
Tiket bus menuju Denpasar sudah kubeli. Kini aku sudah duduk manis tanpa galau mendayu menuju belahan Pulau Jawa sebelah timur. Aku duduk di kursi tengah dengan bersantai sambil mendengarkan earphone yang kupasang di telinga. Sengaja tak kupilih lagu-lagu sendu milik Desi Ratnasari atau Didi Kempot, tetapi aku memilih lagu-lagu rancak milik Backstreet Boys yang bisa membuat kepala mengangguk-angguk seiring alunan musik yang menghentak.
Aku tidak sendiri. Di sebelahku, ada Doni sedang mengunyah permen karet tanpa henti. Bagaimana ceritanya dia ada di sini? Sudah barang tentu, aku tak ada niat mengajak si mulut tajam ini. Sayangnya, ketika aku berkemas, dia sempat memergoki, bahkan sempat mencecar dengan aneka pertanyaan.
“Kok aneh Bi? Kamu kesurupan apa tiba-tiba pengen liburan ke Bali? Padahal kamu sedang mengerjakan tugas akhir. Hmm. Pasti ada sesuatu yang terjadi kan? Apa hayo?” cecar Doni.
“Nggak ada kok. Lagi pengen aja jalan-jalan!” jawabku singkat, tak begitu peduli dengan pertanyaannya.
“Nah itu yang kubilang aneh! Biasanya kamu kan makhluk paling sibuk di dunia sampai nggak mikirin jalan-jalan. Kok tumben-tumbenan ada rencana jalan-jalan? Jauh lagi tujuannya. Bali men! Emang kamu tahu rute-rute perjalanan di Bali?” berondong Doni lagi.
“Kagak!”
“Lah, terus kamu mau menggelandang di sana? Iya sih, mukamu mirip gelandangan tapi nggak perlu dipertegas dengan jadi gelandangan juga kali!”
Doni mulai melancarkan aksi hinaan yang menyayat hati. Aku tak peduli. Tak ada guna meladeninya. Ujung-ujungnya ketika barangku sudah siap, ia merajuk minta ikut. Sebenarnya malas kalau dia ikut, tetapi aku berpikir mungkin akan lebih aman kalau Doni ikut. Seumur hidup, aku hanya tahu Bali dari buku Atlas Indonesia. Kalaupun aku tersesat, paling tidak ada teman.
“Ya sudah, kamu boleh ikut! Dengan catatan, akomodasi bayar sendiri, semua kebutuhan bayar sendiri!” ucapku ketus.
“Jangankan bayar sendiri! Bayarin kamu aja aku sanggup kok!” cibir Doni.
“Serius kamu mau bayarin aku?” tanyaku penuh harap.
“Kagak lah! Aku cuman bilangin doang. Bayar sendiri-sendiri, sesuai kesepakatan awal!”
__ADS_1
Dasar kampret!
Bus melaju keluar Kota Surabaya menyusuri pantai utara Jawa ke arah timur. Perjalanan yang cukup panjang, tetapi berusaha kunikmati sepenuh hati. Kulirik Doni yang sudah terkantuk-kantuk. Sebenarnya aku juga mengantuk. Perjalanan jauh seperti ini, inginnya tidur selama perjalanan. Bus ini dijadwalkan sampai di Pelabuhan Ketapang saat dini hari, dan menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk saat fajar menjelang. Jadi pagi-pagi akan tiba di Kota Denpasar, sebuah kota yang benar-benar asing.
Aku terbangun ketika bus lepas dari wilayah Probolinggo, menuju kawasan Hutan Baluran. Kutengok arah luar, begitu gelap dan senyap. Sama halnya dengan suasana dalam bus. Hampir semua penumpang tertidur. Aku celingukan. Pendingin udara yang dipasang di atas kursi terasa menggigit kulit, sehingga kurapatkan jaket erat-erat. Doni juga sudah tenggelam dalam alam mimpinya.
Menjelang dini hari, bus tiba di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Walaupun dini hari, suasana masih sangat ramai. Banyak orang masih antre untuk menyeberang dengan kapal feri ke pulau seberang. Karena di pinggir laut, angin bertiup lumayan kencang. Aku menunggu sambil duduk-duduk bersama Doni, sementara penjual mie hilir-mudik menawarakan dagangannya. Jangan ditanya harga makanan di daerah sini, bisa mencapai berkali-kali lipat.
“Jam berapa nyampai Bali?” tanya Doni.
“Bali yang mana? Kalau Pelabuhan Gilimanuk sebentar saja sampai. Tapi kalau ke tempat wisatanya ya agak lama. Setelah dari Gilimanuk, ntar kita naik bus lagi menuju Denpasar,” terangku.
“Habis dari Denpasar kemana?”
“Nah, itu aku yang belum tahu. Ntar kita jalan-jalan aja, siapa tahu ada yang ngasi kita bantuan,” jawabku.
“Kirain kamu ada agen wisata gitu, trus ada yang jemput dan ngantar kita ke hotel,” keluh Doni.
“Lah, kita kan backpacker. Jadi kita kelayapan aja sesenangnya. Masalah hotel gampang lah. Ada banyak losmen atau hotel sih. Kita cari yang murah-murah aja. Kan banyakan waktu di luar daripada di dalam,” sahutku.
“Iya juga ya. Padahal tadinya aku bayangin hotel yang ada kolam renangnya, terus kita bisa berendam sama bule-bule gitu,” lanjut Doni.
“Ngayal aja ah!”
__ADS_1
Tiba lah giliran pemberangkatan kapal feri yang mengangkut bus kami menuju Pelabuhan Gilimanuk. Sedikit was-was naik kapal, karena harus menjaga keseimbangan. Ombak lumayan besar pagi, menari-nari membuat lantai kapal terombang-ambing. Kepala ini pusing, sehingga memicu perut mual. Kulihat Doni sama sekali tidak berpengaruh dengan itu.
“Nanti kalau kapal udah jalan nggak terasa kok,” katanya sambil bersandar pada railing deck, menatap laut yang membentang di depan. Pulau Bali sudah terlihat dekat, tetapi sebenarnya sangat jauh.
Kapal feri yang kami tumpangi lumayan padat. Segera saja kapal melaju memecah ombak menuju arah Pulau Dewata. Angin laut berembus mempermainkan rambut. Perlahan, kulihat Pelabuhan Ketapang semakin mengecil. Sebentar lagi kami mendarat di sebuah tanah asing, sekeping surga yang tersisa di muka bumi.
Sesampai di Pelabuhan Gilimanuk, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Kota Denpasar. Ternyata perjalanan masih lumayan jauh, sehingga penat masih terasa mengendap di kaki. Walaupun begitu aku menikmati perjalanan ini. Berkelana di tanah yang sama sekali baru adalah suatu tantangan buatku. Apalagi dengan modal terbatas seperti ini. Bersyukur Doni mau menemani.
Bayangan-bayangan suram tentang Surabaya dan segala permasalahannya perlahan memudar tergantikan dengan suasana yang baru. Dahlia dan segala seluk-beluknya juga mulai terlupa. Aku belum mengaktifkan ponsel sejak kejadian kelam saat di mal. Begitu kubuka, puluhan pesan masuk sehingga hampir aku kewalahan membacanya.
Ada pesan dar Pak Kusumo yang menanyakan tentang progress Tugas Akhir. Dalam hati aku merasa bersalah juga. Beliau begitu perhatian, tetapi malah kutinggal liburan seperti ini. Padahal ini bukan musim liburan. Jadi tak kutanggapi pesan beliau.
Yang paling banyak adalah pesan dari Dahlia yang intinya adalah permohonan maaf dan aneka penjelasan dari dia. Dia mengatakan bahwa selama ini merahasiakan hubungannya dengan Darwis karena menjaga perasaanku. Anji*nglah dengan itu semua!
Sesungguhnya ada bagian yang paling mengejutkan dari segala pesan yang kuterima, yaitu beberapa pesan dari Laras. Ah, tumben sekali Laras mengirim pesan. Biasanya kalau ada perlu dia langsung telepon. Kubaca pesan dari Laras. Pesannya pendek, tetapi bersambung-sambung menjadi beberapa pesan, seperti berkirim surat.
“Mas Abi, sebelumnya aku minta maaf ya kalau terpaksa berkirim pesan karena HP-mu tidak aktif. Aku dimintai tolong Mbak Dahlia untuk menghubungimu. Dia sudah menceritakan semuanya padaku, Mas. Jujur, aku sedih banget kalau Mas Abi seperti ini.”
Demikian pesan pertama kubaca. Ada apa sebenarnya?
“Sebenarnya selama ini aku yang salah, Mas. Mohon maafkan aku ya. Aku dan Mbak Dahlia sebenarnya sudah saling tukar nomor telepon sejak lama. Aku mengaku sama Mbak Dahlia kalau kita sudah dijodohkan, dan aku meminta sama Mbak Dahlia untuk tidak terlalu dekat sama kamu, Mas.”
Deg!
__ADS_1
Jantungku bergemuruh.
***