DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XXII : Escape from Dahlia


__ADS_3

Hujan rintik-rintik mengguyur membasahi bumi Surabaya sedari pagi. Udara dingin mencengkeram kulit. Saat seperti ini, paling enak merapatkan kembali selimut atau menyeruput segelas teh beraroma melati. Sementara suara Soendari Soekotjo mendayu-dayu melantunkan Bengawan Solo dari radio usang warisan bapak. Inilah sekelumit surga dunia.


Tetapi semua itu hanya ilusi. Saat ini aku tengah duduk di atas mobil yang dikemudikan oleh Andre, melaju ke arah Kota Pasuruan. Keputusanku bulat. Aku memilih menghabiskan malam pergantian tahun bersama teman-teman satu kontrakan untuk berkemah ke kawasan Prigen. Alasannya sederhana, hanya ingin melarikan diri dari hiruk-pikuk kota metropolis. Ingin sekali menghirup oksigen murni, merasakan sejuknya pegunungan dan tidur beratapkan langit.


Sejak pagi tadi, Doni sudah menggedor kamarku untuk segera bersiap. Tak banyak barang bawaan yang kubawa. Hanya beberapa potong pakaian, jaket, sarung, dan beberapa lembar celana dalam. Tak lupa peralatan mandi dan deodorant. Tak perlu bawa bekal makanan. Ini juga bukan perjalanan umroh!


Sedangkan perlengkapan tenda dan segala macam sudah disiapkan oleh Doni, mengingat kediamannya tidak terlalu jauh dari lokasi kami berkemah.


Perjalanan ini sudah kuniatkan untuk menjernihkan pikiran dan membebaskan dari Dahlia yang akhir-akhir ini sering minta ditemani. Harusnya dia mencari bodyguard yang lebih gagah, bereperawakan besar, berotot kawat dan bertulang besi.


Aku mah apa?


Dua jam kemudian, mobil sampai di sebuah rumah berhalaman luas. Banyak pohon besar tumbuh di sekitarnya. Bangunan itu berkesan tua, angker, dan mempunyai daya magis. Mirip seperti rumah tua yang sering dibuat syuting film horor.


Ini adalah rumah Doni si juragan sapi dari Pasuruan.


Aku sempatkan untuk meninjau halaman belakang rumahnya yang luas. Amboi, puluhan sapi tampak berbaris tertib di masing-masing kandang. Jadi teringat dengan sapi-sapiku di Jombang.


Keluarga Doni sangat welcome. Orangtuanya menyambut dengan senyum sumringah. Obrolan-obrolan santai dan ringan mampu mencairkan suasana. Keakraban itu mengalir secara natural. Kami duduk di sebuah gazebo di halaman belakang, ditemani teh hangat dan singkong goreng yang crispy.


Yang menarik, kami juga baru tahu bahwa Dina, adik perempuan Doni yang masih duduk di bangku SMA ternyata mempunyai paras yang sangat menarik. Doni dan Dina sungguh berbeda, bagai bumi dan langit. Doni pernah beberapa kali menceritakan tentang Dina kepada kami. Ternyata wujud aslinya sama sekali di luar dugaan kami.


Jiwa playboy kami bergejolak. Andre tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Dina. Sedangkan aku berusaha bersikap normal, tidak jelalatan. Yah, ibaratnya kucing mana sih yang tinggal diam apabila ada ikan segar di hadapannya?


“Ini loh Mi yang namanya Abi, yang pernah kuceritain sama Mimi. Pemalu dan pendiam, tapi menghanyutkan,” ujar Doni sambil melahap potongan-potongan singkong yang panas ke dalam mulutnya.


Mimi?


Mendadak perutku mual seperti ingin muntah. Di desa yang cukup terpencil ini rupanya Doni membuat inovasi yang cukup spektakuler, memanggil bapak-ibunya dengan sebutan ‘Mimi-Pipi’. Berasa Anang dan Krisdayanti.

__ADS_1


“Sedangkan ini Andre. Pacarnya banyak, Mi. Sampai gadis jadi-jadian pun mengejar dia,”


Doni melanjutkan sesi perkenalan dengan tanpa rasa bersalah. Sempat kulihat wajah Andre tampak tersipu malu. Tersirat pula sedikit rasa bangga di raut mukanya.


Doni semakin menggila. Matanya melirik ke arah Farhan. Entah apa yang akan Doni deskripsikan pada nya. Sepertinya dia sangat puas menelanjangi kami.


“Dan yang ini namanya Farhan, Mi. Dia itu ustadz. Sering ngasi pengajian ibu-ibu. Tapi sering bete kalau honornya cuman nasi kotak.”


Ya Allah, Doni jujur banget!


Muka Farhan berubah seperti udang rebus!


Tak terlalu lama kami singgah di rumah Doni. Mimi menyiapkan sarapan yang luar biasa tidak sedap. Nasi goreng lengkap dengan irisan timun, tetapi rasa asin sangat dominan. Nasi goreng buatanku jauh lebih sedap. Masa iya Mimi nya Doni minta kawin lagi?


Dalam tradisi Jawa, masakan yang keasinan identik dengan si pemasak yang minta dikawinkan. Eh, maksudku dinikahkan. Tentunya ada perbedaan yang cukup signifikan antara kata ‘kawin’ dan ‘nikah’. Sayangnya kita tidak sedang membahas itu. Mungkin di kesempatan lain.


Setelah momen pembunuhan karakter di rumah Doni, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Prigen. Sepanjang perjalanan yang diiringi musik berdentum dari Linkin’ Park, Doni tak henti-hentinya tertawa. Tergambar perasaan puas di wajahnya yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


“Lagian kamu tega banget sih Don. Reputasiku jatuh di depan Dina,” Andre menambahkan.


Sesekali ia menekan klakson karena lalu lintas cukup padat menjelang pergantian tahun.


“Awas! Nggak usah kamu naksir-naksir adikku!” ancam Doni.


“Aku sih nggak naksir. Tapi kalau dia yang naksir, aku nggak tanggung jawab lho!” cibir Andre.


“Dia sudah punya pacar belum, Don?” tanya Farhan yang sedari tadi mulutnya tak berhenti mengunyah keripik jagung.


“Nggak tau juga sih. Nggak pernah nanya,” jawab Doni datar.

__ADS_1


“Punya adik perempuan cantik itu harus dijaga baik-baik. Jangan sampai terjerumus ke hal-hal negatif. Adikmu itu aset strategis. Pasti banyak yang ngincar,” Farhan menasihati.


“Nggeh, Pak Ustadz,” jawab Doni sambil nyengir.


Aku hanya membisu. Mereka masih membahas seputar Dina, tetapi aku kurang tertarik untuk bergabung. Pemandangan di luar jendela mobil lebih menarik perhatianku. Aroma pegunungan mulai terasa. Deretan pohon cemara yang berjajar sepanjang jalan, bagai serdadu yang berdiri tegap menyambut kedatangan kami.


Kawasan ini merupakan kawasan pegunungan yang terletak di lereng Gunung Arjuno-Welirang. Keindahannya mengharum di seantero negeri, sehingga banyak yang menggunakannya untuk berkemah.


Selain itu, kawasan Prigen adalah primadona bagi banyak pelancong untuk menghabiskan masa liburan, atau sekedar melarikan diri dari rutinitas yang menjemukan. Sepertinya tempat ini juga cukup nyaman untuk melarikan diri sejenak dari Dahlia.


Benar saja. Aku membuka telepon genggamku. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Dahlia. Padahal sebelumnya sudah kukatakan padanya bahwa aku tak bisa menghadiri undangan keluarganya dengan alasan yang cukup kuat. Aku mempunyai rencana sendiri dengan kawan-kawanku.


Aku paham, pasti Dahlia menyimpan rasa kecewa berjilid-jilid.


Putuskan aku, Dahlia!


Ah, bahkan kami belum jadian....


Dalam bayanganku, sempat tergambar suasana pesta yang akan digelar nanti malam. Pasti rumah Dahlia sudah disibukkan dengan persiapan-persiapan. Membayangkan makanan yang akan disajikan membuatku lambung miskinku bergejolak. Kambing guling adalah makanan yang jarang sekali ada, kecuali untuk even-even tertentu. Aku sendiri, hampir dapat dipastikan makan daging kambing hanya setahun sekali pas pemotongan hewan kurban di Hari Raya Idul Adha.


Itu pun kalau kebagian jatah dari Pak RT.


Mobil kami sampai di pelataran parkir yang cukup luas di tanah lapang. Awalnya kukira tak banyak orang yang akan berkemah hari ini. Nyatanya, lapangan luas ini sudah serupa dengan parkiran di Mal!


Mobil-mobil aneka rupa dengan plat dari berbagai kota tampak berjajar-jajar. Motif mereka sama. Melarikan diri. Entah melarikan diri dari rutinitas, urusan pribadi atau apapun. Bayanganku tentang jamuan makan di rumah Dahlia segera kulempar dalam recycle bin. Pemandangan di sini benar-benar bisa membuat lupa segalanya.


Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?


Paling tidak akhir tahun ini akan memberikan warna tersendiri. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang mengenaskan. Siapa tahu, liburan akhir tahun ini bisa membuatku terlahir kembali menjadi sosok yang lebih baik. Ya, awal tahun harus punya resolusi, walau tidak tertulis.

__ADS_1


Salah satunya adalah bertemu pasangan hidup. Bukan pacar.


***


__ADS_2