
"Lalu, kenapa kamu bisa tahu?" tanya Leonel dengan penasaran dan perasaan campur aduk.
Leonel tidak menyangka jika Leandra akan mengatakan hal seperti itu, hal yang membuat dirinya begitu kaget, terluka dan juga merasa sangat bodoh.
"Karena aku---"
"Leandra! Leon! Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa sangat lama?" tanya Lili yang takut jika Leandra dan juga Leonel akan melakukan hal yang tidak-tidak.
Mendengar Lili yang berteriak di balik pintu, sontak Leandra langsung melompat dari tubuh Leonel. Lalu, dengan cepat dia membukakan pintu kamar Leonel tersebut.
Begitupun dengan Leonel, dia terlihat merapikan penampilannya lalu mengusap air matanya yang masih menggenang.
Dia tidak mau terlihat lemah di mata Lili, wanita yang selalu berusaha untuk menguatkan dirinya.
sungguh Leonel saat ini merasakan rasa kecewa yang luar biasa, rasa sakit hati dan merasa kecolongan karena yang merebut cinta pertamanya adalah sahabatnya sendiri.
Dia tidak menyangka jika ternyata alasan Lyra untuk pergi ke luar negeri adalah untuk hidup bersama dengan Lukas, bukan untuk mengejar cita-citanya.
Ada perasaan kesal kepada Leandra yang sudah mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi ada juga sebuah rasa lega di dalam hatinya.
"Kalian lagi ngapain sih? Kenapa pintunya pakai dikunci segala? Tante kan, jadi khawatir," ucap Lili seraya memperhatikan penampilan Leandra dari atas sampai ke bawah
Dia bisa bernapas dengan lega ketika melihat Leandra masih berpakaian dengan lengkap, setelah itu dia juga menolehkan wajahnya ke arah Leonel.
Dia tersenyum lega, ketika melihat Leonel yang sedang duduk anteng di atas sofa seraya menyilangkan kedua kakinya.
Itu artinya tidak ada hal aneh yang terjadi di antara mereka berdua, hanya ada obrolan yang entah apa Lili pun tidak paham.
"Ayo, Sayang. Sekarang sudah waktunya kita pergi ke pemakaman," ajak Lili.
Leandra langsung tersenyum dan memeluk Lili, entah kenapa dia merasa begitu nyaman melakukan hal itu. Namun, tetap saja dia tidak rela kalau ayahnya kembali kepada Lili.
"Iya, Tante. Ayo kita pergi, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kak Leana," ucap Leandra seraya menuntun Lili agar segera pergi dari sana.
Leonel hanya bisa menghela napas berat melihat kepergian dari Lili dan juga Leandra, karena dia masih ingin mendengarkan penjelasan dari Leandra tentang Lyra.
Namun, sepertinya dia akan menghubungi Lucky saja dan meminta Lucky untuk mencari tahu tentang semuanya. Tidak lama kemudian dia pun ikut menyusul kedua wanita berbeda usia itu.
Sungguh dia tidak menyangka jika ternyata Lyra berselingkuh di belakangnya dengan Lukas, pantas saja Lukas menanyakan tentang Lyra kepada dirinya.
Ternyata Lukas begitu mengkhawatirkan Lyra yang sudah hilang selama 1 bulan lebih ini, Leonel memastikan jika Lyra tidak akan bertemu dengan Lukas.
Karena setelah dia puas bermain dengan Lyra, Leonel akan menjebloskan Lyra ke dalam penjara. Dia tidak akan membiarkan Lyra hidup tenang dan juga bebas.
__ADS_1
Apalagi jika harus melihat Lyra bahagia bersama dengan Lukas, sungguh dia tidak ikhlas. Karena menurutnya Lukas sudah benar-benar tega menghianati persahabatan mereka.
"Ya Tuhan, kabar sepenting Ini aku tidak tahu. Ini salahku, karena setiap Lucky ingin menyelidiki Lyra, aku tidak pernah mengizinkannya," ucap Leonel.
Setelah mengatakan hal itu, akhirnya Leonel menyusul Leandra yang ternyata sudah bersiap untuk pergi ke makam.
Leandra ternyata lebih memilih untuk satu mobil bersama dengan ayah dan ibunya, maka dari itu Leonel pun mengajak Lili untuk satu mobil bersama dengan dirinya.
Leonel yang merasa jika dirinya sedang berada dalam kegamangan, akhirnya meminta sopir untuk mengantarkan mereka.
Sepanjang perjalanan menuju ke pusara terakhir Leana, Leonel hanya terdiam seraya menatap kosong ke arah sembarang.
Dia benar-benar merasakan kecewa yang luar biasa setelah mengetahui tentang perselingkuhan yang terjadi antara Lukas dan juga Lyra, sungguh mereka berdua sangat luar biasa, pikirnya.
'Bodoh, aku terlalu bodoh. Aku terlalu dibutakan oleh cinta, makanya aku gampang tertipu,' rutuknya dalam hati.
Melihat Leonel yang terdiam dengan tatapan kosongnya, Lili merasa Iba. Karena walau bagaimanapun juga, Leonel adalah anak asuhnya.
Leonel adalah menantunya, Lili mengelus lembut punggung Leonel dengan penuh kasih sayang. Dia ingin memberikan rasa tenang kepada menantunya tersebut.
Tidak lama kemudian, Leonel nampak menolehkan wajahnya ke arah Lili. Dia tersenyum getir lalu memeluk Ibu dari wanita yang sudah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya itu.
"Ibu!"
Harta banyak dan juga jabatan bagus ternyata tidak menjamin jika dirinya akan bahagia dan tidak dihianati oleh wanita.
"Kenapa menangis? Kamu itu lelaki, harus kuat. Tidak boleh lemah," ucap Lili menyemangati.
"Aku hanya manusia biasa, Bu. Aku juga butuh menangis untuk meluapkan kesedihanku," jawab Leonel.
"Dasar cengeng," goda Lili.
"Bu!" protes Leonel.
"Iya, iya. Sebentar lagi akan sampai di pemakaman, hapus air mata kamu. Malu sama Lea," titah Lili.
"Sebentar lagi, aku belum puas menangis," jawab Leonel.
"Hem, menangislah sepuasmu. Agar kamu ditertawakan oleh Leandra," ucap Lili.
Leonel langsung menghentikan tangisannya, lalu dia melerai pelukannya dan mengambil tisu basah.
Benar kata Lili, dia akan sangat malu kalau Leandra melihat dirinya menangis kembali. Cukup satu kali saja Leandra melihat dirinya menangis, pikirnya.
__ADS_1
Lili hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, karena ternyata Leonel masih sama. Dari dulu dia tidak pernah mau terlihat lemah di mata orang lain.
"Silakan, Tuan." Pak sopir terlihat membukakan pintu mobil untuk Leonel.
"Terima kasih," ucap Leonel.
Leonal turun dari mobil mewahnya, lalu dia menggandeng tangan Lili menuju pusara terakhir istri tercintanya.
Tuan Lincoln yang melihat akan hal itu terlihat mengepalkan kedua tangannya, entah kenapa dia merasa cemburu melihat kedekatan antara Leonel dan juga Lili.
Padahal, Leonel sempat bercerita jika Lili datang ke kediaman Harold untuk mengasuh dirinya.
Sudah barang tentu mereka berdua sangat dekat, seperti ibu dan anak. Namun, Leonel tetaplah seorang pria. Hal itu membuat tuan Lincoln merasa cemburu.
Ingin rasanya dia yang merangkul pundak Lili dan membawanya ke dalam pelukannya, karena sudah dapat dipastikan jika wanita itu akan merasa sangat bersedih ketika melihat makam putri mereka.
Sayangnya, dia tidak bisa melakukan hal itu. Karena di sana ada Lindsay dan juga Leandra yang harus dia jaga perasaannya.
Lindsay sempat memperhatikan raut wajah tuan Lincoln, dia sangat sadar jika suaminya itu sedang menahan gejolak amarah di dalam hatinya.
Dia mendekatkan diri ke arah suaminya, lalu dia berjinjit dan berbisik tepat di telinga tuan Lincoln.
"Jika kamu ingin lebih dekat dengan Lili, aku tidak keberatan," ucapnya.
Setelah mengatakan hal itu, Lindsay langsung mempercepat langkahnya untuk menyusul Leonel dan juga Lili yang kini sudah berdiri tepat di pusara terakhir anak dari istri pertama suaminya.
Leandra yang melihat akan hal itu merasa keheranan, bahkan dia langsung mendekati ayahnya dan bertanya.
"Mom itu kenapa?" tanya Leandra.
Tuan Lincoln hanya menggedikkan kedua bahunya untuk menjawab pertanyaan dari putrinya itu, lalu dia merangkul kedua pundak putrinya dan menuntunnya agar berjalan lebih cepat menuju pusara terakhir Leana.
"Hai Leana, Sayang. Aku datang lagi, kali ini aku datang dengan Ibu, daddy kamu, Tante Lindsay dan juga adikmu yang jelek dan juga cerewet," ucap sapa Leonel.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, Leandra terlihat begitu kesal. Dia bahkan langsung menatap pusara Leana dengan lekat kemudian dia berkata.
"Ck! Hai Kakakku, Sayang. Maaf aku baru datang di saat kamu sudah tiada, aku hanya mau bilang. Aku sangat senang saat mengetahui jika aku punya saudara, tapi aku tidak suka saat mengetahui jika suami Kakak adalah tuan jelek yang hobinya godain orang!" ucapnya seraya melirik sinis ke arah Leonel.
Leonel langsung memutarkan bola matanya dengan malas ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, dia mengusap nama istrinya lalu berkata.
"Aku ngga jelek dan suka godain orang, Sayang. Aku---"
Tiba-tiba saja Leonel terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa karena dia merasa seperti melihat Leana yang sedang berjalan dan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Lea," ucap Leonel dengan senyum yang mengembang di bibirnya.