
Bersosialisasi adalah salah satu cara menyembuhkan perasaan yang sedang tergores, atau melupakan satu kenangan buruk. Hal itu juga yang kulakukan semenjak tragedi si Jono yang bertandang ke kost Laras. Aku sadar, bahwa pikiran yang sehat akan berpengaruh positif untuk kesehatan mental. Kecemburuan yang mungkin tak beralasan kepada Laras, sedikit banyak mulai mengguncang peradaban hidupku. Timbul rasa enggan luar biasa untuk menghubungi Laras. Aku lebih suka bersosialisasi dengan anggota Victory English Club yang lain.
Victory English Club sebentar lagi punya gawe. Kami akan mengadakan English Camp di Malang, tetapi lokasi pastinya belum diputuskan. Beberapa mahasiswa yang berasal dari Kota Malang dan sekitarnya banyak memberi rekomendasi beberapa tempat yang cukup menarik. Toh tentu saja keputusan final harus menunggu Dahlia yang saat ini sedang menikmati diare.
Sepertinya diare yang diderita Dahlia cukup serius. Dia memutuskan untuk tidak masuk kuliah keesokan hari. Sebenarnya iba juga kepadanya. Sebagai ketua klub, dia sangat serius mencurahkan segenap tenaga dan waktu untuk kemajuan klub. Dalam berbagai kesempatan, tak jarang mengajak diskusi tentang inovasi-inovasi yang bisa dilakukan. Dedikasi Dahlia sungguh tak bisa dipandang sebelah mata. Kuangkat topi tinggi-tinggi untuk ini. Leadership-nya memang jempol.
Sehari tanpa Dahlia, ternyata cukup mengguncang sisi lain hidupku. Tak ada lagi yang memberikan semangat, mentraktir makan siang atau mengajak berantem.
Aku melihat deretan rak-rak perpustakaan yang seolah tak berjiwa, tanpa sosok Dahlia yang sibuk memilih buku-buku tidak penting di sana. Bahkan suasana kantin pusat seolah tanpa makna. Masih terasa di lidah, gurihnya bakso cinta yang kami santap bersama-sama.
Ah, Dahlia ....
Dahlia, kamu diare jangan lama-lama ya?
Sepucuk pesan kukirim kepadanya.
Karena lama tak berbalas, aku menenggelamkan diri dalam rutinitas seperti biasa. Mengikuti perkuliahan jadi terasa lebih menjemukan. Candaan-candaan Darwis terasa garing tanpa makna. Sudut-sudut kampus serupa petak-petak kosong tanpa penghuni. Sesuatu yang menakutkan mulai kurasakan.
Mungkinkah aku mulai merindukan Dahlia?
Drrrttt!
Kenapa? Kangen ya? Satu pesan kuterima dari Dahlia.
Pesan itu kubaca saat baru saja merebahkan diri di kamar tercinta. Remuk-redam raga ini bertubi-tubi dihajar setumpuk tugas dari berbagai penjuru. Aku berharap, masih berada di tingkat kewarasan yang normal. Sebab kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah menenggak cairan desinfektan agar malaikat maut segera menjemput.
Aku bingung. Bagaimana menjawab pesan Dahlia? Apakah benar aku merindukannya? Mungkin tidak. Aku hanya merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupku. Seperti makan kue nastar tanpa selai nanas.
Ditunggu anak-anak klub tuh. Balasku.
Drrrttt!
Drrrttt!
Ah, Dahlia menelepon ....
Tanpa pikir panjang segera kuangkat ponselku.
“Dahlia, gimana kondisimu?” sapaku manis.
“Dahlia? Mas, ini aku Laras ....”
terdengar suara lembut di seberang.
Waduh! Bagaimana aku bisa ceroboh mengangkat telepon tanpa melihat ID caller-nya?
“Eh, Ras ... maaf ....,” desisku.
“Lagi sibuk ya, Mas? Maaf aku mengganggu. Nanti saja kutelepon lagi ya?”
“Nggak kok, Ras. Ada yang bisa kubantu?” buru-buru aku bersikap biasa.
__ADS_1
“Aku mau nanya Mas,” kata Laras.
“Hmm. Boleh. Nanya apa?”
“Kalau mau beli HP baru yang murah di mana ya? Ini HP Nokia-ku sudah sering mati nyala. Nanti kalau gajian aku mau beli yang baru, Mas.”
Entah kenapa ada rasa enggan menjawab pertanyaan itu. Masih tergambar wajah Jono yang mengesalkan itu. Bagamanapun, sebagai seorang laki-laki aku punya harga diri yang tak bisa ditawar-tawar.
“Kenapa nggak tanya Mas Jono? Dia pasti tahu. Kan lama juga di Surabaya,” sewotku.
Sepertinya perkataanku menorehkan segores luka di hati Laras. Dia terdiam sejenak.
“Maaf Mas, sudah ganggu ....” suara Laras berubah parau.
Pembicaraan kami terputus.
Bodohnya diriku! Mengapa aku tadi bicara begitu kepada Laras ya? Sepertinya tadi tersulut emosi yang membara, sehingga berbuat khilaf. Bagaimanapun, Laras adalah seorang gadis lugu yang tidak biasa menerima perlakuan kasar. Bisa kubayangkan wajah sendu Laras menahan airmata luruh menuruni pipinya yang merona. Kalau sampai itu terjadi, sungguh mungkin aku tak bisa memaafkan diri sendiri
Aku menghambur menghadap sebuah cermin buram yang tergantung di dinding. Menatap bayangan yang terpantul. Kudapati sesosok pria lugu itu telah berubah menjadi iblis dengan sepasang tanduknya yang runcing. Sepasang matanya merah menyala, dengan hidung mirip kerbau. Tatapan kebencian terlukis di matanya.
“Aku lelah menjadi makhluk lemah. Aku mau jadi jahat ...,” geramnya.
Tidak. Itu bukan diriku.
***
“Makanan kesukaan Dahlia apa ya?” tanyaku pada Darwis.
See? Bahagia itu sederhana.
“Dia mah apa aja masuk!” jawab Darwis sambil menelan ludah, ketika serombongan mahasiswi sedang lewat membawa nampan berisi bakso. Aromanya menggelitik hidung-hidung miskin kami. Dari penampilannya, sudah dipastikan mereka adalah mahasiswi kelas A, kalangan upper-class atau uptown girls paling tidak. Saat lewat, tercium pula aroma parfum lembut yang kuduga harganya berkali lipat dari parfum yang biasa kupakai.
Aku biasa membeli bibit parfum Bvlgari dalam botol kecil yang harganya hanya sepuluh ribu. Ini satu-satunya parfum yang harganya ramah dengan isi dompetku. Tetap berkelas, walau harganya kelas ekonomi.
Jawaban Darwis cukup menjengkelkan. Memangnya Dahlia ini tempat sampah? Bisa-bisanya dia bilang semua makanan masuk! Sembarangan saja kalau bicara.
“Tengokin dia yuk!” ajakku
“Baru juga sehari nggak kuliah. Besok juga masuk! Kamu udah kangen banget?” seloroh Darwis.
“Ada yang penting mau kubicarakan sih sebenarnya ...,” aku beralasan.
“Masalah camp?”
“Iya, salah satunya itu ....”
“Salah duanya?”
“Salah duanya dapat nilai delapan puluh!”
Wajah Darwis berubah sewot. Rupanya ia tidak senang dengan jawaban yang kulontarkan barusan.
__ADS_1
“Orang ditanya serius kok!” protesnya.
“Ya palingan ngobrol masalah sehari-hari saja, Darwis. Lagian ngapain sih kamu pengen tahu banget?”
“Hmmm. Oke.”
Tersungging senyum aneh di ujung bibir Darwis yang gagal kuartikan. Kadang aku tidak bisa menebak apa yang terendap dalam pikirannya.
“Kamu mulai mengkhawatirkannya?” tembak Darwis. Matanya menatap aku tajam. Inilah tatapan serius pertama yang pernah kulihat.
Aku menggeleng cepat.
“Aku mengkhawatirkannya karena Dahlia adalah teman baikku. Kamu tahu aku hanya menyukai Lusi,” jawabku.
Sayang sekali, aku tak pandai menutupi perasaan. Kegugupanku begitu terlihat oleh Darwis.
“Mengapa kamu berharap dengan seseorang yang nggak pasti?” tutur Darwis.
Eh, Darwis habis kejedot apa ya? Mengapa tiba-tiba dia berubah menjadi waras? Versi warasnya Darwis ini agak mengkhawatirkan. Bisa-bisa, ia mengorek semua yang kusembunyikan dalam pikiranku.
“Aku hanya ingin memastikan satu hal ....”
“Perasaan dia kepadamu?”
Aku mengangguk.
“Kalau Lusi memang tidak menyukaiku, mengapa dia menatapku seperti itu?” lanjutk
“Seperti apa sih tatapan Lusi?”
Aku terdiam, mencoba menghadirkan tatapan Lusi dalam ingatanku yang buram. Tatapan lembut dan hangat, penuh kasih sayang. Sayangnya aku tidak bisa mendeskripsikan di hadapan Darwis.
“Kalau menurutku, lupakan Lusi! Atau kamu akan terobsesi dengan dia seumur hidup. Yakin aku, kamu akan jadi jomblo. Kamu mau seperti itu?” tanya Darwis kemudian.
Tumben kalimat Darwis menjadi berkualitas?
“Aku kasihan dengan dirimu .....” lanjut Darwis.
“Emang kenapa aku?” tanyaku penasaran.
“Sepertinya kamu haus belaian seorang perempuan ...,” ucap Darwis sambil tersenyum.
Kurang ajar!
“Sembarangan! Aku nggak terlalu mikir perempuan dulu. Mikir tugas gambar aja serasa mau mati. Let it flow lah!” aku membela diri.
“Munaroh kamu ah!”
Aku tertawa. Ya, kamu benar Darwis. Memang aku jomblo menyedihkan, tetapi suatu saat nanti akan kubuktikan pada dunia yang mencibirku, bahwa kelak Abimanyu Prasetyo akan bertransformasi menjadi Raden Arjuna yang digilai banyak bidadari.
We’ll see!
__ADS_1
***