DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXVII : Single Parent


__ADS_3

Siang terasa gerah dan panas. Paling enak di cuaca seperti ini minum sesuatu yang dingin. Bayangan es teler yang berisi aneka ragam buah atau es kelapa muda sudah menghantui pikiran. Apalagi aroma nangka dalam es, tentu akan terasa nikmat apabila mengalir di kerongkongan. Belum-belum, aku sudah menelan ludah membayangkan itu.


“Ayo masuk!” ajak Bu Roffi.


Wanita itu sudah siap dengan mobil sedan warna silver keluaran terbaru yang menyilaukan mata. Kaca mata hitamnya tampak terlihat agak terlalu besar, sehingga terlihat kurang pas dengan bentuk wajahnya. Sekilas lebih mirip wajah belalang.


Aku masuk ke dalam mobil dengan takzim, layaknya seorang bawahan kepada atasan. Bagaimanapun, aku harus menjaga sikap bila berhadapan dengan orang yang levelnya lebih tinggi daripada aku. Apalagi aku tumbuh di lingkungan Jawa yang begitu mengagungkan primordialisme. Tentunya unggah-ungguh adalah hal yang melekat dalam falsafah hidup.


Tak banyak bicara, aku pasrah kemana saja Bu Roffi mengajakku pergi. Wanita itu menyetir dengan serius. Perhatiannya berpusat pada kepadatan lalu-lintas siang itu. Ini adalah kali kedua ketika seorang wanita mengajak berkelana menggunakan mobil. Berada di dalam mobil seperti ini, ingatanku melayang kepada Dahlia.


Kok aku kangen dia ya?


“Kamu suka makan apa, Bi?”


“Terserah Ibu saja,” jawabku malu-malu.


Kalau di luar jangan formal-formal ya, Bi. Masa panggil Ibu sih?” kata Bu Roffi.


Menurutku, panggilan ‘Ibu’ tidak terlalu berlebihan, mengingat dia adalah atasanku. Di samping itu, jelas usia Bu Roffi beberapa tahun lebih tua daripadaku. Sungguh tidak elok kalau aku panggil dia dengan sebutan nama saja.


Setelah beberapa lama mengendara mobil, mobil berhenti di sebuah warung makan yang ramai dipadati pembeli. Tak heran , jam-jam makan siang begini warung dipadati pekerja yang ingin mengisi perut. Suasana warung yang agak sempit. Membuat susah mencari tempat duduk. Untunglah, setelah bersakit-sakit dahulu, dapat juga kami tempat.


Model warung yang kami kunjungi adalah prasmanan dengan berbagai macam pilihan lauk, mengingatkan pada sebuah warung yang cukup legendaris dekat kampusku. Di sana aku juga punya memori khusus bersama Lusi. Aneh juga ya. Di dalam mobil ingat Dahlia, di dalam warung ingat Lusi, berikutnya di toilet ingat siapa?


Pasti ingat Darwis!


Aku tak mau mencoba menu aneh-aneh,, mengambil menu yang memang udah akrab di lidah. Urap sayuran, sayur tahu, tempe mendoan dan ayam goreng. Rasanya menggoyang lidah, tak heran banyak banyak pelanggan yang rela mengantri untuk bisa makan di sini.


“Warung ini langgananku sejak lama, Bi. Gimana rasanya? Enak nggak?” tanya Bu Roffi.


“Enak kok, Bu.” Jawabku malu-malu.

__ADS_1


“Makan yang banyak, biar gemukan!”


Aku tersipu malu. Bagaimanapun etika tetap nomor satu. Dekat dengan atasan tidak serta merta kita jadi jumawa, atau bercanda sesuka hati. Malahan rasa tidak enak menggerogoti. Aku yakin, setelah acara makan siang ini, banyak kabar burung berhembus di kantor. Pak Imron bisa-bisa menyerangku dengan menggunakan senjata ini.


Selepas makan siang, Bu Roffi berniat pulang sebentar karena ada sesuatu yang ketinggalan, dia tidak menerangkan lebih lanjut apa yang ketinggalan.


“Sebentar aja kok. Lima menit saja. Ada yang ketinggalan di rumah,” kata Bu Roffi.


Mobil melaju menuju ke sebuah kawasan perumahan elit. Tak ada satu pun rumah yang berlantai satu, mayoritas berlantai dua, dengan pagar tinggi menjulang. Aku tak dapat membayangkan apabila tinggal di lingkungan seperti ini, sebab dapat dipastikan rasa sikap individual tumbuh subur. Tak ada yang peduli dengan tetangga, semua sibuk dengan urusan sendiri-sendiri.


Dalam hati, aku berpikir sungguh beruntung Bu Roffi bisa sukses seperti ini. Berkendaraan mewah, rumah megah dan karir yang bagus. Kurang apa coba? Penyakit wanita yang telah sukses seperti ini biasanya mereka kurang menghargai kaum pria, sehingga merasa tidak membutuhkan pria. Akibatnya, mereka betah hidup melajang selama bertahun-tahun, karena merasa bisa mencukupi semua kebutuhannya.


Sesaat aku teringat apa yang diceritakan oleh Pak Imron kepadaku. Benarkah Bu Roffi seperti itu? Kelihatannya dia begitu baik. Rasanya tak percaya kalau sosok atasan seperti ini ternyata jablay atau apalah itu. Aku tak berani berpikir yang tidak-tidak.


Mobil berhenti di depan rumah megah berpagar tinggi, dengan taman yang cantik. Sama dengan rumah-rumah lain, rumah Bu Roffi berdesain minimalis mempunyai dua lantai dengan cat berwarna krem. Aku menunggu di mobil, sementara Bu Roffi masuk ke dalam.


Tak lama, ia keluar lagi sambil berkata,” Abi, yuk masuk sebentar!”


“Saya nunggu di sini saja ya, Bu!” tolakku.


Aku tidak enak menolak perintah Bu Roffi. Pada akhirnya, kuturuti saja perintahnya. Agak canggung masuk ke dalam rumah yang bagus seperti ini. Aku memilih duduk di teras, tak enak untuk masuk rumah seorang wanita tanpa muhrim. Untung, di sini lingkungan yang individualis, kalau di kampung sudah barang tentu kunjunganku akan dikategorikan sebagai perbuatan asusila.


Tak lama, wanita itu keluar dengan seorang bocah perempuan sekira berumur empat tahun. Sungguh lucu wajah bocah perempuan itu. Pipinya yang kemerahan, dan matanya yang bulat, membuatku merasa gemas ingin mencubit.


“Salim sama Om!” perintah Bu Roffi kepada gadis kecil itu.


Dengan malu-malu si gadis kecil mengulurkan tangannya. Kusambut dengan senyuman merekah. Anak-anak yang lucu, sungguh membangkitkan gairah hidup. Wajah mereka yang tanpa dosa terasa menyejukkan di pandang mata.


“Siapa namanya?” sapaku ramah.


Bocah itu tak menjawab, hanya menggeliat malu-malu.

__ADS_1


“Namanya Vina, Om!” Bu Roffi yang memandu menjawab pertanyaan. Aku manggut-manggut. Gadis kecil cantik itu kembali ke dalam, di temani seorang ibu paruh baya.


“Bulek, nanti jangan lupa jam tiga diminumkan lagi obatnya ya!” kata Bu Roffi memberi perintah kepada wanita paruh baya itu.


“Enggih, Bu!”


Aku tak berani berpikir apa pun. Hanya duduk, diam dan ganteng tanpa bereaksi. Perkataan Pak Imron kembali terngiang di telinga. Mungkin dia benar, bahwa Bu Roffi ini seorang janda. Sebab aku tak melihat dia punya suami.


“Itu Vina, anakku. Dia lagi demam, makanya kusempatkan pulang sebentar untuk mengecek apakah dia sudah makan atau belum. Jangan kaget ya, Bi. Aku ini single parent. Semuanya kutangani sendiri,” ujar Bu Roffi.


Single parent?


Ingin aku menelisik lebih jauh di mana suaminya, tetapi kupikir lebih baik jangan. Khawatir nanti jatuhnya tidak sopan. Lagian aku tidak urusan untuk mengetahui keberadan suaminya. Ketakjubanku bertambah lagi. Sama sekali tak menyangka kalau Bu Roffi adalah seorang single parent. Untuk beberapa poin, ucapan Pak Imron benar.


Sayangnya aku tidak setuju kalau Pak Imron berpendapat bahwa Bu Roffi genit dan suka tertarik sama brondong. Aku kira, tingkat kegenitan Bu Roffi masih dalam taraf wajar. Mentraktir makan siang bukan salah satu dari kategori genit. Andai saja tingkat kegenitan Bu Roffi tinggi, pasti dia sudah mengajakku masuk ke dalam kamarnya.


“Bi, aku mau nanya ....,” tanya Bu Roffi.


“Silakan tanya, Bu”


“Apakah kamu sudah mendengar gosip tentang aku di kantor?”


“Oh, nggak kok Bu!” Mendadak aku menjadi gugup mendengar pertanyaan itu.


“Baguslah kalau begitu. Makanya mending kamu melihat sendiri kondisiku di sini. Kalau ada yang bilang aku janda, ya aku memang janda. Suamiku kawin lagi karena tertarik dengan gadis yang lebih muda.” Mata Bu Roffi menerawang jauh. Aku yakin, kesedihan sudah merayap di hatinya.


“Sudah jam satu siang Bu. Waktunya kembali kerja,” ucapku mengingatkan.


“Oh, iya Bi. Kapan-kapan aku cerita ke kamu mengenai ini ya?”


“Jangan bu!” Jawabku.

__ADS_1


Aku takut kedekatan Bu Roffi akan memantik kabar burung yang tersebar dalam waktu singkat. Dalam keadaan seperti ini, lebih baik aku menutup mata dan telinga rapat-rapat. Biarlah Bu Roffi fokus sendiri dengan masalah pribadinya.


***


__ADS_2