DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XCV : Power of Love


__ADS_3

Sudah dua hari Andre terbaring di ruang perawatan. Dari hari ke hari, perkembangan kesehatannya cukup signifikan, walau belum pulih sepenuhnya. Paling tidak komunikasi mulai lancar. Dokter menyarankan untuk tetap rawat inap agar perkembangan lebih terpantau. Beberapa kali kami menjenguk untuk memberikan semangat. Rupanya dia sangat gembira menerima kunjungan kami.


“Jadi gimana sih Ndre ceritanya kok kmau bisa jatuh dari motor,” tanyaku suatu kali di suatu sore yang cerah. Kulihat paras Andre yang mulai berseri, jauh dari kata pucat.


Farhan dan Doni turut serta pula di tempat itu. Mereka sangat antusias mendengar cerita Andre, sambil makan kacang kulit di hadapannya. Sungguh tiada berperasaan. Bahkan buah-buahan yang harusnya dijadikan bingkisan untuk Andre tak luput dari sasaran Doni.


“Sebenarnya kalau disuruh cerita aku nggak ingat juga, karena kejadiannya begitu cepat. Yang jelas aku saat itu aku menghindari kendaraan lain yang tiba-tiba oleng ke arahku, sehingga kubanting setir motor ke arah kiri, menabrak trotoar dan aku terlempar entah kemana.” Andre mulai bercerita.


“Wah, berarti kendaraan yang oleng itu harus bertanggung jawab, nggak boleh kabur gitu aja.” Farhan menanggapi.


“Yah, mana aku mikir yang kayak begitu. Bisa buka mata aja udah bersyukur banget. Beneran loh, habis kepala kena trotoar aku benar-benar blank, udah kayak nggak ingat apa-apa. Bangun-bangun udah di sini.”


“Iya yah syukur banget kamu masih diberi kesempatan menghirup udara lagi. Rasanya kayak diberi kesempatan kehidupan kedua. Tapi gimanapun kamu harus semangat Ndre, kan udah mau jadi bapak, tapi belum jadi suami hahaha,” sindir Doni begitu telak mengenai sasaran.


Tega benar ini anak!


Andre hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Doni. Matanya menerawang kosong, ada sesuatu yang dipikirkannya. Ia menghela napas panjang.


“Kalian jangan pergi kemana-mana dulu ya,” kata Andre lirih.


“Nggak kok. Kami nggak kemana-mana. Emang mau kemana?” tanya Doni.


“Paling nggak dua hari ini, kalian jangan keluar kota ya. Kalian harus jadi saksi.”

__ADS_1


“Saksi? Saksi apa? Kan Pemilu masih lama. Masa kami mau dijadikan saksi,” celoteh Doni.


Lama-lama aku gemas mendengar celotehan Doni yang seenaknya ini. Walaupun Andre belum menerangkan, tapi aku sudah menangkap apa yang dimaksud Andre.


“Bukan saksi Pemilu! Dudul banget sih kamu!” semprot Farhan.


“Eiits! Yang sopan ya sama kakak ipar!” balas Doni.


“Oh, iya aku lupa,” Farhan tersipu malu, sementara Doni tersenyum penuh kemenangan.


“Aku ingin kalian jadi saksi ijab kabul yang akan dilaksanakan dua hari lagi. Kalian pokoknya harus datang dan tidak boleh kemana-mana. Bisa kan?” pinta Andre.


“Aku sih siap aja,” jawabku.


“Bukan di masjid. Tapi di ruangan ini. Di rumah sakit,” jawab Andre.


Tentu saja kami terkejut mendengar itu. Sejak kapan rumah sakit dijadikan tempat sakral seperti ijab kabul? Akankah ini akan menjadi trend? Tentunya, bukan tanpa alasan. Kondisi yang belum memungkinkan untuk pulang menjadi alasan utama mengapa acara ijab kabul dilaksanakan di kamar rumah sakit.


“Kok nggak nunggu kamu pulih saja sih, Ndre?” tanya Doni.


“Bapaknya Inneke nggak mau. Beliau mau prosesi ijab kabul ini dilaksanakan cepat agar tak berkembang isu miring di luar sana. Mau nggak mau ijab akan dilaksanakan di rumah sakit, dan tak banyak yang akan diundang, hanya keluarga inti. Yang penting ijabnya dulu, resepsinya belakangan,” terang Andre.


Kami manggut-manggut. Dalam hati miris juga, karena melihat Andre begitu cepat menyudahi masa lajangnya. Padahal dahulu aku sempat berpikir bahwa mungkin Andre akan betah melajang. Ternyata, nasib menentukan lain. Harapan-harapan Andre sepertinya juga pupus, tetapi kupikir bukan masalah besar karena sebagai gantinya ia mendapat pasangan hidup yang menurutku begitu istimewa.

__ADS_1


“Kamu perlu dibantu apa, Ndre? Kami siap,” ujar Farhan.


“Yang jelas ijab kabul ini tidak ada acara siraman rohani dan nasi kotaknya, Han. Jadi jangan terlalu berharap. Cukup ibu-ibu saja yang memakai jasamu.”


Kalimat Doni, seperti biasa tajam dan menusuk. Untunglah, telinga kami sudah kebal dengan segala racun yang menyembur dari mulutnya. Aku hanya mencibir, sementara Farhan terlihat tak bergeming. Walau kadang ucapan-ucapan kami bagai racun, tetap tak ada dendam di antara kami. Para pria tak terlalu suka menyimpan sesuatu di dalam hati, berbeda dengan kaum perempuan yang sedikit rumit.


“Untuk saat ini kami belum membutuhkan bantuan kalian, teman-teman. Kalian datang kesini saja aku sudah bersyukur, karena aku nyadar beberapa kalian adalah orang sibuk yang waktunya mungkin terbatas. Yang jelas sih aku ingin kalian datang saja. Nggak usah bawa kado atau hadiah. Paling isinya cuman sprei murahan, mending tidak usah sekalian!” celetuk Andre.


Aku tergelak. Masih saja bisa bercanda di saat-saat sulit seperti ini. Ah, aku jadi teringat kado sprei yang dibawa oleh emak. Yang jelas bukan sprei murahan, karena pernah kulihat beberapa kali iklannya di televisi menggunakan model cantik yang memamakai baju tidur transparan. Sampai sekarang aku masih berpikir, apa hubungan sprei dengan baju tidur itu?


Tak terasa, setengah kilo kacang sudah habis memenuhi lambung-lambung kami. Sementara Farhan sudah mulai belingsatan, tak tahan ingin segera pulang ke Pasuruan, karena sudah rindu dengan Dina. Maklum, mareka adalah pengantin baru, jadi masih menyimpan gejolak rindu yang luar biasa. Sepuluh tahun lagi pasti akan berbeda, mungkin akan pudar seiring berjalannya waktu.


Rasa rindu membara ini terbukti pada kehidupan rumah tangga orangtuaku. Mereka berpuluh tahun menikah, tetapi rasa rindu tak ditampakkan dengan eksplisit. Hanya saja ketika emak tidak ada, pasti bapak mencari.


“Kemana emakmu?”


Ucapan itu yang sering kudengar di saat emak sedang tidak ada di rumah. Aku tidak tahu apakah ini adalah ungkapan rasa rindu atau bapak sedang bingung karena tidak ada yang membuatkan kopi? Bapak adalah sosok yang cukup perfeksionis. Kalau bukan emak yang membuatkan kopi, pasti tidak berkenan. Entah itu kemanisan, terlalu encer, dan sebagainya. Padahal aku sudah menerapkan takaran yang sama dengan emak. Mungkin inilah yang disebut dengan Power of Love. Membuat kopi pun harus memakai cinta.


Rencana ijab kabul Andre dan Inneke di rumah sakit itu membuat jiwa kesendirianku makin bergolak. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ruangan di rumah sakit akan disulap menjadi tempat prosesi ijab kabul. Tentunya akan menjadi salah satu peristiwa epik, karena seumur-umur baru kali ini mengetahui kalau ijab kabul bisa dilaksanakan di rumah sakit.


Aku menyingkir, kembali merenung di taman rumah sakit. Seekor kucing jantan berbulu kuning mengeong, sambil mengusapkan badannya ke kaki. Mungkin dia tahu kalau aku sedang merana. Kubelai punggungnya yang berbulu jarang. Mungkin nasib kami sama-sama. Ngenes, karena tak punya pasangan. Satu-persatu orang di sekitarku mulai terenggut keperjakaannya.


Aku kapan?

__ADS_1


***


__ADS_2