
Cukup lama Leandra tertawa, tetapi tawa itu berubah menjadi sebuah ketakutan ketika dia tidak melihat pergerakkan apa pun dari Leonel.
Bahkan, tubuh Leonel tidak menyembul ke atas permukaan. Leandro kembali menenggelamkan tubuhnya ke dalam air, dia begitu kaget karena melihat Leonel yang sudah pingsan.
'Hastaga, apakah dia benar-benar pingsan atau hanya menakutiku?" tanya Leandra seraya memandang wajah Leonel yang kini mulai memucat.
Setelah melihat akan hal itu, Leandra baru sadar jika Leonel benar-benar membutuhkan pertolongan. Dia tidak sedang bermain-main.
Leandra tidak menyangka jika apa yang pernah terjadi kepada Leonel, kini terjadi kembali. Dia kembali membahayakan nyawa dari Leonel.
Setelah melihat Leonel pingsan, leandra berteriak-teriak memanggil siapa pun yang ada di sana. Sayangnya, setelah beberapa lama dia berteriak tidak ada satu pun orang yang menghampirinya.
"Shitt! Tidak adakah orang yang bisa membantuku!?" teriak Leandra.
Dengan susah payah Leandra mengangkat tubuh besar Leonel ke permukaan, dia sungguh menyesal dengan apa yang sudah terjadi pagi ini.
"Kak, maafin aku. Kak, maaf. Aku tidak tahu kalau kamu beneran tidak bisa lama-lama berada di dal air," ucap Leandra dengan tangannya yang terus saja menekan dada Leonel.
Dia berharap Leonel akan segera sadar setelah mengeluarkan air yang tertelan oleh pria itu, dia melakukan hal itu seraya menangis sesenggukan.
Dia bener-bener kesal terhadap dirinya sendiri, dia merutuki dirinya yang tidak pernah bisa mengontrol emosinya. Dia sangat kesal karena dia selalu saja ingin mengerjai orang lain.
"Kak, bangun. Jangan buat aku takut," ucap Leandra seraya mengusap ingusnya dengan punggung tangannya.
Cukup lama Leandra memberikan pertolongan pertama kepada Leonel, sayangnya pria itu tetap saja tidak sadarkan diri.
Leandra begitu panik, dia takut jika Leonel akan mati saat itu juga. Namun, beberapa kali dia memeriksa urat nadi Leonel, ternyata masih terasa berdetak.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?"
Leandra mengedarkan pandangannya, ia berharap bisa menemukan seseorang untuk membantu dirinya. Dia benar-benar kesal karena di rumah megah itu tidak ada satu pun orang yang mendengar teriakannya.
"Bi! Bibi! Tolong aku, Bi," teriak Leandra. Dia berharap ada yang menghampirinya saat itu juga, dia sudah hampir putus asa.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, ada tiga orang pelayan perempuan yang menghampiri Leandra. Mereka pun membantu Leandra untuk mengangkat tubuh Leonel yang sangat besar itu agar masuk ke dalam kamar utama.
Keempat perempuan itu bersusah payah untuk menggotong tubuh besar Leonel, saat tiba di dalam kamar, Leonel langsung dibaringkan di atas tempat tidur.
"Oh, astaga! Pinggangku seakan mau patah," keluh Leandra.
Tubuh Leandra sangatlah mungil, wajar saja jika dia merasakan pinggangnya akan patah. Beruntung ketiga pelayan yang membantu Leandra memiliki postur tubuh yang besar.
"Bibi juga sama, Non. Badan tuan tinggi besar begitu, jadinya ngangkatnya ampe turun bro." Setelah mengatakan hal itu, pelayan itu langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Dia takut jika Leandra akan marah padanya, tetapi nyatanya tidak. Leandra hanya tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh bibi.
"Hem, aku tahu. Sekarang aku minta tolong, Bi. Tolong hubungi dokter, terus tolong panggilkan pelayan pria untuk menggantikan baju kak Leon," pinta Leandra.
Dia merasa jika pelayan pria lebih pantas menggantikan baju untuk Leonel, maka dari itu dia meminta bibi untuk memanggilkan pelayan pria yang ada di rumah megah tersebut.
"Anu, Non. Pak Liam sedang keluar, dia izin mau menemui istrinya yang mau melahirkan. Pak sopir juga ngga tau ke mana," jawab salah satu pelayan.
Mendengar jawaban dari bibi, Leandra langsung menepuk jidatnya. Dia tidak habis pikir di rumah semegah itu tidak ada satupun pelayan pria.
"Iya, Non. Baik, kami akan segera memanggil dokter," ucap salah satu pelayan tersebut.
"Iya, cepatlah!" pinta Leandra.
Setelah mengatakan hal itu ketiga pelayan itu nampak keluar dari dalam kamar Leonel, sedangkan Leandra terlihat membantu Leonel untuk membuka bajunya.
Tangan Leandra dengan ragu membuka kancing kemeja yang Leonel pakai, dia merasa tidak tenang ketika melihat tubuh bagian atas Leonel yang kini terekspos.
"Sadar, Leandra! Jangan mikir yang aneh-aneh, ini keadaan darurat." Leandra merasakan sekujur tubuhnya memanas.
Leandra bahkan langsung menutup matanya ketika dia mencoba membuka celana panjang yang Leonel pakai, rasanya begitu aneh ketika dia melakukan hal itu.
Ketika Leandra telah selesai membuka semua kain yang melekat di tubuh Leonel, Leandra nampak mengerjap-ngerjapkan matanya saat melihat tubuh polos Leonel.
__ADS_1
Apalagi ketika dia melihat benda aneh yang berada di kedua pangkal paha Leonel, dia langsung bergidig ngeri.
"Hastaga! Masih dalam keadaan tidur saja dia terlihat besar, apalagi kalau sudah bangun. Hiih!" ucapnya bergidig seraya menarik selimut dan menutupi tubuh polos Leonel sampai sebatas dada.
Dia tatap wajah Leonel yang terlihat memerah, tetapi bibirnya terlihat memucat. Tidak lama kemudian, dia melihat Leonel mulai menggerakkan kepalanya dengan perlahan.
"Kak, kakak sudah sadar. Pingsannya jangan lama-lama, Kak. Aku takut," ucap Leandra seraya mengusap lengan Leonel.
Leandra langsung memelototkan matanya, karena ternyata tangan Leonel terasa sangat panas. Dia langsung mengusap dahi Leonel yang memang terasa sangat panas.
"Oh Tuhan, dia demam. Sepertinya aku harus mengambilkan air hangat untuk mengompres tubuhnya," monolog Leandra.
Baru saja Leandra handak beranjak untuk pergi ke dapur, tetapi niatnya dia urungkan. Karena dia mendengar Leonel merintih seperti orang kesakitan.
"Jangan tinggalkan aku, Lea. Aku kedinginan, ini sangat dingin. Aku merasa jika tubuhku mau beku," ucap Leonel seraya menggenggam tangan Leandra dengan tubuh yang menggigil.
Leandra kebingungan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leonel, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Cukup lama Leandra terdiam seraya memperhatikan wajah Leonel yang kini nampak menyedihkan, tidak lama kemudian dia pun berkata.
Tunggu sebentar, aku hanya akan mengambil minyak hangat untukmu. Aku akan membaluri tubuhmu dengan minyak hangat, abia itu aku akan memakaikan kamu baju. Siapa tahu kamu akan cepat sembuh," ucap Leandra seraya berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Leonel.
"Dingin, ini sangat dingin. Rasanya aku sudah tidak kuat," ucap Leonel dengan suara yang semakin lemah. Namun, genggaman tangannya terasa begitu kuat.
Leandra semakin ketakutan mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, dia benar-benar takut jika Leonel akan mati saat itu juga.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung," ucap Leandra dengan cemas ketika melihat wajah pria itu semakin memucat dengan bibir yang mulai membiru.
"Lea, Sayang. Peluk, Mas, Lea. Mas kedinginan," ucap Leonel dengan suara yang bergetar.
Leonel sudah mulai meracau dengan tidak jelas, hal itu membuat Leandra benar-benar semakin ketakutan.
"Berpikirlah Leandra, berpikir. Apa yang harus kamu lakukan saat ini? Haruskah aku memeluknya?" tanya Leandra dengan bingung.
__ADS_1
Di saat kebingungan seperti itu, Leandra teringat akan dirinya yang sedang demam di saat dia kecil. Lindsay membuka bajunya dan membuka baju Leandra, kemudian Lindsay memeluk Leandra seraya mengecup puncak kepala Leandra.
"Oh ya Tuhan, haruskah aku melakukan hal itu? Haruskah aku membuka baju dan memeluk kak Leon?" tanya Leandra.