DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXXXVI : Semprotan Dosen


__ADS_3

Nyeri masih terasa menghunjam bagian dalam perut. Sampai detik ini, pukulan itu masih menyisakan rasa mual, sehingga aku khawatir akan berpengaruh dengan kondisi bagian dalam tubuh. Akibatnya, beberapa aktivitas harus kubatalkan. Salah satunya adalah jadwal asistensi dengan Pak Kusumo Sastrowardoyo. Padahal jadwal itu sudah kutulis dalam agenda.


Masalah penjadwalan ulang asistensi ini bukan perkara mudah, karena jadwal Pak Kusumo memang padat, sehingga membuat janji dengan beliau membutuhkan perjuangan. Yang aku tahu, Pak Kusumo ini sangat aktif, jarang berada di rumah. Beliau sering melakukan perjalanan ke luar kota tanpa pemberitahuan sebelumnya. Membuat jadwal dengan beliau harus jauh-jauh hari sebelumnya. Sungguh, ini mirip sekali dengan membuat janji dengan artis.


Sejak peristiwa penyerangan kepadaku tadi malam, rasa tidak nyaman mulai mengganjal. Sudah dapat dipastikan, beliau kecewa karena aku tidak datang. Padahal aku juga tidak mengharapkan hal ini. Sayangnya, kebanyakan dosen tidak mau tahu.


Permohonan maaf secara resmi kutulis dalam sebuah pesan pendek, kukirim di ponselnya. Sayangnya tiada kunjung berbalas, sehingga kuberanikan diri untuk menghubungi lewat ponsel. Mungkin alangkah lebih baik jika berbicara langsung.


Awalnya kukira panggilanku diabaikan, ternyata diangkat. Agak gugup juga berbicara dengan dosen, berbeda apabila berkelakar dengan teman. Kalimat biasanya berlepotan, jadi harus menyusun bahasa sebaik mungkin agar tak menyinggung perasaan atau berkesan tidak sopan.


Secara baik-baik, kujelaskan alasan ketidakhadiran saat asistensi yang pertama. Kalimat sengaja kususun dengan hati-hati, sesuai dengan ejaan yang disempurnakan, agar berkesan formal.


“Mohon maaf, Pak. Saya tidak bisa hadir kemarin karena saya terkena halangan. Mohon bisa dijadwalkan ulang ya, Pak? Sekali lagi mohon maaf,” ucapku dengan hati-hati, menjaga agar tidak menyulut amarah.


Tak dinyana ucapan penuh kehati-hatian itu langsung mendapat sambutan yang kurang menyenangkan. Pak Kusumo dengan penuh semangat membantai dengan bahasa yang kasar. Aku merasa bagai seorang pesakitan di tengah arena tempur gladiator.


“Kamu ini bagaimana sih? Kamu tahu nggak! Gara-gara membuat janji denganmu, saya harus membatalkan jadwal saya yang lain. Kalau tahu begitu, mendingan nggak usah buat janji. Kamu sudah menyita banyak waktu saya! Sekarang saya lagi males. Nanti kalau sudah tidak males, baru kita bikin janji lagi. Jangan-jangan main ya dengan saya!” semprot Pak Kusumo.


Nyali ini seketika menciut. Perasaan tadi kalimat yang kulontarkan begitu sopan dan rapi. Ternyata masih salah juga di mata Pak Kusumo. Yang bisa kulakukan hanya mengelus dada sambil banyak mengucap istighfar.


“Mohon maaf sekali lagi, Bapak. Saya memang benar-benar terkena halangan,” tambahku.

__ADS_1


“Halangan apa sih? Jangan mengada-ada ya! Kamu menstruasi? Lain kali kamu terlambat atau membatalkan janji, kamu cari dosen pembimbing lain saja! Maaf ya, saya biasa kerja disiplin dan tertib. Kalau mahasiswa modelnya kayak kamu, mohon maaf, lebih baik nggak usah ada urusan sama saya. Paham kamu?”


Astaghfirullah! Sabar ... sabar ... sabar ....


“Baik Pak. Saya paham. Mohon arahan dan bimbingannya. Saya doakan Pak Kusumo panjang umur dan selalu sehat ya Pak!”


“Loh, kamu doain saya jelek? Saya tidak sedang dalam keadaan sakit!”


Pembicaraan berakhir. Sengaja kututup telepon lebih awal, daripada emosi meledak. Kalau emosi tak terkendali, salah-salah ponsel ini menjadi korban. Serba salah kalau bicara dengan dosen senior. Kita harus bisa merendah sampai level yang paling bawah. Apalagi kalau dosennya mudah tersulut emosi. Kita harus ekstra sabar, walau dalam hati menggerutu kesal. Lagak dosen begitu arogan, seperti tidak pernah jadi mahasiswa saja!


Karena telepon dari Pak Kusumo yang menjengkelkan, otomatis membuat mood jadi jelek. Rasanya ingin membanting sesuatu, tetapi sayang tak ada yang begitu berharga di ruangan kamarku. Ingin menonjok seseorang, tetapi siapa? Doni lagi sibuk wara-wiri pulang kampung entah apa yang diurusnya. Farhan, beberapa pekan ini nyaris tak kulihat batang hidungnya. Entah dia masih tinggal di muka bumi atau pindah ke planet lain, aku benar-benar tidak tahu. Andre terlihat juga sibuk. Dugaanku, keluarga Inneke sudah mulai melunak, sehingga pasangan itu mungkin sedang mempersiapkan hari pernikahannya.


Aku?


Mencari kesempurnaan tak akan pernah berakhir. Jadi ingat pepatah Jawa yang pernah kudengar dari emak. Pilih-pilih tebu kebongkeng, artinya jangan terlalu pilih, sebab bukannya mendapat yang baik, nanti malah dapat yang jelek. Ibarat orang yangs sedang memilih-milih tanaman tebu. Karena inginnya mendapat batang tebu yang baik, tak tahunya malah dapat yang busuk. Ada benarnya pepatah ini, namun tak sepenuhya benar.


Sebagai orang Jawa, ada istilah bobot-bibit-bebet yang harus pula diperhatikan. Tak boleh gegabah mencari pasangan hidup. Untunglah, walaupun emak orang desa, beliau tidak terlalu mempermasalahkan segala pernak-pernik budaya yang merepotkan. Coba saja kalau ada almarhum simbah, pasti akan lebih ribet lagi. Sebelum memilih pasangan pasti akan ditanya weton dulu, terus dihitung pasaran hari baiknya, kira-kira cocok apa tidak. Sebab ini akan menentukan akibat baik atau buruk di masa depan. Selain itu, simbah juga akan mempermasalahkan apakah pasangan ini anak sulung atau bungsu. Karena kalau sulung dengan sulung itu tidak baik, idealnya anak sulung bertemu dengan anak bungsu. Ada pula yang harus melalui prosesi ruwatan.


Waduuh! Kalau berpedoman dengan segala aturan maha ribet ini, yang ada aku malah tidak dapat jodoh. Ini sudah zaman maju, masih saja percaya dengan yang begitu. Jodoh itu sudah ditentukan oleh Allah. Orang sudah berbicara tentang pendaratan di Planet Mars, ini masih saja berkutat dengan klenik.


Huh!

__ADS_1


Gaung pernikahan Andre makin terasa. Sore ini kulihat dia pulang terburu-buru ke kontrakan, kemudian bersiap hendak keluar lagi. Hal ini memancing rasa ingin tahu yang mendalam. Apakah benar dia jadi menikah dengan Inneke?


“Buru-buru amat, Ndre!” sapaku.


“Eh, iya aku lagi repot akhir-akhir ini. Ngurusin ini-itu. Orangtuaku juga segera datang ke Surabaya dalam waktu dekat. Pusing kepalaku, Bi!” keluh Andre sambil membetulkan tali sepatunya.


“Kamu serius mau menikah dengan Inneke?” tanyaku.


“Mau bagaimana lagi? Orangtua Inneke meminta aku untuk bertanggungjawab. Mau tidak mau ya aku harus nurut. Masa aku harus lari dari tanggung jawab? Mana ayahku marah-marah terus. Pusing kepalaku!” ujar Andre.


“Lah, kamu sebenarnya sayang beneran nggak sih sama Inneke?”


“Ya, sayang sih. Cuman aku kan belum siap kalau menikah. Maunya ya seneng-seneng dulu. Kan kita ini masih muda, Bi. Ayahku tiap hari ngomel di telepon. Ternyata aku sudah dijodohkan dengan anak temannya tanpa sepengetahuanku. Aku kan jengkel juga. Masa nggak dimintai pendapat dulu?”


“Lah, terus gimana?”


“Ya udah, perjodohan itu batal. Emang dia mau jadi istri keduaku? Ya kalau mau nggak apa-apa!”


Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Andre. Dalam kondisi terjepit seperti ini masih saja otaknya kreatif memikirkan istri kedua. Sungguh, aku harus belajar banyak darinya.


Kambing si Andre ini!

__ADS_1


***


__ADS_2