DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXIV : Manajer Cantik


__ADS_3

Senin pagi yang kacau. Entahlah. Otakku seolah tercecer kemana-mana. Padahal aku sudah berusaha bangun lebih pagi karena tidak boleh ketinggalan bus angkutan perusahaan yang menjemput karyawan di titik tertentu. Aku juga sudah mandi cepat serta menyiapkan baju sesuai prosedur dalam dunia kerja. Selembar kemeja berwarna kuning muda yang dipadukan celana kain warna hitam. Aku merasa gagah berbalut busana itu.


Ritual sarapan juga kupersingkat, hanya dengan segelas susu dan selembar roti tawar tanpa isi. Sialnya, kaos kakiku entah kemana yang sebelah. Sudah kuaduk-aduk isi lemari namun tak juga bersua. Terpaksa aku memakai kaos kaki yang sudah berlubang jempolnya. Toh sudah tertutup sepatu, jadi aman. Hanya saja mungkin nanti akan sedikit berbau ikan asin.


No problemo.


Setelah beres dengan segala kekacauan, aku langsung melaju untuk mencari angkutan kota. Kenapa lama sekali? Rasanya seperti bulukan menunggu angkutan warna kuning itu. Rasa tak sabar mulai menyeruak. Aku semakin dirundung gelisah yang menghebat. Berkali-kali kulirik jam tanganku, berharap waktu berhenti saat itu juga.


Untunglah, angkutan kota datang juga, walau terlambat beberapa menit. Beruntungnya lagi, di dalam angkutan hanya tersisa satu seat, sehingga harus rela berhimpit-ria dengan para penumpang lain. Untunglah hari masih pagi, jadi para penumpang masih segar dan berbau wangi. Kondisi berbeda apabila naik angkot di sore hari. Aroma macam-macam keringat akan berpadu menjadi aroma yang menakjubkan.


Angkot menderu membelah Kota Surabaya menuju terminal untuk transit ke wilayah Gresik. Aku mulai tak sabar. Hari pertama kerja praktik harus mengesankan. Penampilan harus rapi dan profesional. Tak boleh pula datang terlambat. Dalam aturan kerjanya, pukul 07.30 waktu kerja sudah dimulai. Paling tidak sepuluh menit sebelumnya aku harus sampai agar dapat menyiapkan segala sesuatunya.


Tiga menit sebelum gerbang ditutup, aku sudah berlari-lari. Jangan sampai terlambat, atau wajahku yang ganteng ini akan tercoreng. Seorang security memberikan kartu yang bertuliskan Trainee agar aku bebas mengakses fasilitas perusahaan.


Aku diharuskan menemui manajer untuk mengarahkan apa saja yang harus kulakukan, serta mendengar penjelasan penting lainnya. Mulanya, kukira aku akan dipertemukan dengan manajer tua, berkumis melintang, berkepala botak dan berwajah garang. Sayangnya aku harus menepis dugaanku.


“Saya adalah manajer unit tempatmu bekerja. Nama saya, Roffi Zain. Silakan kamu tanyakan apabila ada yang belum jelas!”


Roffi Zain, seorang wanita yang kuperkirakan beberapa tahun lebih tua dari usiaku. Tak tahu bagaimana mendeskripsikannya, yang jelas dia sangat seksi. Kupikir pasti karena dia rajin pergi ke salon atau ikut klub kebugaran. Wajahnya sebenarnya biasa saja, tetapi polesan make-up tebal membuatnya lebih glowing dan bersinar. Gerakannya lincah dan cepat, dengan cara bicara yang tegas.


Rasa segan hadir saat menghadapinya. Roffi Zain banyak mengarahkan berbagai macam prosedur dan alur kerja yang harus kuikuti. Terlihat sederhana, namun sebenarnya rumit. Ingin sekali aku fokus mendengar penjelasannya, tetapi aroma parfum Bu Roffi menggelitik indera penciumanku.


Sayangnya, aku tak dapat mengkategorikan apakah ini bau parfum mahal atau sebaliknya? Kalau dari ketajaman aroma, ini mungkin parfum murahan yang biasa dijual di kios-kios parfum skala kecil.


Tak terasa, tumpukan pekerjaan menenggelamkanku sampai jam istirahat siang. Seperti pekerja yang lain, aku juga mendapat jatah makan siang. Lumayan, sehingga aku tidak perlu berpanas-panas mencari makanan di luar. Menu makanan yang disajikan juga lumayan komplit. Ada nasi, sayur, lauk dan buah.


Yang jelas, hari pertama kerja praktik ini berjalan lancar. Aku baru membereskan pekerjaan saat jam dinding menunjuk pukul 16.30. Walaupun rasa lelah mendera tubuh, tapi aku puas, dapat menyelesaikan semua tugas dengan baik. Bu Roffi menghadiahi seulas senyum manis.


“Kerjamu bagus. Nanti kalau sudah lulus kami siap menampung pekerja keras sepertimu,” puji Bu Roffi.


“Makasih Bu. Saya hanya mencoba melakukan yang terbaik,” jawabku malu-malu.


“Jarang loh ada mahasiswa yang masih muda, berdedikasi tinggi, rajin, etos kerjanya baik dan ganteng.”

__ADS_1


Sekali lagi Bu Roffi memujiku bertubi-tubi. Bukannya besar kepala, aku malah khawatir. Sungguh tak wajar seorang pimpinan memuji anak buah sampai ke akar-akarnya. Apalagi sampai menyentuh area kegantenganku.


“Ini mau pulang naik apa?” tanya Bu Roffi.


“Saya naik angkutan, Bu. Tapi barengan dulu sama angkutan karyawan,” ujarku.


“Kost-nya dekat kampus?”


“Iya Bu.”


“Kalau nggak terlalu malam, boleh kok bareng mobil saya. Nanti saya lewat Kampus B Unair juga. Tapi sayangnya saya lembur sampai jam delapan ini. Takutnya nanti kamu nggak bisa istirahat karena terlalu malam.”


“Oh, nggak usah repot-repot Bu. Saya bisa pulang sendiri kok. Terima kasih atas tawarannya,” ucapku malu-malu.


Untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, aku segera menyudahi obrolan semi pribadi itu. Ruangan kerjaku sudah sepi, hanya tinggal beberapa orang yang tersisa. Seperti biasa, hari pertama kerja praktik aku tak punya banyak kenalan. Apalagi sifat pemalu ini masih mendominasi.


Tak apalah.


Sesampai di kontrakan, aku inginnya rebahan dan tak bangun lagi. Sebab, esok hari aku harus kembali berpacu dengan waktu untuk bekerja. Rasa lelah sudah menjalar ke seluruh tubuh. Lebih baik aku meregangkan otot-otot kaki yang mulai kaku, sambil mendengarkan radio.


Syukurlah.


Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Aku tak perlu mengkhawatirkannya. Darwis sudah dewasa, tak perlu dibimbing terus. Ia harus belajar bahwa hidup tak selamanya manis. Dengan terjun ke dunia kerja, kuharap Darwis bisa memetik satu pelajaran hidup yang tak akan pernah dilupakannya.


Tok-tok-tok!


Pintu kamarku diketuk, mengganggu kenikmatan rebahan. Siapa pula yang tega mengusik waktu istirahatku?


Ah, rupanya si durjana Doni!


“Apa sih, Don?” tanyaku dengan malas. Kepalaku menyembul dari balik pintu.


“Eh sori ganggu istirahatmu. Andre tadi kemana ya?” tanya Doni.

__ADS_1


“Loh, kok nanya aku? Dia nggak ada pamitan sama aku tuh. Memangnya kenapa?”


“Ada tamu lagi nyariin dia. Aku kan nggak tau dia kemana. Kasian juga sih kalau disuruh pulang lagi, karena kelihatannya bukan anak kampus sini.”


“Cewek?” tanyaku penasaran.


“Iya, cakep lagi ceweknya. Bodoh juga sih si Andre ada cewek secantik itu disia-siain,” kata Doni lagi.


Tiba-tiba terbersit rasa penasaran mendengar cerita Doni. Aku ingin tahu perempuan seperti apa yang mencari Andre. Karena rasa ingin tahu yang menggelora, aku mengikuti Doni ke teras untuk melihat penampakan gadis cantik seperti yang diceritakan Doni.


“Kamu aja deh yang temui dia!” kata Doni.


“Nggak ah! Kan aku nggak ada urusan sama dia!”


“Ya bilangin aja kalau Andre lagi keluar. Atau ajak ngobrol apa kek ....”


Aku melongok keluar. Sesosok gadis tinggi semampai, dengan dandanan yang modis tampak berdiri gelisah. Berkali-kali dia melihat jam tangannya. Sialnya, tangan Doni tiba-tiba mendorongku keluar.


Mau tak mau aku harus berbicara!


“Eh, lagi cari Andre ya Mbak?” tanyaku malu-malu.


“Oh iya Mas. Andre nya di mana ya?” ujar gadis itu dengan lembut. Suaranya begitu manja dan memikat.


“Nggak tau juga sih. Dia kadang susah ditebak, pulang sebentar terus pergi lagi. Mungkin ada pesan saja, nanti biar saya yang sampaikan,” kataku.


“Nggak ada pesan sih. Minta tolong aja ya Mas, sampein ke Andre kalau Inneke tadi kesini. Gitu aja.”


Inneke?


Oh, jadi ini yang namanya Inneke mahasiswi kedokteran Unair itu? Pantas saja dia begitu berkilau. Kasihan juga kalau Andre mempermainkan hatinya.


Ah, biarlah!

__ADS_1


Lagipula itu bukan urusanku.


***


__ADS_2