DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXXVIII : Apakah Aku Jahat?


__ADS_3

Sebelum azan Subuh berkumandang, aku sudah membuka mata. Badanku agak menggigil karena pengaruh suhu ruangan yang turun drastis. Tak biasa tidur memakai pendingin ruangan seperti ini. Yang ada, di kontrakan sangat gerah, sehingga harus setengah bugil saat tidur.


Aku menengok ke samping.


Loh, kok Vina tidak ada? Kemana perginya si Princess kecil itu?


Jantung berdegup kencang seketika. Takut kalau-kalau dia diculik saat tidur. Mungkin kekhawatiran yang terlalu berlebihan, tetapi bisa saja terjadi. Mingkin terlalu banyak dipengaruhi adegan film, jadi sampai terbawa di kehidupan nyata.


Jarum jam baru saja merapat di angka tiga dini hari. Untuk kembali tidur, rasanya tak bisa. Otakku masih dipenuhi ribuan pertanyaan tentang kisruh yang terjadi di rumah ini. Tak terbayang beban pikiran Bu Roffi yang berat, sampai nekat mengisi lambungnya dengan obat penenang. Aku khawatir, akan terseret lebih jauh pula dalam kehidupannya. Padahal dari awal aku sudah mencoba menghindar dari drama rumah tangga ala sinetron ini.


Pelan-pelan kubuka pintu kamar, mengintip ke ruang tengah yang hening. Lampu masih dimatikan, pertanda penghuni masih terlelap dalam mimpi. Aku hendak menunaikan hajat manusawi ke kamar mandi. Maklum, hawa dingin ini seperti ini membuat kandung kemih terasa penuh, meronta minta dikosongkan.


Letak kamar mandi bersebelahan dengan dapur, sehingga aku harus mengendap untuk menuju ke sana, takut membangunkan penghuni lain.


Entah mengapa aku merasa seram. Rumah Bu Roffi dipenuhi ornamen-ornamen yang sedikit membuat merinding. Koleksi boneka yang disimpan di lemari kaca seolah mengawasi gerak-gerikku. Untung wajah-wajah boneka itu terlihat lucu, tak seperti Chucky yang menyeramkan.


Seusai melaksanakan hajat, aku keluar kamar mandi. Hampir saja jantung copot ketika melihat sesosok perempuan yang berdiri di dekat wastafel tempat cuci piring.


“Bulek Sur bikin kaget saja!” sapaku.


“Kok sudah bangun, Mas?” jawab Bulek Sur.


“Iya Bulek. Di kamar dingin banget. Pengen pipis saja rasanya. Kalo di kamar saya kan panas, ndak seperti di sini,” kataku.


“Sama Mas. Saya juga ndak bisa tidur kalau pakai AC. Bawaannya ke belakang terus. Kalau naik mobil juga begitu. Jendela harus dibuka lebar-lebar. Kalau pakai AC gampang mabuk,” tutur Bulek Sur.


“Oya, Bulek. Vina kok nggak ada kemana ya? Bukannya tadi tidur sama saya?”


“Tadi Vina terbangun nyari Mamahnya. Terus nyusul ke sana. Sekarang tidur di kamar Bu Roffi. Kasian bulek lihat si Vina itu ...,” desah Bulek Sur.

__ADS_1


“Lha kenapa to Bulek?”


“Gara-gara orangtuanya dia itu jadi bingung. Milih sama papa atau mamanya. Yang namanya anak-anak kan nggak ngerti urusan orang dewasa. Pengennya ya lihat papa dan mamanya sama-sama. Saya itu kadang sedih lihat Vina. Sudah mamanya sibuk kerja. Sehari-hari mainnya ya sama saya ....”


Mata Bulek Sur mendadak berkaca-kaca ketika bercerita. Mungkin dia sudah terlampau sayang dengan Vina, sehingga Vina sudah dianggap anak sendiri. Dalam hati muncul juga rasa iba. Tapi aku sudah berjanji, begitu keluar dari rumah ini, aku tak mau tahu lagi dengan apa pun yang terjadi. Trauma rasanya dituduh sebagai pria simpanan atau apalah itu. Aku bukan pria seperti itu.


Rencananya, aku akan pergi secepatnya tak menunggu Bu Roffi bangun. Niat itu kuutarakan pada Bulek Sur. Walaupun Bulek Sur mencegah, aku tetap pada pendirian. Segera aku mandi, dan bersiap pergi ke kantor. Tak peduli hari masih sangat pagi. Bahkan di luar masih agak gelap.


“Ndak nunggu sarapan dulu kah Mas? Nanti Bulek buatin dulu ya?” tawar Bulek Sur.


“Ndak usah, Bulek. Nanti beli saja di kantor. Nanti sampaikan salam saya ke Bu Roffi dan Vina, kalau saya pergi duluan.”


“Lha nanti ke kantor naik opo lho Mas?”


“Gampang lah Bulek! Wong banyak angkutan umum lewat depan kantor kok!”


“Kok pagi sekali, Mas?” tanya Pak Atmo.


“Iya Pak. Bangun kepagian tadi,” jawabku.


Langsung saja aku menuju ruangan kantor yang masih sepi. Biasanya pagi-pagi seperti ini Tia juga sudah datang. Namun hari ini, aku mendahului Tia. Ruangan kantor benar-benar lengang. Tak seorang pun berada di sana kecuali aku. Daripada tidak ada kerjaan, aku berkeliling dari meja ke meja, melihat tempat kerja rekan-rekan kantor.


Tiba di meja Pak Imron, aku berhenti sejenak. Di atas meja ada sebuah buku agenda bersampul coklat. Entah karena rasa penasaran yang mendalam, aku buka buku agenda itu untuk mengintip sedikit rahasia di dalamnya. Benar saja. Di halaman tengah, aku menemukan foto Bu Roffi dengan tanda hati yang ditusuk panah.


Oh, jadi inilah mengapa Pak Imron sangat membenciku. Pasti ia menganggapku sebagai saingan terberatnya. Mungkin karena ia menaruh hati pada Bu Roffi, kesempatannya jadi hilang setelah aku datang. Aku paham sekarang. Dalam hati, kasihan juga pada bujang lapuk itu.


Baiklah.


Kalau memang itu masalahnya, aku akan berusaha menjauhi Bu Roffi dan membiarkan Pak Imron untuk mendekatinya. Mungkin sekarang Bu Roffi tak ada rasa sedikit pun dengan Pak Imron. Tapi namanya jodoh siapa tahu? Pepatah Jawa mengatakan ‘Witing tresno jalaran soko kulino’ atau kurang lebih artinta adalah rasa suka berawal dari kebiasaan. Suatu saat, bisa jadi hati Bu Roffi akan luluh melihat kesungguhan Pak Imron.

__ADS_1


Sayangnya, aku tak setuju kalau Pak Imron jadi calon ayah tiri Vina. Kasihan gadis kecil itu. Andai Pak Imron jadi ayahnya, aku tak yakin pria itu bisa mamahami dan membahagiakannya. Lagipula, aku melihat ada perbedaan umur yang cukup signifikan pula. Bisa jadi Vina akan memanggil Pak Imron sebagai ‘Mbah Kung’ atau kakek.


“Eh, Pak Abi. Kok sudah datang? Tumben?” tiba-tiba suara Tia mengagetkanku.


Buru-buru kututup buku agenda milik seraya tersenyum.


“Lagi pengen berangkat pagi saja sih Tia,” jawabku.


“Keadaan Bu Roffi gimana, Pak?” tanya Tia.


“Alhamdulillah baik kok Tia. Cuman butuh istirahat aja,” lanjutku.


Tia langsung melaksanakan tugas dengan semangat. Begitu cekatan membersihkan lantai, kemudian merapikan meja dan mengelap semua barang yang rawan berdebu. Dalam hati aku berpikir, mungkin pekerjaan yang mengedepankan tenaga terlihat lebih membahagiakan daripada pekerjaan yang membutuhkan otak.


Contohnya adalah Tia.


Setelah selesai mengerjakan tugasnya, dia pasti tidak mikir apa-apa lagi. Dia tinggal istirahat, rebahan di depan TV sambil makan kudapan. Sedangkan pekerjaan yang menggunakan otak, pasti akan terus memaksa kita untuk berpikir, besok mau mengerjakan apa? Bahkan kadang pikiran itu menghantui tidur malam. Makan jadi tak enak, karena terus kepikiran dengan pekerjaan yang tak kunjung usai.


Begitulah.


Semua manusia mempunyai rezeki masing-masing, jadi aku pasrah saja menjalani nasib. Toh semua sudah ditentukan.


Candaan-candaan ringan kulontarkan pada Tia, dan gadis itu tampak antusias menaggapi. Kantor serasa milik berdua, karena yang lain masih belum tiba. Aku berusaha tak terlalu dekat, untuk menghindari Tia terbawa perasaan. Syukurlah ketika Pak Imron datang, kondisi sudah kondusif.


Aku berusaha melupakan segala problematika yang melibatkan Bu Roffi. Biarlah wanita itu mengarungi samudranya sendiri. Bagaimanapun jalanku masih panjang.


Apakah aku jahat?


***

__ADS_1


__ADS_2