
Jarak antara kontrakan dengan perumahan dosen tidak terlalu jauh, tetapi harus menyeberang areal kampus yang lumayan luas. Jadi tak perlu meminjam motor. Lebih baik berjalan kaki, sekaligus untuk membakar kalori yang tertimbun di bagian perut. Lagipula, Pak Kusumo Sastrowardoyo meminta bertemu selepas Maghrib, jadi kondisi tidak panas.
Hanya saja yang menjadi ganjalan adalah suasana kampus yang gelap di beberapa titik. Kampusku masih banyak ditumbuhi pepohonan dan dikelilingi tanah berawa-rawa, sehingga menciptakan kesan angker di malam hari. Apalagi di kawasan GOR. Jalan di depan GOR memang beraspal, tetapi jarang ada motor atau mobil yang lewat situ, karena letaknya di pinggiran kampus. Lampu jalan juga sebagian mati, jadi lengkap sudah kengerian saat berjalan melewati area itu. Padahal akses menuju Perumahan Dosen pasti melewati GOR.
Sebenarnya aku tidak terlalu percaya dengan cerita mistis yang berkembang di sekitar GOR. Sudah jadi rahasia umum di sekitar GOR banyak penampakan yang tak wajar. Beberapa saksi mata mengatakan bahwa di sekitar tempat ini ada mahasiswi cantik lah, ada wanita bergaun putih, dan semacamnya.
Aku tidak terlalu peduli dengan cerita-cerita seram itu. Malah yang kutakutkan adalah kejahatan yang dilakukan manusia. Tempat gelap dan sepi adalah sasaran empuk bagi pelaku kriminal untuk mencari mangsa.
Makhluk tak kasat mata mungkin hanya mengagetkan, tanpa menyakiti. Sedangkan manusia yang mempunyai niat buruk kadang berbuat nekat. Mereka tak segan-segan melukai korban. Apalagi ini adalah Surabaya yang terkenal dengan angka kriminalitas yang tinggi. Inilah yang sedikit mengkhawatirkan.
Aku berusaha mengumpulkan pikiran positif sebelum berangkat. Dalam hati aku berpikir, tak ada yang layak dariku untuk dirampok atau dijambret. Uang di dompet hanya beberapa lembar puluhan ribu, sedangkan ponsel juga keluaran lama. Sengaja ponsel yang agak bagus hadiah dari Andre kutinggal saja, agar tak memancing kejahatan. Kadang berpenampilan ‘pura-pura miskin’ diperlukan untuk mencegah tindak kejahatan.
Seusai salat Magrib, aku sudah siap berangkat dengan berjalan kaki. Suasana masih ramai di sepanjang jalan depan kontrakan. Sayangnya suasana berubah mencekam saat aku berbelok dari bundaran menuju area GOR. Perasan sudah dihantui perasaan was-was dan tidak enak. Aku memulai masuk ke dalam area gelap. Kalaupun ada cahaya lampu, tak terlalu terang karena daya sudah menurun dimakan zaman. Kukumpulkan segenap keberanian, melangkah dengan cepat.
Hujan rintik-rintik, tetapi kuabaikan saja. Aku hanya memakai jaket untuk mencegah dokumen-dokumen yang hendak diasistensi tidak terguyur air. Hawa dingin menggigit kulit, sehingga aku berjalan sambil bersedekap. Sesekali kutundukkan pandangan untuk mencegah genangan air atau lubang-lubang menganga di atas trotoar.
__ADS_1
Di samping kiri, masih terhampar tanah berawa yang ditumbuhi semak-semak liar. Bunyi katak bersahut-sahutan, berpadu dengan suara jangkrik. Terdengar wajar, tetapi sebenarnya agak menyeramkan karena didukung suasana yang mencekam.
Dalam kondisi senyap seperti ini, jantung terasa berdetak lebih cepat. Sengaja aku tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Pandanganku fokus ke depan yang terlihat gelap. Beberapa motor melintas, menyorotkan cahaya ke wajah. Ini sedikit membuat lebih tenang. Bangunan GOR tua terlihat kokoh berdiri, menciptakan kesan angker. Kalau hari libur, GOR ini dipenuhi mahasiswa yang sekedar jogging atau bermain bola. Kondisi ini berbanding terbalik saat malam hari.
Untuk mengurangi rasa tegang, aku berdoa dalam hati agar senantiasa diberi keselamatan. Mulutku juga tak henti-henti bernyanyi-nyanyi kecil agar tak terlalu fokus pada suasana gelap ini. Langkah kupercepat, berharap lekas sampai ke kampus MIPA yang lumayan terang. Biasanya beberapa mahasiswa masih nongkrong sambil bermain gitar di sana.
Kebetulan pula letak kampus MIPA ini sangat strategis, karena berdekatan dengan kantor BAAK pusat, kantin dan perpustakaan. Tentunya jika melewati area itu, akan merasa lebih aman. Kawasan kampus MIPA seolah jantung kota dari kampus ini. Banyak mahasiswa yang menghabiskan malam untuk bercengkrama di sini, seolah pusat kehidupan.
Sebenarnya aku tak terlalu suka menghabiskan waktu tidak jelas untuk berkumpul-kumpul di luar, sambil menghabiskan bergelas-gelas kopi atau menyulut berbatang-batang rokok. Mungkin beberapa orang menganggap aku adalah orang anti sosial. Tak masalah, itu hak mereka. Aku adalah segelintir komunitas pria yang tidak merokok. Bukan masalah jantan tidak jantan, karena menurutku antara rokok dan kejantanan tak berkorelasi. Jantan itu dibuktikan dengan penghargaan terhadap pria terhadap wanita.
Aku berharap perjalanan malam ini tak sia-sia. Kubela-belain untuk uji nyali berjalan melewati GOR hanya untuk mendapat satu tanda tangan asistensi. Padahal normalnya ada sepuluh kali asistensi. Jadi sebenarnya ini baru kulitnya saja. Belum lagi kalau ada revisi-revisi, tentu jumlah tatap muka dengan dosen pembimbing akan membengkak dari yang seharusnya.
Paling tidak kisah perjuangan selama kuliah ini akan menjadi kisah klasik yang layak diceritakan di masa depan. Hidup selalu flat bagai televisi layar datar itu membosankan. Kadang kita pelu variasi untuk membuat hidup lebih berwarna. Warna-warni hidup yang beragam, akan memperkaya pengalaman, sehingga akan menjadi lebih bijak dan empati terasah.
Aku masih melangkah menembus gelapnya malam. Hujan masih menyisakan tetesan-tetesan kecil yang mengguyur bumi. Ingin segera sampai, tetapi ternyata letih juga berjalan. Mungkin karena selama ini aku banyak duduk saat kerja praktik, sehingga berjalan sedikit saja sudah terasa lelah. Padahal dulu sebelum kerja, berangkat kuliah yang jaraknya lumayan tak ada masalah.
__ADS_1
Tiba-tiba perasaanku tidak enak. Aku merasakan seperti ada yang mengikuti di belakang. Tak berani kumenoleh, tetapi kupercepat langkahku. Suasana makin gelap, karena tak ada lampu penerangan. Sepintas teringat kembali dengan adegan dalam film-film horror. Lari kemana pun tak pernah selamat dari pembunuh berantai. Ini bukan fim horror, ini dunia nyata. Akan kugunakan segenap daya-upaya untuk bertahan hidup, kalaupun ada yang berbuat seperti itu.
Belum lagi sadar dengan apa yang terjadi, aku merasakan tarikan tangan yang kuat menarik tubuhku ke belakang. Tentu saja aku kaget bukan kepalang. Terbayang bahwa riwayatku akan segera tamat. Hampir saja aku jatuh terjerembab karena tarikan kasar itu. Suasana sekitar masih sepi, sehingga tidak mungkin aku minta bantuan orang lain.
Tangan yang kasar itu menarikku secara paksa, kemudian mendorong ke balik semak yang gelap. Tak dapat kulihat raut muka sosok-sosok manusia yang berperilaku kasar ini. Dapat kupastikan jumlahnya dua orang. Pikiranku pasrah saja kalau dia hendak merampas uang, ponsel atau jam tangan. Yang penting jangan nyawaku!
Salah satu dari mereka mencengkeram kerah baju, mendekatkan mukaku ke mukanya yang tertutup semacam kain.
“Kamu yang namanya Abi?” bentaknya kasar.
Astaga!
Darimana orang barbar ini tahu namaku? Ya, mungkin aku terkenal, tetapi tidak juga setenar itu. Dapat kurasakan hembusan napasnya penuh amarah. Sorot matanya mengancam. Ingin berteriak, tetapi lidah terasa kelu. Kerongkongan tersumbat. Mau tak mau, harus kuhadapi ini sendirian!
***
__ADS_1