kamu benar. Sepertinya kita memang harus adakan rapat dengan pengurus klub yang lain.”
“Iyalah. Nggak etis juga kita putusin sendiri. Emang klub itu milik moyangmu?”
“Oke.
__ADS_1
Aku tak sabar menunggu hari itu.
***