Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 127


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, Liliu sudah bangun dari tidurnya. Wajahnya langsung memerah saat mendapati Lucky yang sedang memeluknya dengan posesif.


Terlebih lagi ketika mengingat percintaan panas yang sudah terjadi tadi malam, hal itu membuat tubuh Liliu meremang dalam seketika.


Dia tidak menyangka jika dirinya bisa begitu agresif ketika bercinta dengan Lucky, bahkan setelah mereka bercinta di dapur, mereka kembali bercinta di atas tempat tidur.


Liliu yang merasa tidak sabar saat Lucky bermain dengan lembut, dia langsung naik ke atas tubuh pria itu. Dia memimpin permainan dengan begitu bergairah, Lucky sampai meracau tidak jelas dibuatnya.


Di saat dia bergoyang di atas tubuh suaminya, bayangan percintaan panas dengan Lucky seperti sebuah puzzle yang terlintas di otaknya. Semakin lama dia bercinta dengan Lucky, dia semakin ingat dengan apa yang sudah terjadi dengan dirinya dan suaminya itu.


Dalam waktu beberapa jam saja dia bisa mengingat kembali jika dirinya memang telah menikah dengan Lucky, dia bahkan sangat ingat ketika dirinyalah yang meminta restu kepada ayahnya.


"Terima kasih sudah mau menjadi suamiku," ucap Liliu seraya mengusap dada Lucky.


Jari tangan mungil milik Liliu dengan lincahnya mengusap dada suaminya, dada bidang yang memiliki sedikit bulu itu terlihat begitu menggoda di matanya.


"Hem!" jawab Lucky seraya menangkap tangan istrinya.


Dia yang merasa kegelian langsung terbangun dari tidurnya, hasrat yang tadi malam sudah terpuaskan, kini kembali muncul. Dia kembali menginginkan istrinya.


Liliu mengerjapkan matanya, dia tidak menyangka jika Lucky langsung menangkap tangannya. Padahal, dia mengira jika suaminya masih terlelap dalam tidurnya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Liliu dengan kaget.


Lucky membuka matanya, dia menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh dengan kabut gairah. Tubuh polos mereka yang begitu menempel membuat hasrat Lucky dengan mudahnya naik sampai ke ubun-ubun.


"Hem, kamu membuat aku dan dia bangun." Lucky langsung naik ke atas tubuh istrinya, lalu dia mengungkung pergerakan tubuh istrinya.


Dia tatap wajah istrinya dengan penuh cinta, lalu dia usap pipi Liliu sampai ke bibirnya. Dia tidak menyangka bisa jatuh cinta kepada wanita barbar seperti Liliu.


"Eh? Kamu mau apa?" tanya Liliu yang merasa was-was kala milik suaminya terasa keras dan mengganjal pada bagian tubuh bawahnya.

__ADS_1


Terlebih lagi saat melihat tatapan mata Lucky yang begitu lapar, hal itu membuat Liliu ketar-ketir. Dia takut jika suaminya itu akan kembali memberikan kenikmatan yang luar biasa untuk dirinya.


Dia takut lupa waktu, karena ternyata setiap kali Lucky memberikan kenikmatan surgawi, Liliu seakan tidak ingin berhenti untuk melakukannya.


"Mau sarapan, Yang. Pagi-pagi dia udah laper," jawab Lucky.


Lucky langsung melihat miliknya yang sudah manggut-manggut seperti memberikan kode untuk minta segera dimasukkan ke dalam sarangnya, Liliu juga melihat akan hal itu.


Dia semakin merasa was-was, terlebih lagi ketika dia melihat milik Lucky yang sudah ileran. Persis seperti bayi yang menginginkan makanan kesukaannya segera masuk ke dalam mulutnya.


"Tapi aku belum mandi, aku--"


Suara Liliu langsung menghilang ketika Lucky langsung membungkam bibir itu dengan bibirnya, tidak ada lagi kalimat protes dari bibir mungil itu karena Lucky mencium bibir istrinya dengan begitu berhasrat. Namun, dengan penuh kelembutan.


Tidak lama kemudian, hanya ada suara erangan kenikmatan yang terdengar di dalam kamar utama. Tentu saja hal itu bisa terjadi karena Lucky yang mulai memaju mundurkan pinggulnya, Liliu hanya bisa meracau mendapatkan serangan fajar dari suaminya itu.


Di lain tempat.


Sebenarnya dia bisa saja tidur di dalam kamar tamu. Namun, dia tidak mau meninggalkan istrinya sendirian. Dia takut jika tengah malam tiba istrinya menginginkan sesuatu.


Berbeda dengan Leandra, ibu hamil itu sudah terbangun dari tidurnya. Dia menatap wajah suaminya dengan begitu sedih, dia merasa berdosa karena tidak bisa tidur bersama dengan suaminya.


"Baby! Jangan menyiksa Ayah, kasihan dia. Apa kamu tidak melihat wajahnya yang tampan itu terlihat mengenaskan," ucap Leandra seraya mengusap perutnya dengan begitu lembut.


Sebenarnya Leandra begitu merindukan sentuhan dari suaminya, dia ingin mengajak Leonel untuk bermain kuda-kudaan. Namun, dia merasa tidak berdaya ketika dirinya berdekatan dengan Leonel. Selalu saja dia merasakan bau yang tidak sedap ketika berdekatan dengan suaminya itu.


Leandra turun dari tempat tidur, lalu dia menghampiri suaminya yang masih terlelap dalam tidurnya. Dia menutup hidungnya lalu duduk tepat di samping suaminya.


"Lihatlah, Baby! Bunda mau Ayah kamu, mau peluk dia. Jangan biarkan bau menyengat itu datang kembali," pinta Leandra.


Entah kenapa, pagi ini Leandra begitu menginginkan suaminya. Dia begitu mendambakan sentuhan lembut dari tangan suaminya, dia merindukan hentakkan dari milik suaminya yang selalu membuat dirinya mengerang penuh nikmat.

__ADS_1


Dengan perlahan dia menurunkan tangannya yang menutupi hidungnya, lalu dia mencium aroma tubuh suaminya.


"Wangi, kok. Ayah wangi, Sayang. Bunda berarti boleh, ya?" Izin Leandra seraya mengusap perutnya yang mulai menonjol itu.


Dengan perlahan Leandra menunduk, lalu dia menurunkan celana piyama tidur milik suaminya. Matanya langsung berbinar ketika melihat milik suaminya yang sudah berdiri dengan tegak.


Tangan nakal itu mulai menggenggam batang berurat itu, lalu mengurutnya dengan perlahan. Leandra tersenyum karena merasa konyol dengan apa yang sudah dia lakukan.


Namun, terus terang saja dia merasa senang. Dia suka dengan apa yang saat ini dia lakukan, bahkan jika bisa dia ingin segera dimasuki oleh milik suaminya tersebut.


"Engh!" terdengar lenguhan dari bibir suaminya.


Leonel bahkan sudah mulai menggeliatkan tubuhnya, dia juga terlihat mengernyitkan dahinya dengan dalam. Tidak lama kemudian matanya nampak terbuka.


"Ouch! Sayang, apakah ini nyata?" tanya Leonel seraya mengangkat pinggulnya karena Leandra memasukkan miliknya ke dalam liang bergerigi milik istrinya.


"Emm!" jawab Leandra dengan gumaman saja, karena mulutnya penuh dengan eskrim coklat yang sangat enak itu.


"Hentikan, Leandra! Aku tidak kuat," keluh Leonel.


Leonel langsung bangun, lalu dia mendorong wajah Leandra agar miliknya terlepas dari bibir istrinya. Tanpa banyak bicara Leonel langsung membopong tubuh istrinya dan merebahkannya di atas tempat tidur.


"Kamu kok nakal banget sih!" ucap Leonel seraya melucuti kain yang melekat di tubuh istrinya.


"Pengen!" rengek Leandra.


"Akan aku kasih, tapi... apakah Baby memperbolehkannya?" tanya Leonel seraya mengusap perut istrinya.


"Katanya boleh, soalnya Bunda-nya udah ngga tahan mau main kuda-kudaan sama Ayah." Leandra tersenyum malu-malu setelah mengatakan hal itu.


"Oh ya ampun! Ayah juga mau," ucap Leonel yang langsung melucuti pakaian yang dikenakan dan melemparkannya secara asal.

__ADS_1


__ADS_2