DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXII : Bukan CLBK


__ADS_3

Kicau burung kutilang riuh terdengar ketika matahari mengintip semesta. Setengah tergesa aku berangkat ke kampus. Tak sabar menyampaikan berita gembira pada Darwis. Doa yang dipanjatkannya telah diijabah oleh Allah. Sebuah berita yang telah dinantikan dengan perasaan berdebar.


Tadi malam, telepon dari Lusi sedikit mengusik acara makan malamku. Siang sebelumnya, aku kurang berselera karena banyak yang harus kuurusi di kampus. Alhasil jam makan siang jadi terlewatkan.Ternyata kesibukan yang menggunung bisa mengalihkan rasa lapar. Sadar ketika perut terasa seperti dicubit.


Ketika kulirik jam tangan, waktu sudah merapat di pukul tiga sore. Untuk makan siang, rasanya sudah terlalu lambat. Namanya bukan makan siang lagi, melainkan makan sore. Lebih baik nanti digabung dengan makan malam sekalian. Lagipula, selera untuk melahap sesuatu tiba-tiba hilang.


Kuputuskan untuk makan bakso untuk asupan energi di malam hari. Rasanya lambung ini sedang tak bersahabat dengan nasi. Ingin kuah hangat plus sambal pedas, agar kondisi lambung yang tak terisi makanan sejak siang sedikit lega.


Sesudah salat Isya, aku sudah standby, mencari tempat paling ujung agar tak bertemu banyak orang yang kukenal. Tempat favoritku selalu ujung. Di tempat ini aku merasa leluasa untuk mengawasi pengunjung yang keluar-masuk ke warung.


Pak Kus, penjual bakso itu sudah hapal racikan bakso yang kuinginkan. Tanpa saos dan kecap, kuah sedikit, pentol kasar, dan hanya memakai mi kuning.


Drrrttt!


Baru menggigit pentol pertama, teleponku bergetar. Sebenarnya aku paling tidak suka ketika makan diganggu dengan telepon. Biasanya tak kuangkat. Kali ini aku mengecek siapa yang memanggil.


Lusi Mantan sedang memanggil ....


Tulisan itu terbaca jelas di layar telepon. Karena ini penting, kuurungkan aktivitas menelan pentol. Segera kuangkat, kusapa dengan kalimat yang manis. Ini penting dilakukan dalam sebuah lobi, agar apa yang kita inginkan bisa mencapai tujuan.


“Halo Lusi,” sapaku ramah.


“Halo, Bi. Lagi ngapain? Repot nggak?” tanya Lusi tak kalah ramah.


“Mmm. Nggak sih, ini lagi makan bakso saja.”


Aku meletakkan pentol yang sudah kutusuk menggunakan garpu ke dalam mangkok.


“Pasti baksonya Pak Kus ya?” tebak Lusi.


“Kok kamu tahu?”


Pertanyaan Lusi tadi di luar dugaan. Sungguh tak menyangka dia masih ingat bakso langgananku. Padahal aku tak pernah traktir dia ataupun bercerita tentang ini. Kok dia bisa tahu? Jangan-jangan selama kuliah dia memata-mataiku?


“Ya gimana nggak tahu? Satu-satunya bakso yang rasanya nagih banget kan baksonya Pak Kus. Pentol kasarnya terasa banget daging sapinya. Apalagi kuahnya ... aduuh, kok aku jadi kangen ya?”


“Iya sih ....” jawabku pendek.


Aku sengaja tak memberi umpan kepadanya untuk bertanya-tanya lebih jauh untuk menelisik kehidupanku, atau mengais-ngais kenangan usang yang telah dilewati.


Buat apa? Membuka luka lama?


“Nanti kapan-kapan kalau aku main ke Surabaya, boleh ketemu nggak?” tanya Lusi lagi.

__ADS_1


Tuiiing-tuiiing-tuuiiing!


Alarm tanda bahaya mulai berbunyi. Itu tandanya aku tidak boleh memberi kesempatan pada Lusi untuk mengorek lebih jauh. Aku segera memutuskan pembicaraan itu.


Bagaimanapun aku masih punya akhlak, tak akan mengganggu rumah tangga orang lain. Di samping itu, aku juga masih punya harga diri.


“Kalau sama suamimu aku mau. Tapi kalau berdua aku nggak mau!” tegasku.


Lah, kok jadi bahas ini ya? Padahal tadi aku mau bertanya seputar perkembangan Darwis.


“Iya, sama suami kok ...,” ujar Lusi.


“Eh, gimana? Sudah ditanyakan ke suami? Bisa nggak si Darwis kerja praktik di tempat suami?” tanyaku.


“Kata Mas Ilham sih bisa saja. Kirim aja proposalnya, atau kalau mau datang langsung ke pabriknya, nanti saya kasi alamatnya,” kata Lusi.


“Oh, pakai proposal juga ya? Kirain nggak karena teman sendiri.” Aku menghela napas.


“Yang temanku kan Darwis. Kalau suami kan bukan. Udah suruh buat proposalnya saja. Palingan juga buat formalitas. Katanya kemarin bisa saja kok. Sudah kupromosikan Darwis,” kata Lusi.


“Wah, makasih banyak ya Lusi. Nggak sabar nih aku pengen kasi tau dia,” girangku.


“Nanti proposalnya kirim ke Malang boleh, atau langsung ke pabriknya juga boleh. Tapi lebih baik ke Sidoarjo saja sih, soalnya dalam waktu dekat aku akan pindah ikut suami ke Sidoarjo,” kata Lusi.


Jarak Sidoarjo-Surabaya hanya satu jam perjalanan apabila tidak macet. Artinya, jarak antara aku dan Lusi kian dekat. Aku harus waspada dan tidak tergoda. Sebab, yang namanya khilaf bisa menyapa kapan saja. Siapa tahu, imanku pas turun kemudian berbuat khilaf.


Kuakhiri obrolan berbahaya itu. Segera kuhabiskan bakso yang terhidang di depanku. Mendadak selera yang tadi menghebat, kini mulai menguap. Bagaimanapun aku ingin segera menyampaikan berita ini kepada Darwis.


Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Darwis tampak girang. Kalau tidak kucegah, pasti dia sudah memelukku. Untung aku sudah sigap menghindar.


“Sekarang jangan tunda-tunda lagi, buat sana proposalnya!” perintahku.


“Ini sih yang bikin males sebenarnya!” keluh Darwis.


“Terus maunya, kamu bisa masuk langsung kerja praktik seperti di perusahaan moyangmu? Tanpa usaha gitu? Insyaf kamu ya. Syukur-syukur udah ada yang mau nampung, dikasi kemudahan tinggal buat proposal aja masih pake nawar-nawar. Udah ah! Aku nggak mau ngurusin kamu lagi!” omelku.


Darwis terdiam.


Kekesalanku memuncak. Sungguh, aku sama sekali tidak bisa mengerti dengan spesies model Darwis ini. Tinggal buat proposal saja masih ada rasa malas-malas. Generasi seperti ini yang memerlambat kemajuan suatu bangsa. Mental malas yang memang harus dirombak sampai akar-akarnya.


“Iya nanti aku buat kok!” ujar Darwis.


“Terserah kamu! Yang butuh kamu!” Aku meninggalkan Darwis dengan perasaan kesal.

__ADS_1


Padahal sebelumnya semangatku membara, ternyata sambutan Darwis cenderung biasa saja, bahkan disertai rasa malas-malasan.


Mental macam apa ini?


Aku segera melupakan Darwis. Sekali-kali dia harus belajar memutuskan sendiri pilihan dalam hidupnya, agar mempunyai rasa tanggung jawab. Tidak selalu menggantungkan orang lain.


Lelah pikiran dan fisik seharian dihajar oleh berbagai aktivitas. Berbaring sejenak di kasur mungkin bisa mengurangi letih ini.


Drrrttt!


Teleponku bergetar. Karena perasaanku lagi tidak enak, tak ada niat untuk mengangkat. Hanya kuintip sedikit identitas penelepon.


Oh, Dahlia!


Tiada angin tiada hujan tiba-tiba Dahlia memanggil? Padahal beberapa hari lalu kami masih bertemu. Masih mau mengajak latihan mengemudi lagi?


“Dahlia?” sapaku.


“Hai Bi? Lagi nyantai ya? Sori ganggu. Tadi barusan Darwis meneleponku, merengek-rengek minta bantuan untuk buat proposal. Padahal aku nggak tahu-menahu tentang ini. Apa sih ini maksudnya?”


Ya Allah, Darwis!


“Jangan mau!” sewotku.


“Lama-lama nggak tega juga aku, Bi.”


“Kalau kamu bantu dia, sama aja kamu jerumusin dia, Lia. Sampai kapan dia mau begitu? Menjadi pribadi yang tidak mandiri dan bertanggung jawab. Biar dia usaha sendiri.”


“Ntar dia marah loh!”


“Takut banget sama Darwis? Nggak mungkin dia marah. Yang lebih butuh kita itu dia. Tenang aja. Kalau mau marah biar aja marah. Sampai kapan dia bisa bertahan?”


“Jadi gimana nih? Kita nggak bantuin dia?”


“Nggak usah. Alasan apa kek!”


“Oke, Bi!”


Pembicaraan itu terputus.


Aku ingin melihat sejauh mana perjuangan Darwis dalam kondisi terjepit seperti ini.


Good Luck, Darwis!

__ADS_1


***


__ADS_2