
Leandra tersenyum setiap kali dia menulis baby gede, hal itu membuat Leonel yang sedang bekerja terlihat menolehkan wajahnya pada Leandra. Dia terlihat menatap wajah Leandra dengan tatapan penuh tanya.
Lalu, pria dewasa itu terlihat menghampiri Leandra dan duduk tepat di samping gadis nakal itu. Leonel langsung mencoba untuk melihat ponsel milik Leandra, tapi dengan cepat Leandra menyembunyikan ponselnya di balik tubuhnya.
"Kamu mau apa?" tanya Leandra seraya menatap Leonel dengan tatapan penuh curiga.
Untuk sesaat Leonel terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Leandra, dia terlihat menatap gadis yang sedang menyembunyikan ponsel di balik tubuhnya itu dengan tatapan intens.
Melihat gelagat Leandra yang seperti itu sungguh Leonel semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya Leandra sembunyikan, karena Leonel yakin jika kini Leandra sedang berbalas pesan dengan temannya.
Pesan yang tidak biasa tentunya, karena dia sungguh curiga dengan senyum yang mengembang di bibir Leandra sesaat sebelum dia menghampirinya.
Melihat Leonel yang menatap dirinya dengan tatapan penuh curiga, Leandra berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Kemudian dia pun berkata.
"Ya ampun, Tuan. Kamu itu sebenarnya mau apa sih? Ngapain juga duduk dekat aku kaya gini? Mendingan sono deh, kerjain lagi pekerjaannya. Aku hanya sedang berbalas pesan dengan temanku," protes Leandra.
Leandra sengaja mencoba mengusir Lionel dengan cara halus, karena sungguh dia benar-benar tidak nyaman berada di dekat Leonel.
Apalagi kini pria dewasa itu terlihat seperti sedang ingin melakukan sesuatu, sungguh dia takut jika Leonel akan melakukan hal-hal yang tidak terduga yang akan merugikan dirinya.
"Aku hanya ingin duduk saja di sini, apa tidak boleh, hem? Ini adalah ruanganku, aku berhak duduk di mana pun juga," jawab Leonel
Leandra nampak menghela napas berat seraya memejamkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, karena itu memang benar adanya.
Ini adalah perusahaan Harold, perusahaan milik keluarga Leonel. Perusahaan yang kini menjadi tanggung jawabnya, Leandra tidak bisa mengusir sang pemilik dari ruangannya.
Tidak lama kemudian, Leandra nampak kembali membuka matanya. Dia terlihat tersenyum dengan sangat manis lalu berkata.
"Aku tahu itu, tapi kamu tidak perlu duduk dekat denganku juga. Sebaiknya kamu menjauh saja, atau perlu aku mengambil sprei cabai dari tasku untuk aku semprotkan ke wajahmu? Atau mungkin aku harus mengambil alat--"
Belum juga Leandra menyelesaikan ucapannya, tapi Leonel sudah terlebih dahulu mengulurkan tangannya dan dengan cepat menarik ponsel milik Leandra yang disembunyikan di balik tubuhnya.
Sontak saja hal itu membuat Leandra kaget bercampur dengan rasa takut, karena walau bagaimanapun juga dia sedang berbalas pesan dengan temannya.
Lebih parahnya lagi yang menjadi objek bahasannya adalah Leonel sendiri, dia takut jika Leonel sadar saat membaca pesan yang dia kirim kepada Lana. Dia takut Leonel marah ketika dirinya menyebut Leonel sebagai baby gede.
"Akhirnya dapat juga," ucap Leonel dengan senang.
__ADS_1
Pria dewasa itu bahkan terlihat hendak membuka ponsel milik Leandra, ponsel yang tidak pernah dia pakaikan kata sandi atau pin.
Karena terlalu takut, refleks tangannya menarik lengan Leonel dengan begitu kuat. Leonel yang tidak siap mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leandra langsung terjatuh dan menindih tubuh mungil Leandra.
Leandra langsung menahan napasnya karena tiba-tiba saja jantungnya terasa berdebar dengan sangat cepat, dadanya juga terasa sesak karena bibir Leandra kini berada dalam posisi mencium dada Leonel.
Walaupun terhalang kemeja berwarna putih yang Leonel pakai, tapi tetap saja hal ini membuat jantung Leandra merasa tidak waras.
Apalagi Leandra pernah melihat dada polos Leonel yang terlihat begitu seksi, sontak otaknya langsung ber-travelling dan membayangkan dada polos pria itu yang ditumbuhi dengan bulu-bulu tipis.
Leonel yang berada di atas tubuh Leandra nampak menggigit bibir bawahnya, karena dia merasakan dada Leandra yang begitu menempel pada tubuhnya.
Tentu saja hal itu terjadi karena Leandra tidak memakai bra, hal itu membuat Leonel tidak bisa berkata-kata dan dengan cepat dia bangun dari tubuh gadis mungil itu.
Dia bahkan terlihat menjauh dan segera duduk di kursi kebesarannya, ponsel milik Leandra malah dia simpan di atas meja.
Lalu, pria itu terlihat menolehkan wajahnya ke arah lain karena merasa tidak sanggup jika saat ini dia harus bersitatap dengan Leandra.
Melihat Leonel yang sudah menjauh, Leandra terlihat menghela napas lega. Kemudian dia bangun dan melirik ke arah Leonel, dia terlihat mengerucutkan bibirnya ketika melihat Leonel malah terlihat tidak ingin menegur dirinya.
Karena tidak ingin ada kecanggungan di antara dirinya dan juga Leonel, akhirnya Leandra berinisiatif untuk menegur pria itu terlebih dahulu.
"Tuan, pon--"
Tok! Tok! Tok!
Leandra yang hendak menegur Leonel dengan cara meminta ponselnya malah mengurungkan niatnya, karena dia mendengar ada yang mengetuk pintu ruangan tersebut.
Leandra nampak menolehkan wajahnya ke arah pintu, begitupun dengan Leonel. Tidak lama kemudian pintu terbuka, nampaklah Lucky yang datang dengan membawa paper bag berisikan baju untuk Leandra.
Melihat apa yang Lucky bawa, Leonel bisa menebak jika itu adalah pakaian yang dia pesan untuk Leandra.
"Berikan paper bag itu padanya, aku akan keluar sebentar. Berkas untuk meeting nanti siang tolong kamu siapkan," ucap Leonel.
Leonel langsung menutup laptop miliknya, lalu dia merapikan kemeja yang dia pakai. Walaupun memang tidak terlalu kusut dan tidak berantakan.
"Baik, Tuan," jawab Lucky.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Lucky terlihat menghampiri Leandra dan memberikan paper bag berisikan baju untuk gadis tersebut.
Berbeda dengan Leonel, tanpa banyak bicara dia langsung pergi dari ruangan tersebut. Entah mau ke mana, tapi baik Lucky atau pun Leanda tidak mengetahuinya
Namun, Leandra merasa tidak peduli. Karena saat ini yang dia inginkan adalah segera mengganti bajunya, karena baju milik Leonel merasa tidak nyaman saat dia pakai.
"Terima kasih, Tuan Lucky," ucap Leandra.
Setelah mengatakan hal itu Leandra langsung pergi ke kamar mandi, sedangkan Lucky terlihat keluar dari ruangan tersebut.
Bukan untuk menyiapkan berkas untuk meeting, tentunya. Karena berkas untuk meeting nanti siang sudah dia siapkan.
Justru yang ingin Lucky lakukan saat ini adalah ingin mencari keberadaan Leonel, dia takut jika tuannya itu akan melakukan hal yang di luar dugaan.
Hal itu Lucky lakukan karena selama satu bulan ini Leonel memang terkadang seakan tidak sadar dengan apa yang dia lakukan, mungkin karena dia terlalu larut dalam kesedihannya
Lucky menjadi khawatir terhadap tuannya dan memutuskan untuk segera mencari tuannya tersebut, dia bahkan berjalan dengan tergesa.
Berbeda dengan Leandra, saat tiba di dalam kamar mandi Leandra terlihat membuka kemeja milik Leonel. Lalu, dia mengambil baju yang Leonel pesankan dari dalam paper bag tersebut.
Mata Leandra langsung membulat dengan sempurna, karena kini dia melihat dress tanpa lengan berwarna kuning kunyit dengan bunga-bunga yang terlihat begitu cantik di atasnya.
"Ya ampun, baju macam apa ini? Kenapa dia membelikan aku baju seperti ini? Apakah dia lupa jika aku selalu memakai baju kemeja dan celana jeans saja?"
Leandra merasa jika dress yang sedang dia pegang itu terlihat begitu aneh di matanya, karena selama ini memang dia tidak pernah memakai baju seperti itu.
Ada pun dia memakai rok span saat mau berangkat kerja juga karena itu baju yang Lana berikan, saat mau pergi ke puncak Lana memberikan rok itu kepada Leandra.
Lana berkata jika Leandra harus memakai rok itu saat berada di puncak, karena jika Leandra berani memakai rok itu, maka Lana akan memberikan sesuatu yang tentunya sangat Leandra inginkan.
Leandra terlihat duduk di atas kloset yang tertutup, dia seperti sedang berpikir, apakah harus dia pakai dress tersebut atau tidak.
Namun, kalau tidak dipakai rasanya dia tidak betah untuk memakai kemeja milik Leonel. Karena kemeja milik Leonel sangatlah besar dan menenggelamkan tubuh mungilnya.
"Oh ya ampun, aku lupa. Apakah dia juga memesankan bra untukku?" tanya Leandra seraya kembali merogoh paper bag yang ada di tangannya itu.
Tidak lama kemudian, mata Leandra kembali membulat dengan sempurna saat dia melihat bra yang begitu cantik dengan nomor yang pas di dadanya.
__ADS_1
"Hastaga! Apakah dia seorang cenayang? Kenapa dia tahu ukuran dadaku?" tanya Leandra dengan dahi yang mengerut dalam.