DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XXXIII : Interogasi dalam Mobil


__ADS_3

Sore begitu syahdu, dengan cahaya sang surya keemasan mengintip di pucuk-pucuk akasia. Suasana jalan sekitar kampus seperti biasa ramai lancar, dengan kendaraan hilir-mudik. Sore begini, banyak mahasiswa pulang dari kampus , berbaur dengan para pekerja yang pulang dari tempat bekerja. Rutinitas yang nyaris sama setiap hari.


Jam 16.32 aku sudah siap di depan masjid, menunggu Dahlia yang sudah siap mengantar. Untuk urusan transportasi, kini aku tidak begitu khawatir. Walaupun aku tidak punya motor, namun aku bersyukur masih ada orang baik yang mau membantu orang tak tahu diri sepertiku. Di kontrakan, tinggal pilih motor siapa yang ingin kupakai. Kalau ingin naik motor dengan gaya old fashioned, maka motor Farhan bisa diandalkan. Motor itu mirip nyonya tua tangguh dan tahan banting. Sedangkan kalau ingin sedikit bergaya, maka motor Doni atau Andre bisa menjadi pilihan, dengan catatan bensin silahkan diisi sendiri.


Ini peraturan tidak tertulis sebenarnya. Hanya masalah etika. Sudah selayaknya kita mengisi tangki bahan bakar kendaraan yang sudah dipinjam. Naik motor Andre atau Doni, akan mempengaruhi daya jual jomblo sepertiku. Otomatis rasa percaya diri naik beberapa level. Sedangkan naik motor Farhan, akan membangkitkan kenangan motor bapak yang bututnya serupa.


Beep-beep!


Honda civic merah sudah berhenti tak jauh dari tempatku berdiri. Terasa lega melihat Dahlia tiba. Tak perlu membusuk lama di tempat ini. Aku segera memasuki gerobak Jepang itu dengan bersemangat. Aroma toilet mal sudah mulai terbiasa menggelitik hidungku. Jadi tak kupermasalahkan.


Tapi tunggu!


Tiba-tiba, aku mencium aroma berbeda dari mobil ini. Bukan aroma toilet mal, tetapi aroma bunga yang lebih lembut. Khalayan langsung menerbangkan tak tentu arah. Aku seolah terhempas di tengah taman bunga pada musim semi yang indah di suatu tempat di Amsterdam. Kincir-kincir angin berputar perlahan, berdiri perkasa menantang langit. Kuhirup napas dalam-dalam sambil memejamkan mata, membiarkan nektar yang melayang lambat memasuki hidungku ....


“Woee!” suara Dahlia mengembalikan khayalanku ke alam nyata.


“Eh, maaf!”


“Mana alamat temanmu itu?”


Aku menyodorkan ponselku. Dahlia mengernyitkan kening sebentar, kemudian manggut-manggut.


“Let’s Go, Babe!”


Dalam hitungan menit, kami meluncur mengarungi belantara Surabaya yang lumayan padat sore itu. Kendaraan mewah mengular di jalan-jalan utama. Ternyata banyak juga orang kaya di Indonesia. Banyak juga kendaraan lain berjajar, sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.


Maaf, bukan begitu. Itu lagu Dari Sabang Sampai Merauke.


“Kamu mengganti parfum mobilmu, Dahlia?” aku memulai obrolan.


“Iya. Bosan dengan aroma yang lama. Aku ingin yang lebih romantis. Yang lama mirip dengan aroma toilet mal kan?” ujar Dahlia.


Astaga!


Kukira Dahlia ini mempunyai kekuatan super untuk membaca pikiranku. Semoga dia tidak bertemu dengan Profesor X yang akan menangkapnya, karena dianggap sebagai mutan yang berpotensi. Sedikit gelagapan. Kini aku harus menjaga ucapanku, atau bahkan mengendalikan pikiranku agar tidak berpikir buruk tentang Dahlia.


Tak banyak yang kami obrolkan di dalam mobil. Aku sedikit canggung, takut salah bicara. Dahlia sangat lihai membalikkan perkataanku. Mendadak kumerasa seperti pesakitan, terdiam di sudut kursi mobil tak berkutik. Kalimat-kalimat Dahlia jadi serupa pedang yang siap menebas kapan saja.


“Sudah berapa lama kenal dengan cewek ini?” Dahlia memulai interogasinya.


Deg!

__ADS_1


Aku merasa seperti diseret ke dalam ruang temaram, dengan lampu ber-watt kecil tergantung, menghadapi detektif kelas wahid yang siap mencecar dengan beragam pertanyaan. Detektif itu memakai setelan jas rapi, kacamata hitam dan bertopi. Tipikal detektif dalam ranah layar lebar Hollywood. Di dada kanannya, tertera tulisan yang cukup jelas kubaca.


Dahlia Sukmawati.


“Sejak kecil ....” jawabku dengan suara bergetar.


Detektif Dahlia mencatat jawabanku dalam otaknya. Sorot matanya seolah mencabik-cabik perasaan.


“Apakah kalian sering bertemu?”


“Sudah lama kami tidak bertemu,” jawabku.


Detektif Dahlia manggut-manggut. Aku mencium aroma kecemburuan. Benarkah itu?


“Sedekat apa hubungan kalian?”


“Maaf Yang Mulia, bisa diulang pertanyaannya?”


Aku perlu penegasan makna dari pertanyaan ini. Dekat seperti apa yang ia maksudkan?


“Aku biasanya tidak mengulang pertanyaan. Tapi baiklah. Ini pengecualian untuk yang orang lambat berpikir sepertimu,” sinis Dahlia.


What the ....


Busyet! Banyak sekali pilihannya. Bagaimanapun aku harus menjawab pertanyaan yang menurutku adalah simbol dari kecemburuan Dahlia.


“Kami hanya teman biasa,” ungkapku.


“Apakah wajar sebagai teman biasa untuk mengurusi segala kebutuhannya? Bukankah dia harusnya meminta tolong orang lain? Apakah wajar seorang teman biasa dititipin sesuatu yang mungkin berharga dari ibumu?” cecar Dahlia.


Ya Tuhan! Bu Detektif, di mana nuranimu bersembunyi? Jangan-jangan hatimu memang sudah mati?


“Aku rasa masih wajar. Mengingat hanya aku yang dikenalnya di kota ini. Hal yang sangat wajar jika kami saling membantu. Kecuali, orang yang anti sosial. Seperti anda.”


Detektif Dahlia terperangah. Kalimatku mungkin seperti busur panah yang langsung menusuk ulu hatinya.


“Kita tidak sedang berbicara mengenai diriku. Tetapi tentang dirimu,” kilahnya.


“Tetapi sebelum memberi pertanyaan, harusnya kamu mengembalikan pada dirimu sendiri. Jadi kamu tahu jawabannya seperti apa,” hati kecilku mulai bergejolak. Tak tahan untuk melakukan pemberontakan.


Detektif Dahlia terdiam. Ini kesempatanku untuk menyerangnya!

__ADS_1


“Saya paham, kesepian tanpa teman itu menyakitkan. Tetapi bukan berarti itu membuat nurani kita mati,” lanjutku.


“Cukup!” potong Dahlia.


“Maafkan hamba yang telah lancang, Yang Mulia.”


Kami saling terdiam. Ruangan temaram di sekitarku memudar, kembali menjadi sepetak ruangan dalam mobil. Atribut detektif Dahlia juga telah lenyap. Gadis itu tampak fokus menyetir, tanpa sepatah kata pun terucap. Rasa canggung mulai menyelinap.


“Kamu suka musik ini?” Aku membuka dashboard mobil, mengambil sebuah CD yang terhambur di dalamnya.


“Ya, aku suka Krisdayanti,” jawan Dahlia.


Aku mengangguk. Suasana pun seketika berubah menjadi syahdu ketika suara mendayu Krisdayanti melantunkan tembang Menghitung Hari. Kulempar pandanganku ke arah luar mobil. Surabaya sangat cantik sore itu. Aktivitas penduduknya yang dinamis, bertebaran ke segenap penjuru kota. Berdua bersama Dahlia dalam mobil beraroma spring seperti ini harusnya sangat romantis, bukan?


“Kamu tidak ingin bisa mengemudi?” tanya Dahlia.


Aku tersenyum,” Aku kan nggak punya mobil? Hanya punya gerobak sapi ....”


“Mungkin suatu saat nanti. Jangan pernah under-estimate dengan kemampuanmu sendiri. Aku melihat pijar semangat di matamu. Ketangguhanmu membuatku percaya kalau kamu akan sukses kelak di masa yang akan datang,” ujar Dahlia.


Luar biasa!


Setelah mampu membaca pikiranku kini ia bisa memprediksi masa depanku. Karena prediksinya bagus, maka segera kuaminkan dalam hati.


“Tak ada yang lebih membahagiakanku selain melihatmu sukses, Bi”


Ucapan Dahlia ini sukses membuatku terharu, meruntuhkan dinding ego yang berdiri pongah selama ini. Ketulusannya sungguh tak bisa dibandingkan dengan siapa pun. Andai Dahlia seorang laki-laki, sudah kupeluk sebagai tanda tulusnya persaudaraan.


“Minggu depan, aku akan mengajarimu mengemudi ....” katanya kemudian.


Aku terdiam lagi.


Dahlia, kamu ini sebenarnya siapa? Malaikat tak bersayap yang diutus oleh Tuhan untuk mengentaskanku dari ketidakberdayaan atau apa?


“Mungkin aku tidak akan pernah bisa, Dahlia ....”


“Kamu bisa! Kamu nurut aku, atau kugedor kamar kontrakanmu, kuseret agar mau belajar?”


Sayangnya sifat singa betina ini masih melekat di karakternya. Cobalah lebih lembut seperti Laras, Dahlia. Agar hati ini bisa berpaling padamu.


Memang, aku belum menyukai Dahlia sepenuh hati. Keraguan masih bercokol, walau ribuan kebaikan telah ia tebarkan dalam hidupku. Bayangan Lusi masih suka datang tanpa diundang, padahal jelas dia meninggalkanku tanpa pesan. Kelembutan Laras kadang juga menggelitik tiba-tiba.

__ADS_1


Duh, cinta itu rumit ....


***


__ADS_2