Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 66


__ADS_3

"Kak, aku cantik tidak?" tanya Leandra.


Leonel yang sedang menunduk seraya memainkan ponselnya langsung menolehkan wajahnya ke arah Leandra, untuk sesaat dia diam terpaku melihat Leandra yang ada di hadapannya.


Leandra terlihat begitu cantik dengan gaun pengantin yang dia pakai, dia bahkan terlihat seksi dengan bahunya yang terlihat terekspos.


Dadanya menyembul karena bra yang dia pakai memang kekecilan, sungguh Leandra nampak anggun di mata Leonel.


Melihat Leonel yang hanya diam saja, Leandra terlihat menautkan kedua alisnya. Leandra merasa bingung karena Leonel malah terdiam seraya menatap wajahnya dengan lekat.


"Kak, kenapa diam saja? Aku cantik tidak dengan gaun yang aku pakai ini?" tanya Leandra.


Mata Leonel terus aja tertuju pada wajah cantik Leandra, dia bahkan tidak berkedip sama sekali. Dia seakan sedang menikmati keindahan yang tersuguh di depan matanya.


"Cantik, kamu sangat cantik," celetuk Leonel.


Leandra terkekeh, dia merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Terlebih lagi kata pujian itu terlontar dari bibir Leonel.


"Hah? Benarkah?" tanya Leandra tidak percaya.


Wajah Leandra langsung berbinar ketika Leonel mengatakan dirinya cantik, dia bahkan sampai bertanya karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Menyadari akan kesalahannya, Leonel langsung meralat ucapannya.


"Eh? Maksudku bukan kamu yang cantik, tapi bajunya. Bajunya sangat cantik, tapi kalau bisa bajunya diganti saja. Soalnya belahan dadanya terlalu rendah, pundak kamu juga terlalu terekspos," ucap Leonel dengan salah tingkah.


Padahal awalnya Leandra sudah begitu senang dengan apa yang dikatakan oleh Leonel, tetapi setelah pria itu meralat ucapannya Leandra langsung mengerucutkan bibirnya. Lalu dia menghampiri Leonel seraya menghentak-hentakkan kedua kakinya.


"Aku suka gaun ini, aku nggak mau ganti gaun ini dengan gaun mana pun. Mau pundak aku terekspos kek, mau belahan dadanya rendah kek, aku tidak peduli!" kesal Leandra.


Leonel hanya bisa terdiam seraya menatap Leandra yang terlihat begitu kesal saat menatap dirinya, dia tidak tahu harus berkata apa.


Berbeda dengan Leandra, setelah mengatakan hal itu dia meninggalkan Leonel. Lalu dia meminta tolong untuk membantu dirinya membuka gaun pengantin yang sempat dia coba itu.


Gaun yang sangat indah, tetapi terasa sulit saat dia pakai dan dia lepaskan dari tubuhnya tanpa bantuan orang lain. Setelah itu, dia meminta pelayan untuk mengemas gaun cantik itu ke dalam tootbag.


"Aku mau langsung pulang, Kakak bayar gih gaun pengantinnya!" ucap Leandra ketika sudah berada di hadapan Leonel.


Setelah mengatakan hal itu, Leandra langsung keluar dari butik tersebut dan masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Leonel. Leonel hanya bisa tersenyum kecut seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Kenapa dia terlihat sangat marah? Apakah aku salah bicara?" tanya Leonel tidak paham.


Setelah mengatakan hal itu, Leonel membayar gaun pengantin yang Leandra bawa. Dia juga membeli tuksedo untuk dia pakai esok hari, lalu dia berpamitan untuk pergi.


Leonel langsung menyusul Leandra, lalu dia duduk tepat di samping wanita itu. Leandra seolah tidak peduli dengan kehadiran Leonel, dia hanya duduk seraya menatap lurus ke arah depan.

__ADS_1


"Kenapa wajah kamu terlihat bete sekali? Apakah aku membuat kesalahan?" tanya Leonel.


"Tidak sama sekali," jawab Leandra singkat.


Leonel merasa bingung saat dia mendengar jawaban dari Leandra, gadis itu mengatakan jika Leandra tidak marah. Akan tetapi, wajahnya begitu kesal bahkan sampai tidak mau menatap dirinya.


"Kalau begitu, kamu mau pulang ke rumahku atau pulang ke rumah daddy?"


Untuk sesaat Leandra terdiam, dari pada pulang ke kediaman Harold lebih baik dia pulang ke kediaman Axton, pikirnya. Besok setelah dia resmi menikah, barulah dia pulang ke kediaman suaminya.


"Aku akan pulang ke rumah daddy saja," jawab Leandra.


Mendengar jawaban dari Leandra, Leonel hanya mencebikkan bibirnya seraya menggedikkan kedua bahunya.


Lagi pula mereka belum menikah, jadi wajar saja jika Leandra meminta untuk pulang ke rumah orang tuanya, pikir Leonel.


"Oke kalau begitu," jawab Leonel seraya menepuk pundak Lucky. Lucky yang paham langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Axton.


Selama melakukan perjalanan menuju kediaman Axton, baik Leandra ataupun Leonel hanya terdiam. Mereka terlihat begitu sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Sudah sampai, Nona. Silakan turun," ucap Lucky seraya membukakan pintu untuk Leandra.


Leandra yang sepanjang perjalanan hanya melamun saja tersentak kaget dengan apa yang dikatakan oleh Lucky, dia bahkan tidak sadar kapan Lucky memberhentikan mobilnya tepat di depan halaman kediaman Axton.


Dia juga tidak sadar kapan Lucky membukakan pintu mobil untuknya, Leandra berusaha untuk tersenyum lalu dia berkata.


"Sama-sama, Nona," jawab Lucky.


Leandra hendak turun dari dalam mobil mewah milik Leonel, tetapi niatnya dia urungkan ketika Leonel mencekal pergelangan tangan Leandra.


"Besok sore aku akan menjemputmu, dandan yang cantik. Karena kamu akan menjadi pengantin wanita untukku," pesan Leonel.


Leandra memutarkan bola matanya dengan malas, dia menatap Leonel dengan lekat lalu dia berkata.


"Sepertinya aku berubah pikiran, besok gaun pengantinnya tidak akan aku pakai karena kamu bilang gaun ini terlalu seksi," ucap Leandra seraya tersenyum manis.


Leandra merasa jika gaun pengantin yang dia pilih sangatlah cantik, tetapi dia merasa tidak suka ketika Leonel mengatakan jika baju itu begitu seksi saat dia pakai.


"Eh? Kok gitu? Maksud kamu, kamu mau membeli gaun pengantin baru lagi?" tanya Leonel beruntun.


Leandra langsung menggelengkan kepalanya mendengar apa yang tanyakan oleh Leonel, tidak lama kemudian dia tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke arah telinga pria dewasa itu.


"Sepertinya, besok di acara pernikahan kita aku mau memakai baju daster milik ibu Lili saja. Rasanya daster milik ibu Lili lebih sopan dan tertutup," jawab Leandra.

__ADS_1


Leonel langsung membulatkan matanya dengan sempurna kala mendengarkan perkataan dari Leandra, rasanya tidak lucu sekali jika Leandra memakai daster saat mereka menikah.


Pernikahan mereka memang bukan didasari rasa cinta, tetapi setidaknya mereka harus berpakaian dengan baik di hari yang sangat sakral itu.


"Jangan!" teriak Leonel tanpa sadar.


"Kenapa?" tanya Leandra seraya menatap wajah Leonel dengan intens.


Leonel mendadak gugup mendapatkan tatapan seperti itu dari Leandra, dia baru menyadari jika warna mata Leana dan juga Leandra ternyata sama. Hal itu membuat jantung Leonel berdetak dengan sangat cepat.


"Tidak apa-apa, hanya saja lebih baik kamu memakai gaun pengantin yang baru saja kamu beli. Aku lebih setuju dari pada kamu pakai daster," jawab Leonel.


Leandra hanya tersenyum mendengar ucapan dari Leonel, kemudian dia keluar dari dalam mobil mewah tersebut. Leonel dengan cepat ikut turun dan mengikuti langkah dari Leandra.


"Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Leandra.


"Tadi kamu belum menjawab ucapanku, apakah besok kamu mau memakai baju pengantin yang baru saja aku belikan?"


Leandra mengusap lengan Leonel, lalu dia menatap wajah Leonel. Wajah pria yang esok hari akan menjadi suaminya.


"Ya, tidak usah khawatir. Aku akan memakainya, aku tidak akan mempermalukanmu di acara pernikahan kita. Walaupun tidak ada cinta di antara kita," jelas Leandra.


Leonel langsung bernapas dengan lega mendengar apa dikatakan oleh Leandra, itu artinya dia tidak akan menikah dengan wanita yang hanya memakai daster saja.


"Sudahlah, Kakak pulang sana. Jangan urusin aku terus, lebih baik Kakak mempersiapkan diri untuk menikahi aku. Kakak harua siap secara lahir dan juga batin," kata Leandra seraya tertawa.


"Iya, aku tahu. Tapi kamu harus ingat, setelah kita menikah nanti kamu harus tinggal di rumah aku. Terus, kamu tidak boleh nakal lagi."


"Aku tidak bisa jamin, karena nakal sudah menjadi kebiasaanku," tolak Leandra.


Leonel hanya bisa menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, setelah itu dia langsung berpamitan kepada Leandra dan pergi dari sana.


Selepas kepergian Leonel, Leandra langsung masuk ke dalam kediaman Axton. Saat dia melewati ruang keluarga, dia hanya melihat ibunya yang sedang duduk seraya menonton televisi.


"Mom, daddy mana?" tanya Leandra seraya duduk di samping Lindsay dan memeluk wanita paruh baya itu.


"Di rumah Leon," jawab Lindsay dengan santai.


Leandra merasa tidak setuju jika tuan Lincoln harus berduaan saja dengan Lili, karena dia takut jika tuan Lincoln akan benar-benar meninggalkan ibunya.


"Ngapain sih, daddy berduaan sama tante Lili?" tanya Leandra.


"Sudahlah, Sayang. Jangan dibahas lagi, kamu juga tahu kalau Mom sudah melakukan kesalahan yang besar di masa lalu, biarkan sekarang daddy bahagia dengan cintanya," ucap Lindsay dengan tegas.

__ADS_1


Leandra yang masih merasa tidak setuju jika daddynya memilih untuk berpisah dengan Lindsay langsung melayangkan protesnya, dia masih ingin berusaha agar kedua orang tuanya bisa bersatu tanpa ada Lili.


"Tapi, Mom--"


__ADS_2