DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter VII : Romansa dalam Kereta


__ADS_3

Kalian tahu, hari Jumat adalah hari favoritku. Karena apa? Pertama, di hari Jumat jam kuliah tak terlalu banyak, sehingga aku bisa sedikit mengistirahatkan pikiran. Aku bisa jalan-jalan dulu ke jurusan lain sekedar mencuci mata atau ngadem ke perpustakaan pusat yang berlantai lima.


Perpustakaan ini dekat dengan kantin pusat, tempat mahasiswa dari berbagai jurusan berkumpul untuk sekedar nongkrong atau berdiskusi. Kalau aku beruntung, aku akan bertemu dara-dara jelita yang bertebaran bagai anai-anai di musim hujan. Sayangnya, hanya itu yang bisa kulakukan. Tak berani lebih. Aku bukan Andre atau Doni.


Parahnya aku!


Kedua, walaupun tidak selalu, aku biasanya menggunakan hari Jumat untuk pulang ke rumah orangtua di Jombang. Kerinduanku terhadap keluarga sudah meletup-letup tak dapat kukendalikan.


Jumat siang, selepas sholat Jumat aku sudah packing, menyiapkan beberapa baju yang kubawa dan sedikit oleh-oleh buat Weni. Walaupun Weni tidak minta, pasti dia minta jatah. Tidak perlu mahal. Weni suka coklat. Makanya sebelum pulang, aku menyempatkan diri untuk membeli sebatang coklat buat Weni.


Setelah semua siap, dengan penuh semangat aku pergi ke Stasiun Gubeng, salah satu stasiun kereta api yang terbesar di Surabaya.


Mengapa aku tidak memilih naik bus? Karena ribet. Itu alasannya. Untuk menuju Terminal Bungurasih, aku harus beberapa kali ganti kendaraan. Sedangkan untuk ke stasiun Gubeng, hanya perlu satu kali naik angkotan kota.


Alasan lain yang tidak begitu penting karena aku sangat menikmati naik kereta api. Di atas kereta api, bisa santai menikmati hamparan sawah sejauh mata memandang. Bisa menikmati cuaca sore hari yang syahdu. Menelusuri pinggiran kota dan desa. Inilah Indonesia sebenarnya.


Ah, aku selalu merindukan itu.


Tetapi sayangnya, aku harus bisa menahan sedikit aroma di dalam kereta. Aroma keringat para penumpang yang berjubel, berpadu dengan aroma makanan, aroma kentut, dan aroma minyak wangi murahan menjadi sebuah perpaduan aroma yang tak terperikan. Sementara, layanan penjual makanan dan minuman nonstop menghampirimu tiap lima menit.


Menu yang mereka tawarkan cukup beragam. Kacang goreng, tahu goreng, kerupuk, dan aneka minuman dingin. Tak perlu khawatir kamu akan kelaparan di dalam sana. Aku biasanya membeli kacang goreng dan sebotol air minum mineral dingin. Sangat pas untuk kantong mahasiswa sepertiku.


Sedangkan di dalam bus, akan terasa lebih pengap. Oksigen terasa habis diperebutkan oleh para penumpang yang berdesakan. Sopir bus sudah berlagak seperti pebalap Formula 1. Mereka memacu bus sekian ratus kilometer per jam tanpa peduli dengan puluhan nyawa yang mereka bawa. Beberapa kali bus hampir meloncat karena rem mendadak. Ibu-ibu mengelus dada sambil beristighfar.


“Ya Allah, Pak Sopir! Kalau mau masuk surga dengan cepat nggak gini juga kali caranya!” ibu-ibu mulai mengomel.


Sementara beberapa orang harus menguras isi perutnya, karena terombang-ambing sedemikian rupa. Naik bus juga membuat adrenalin bergejolak. Sungguh, masih ingin hidup lebih lama. Masih belum menikah. Masih banyak yang harus aku kejar. Aku akan memilih naik roller-coaster di Ancol daripada naik bus model seperti ini.


Dengan mempertimbangkan fakta tersebut, aku mencoret bus AKDP sebagai angkutan favoritku. Yang menjadi juaranya tetaplah kereta api.


Dan sekarang, aku sudah duduk santai di dalam salah satu gerbong kereta api yang membawaku pergi ke Kota Jombang. Awalnya memang berdesak-desakan, tetapi sekarang sudah longgar. Dengan gaya mafia Italia aku duduk sambil makan kacang goreng yang barusan aku beli. Aku berharap duduk


bersebelahan dengan cewek manis. Biasanya hari Jumat begini, banyak bertemu mahasiswa lain yang kebetulan juga pulang kampung.


Tetapi nyatanya aku duduk bersebelahan dengan seorang wanita yang cukup berumur. Ia memangku seorang bocah laki-laki berumur sekitar empat tahun.

__ADS_1


“Ajenge tindak pundi?” ( Mau pergi ke mana? ) tanya wanita tua itu kepadaku.


“Saya Jombang, Mbah” jawabku.


Sebenarnya aku malas mengobrol, tetapi tidak tega melihatnya. Aku melihat keteduhan di balik sorot matanya. Mengingatkan dengan almarhum simbahku. Sedangkan anak itu, mengingatkan pada diriku sendiri. Dulu simbah sering mengajak jalan-jalan naik kereta api juga, bahkan sampai ke Solo dan Yogyakarta.


“Monggo...” tangannya yang rapuh menyodorkan beberapa biji pisang rebus kepadaku.


Plaaak!


Aku serasa ditampar. Baru saja aku makan kacang goreng tanpa menawarkan ke beliau. Eh, giliran beliau makan pisang rebus aku ditawari.


Duh!


“Ndak usah repot-repot, Mbah. Buat cucunya saja,” tolakku dengan halus.


“Sudah ada buat Danu. Monggo to! Ndak boleh nolak rezeki,” katanya lagi.


Aku tidak bisa menolak. Beliau benar, tidak boleh menolak rezeki. Aku mengunyah pisang rebus yang setengah matang itu dengan perasaan sedih. Mungkin harus banyak belajar ketulusan dari wanita ini.


Tetapi yang sangat menarik sebenarnya adalah seorang gadis yang duduk sendirian di gerbong belakang. Raut mukanya terpoles make up tipis yang mulai luntur oleh keringat. IaIa memakai kemeja kotak-kotak dan celana jeans yang telah pudar warnanya. Matanya menatap arah luar jendela. Ia terlihat murung, memikirkan suatu beban yang tak terucapkan.


Aku kasihan.


Pikiranku tiba-tiba melayang ke gadis lain. Lusi Handayani. Ah, mengapa aku masih memikirkannya? Kerinduan ini kadang merajamku. Lusi bukan gadis secantik Monik atau glamour seperti Amel. Dia tipikal gadis biasa tanpa riasan mencolok. Tetapi entahlah. Ada sesuatu dalam dirinya yang begitu menarik yang tidak bisa kuungkapkan. Mungkin kecerdasannya?


Ya, mungkin.


Dia sangat menguasai mata kuliah Mekanika Teknik. Atau cara bicaranya yang elegan? Tutur bahasanya sangat halus dan tertata. Sedangkan aku? Jangan ditanya. Aku malu untuk menjawab.


Setelah beberapa menit kupikirkan, aku baru menemukan jawaban mengapa aku menyukai Lusi.


Kelembutannya.


Ya, aku jatuh cinta dengan kelembutannya.

__ADS_1


Sayangnya, kuncup-kuncup yang bermekaran di hatiku harus layu sebelum berkembang. Lusi benar-benar harus pergi tanpa sepatah kata perpisahan. Hanya tinggal kenangan yang tersisa. Aku berharap, kelak aku bisa bertemu dia kembali.


***


Azan Maghrib berkumandang saat kereta api berhenti di Stasiun Jombang. Para penumpang berhamburan turun. Aku menunggu sepi, baru mulai turun. Sebelum turun, kulihat gadis yang berwajah murung tadi. Dia masih duduk, tak ikut turun. Berarti dia turun di stasiun berikutnya. Saat aku mencuri pandang ke arahnya, tak disangka dia juga menatapku.


“Eh, Mas. Ini Stasiun Jombang ya?” tanyanya tiba-tiba.


Aku gelagapan. Sungguh tidak siap aku menerima pertanyaan.


“I ... iya Mbak,” jawabku ragu-ragu.


“Kalau Stasiun Mojoagung sudah lewat belum ya?”


“Sudah Mbak!”


Raut wajahnya berubah cemas. Ia terlihat bingung, kemudian buru-buru merapikan barang-barangnya.


“Waduuh! Gimana nih?” kata gadis itu kebingungan.


Aku hanya terdiam melihat dia kebingungan. Pikiranku buntu. Aku hanya ingin segera sampai rumah. Itu saja. Kubiarkan saja gadis itu kebingungan. Kereta sebentar lagi juga akan berjalan ke stasiun berikutnya.


Peduli amat!


Egoku ternyata memenangkan pergolakan batin itu. Aku segera turun dari kereta api, meninggalkan segala romansa di dalamnya. Di pikiranku sekarang hanya ada rumah, rumah dan rumah. Sudah terbayang wajah bapak yang bersukacita menyambutku, dan wajah emak yang sumringah melihat kedatanganku. Aku yakin, besok emak pasti bertanya kepadaku.


“Kamu mau dimasakin apa, Le?”


“Rawon!


Membayangkan rawon buatan emak membuat ususku meronta. Lapar tak tertahankan. Segera aku menghampiri tukang ojek yang banyak mangkal di depan stasiun. Setelah bernegoisasi sebentar, aku siap berangkat menuju kampungku.


Emaaak! Putramu dataaaang!


I’m comiiiiing!

__ADS_1


***


__ADS_2