Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 100


__ADS_3

Leandra meminta sopir untuk mengantarkan dirinya menuju perusahaan Harold, sepanjang perjalanan dia terus saja tersenyum seraya memeluk kotak bekal yang dia bawa dari rumah.


Setelah bebrapa minggu menikah dengan Leonel, Leandra memang sudah merasakan rasa nyaman jika berada di dekat suaminya itu.


Dia juga begitu nyaman dengan perlakuan Leonel kepada dirinya, pria itu selalu mampu membuat dirinya tersenyum, kesal, gemas dan semua rasa bercampur aduk menjadi satu.


"Sepertinya aku memang mulai jatuh cinta kepada kak Leon," ucap Leandra lirih.


Setelah sampai di perusahaan Harold, Leandra tanpa ragu langsung masuk ke dalam ruangan suaminya.


Leonel langsung tersenyum lalu menghampiri istrinya dan menuntun Leandra agar duduk di atas pangkuannya, walaupun awalnya Leandra merasa tidak nyaman, tetapi dia tetap menurut dengan mulutnya yang melayangkan protesnya.


"Kakak, aku ngga nyaman. Boleh ngga aku duduk di samping Kakak aja?" tanya Leandra seraya mengusap pipi suaminya.


Dia takut akan membangunkan sesuatu yang sedang tertidur, nanti bisa bahaya, pikirnya. Dia akan kelelahan karena kenikmatan yang datang bertubi-tubi dari suaminya itu.


Leonel pura-pura merajuk, dia mengerucutkan bibirnya seraya memeluk pinggang Leandra dengan begitu erat.


"Duduknya di sini saja, hanya sebentar. Aku mau peluk kamu dulu sebelum kita makan siang," ucap Leonel lalu mengusakkan wajahnya pada dada Leandra.


Leandra menghela napas panjang, jika saja mereka berada di dalam kamar utama pasti Leandra tidak akan menolaknya.


"Kakak, jangan suka begini kalau di kantor. Akunya ngga nyaman," ucap Leandra.


Leandra takut jika nantinya mereka malah akan bercinta, bukan menikmati makan siang yang sudah dia buat.


Dia juga takut malah akan mengganggu pekerjaan suaminya, bahkan satu hal lagi yang Leandra takutkan, akan ada karyawan lain yang masuk.


"Sebantar, Sayang. Hanya sebentar, hari ini aku cape banget. Aku ngga akan minta itu, hanya peluk."


Leonel merasa begitu lelah, karena tadi pagi dia hampir saja kehilangan project besar karena ulah dari OB baru. OB itu tanpa sengaja menumpahkan kopi pesanan dari Liliana pada berkas laptop milik wanita itu.


Leandra menghela napas berat, tetapi dia tidak berbicara apa pun. Dia membalas pelukan Leonel seraya mengusap-usap punggung pria itu.


"Tuan, kita akan berangkat dalam waktu tiga puluh--"


Lucky yang baru saja datang langsung menghentikan ucapannya, dia bahkan langsung menunundukkan wajahnya karena merasa tidak enak hati melihat pemandangan yang membuat matanya terasa sakit.


Bahkan jiwa jomblonya seakan meronta-ronta, jika melihat akaj hal itu. Lucky jadi ingin kembali merasakan punya kekasih, tetapi ada rasa takut masa lalu yang menyakitkan akan terulang kembali.


Dia hanya bisa menghela napas berat, karena kenangan masa lalunya terasa begitu pahit baginya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau anda--"


Leonel tersenyum melihat raut wajah dari asisten pribadinya itu, dia langsung mengangkat sebelah tangan kanannya lalu berkata.


"Tidak apa-apa, tunggullah sebentar lagi. Aku akan makan siang terlebih dahulu," pungkas Leonel seraya mengangkat tubuh Leandra dan mendudukannya di atas sofa.


Leandra bisa bernapas dengan lega karena Leonel memang hanya meminta pelukan saja dari dirinya, tidak meminta hal yang lebih.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Saya akan menunggu anda di mobil," jawab Lucky.


Setelah mengatakan hal itu, Lucky langsung pergi untuk bersiap seraya menunggu tuannya. Karena dia tidak mungkin diam saja di sana untuk menjadi penonton.


Selepas kepergian Lucky, dia mengajak Leandra untuk makan siang bersama. Pria bertubuh besar itu bersikap begitu manja, beruntung Leandra tidak banyak protes dan menuruti keinginan dari suaminya.


"Terima kasih, Sayang. Aku tuh beruntung banget punya istri cantik dan pengertian seperti kamu," ucap Leonel seraya menuntun Leandra untuk keluar dari perusahaan Harold.


Dalam hati Leandra merasa sangat senang, karena ternyata setelah menikah Leonel selalu bersikap sangat manis. Namun, yang keluar dari bibirnya malah lain.


"Hem!"


Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Leandra, dia seakan tidak mau banyak bicara karena banyak karyawan yang memperhatikan tingkah Leonel yang memeluk Leandra dengan posesif.


Jika dulu Leandra pasti marah kala Leonel melakukan hal itu, tetapi sekarang dia sudah pasrah. Dia sudah tidak peduli lagi jika orang lain tahu tentang pernikahan mereka.


"Silakan, Tuan!" ucap Lucky seraya membukakan pintu mobil untuk keduanya


"Terima kasih," ucap Leandra seraya masuk ke dalam mobil.


Setelah memastikan Leandra dan juga Leonel sudah duduk dengan nyaman, Lucky langsung melajukan mobilnya menuju tempat tujuannya.


"Kakak, jangan seperti ini ah!" ucap Leandra yang merasakan pelukan dari Leonel.


Pria bertubuh tegap itu seakan begitu lelah, dia memeluk Leandra dan mengusakkan wajahnya di cerukan leher istrinya.


Leonel benar-benar merasa lelah dengan kegiatan malamnya, walaupun memang terasa begitu nikmat. Jika untuk urusan kantor, dia bisa menyerahkannya kepada Lucky.


"Iya," jawab Leandra pada akhirnya.


Leandra membalas pelukan dari Leonel seraya mengelus lembut punggung suaminya tersebut, Lucky hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari tuannya.


Setelah beberapa saat kemudian, Leonel tertidur dengan begitu pulas di dalam pelukan istrinya. Leandra sampai tidak percaya dibuatnya.


Namun, walaupun seperti itu Leandra tidak marah sama sekali terhadap suaminya. Dia begitu sabar mengelus punggung suaminya agar tidak terjaga saat mengalami guncangan.


Sesekali dia bahkan akan menunduk untuk mengecup kening suaminya, satu hal yang Leandra sadari. Leonel sama seperti dirinya, merasakan lelah yang teramat sangat.


Karena setiap malam mereka akan bercinta dengan penuh gairah, mereka selalu kurang tidur karena Leonel tidak pernah mau bercinta satu kali saja.


3 jam sudah berlalu, pundak Leandra terasa begitu sakit. Ditambah lagi dengan rasa yang tidak nyaman, karena dia merasakan seperti ada semut yang berjalan pada pundaknya tersebut.


Ingin sekali dia mendorong kepala Leonel, tetapi saat melihat Leonel yang begitu terlelap dalam tidurnya dia merasa tidak tega. Dia menahan rasa sakitnya demi suaminya.


'Apakah ini cinta? Bahkan aku merasa tidak tega untuk membangunkan suamiku walaupun pundakku terasa sangat sakit,' ujar Leandra di dalam hatinya.


Leandra tersenyum seraya menatap wajah suaminya, entah kenapa memandang wajah suaminya itu tidak pernah membuat dirinya bosan.


Justru, semakin hari dia merasa selalu saja rindu kepada suaminya itu. Padahal, mereka tidak pernah berpisah dalam waktu lama.

__ADS_1


Tidak lama kemudian mobil yang dia tumpangi berhenti tepat di sebuah Resto yang berada di kota B, tempat di mana Leonel akan melakukan janji temu dengan klien.


"Sudah sampai, Tuan. Masih ada waktu lima belas menit lagi untuk Tuan dan Nyonya bersiap," ucap Lucky seraya mematikan mesin mobilnya.


Mendengan apa yang dikatakan oleh Lucky, Leandra langsung membangunkan Leonel. Karena sebentar lagi meeting akan dilaksanakan, suaminya harus segera bersiap.


"Sayang, bangun," ucap Leandra seraya mengusap pipi Leonel dengan begitu lembut.


Leonel menggeliatkan tubuhnya, tidak lama kemudian matanya nampak terbuka. Senyum di bibirnya nampak mengembang ketika pandangan matanya bertemu dengan Leandra.


"Maaf karena aku malah tidur," ucap Leonel.


"Tidak apa-apa, Kakak harus bersiap. Karena sebentar lagi meeting akan dimulai," ucap Leandra.


"Hem," ucap Leonel seraya menegakkan tubuhnya. Lalu dia mengusap wajahnya dan merapikan pakaiannya.


Leandra tersenyum saat melihat wajah suaminya yang tetap tampan walaupun baru bangun dari tidurnya, tetapi dia melihat masih ada raut lelah di wajah suaminya.


Dengan cepat dia mengambil tisu basah dan mengusap wajah Leonel dengan tisu basah itu, Leonel tersenyum lalu mengecup bibir istrinya.


"Aku udah kaya bayi aja, mukanya dilap pake tisu basah," ucap Leonel seraya terkekeh.


Leandra ikut terkekeh, hal itu sengaja Leandra lakukan agar wajah suaminya terlihat lebih segar.


"Biar lebih segar, suamiku ini harus tampil tampan dan menawan." Leandra tersenyum hangat lalu mengambil sebotol air mineral dan memberikannya kepada suaminya.


"Terima kasih, Sayang," ucap Leonel seraya menerima air mineral yang diberikan oleh istrinya.


"Sama-sama," jawab Leandra seraya mengusap puncak kepala suaminya.


Melihat kemesraan di antara Leonel dan juga Leandra, Lucky tersenyum senang. Dia benar-benar merasa bahagia karena tidak lagi melihat gurat kesedihan di wajah atasannya.


"Sudah siap, aku meeting dulu. Nanti kalau aku meeting kamu harus diem di samping aku, biar aku tambah semangat," pinta Leonel.


Leandra hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya mendengar penuturan dari suaminya, hal itu terasa lucu baginya.


"Haish! Kalau aku deket Kakak, yang ada Kakak malah ngga fokus. Bisa-bisa nanti Kakak malah liatin aku terus," ucap Leandra percaya diri.


Leonel tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, lalu dia menjawil dagu Leandra dan berkata.


"Aih! Percaya diri sekali anda, tapi itu memang benar. Aku pasti akan terus menatap wajah cantik istriku ini, istri cantik yang selalu membuat aku---"


"Membuat aku apa?" tanya Leandra penasaran.


"Kasih tau ngga, ya?" goda Leonel seraya menggelitiki perut istrinya.


Leandra langsung menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan, bukan karena ingin bertingkah. Akan tetapi, dia merasa kegelian karena ulah dari suaminya.


"Kakak, iih!" pekik Leandra.

__ADS_1


__ADS_2