
Hanya kopi yang ingin dia nikmati, karena perutnya terasa belum lapar. Setelah memesan kopi, dia memilih untuk duduk di depan Kafe. Karena di sana dia bisa langsung menatap hamparan sawah yang begitu hijau.
Hal yang mengingatkan dirinya dengan kampung halamannya, sudah hampir 2 tahun dia tidak pulang. Karena memang dia begitu enggan untuk pulang ke sana, padahal masih ada kedua orang tuanya.
Bukannya tidak rindu, hanya saja dia masih enggan untuk bertemu dengan wanita yang pernah meninggalkan dirinya demi pria lain.
Wanita yang sangat dia kagumi, sayangnya saat itu keadaan Lucky memang di bawah dari pria pilihan wanita itu.
"Lucky, sedang apa kamu sendirian di sini?"
Lucky mengernyitkan dahinya, rasanya suara itu adalah suara yang dulu selalu ingin dia dengar. Dengan cepat Lucky menolehkan wajahnya ke arah suara, wajahnya langsung berubah lebih muram ketika menatap wajah orang itu.
"Aku sedang berlibur, kamu sedang apa di sini? Kenapa kamu ada di sini?'' tanya Lucky
Bukannya menjawab pertanyaan dari Lucky, wanita itu malah memindai penampilan Lucky dari atas sampai bawah.
Dia tersenyum karena Lucky terlihat lebih tampan, bahkan penampilannya terlihat jauh lebih baik saat mereka terakhir bertemu.
Saat ini Lucky memakai kemeja berwarna hitam dipadupadankan dengan kemeja berwarna yang sama, rambut Lucky yang dulu terlihat gondrong, ini terlihat lebih rapi.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Lucky dengan tatapan penuh tanya.
Wanita itu terkekeh mendengar pertanyaan dari Lucky, lalu dia duduk tepat di samping Lucky tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada pria itu.
"Aku tinggal sementara di sini, menemani suamiku yang sedang dipindah tugaskan." Wanita itu tersenyum seraya mengusap paha Lucky.
Mendapatkan perlakuan seperti itu Lucky langsung menggeser letak duduknya, dulu memang dia begitu menyanjung wanita itu.
Akan tetapi, wanita itu kini sudah menikah tetapi kelakuannya sangat tidak pantas di hadapannya. Wanita itu lebih mirip seorang wanita penghibur daripada seorang istri.
"Kenapa malah menjauh? Bukankah dulu kamu selalu ingin berdekatan dengan aku?" tanya wanita itu dengan percaya diri.
"Maaf, Luna. Mungkin dulu aku memang selalu ingin dekat dengan kamu, karena kamu dulu memang kekasihku. Namun, sekarang kamu sudah menikah. Bahkan, seharusnya kamu sudah punya anak. Jadi, sudah sewajarnya aku tidak berdekatan denganmu."
Sengaja Lucky mengatakan hal itu, agar Luna sadar jika di antara mereka kini sudah tidak boleh ada interaksi berlebihan. Kecuali hanya bertegur sapa saja.
"Kenapa seperti itu? Bukankah dulu kamu begitu mencintai aku? Kenapa sekarang kamu tidak mau dekat denganku?" tanya Lua lagi.
Lucky hanya menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Luna, tidak sadarkah wanita itu jika mereka berdekatan kembali akan sangat berbahaya.
Karena Luna merupakan wanita yang sudah bersuami, karena tidak mau meladeni wanita seperti itu, akhirnya Lucky memutuskan untuk segera pergi dari sana.
'Kenapa aku dulu bisa begitu mencintai wanita seperti itu? Apakah dulu aku terlalu buta karena cinta?' tanya Lucky dalam hati.
Padahal dia ingin sekali bersantai sebelum masuk ke dalam kamar penginapan yang sudah dipesan oleh Leonel, tetapi dia rasa istirahat di dalam kamar akan terasa lebih baik daripada harus meladeni wanita seperti Luna.
"Oh ya ampun," keluh Lucky saat dia membuka pintu kamarnya.
Mulut Lucky kini menganga dengan lebar, bahkan matanya langsung melotot kala dia melihat tempat tidur super besar bertaburkan kelopak bunga mawar.
"Hastaga! Dasar atasan kurang ajar, dia benar-benar menggodaku." Lucky segera masuk dan menyapukan kelopak bunga mawar yang ada di atas tempat tidur.
__ADS_1
Setelah itu, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sepertinya mengguyur tubuhnya dengan air hangat adalah hal yang terbaik, setelah itu barulah dia akan keluar untuk mencari makan malam.
Di kamar lainnya
Leonel sedang memeluk Leandra dengan posesif, keduanya masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.
Sesekali Leonel akan menunduk dan mengecupi pundak polos istrinya, dia sungguh bahagia karena bisa menikmati masa liburannya dengan menggempur istrinya.
"Kakak sonoan napa? Kaki aku gemetaran tau? Kayaknya kalau jalan pasti bakalan susah deh," keluh Leandra.
Dia merasa sangat kesal terhadap suaminya itu, Leonel memang melakukannya hanya satu kali saja. Namun, Leonel melakukannya dalam durasi waktu yang lama.
"Aih! Sekarang kamu ngeluh, tadi keenakan." Leonel mencubit hidung Leandra dengan gemas.
Wajah Leandra nampak ditekuk, bagaimana mungkin dia bisa menolak rasa nikmat yang diberikan oleh suaminya. Namun, tetap saja sekarang badannya terasa sangat pegal. Apalagi kakinya terasa sulit untuk digerakkan.
"Ck! Tapi tadi aturan Kakak ngga usah angkat kaki aku lama-lama, jadinya lemes akunya. Mana paha akunya diteken lama banget, sekarang berasa sakit dan pegal," keluh Leandra.
Leonel mengusap-usap punggung Leandra, dengan seperti itu dia berharap istrinya tidak akan marah lagi kepada dirinya.
"Kamu tuh protes mulu, enak tau, Yang. Mentok banget ampe dalem, lagian tadi kamu juga teriak-teriak keenakan. Rambut aku juga sampai dijambak-jambak, masa sekarang kamu malah protes!" keluh Leonel.
Wajah Leandra memerah saat mendengar ucapan dari suaminya, karena hal itu memang benar adanya.
"Kakak tuh ngomong terus, aku jadi sebel. Mandi yuk, Kak. Abis itu makan malem, laper." Leandra mengelus lembut perutnya.
Leonel tersenyum menggoda, dia bahkan mulai mengelus lembut dada istrinya. Sesekali dia remat dan dia pilin ujung dada istrinya.
Leandra langsung mencubit gemas dada suaminya, dia itu sedang berusaha untuk mengeluh agar suaminya merasa kasihan terhadap dirinya. Namun, Leonel malah ingin mengajak dirinya untuk kembali bercinta.
"Ogah ah, pegel. Kaki aku beneran udah gemetaran, nanti aku ngga bisa jalan." Leandra merajuk, tapi tangannya malah mencubit coco chip di dada Leonel.
"Aww! Kamu tuh nakal banget, nanti aku pengen lagi jangan salahkan aku," ucap Leonel dengan wajah cemberutnya.
"Pokoknya jangan lagi, kalau minta lagi aku bakalan minta dianterin kak Lucky buat pulang," ancam Leandra
"Jangan, pokonya ngga boleh. Iya, aku ngga minta dulu. Sekarang kita mandi, tapi... bisakah kamu mengganti panggilan untukku?" tanya Leonel.
"Maksudnya?" tanya Leandra tidak paham.
"Panggil aku Sayang, atau Mas, atau Baby. Atau Honey," pinta Leonel.
Leandra langsung mencebikkan bibirnya mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, menurutnya itu terlalu lebay.
"Iewww! Kakak Lebay," keluh Leandra
"Ngga lebay, Sayang. Kamu tuh masa manggil aku sama Lucky dengan panggilan yang sama!" protes Leonel.
Leandra terdiam mendengar kalimat protes dari suaminya, karena hal itu memang benar adanya. Akan tetapi, dia belum menyiapkan panggilan sayang untuk suaminya tersebut.
"Nanti aku pikirkan mau panggil Kakak apa," ucap Leandra seraya mengusap perut Leonel.
__ADS_1
"Kamu tuh nakal banget, jangan diusap-usap terus perut akunya. Nanti aku pengen lagi," ucap Leonel.
Dia merasa kesal karena dari tadi Leandra seakan terus saja menggoda dirinya, padahal gadis itu sudah berkata sangat lemas.
"Ngga apa-apa, nakalnya sama suami sendiri." Leandra menggigit coco chip milik suaminya.
"Ouch! Nakal," ucap Leonel yang langsung mensejajarkan wajahnya dengan dada Leandra.
Lalu, tanpa ragu dia menyesap ujung dada istrinya yang sejak tadi menggoda dirinya. Leandra langsung kelabakan, karena ternyata kejahilannya membuahkan hasil yang tidak baik.
Milik Leonel sudah kembali tegak, sudah dapat dipastikan jika mereka akan segera berpeluh kembali. Walaupun Leandra menolaknya, tetapi Leonel yang sudah kesal tidak mau mengampuni istrinya.
''Kakak jangan!" keluh Leandra kala milik Leonel sudah mulai menerobos masuk ke dalam liang kelembutan miliknya.
Dia tidak sadar sudah membangunkan ular beracun yang sejak tadi sudah terkulai dengan lemas, padahal niatnya hanya ingin menggoda saja.
"Panggil Sayang dulu, baru aku ngga bakalan ngajakin itu dulu," ucap Leonel mengajukan syarat.
Leandra yang malu jika harus mengucapkan kata sayang malah terdiam seraya menatap wajah suaminya, Leonel tersenyum lalu menekan miliknya lebih dalam lagi.
"Ouch! Kakak!" jerit Leandra kala Leonel langsung menghentakkan miliknya dengan dalam.
Leonel tersenyum dengan penuh kemenangan, walaupun Leandra belum mau memanggilnya sayang, tetapi dia bisa kembali merasakan nikmatnya memadu kasih dengan istrinya.
Ranjang berukuran super besar itu, kini kembali bergoyang. Tentu saja pelakunya adalah dua insan yang tanpa sadar sedang dimabuk cinta.
Di lain tempat.
Lucky yang sudah selesai mandi langsung pergi untuk mencari makan malam, perutnya terasa sangat keroncongan.
Dia sengaja pergi ke tempat yang tidak jauh dari penginapan, sebuah tempat makan yang menyediakan tempat yang sangat nyaman dan tenang.
Cocok untuk dirinya yang tidak mempunyai pasangan, di tempat itu menyediakan banyak saung. Tempatnya ada di perbukitan, sehingga dia bisa dengan mudah melihat pemandangan malam dari atas sana.
"Sepertinya di sini lebih cocok untukku, lagian tuan Leon itu aneh. Kenapa juga aku harus tinggal di sini? Padahal dia sangat tahu jika aku tidak punya pasangan,'' keluh Lucky.
Di saat Lucky sedang mengeluh, dia melihat seorang wanita yang sedang tersenyum dengan begitu manis.
Dia menengadahkan wajahnya seraya menatap rembulan yang bersinar dengan indahnya, wajahnya terlihat lebih cantik dari biasanya.
Rambutnya melambai-lambai seakan minta untuk dia elus dan dia rapikan, Lucky tersenyum lalu menghampiri gadis itu
"Hey! Kamu sedang apa sendirian di sini?" tanya Lucky.
Wanita yang sedang menengadahkan wajahnya itu langsung menatap wajah Lucky, dia terkekeh kalau melihat Lucky yang berada di sampingnya. Dia merasa jika dunia itu sangatlah sempit, karena bisa kembali bertemu dengan Lucky.
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Lucky.
"Ada seorang pria yang berkata kepadaku, aku itu tidak boleh terobsesi kepada suami orang lain. Aku harus berlibur untuk menata hati dan pikiranku," jawab wanita itu.
Mata Lucky langsung mengerjap tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, dia bahkan sampai mengusap kupingnya karena takut salah dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
"Benarkah seperti itu?" tanya Lucky untuk meyakinkan.