
Mendung bergelayut manja di pelosok-pelosok langit, mewarnai Sabtu pagi di kawasan kampus megah di Surabaya Timur. Cuaca cukup sejuk, tidak membara seperti biasanya ataupun terlalu dingin.
Sabtu adalah hari favorit bagi banyak mahasiswa karena kegiatan perkuliahan libur. Sabtu adalah kesempatan baik untuk me-recharge energi yang terkuras sepanjang pekan.
Bagi mahasiswa penggemar olahraga, mereka memilih menghabiskan waktu bermain sepakbola di lapangan GOR di kompleks kampus sebelah utara. Gedung olahraga megah itu dilengkapi berbagai fasilitas cabang olahraga lain seperti voli, basket, dan panjat tebing.
Sedang penyuka seni, sedang berlatih peran dalam grup teater yang cukup beken di kampus. Sementara para kutu buku berjejal-ria memenuhi halaman parkir kampus Teknik Industri, karena ada kegiatan Book Fair di sana.
Aku?
Pada dasarnya, aku tidak terlalu suka olahraga. Satu-satunya jenis olahraga yang kusukai adalah lari, karena pernah memenangkan lomba lari antar kelas saat SD. Apa susahnya? Hanya tinggal fokus dan memusatkan segenap energi pada kaki. Saat menghentak, jangan pikirkan apapun kecuali kemenangan. Jangan pula menoleh, bahkan saat gadis pujaanmu memanggil. Hanya fokus di garis finish!
Pardi pernah mengajariku berenang di sungai, namun sayangnya aku terlalu takut untuk melakukannya. Rasanya ada tangan-tangan misterius yang menarik ke kedalaman sungai saat pertama kali mencelupkan kaki ke dalam air. Mungkin hanya perasaanku, tapi sukses membuat trauma berkepanjangan.
Selanjutnya, adalah olahraga bulutangkis. Aku tak terlalu pintar, namun sangat menyukainya. Saat ada pertandingan bulutangkis di TV, aku adalah orang pertama yang mem-booking tempat paling depan. Setiap pergerakan shuttlecock selalu diiringi sorak-sorai penonton, membangkitkan adrenalin, terutama saat melawan tim Malaysia. Pemain bulutangkis favoritku adalah Taufik Hidayat. Dia terlihat sangat tangguh bertanding di lapangan.
Sayangnya, bulutangkis hanya sekedar hobi, tidak untuk mencetak prestasi.
Sabtu yang biasa kuhabiskan untuk bermalas-malasan di kamar, kali ini tidak kulakukan. Aku berada di tengah komunitas dalam sebuah ruang kelas yang tak rapi. Hari ini, beberapa anggota Victory English Club melaksanakan pertemuan untuk membahas rencana English Camp yang digagas ketua klub, yang terhormat Dahlia Sukmawati.
Sesuai undangan yang telah disebar-luaskan, acara akan dimulai pukul 09:00. Sayangnya, lima menit menjelang acara Dahlia belum menampakkan batang hidungnya. Tentu saja ini sesuatu yang tidak lazim. Biasanya Dahlia menampakkan diri lima belas menit sebelum acara dimulai. Tak ada istilah terlambat dalam kamus hidupnya.
Tiga menit menjelang acara, aku mulai gelisah. Para anggota lain masih santai bersenda-gurau. Bahkan ada yang belum datang. Budaya jam karet sudah menggerogoti mental mahasiswa di negeri ini, bagai kanker kronis yang susah dihilangkan. Bukan hanya mahasiswa, dosen terlambat lima atau sepuluh menit adalah hal yang sangat lumrah.
Aku sendiri tak terlalu disiplin juga, namun keterlambatan membuatku jengkel. Sebisa mungkin aku berusaha tepat waktu dengan undangan yang diberikan. Dalam hal ini, aku begitu salut dengan Dahlia. Frekuensi keterlambatan dalam hidupnya mungkin hanya nol koma sekian persen. Mungkin dia pernah terlambat untuk hal-hal yang sangat urgent atau emergency.
Seperti hari ini.
“Nggak biasanya seperti ini, Dar ...,” cemasku.
“Telepon gih!” saran Darwis acuh tak acuh. Ia lebih asyik main gawai daripada peduli dengan kekhawatiranku.
“Seharusnya dia yang memberi kabar. Dia kan ketua?” aku mulai gusar.
Memang, kondisi masih kondusif. Bahkan beberapa anggota klub malah tak peduli pertemuan akan dimulai jam berapa. Sebagian dari mereka asyik bercinta dengan gawai masing-masing.
“Ya udah telepon!” saran Darwis lagi.
Aku merasa sedikit gemas dengan reaksinya. Kutinggalkan dia yang masih berasyik-masyuk dengan game online. Di depan ruang kelas, kucoba untuk menghubunginya beberapa kali, namun tak ada jawaban.
-
Pikiran buruk mulai menyusupi otak. Jangan-jangan dia sakit. Tetapi sepertinya kemarin dia masih sehat saja? Bukankah dia kemarin mampu menghabiskan satu setengah porsi nasi bebek? Tak ada dalam sejarah orang sakit karena kekenyangan! Atau jangan-jangan dia ....
__ADS_1
Ah, mengapa aku jadi mengkhawatirkan dia?
Drrrrrttttt ....
Drrrrrttttt ....
Telepon genggamku bergetar. Nama Dahlia berkedip-kedip di layar. Aku menghela napas lega, melepaskan sesuatu yang menghimpit sedari tadi.
“Dahlia ...,” sapaku datar.
“Bi, aku minta tolong kamu pimpin rapat dulu ya? Ini aku ada masalah teknis sedikit di sini, jadi nggak bisa hadir ke sana,” pinta Dahlia.
“Kok aku sih? Kan ada Irawan? Dia kan wakilmu?” protesku.
“Ini Irawan sudah kirim pesan ke aku, katanya dia setuju kamu yang akan buka rapat kali ini,” terang Dahlia.
What?
Ini namanya konspirasi terselubung ....
“Kok dadakan sih ngomongnya? Terus aku mau ngomong apa nanti?” aku mulai cemas.
“Nyantai aja. Bahas mengenai lokasi kemah. Tawarkan tempat mana yang kira-kira cocok. Kemarin kan kamu bilang Malang cocok untuk kegiatan ini. Coba bicarakan dengan yang lain. Siapa tahu mereka setuju. Aku sudah hubungi Rini supaya jadi notulen,” ujar Dahlia.
“Udah, kamu bisa kok! Yakin aku!” Dahlia menyemangatiku.
“Masalahnya ....”
“Please, Bi. Aku bener-bener nggak bisa datang nih,” pinta Dahlia lagi.
“Emang kamu kenapa sih pakai nggak datang segala?” lagi-lagi aku protes.
“Aku kena diare, Bi. Mungkin salah makan kali ya? Udah empat kali aku ke belakang,” keluh Dahlia.
Diare?
Duh, Dahliai
Penyakitmu kok tidak elit sama sekali ya? Tak habis pikir, perut ningrat seperti dia bisa terkena penyakit remeh-temeh ini. Lagian, kamu makan sih nggak kira-kira kemarin. Sudah tahu sambal sepedas itu, kamu eksekusi bagai orang kelaparan!
“Udah diobati belum?” tanyaku berbasa-basi.
“Udah sih. Tadi langsung minum obat anti mencret tapi belum berkurang ....”
__ADS_1
“Sabar dulu. Kalau sama emak, dulu aku dibuatkan parutan kunyit asam ....”
“Bi, aku sedang diare lho. Bukan sakit datang bulan!” potong Dahlia.
Cih!
Dia meremehakan ramuan rahasia emak? Penyakit apa saja kabur berkat ramuan ini. Aku sudah membuktikannya.
Ya sudah! Terserah kamu, Dahlia. Selamat bersenang-senang dengan diare!
Happy Diare!
Dengan sedikit terpaksa, aku kembali ke dalam kelas. Baru masuk, aku sudah disambut dengan tatapan para mahasiswa lain yang siap memangsa hidup-hidup. Seperti yang pernah kuceritakan, salah satu kelemahanku adalah berbicara di depan publik.
Dan kini....
Mimpi buruk apa ini?
“Oke temen-temen, untuk rapat kali ini akan dipimpin oleh Saudara Abimanyu Prasetyo,” ujar Irawan, wakil ketua Victory English Club.
Aku mengatur napas yang mulai tindih-menindih tak beraturan. Dada berdegup lebih cepat biasanya. Ini adalah situasi yang sangat tidak aku sukai. Irawan mempersilahkan aku duduk di kursi yang telah disediakan. Sekilas, aku mirip seorang motivator yang siap memberikan materi.
Aku ngomong apa ya?
Dalam kondisi gugup tak terkira, aku pura-pura berdehem beberapa kali. Ini cukup efektif untuk menghilangkan rasa gugup. Kutarik nafas dalam-dalam.
“Teman-teman, seperti yang telah diinfokan ketua klub, bahwa bulan Maret nanti kita akan mengadakan kemah ....”
Tiba-tiba otakku tersumbat. Bingung apa yang harus kukatakan. Baiklah, aku diam sejenak.
“Tempatnya di mana, Kak?” celetuk salah seorang mahasiswi berjilbab putih yang duduk di deretan paling depan. Pertanyaan ini efektif untuk memecah kebuntuan.
“Mmm. Rencananya sih di Malang. Bagaimana menurut kalian semua?” kepercayaan diriku mulai melonjak tajam.
Suasana riuh-rendah. Kurasa, kebanyakan mereka setuju dengan Malang. Ada yang berpendapat di Pasuruan atau Probolinggo, tetapi Pasuruan membuatku sedikit trauma dengan insiden kecil yang kualami beberapa waktu lalu. Sedangkan Probolinggo terlalu jauh kalau hanya untuk berkemah.
Alhamdulillah.
Selama hampir dua jam rapat berjalan tertib. Tidak terlalu formal, tetapi lebih mirip diskusi. Aku memang tidak pandai memimpin rapat. Rini dengan antusias mencatat setiap poin-poin penting hasil rapat.
Fix!
Mereka setuju bahwa Malang adalah destinasi terbaik untuk rencana kemping kami di bulan Maret.
__ADS_1
***