
Leandra terlihat memelototkan matanya seraya menatap tangannya yang kini sedang berselancar pada perut sixpack Leonel, bibirnya bahkan terlihat menganga lebar.
Dia merasa tidak percaya jika kini dirinya sedang melakukan hal yang membuat jantungnya terasa berdebar dengan sangat kencang, napasnya terasa sesak dan tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering.
"Seksi tidak?" tanya Leonel.
Leandra menelan ludahnya dengan susah mendengar pertanyaan seperti itu dari Leonel, sungguh Leandra bisa terkena serangan jantung jika terus diperlakukan seperti itu oleh Leonel.
Namun, dia terlihat menghela napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Dia berusaha untuk menjaga kewarasannya.
"Tidak seksi, mana ada perut kaya gini seksi!" oceh Leandra seraya menganggukan kepalanya.
Bibirnya boleh berkata tidak seksi, tapi anggukkan kepalanya mengiyakan jika Leandra bergitu mengagumi otot-otot perut Leonel.
Leonel ingin sekali tertawa melihat tingkah dari Leandra, tapi dia berusaha untuk menahannya. Tangan Leonel kembali menuntun tangan mungil Leandra untuk mengusap otot-otot lengannya yang terlihat kekar.
"Iya, iya. Tidak seksi, lalu bagaimana dengan lenganku ini, kekar bukan?" tanya Leonel.
Leonel terus saja mengusap-usapkan telapak tangan Leandra pada otot lengannya, dia ingin melihat reaksi dari gadis itu.
"Tidak kekar, kok! Lembek," jawab Leandra seraya menganggukan kepalanya lagi.
Untuk kali ini Leonel tidak bisa menahan tawanya, dia langsung tertawa dengan terbahak-bahak. Karena Leandra benar-benar terlihat seperti orang bodoh.
"Eh? Kenapa kamu tertawa, Tuan?" kesal Leandra dengan kedua alisnya yang tertaut.
Dia merasa aneh karena Leonel malah tertawa, padahal Leandra tidak memuji Leonel sama sekali. Justru dia malah sengaja menghina bentuk tubuh Leonel untuk menghilangkan kegugupannya.
Saat telapak tangannya menyentuh otot-otot tubuh Leonel, Leandra benar-benar mengaguminya. Namun, dia tidak mau mengakuinya.
"Kamu tuh lucu, bilangnya ngga seksi, tapi kamu menganggukkan kepala kamu. Jangan munafik, jika kamu mengagumi tubuh indahku ini, kamu tinggal mengatakannya." Leonel tersenyum meledek.
Leandra terlihat memalingkan wajahnya seraya mengerucutkan bibirnya, rasanya untuk berkata jujur adalah hal yang sulit.
"Haish! Kepedean!" seru Leandra.
Setelah mengatakan hal itu, Leandra terlihat bangun dari duduknya dan melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju kamar yang berada di samping kamar Leonal.
Setelah masuk ke dalam kamar tersebut, Leandra terlihat menutup pintunya dan menguncinya. Lalu, dia terlihat menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar tersebut.
"Hastaga, jantung gue!" keluh Leandra seraya menepuk-nepuk dadanya dengan lumayan kencang.
Dia tidak menyangka jika dirinya bisa merasakan yang namanya jantungnya berdebar dengan sangat kencang seperti itu, padahal selama ini dia belum pernah merasakan hal tersebut.
Bahkan, saat dia dekat dengan pria yang paling populer di sekolahnya pun, dia tidak merasakan jantungnya berdebar dengan cepat seperti itu.
"Ya ampun, ya ampun. Ada apa denganku? jangan bilang kalau aku terkena serangan jantung?" tanya Leandra seraya mengusap-usap dadanya.
Leandra terlihat menggigit bibir bawahnya, dia sedang berpikir harus bersikap seperti apa kepada Leonel, pria yang sudah membuat dirinya kesal, malu dan juga salah tingkah itu.
__ADS_1
"Mending aku telpon Mom saja, ya... itu akan lebih baik kayaknya," ucap Leandra seraya mengedarkan pandangannya.
Leandra tersenyum, karena ternyata tas ransel miliknya ada di atas sofa. Dengan cepat dia duduk di atas sofa lalu mengambil ponselnya.
Dia menekan nomor Lindsay, karena ingin sesegera mungkin berbicara dengan ibunya itu. Dia ingin mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
"Ya, Sayang. Apa kamu sudah sampai? Kamu baik-baik saja, kan? Tuan Leonel tidak kurang ajar, kan?" terdengar suara Lindsay menyapa Leandra dengan pertanyaan yang sejak tadi ingin dia lontarkan.
Ingin sekali Leandra tertawa, karena ibunya itu terdengar begitu menghawatirkan dirinya dengan memberondong banyak pertanyaan.
Namun, dia sangat paham kenapa ibunya itu memberondong dirinya dengan pertanyaan. Karena sudah dapat dipastikan jika Lindsay begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Sudah sampai, Mom. Aku baik, Tuan Leonel sekarang memintaku untuk beristirahat. Dia tidak kurang ajar," jawab Leandra berusaha untuk menenangkan hati ibunya.
Terdengar helaan napas lega dari Lindsay, lalu dia berkata. "Syukurlah!"
"Percayalah aku bisa menjaga diriku, percayalah jika tuan Leonel tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh terhadapku." Leandra berkata dengan yakin, dia bahkan terlihat mengepalkan tangan kirinya dengan semangat ke udara.
Dia berani bertaruh jika Leonel tidak mungkin mempertaruhkan reputasinya di dunia bisnis dengan melakukan hal yang tidak tidak terhadap dirinya, walaupun memang Leonel terkesan iseng.
Namun, Leandra sangat yakin jika Leonel melakukan hal itu karena hanya ingin mengerjai dirinya saja.
"Yes, Mom yakin."
"Harus yakin, sudah dulu ya, Mom. Aku mencintau, Mom."
Setelah mendengar ucapan cinta dari sang mommy, Leandra langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Lebih baik aku mandi saja, setelah itu aku ke dapur untuk membantu bibi memasak."
Leandra terlihat melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, lalu dia membuka bajunya dan mengguyur tubuhnya dengan air shower.
Lima belas menit kemudian.
Leandra sudah terlihat lebih segar, dia terlihat keluar dari dalam kamar menggunakan kemeja berwarna abu-abu dipadupadankan dengan celana jeans panjang berwarna senada.
Rambutnya yang masih setengah basah dia sengaja urai begitu saja sampai menutupi punggungnya.
"Sebaiknya aku pergi ke dapur saja, siapa tahu bibi perlu bantuanku. Mengiris sayuran mungkin," kata Leandra seraya terkekeh.
Saat tiba di dapur, dia tidak menemukan seorang asisten rumah tangga pun di sana. Hanya ada Leonel yang sedang memasak, entah apa yang Leonel masak Leandra tidak tahu.
Satu hal yang Leandra tahu, wangi dari masakan itu terasa sangat enak. Perut Leandra langsung berdendang karena merasa tidak sabar untuk diisi.
"Ehm! Tuan, anda sedang apa?" tanya Leandra.
Leonel yang sedang asik memasak terlihat menolehkan wajahnya ke arah Leandra, dia tersenyum lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Cih! Ditanya diem aja," kesal Leandra.
__ADS_1
"Aku sedang memasak, tanpa bertanya pun kamu pasti tahu."
"Iya juga sih, tapi maksud aku. Itu, anu. Kenapa anda yang masak? Memangnya bibi ke mana?" tanya Leandra.
"Dia sedang pergi ke luar, katanya ada perlu." Leonel menjawab pertanyaan dari Leandra tanpa menolehkan wajahnya, dia tetap saja melakukan aktivitasnya.
"Oh, tapi, Tuan. Bukannya anda sedang sakit ya? Bahkan anda sampai meminta saya untuk merawat anda, lalu... apa yang harus aku lakukan saat ini?" tanya Leandra.
"Apa kamu bisa memasak?" tanya Leonel.
"Tidak bisa," jawab Leandra seraya menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu cukup diam dan tunggu apa yang aku masak matang," ucap Leonel seraya menghela napas berat.
"Maaf karena aku tidak bisa membantu," ucap Leandra penuh sesal.
"Tidak apa," jawab Leonel.
Leandra terlihat duduk di salah satu kursi yang ada di sana, sedangkan Leonel kembali melakukan aktivitasnya.
Setelah hampir dua puluh menit Leonel bergulat dengan alat dapur, akhirnya semua masakan yang Leonel masak sudah siap disajikan.
Dia terlihat membawa makanan yang sudah dimasak dan menatanya di atas meja makan. Leandra terlihat menatap horor ke arah piring piring yang Leonel sajikan di atas meja.
Di sana terdapat tumis jamur dicampur dengan wortel, tahu dan juga baby corn, ada juga tumis pare dicampur teri medan.
Satu menu lagi yang membuat Leandra menatap Leonel dengan penuh kekesalan, di sana ada satu piring berisikan sambel pete.
"Ini makanan apa?" tanya Leandra.
"Ini semua makanan kesukaan istriku, aku sedang rindu padanya. Jadi, aku memasaknya," jawab Leonel.
"Lalu, aku makan apa?" tanya Leandra dengan bingung. Karena dia tidak menyukai menu masakan yang tersaji di atas meja makan.
Leonel terlihat menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, saat ini Leonel tidak ingin memedulikan orang lain. Dia hanya ingin memakan masakan yang begitu disukai oleh istrinya, Leana.
"Kalau kamu tidak suka, silakan masak sendiri." Setelah mengatakan hal itu, Leonel nampak mengendok nasi beserta dengan lauk yang sudah dia masak.
Dulu juga Leonel tidak menyukai makanan tersebut, tapi seiring berjalannya waktu Leonel malah ketagihan dengan makanan kesukaan dari istrinya tersebut.
"Ya ampun, anda tega sekali. Padahal aku tidak bisa masak, perut aku juga sangat lapar. Seharusnya anda memasak makanan yang bisa aku makan," keluh Leandra.
Setelah mengatakan hal itu Leandra nampak bangun dari duduknya, kemudian dia terlihat menghentak-hentakkan kakinya seraya membuka lemari pendingin.
Berbeda dengan Leonel yang nampak acuh, dia terlihat mulai memasukkan makanan yang sejak tadi ingin dia makan ke dalam mulutnya.
Leonel mengunyah makanannya seraya memejamkan matanya, dia membayangkan wajah cantik Leana. Wanita yang begitu dia rindukan.
"Ngga ada mie instan, ngga ada telor juga. Aku makan apa dong?" tanya Leandra dengan bingung. Karena hanya dua bahan itu saja yang bisa dia masak.
__ADS_1