
Darahnya terasa berdesir, tubuhnya bahkan terasa meremang ketika dia kembali melihat video kebersamaan dirinya dengan Lucky. Pria itu nampak pasrah diperlakukan seperti apa pun oleh dirinya.
Dia memang belum bisa mengingat seperti apa hubungan dirinya dengan Lucky, tetapi saat dia melihat video kemesraan dirinya dengan Lucky, dia seakan bisa merasakan sentuhan lembut dari pria itu
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Liliu dengan bingung.
Liliu benar-benar merasa sangat bersalah sudah mengetahui Lucky pagi tadi, entah kenapa kini hatinya merasa sakit. Ingin sekali dia menemui Lucky dan memeluk pria itu.
Bahkan, dia ingin sekali meminta maaf kepada pria yang mengatakan bahwa dia adalah suaminya. Terlebih lagi saat mengingat wajah Lucky yang begitu kecewa terhadap dirinya, rasanya dia ingin bertekuk lutut di bawah kaki suaminya.
"Sayang, kenapa lama?" tanya Tuan Leonard.
Pria paruh bayar itu sejak tadi menunggu putrinya di ruang keluarga, tetapi putrinya tidak keluar sama sekali. Hal itu membuat tuan Leonard khawatir.
Liliu yang sedang asyik melamun langsung menolehkan wajahnya ke arah sang ayah, dia tersenyum kecut lalu berkata.
Sepertinya aku akan lama di sini, Dad. Daddy pulanglah terlebih dahulu, nanti kalau aku ingin pulang aku akan menelpon Daddy."
Tuan Leonard bisa melihat kegamangan hati putrinya dari sorot matanya, Liliu sepertinya memang butuh menyendiri. Dia harus memikirkan hubungannya dengan Lucky dengan tenang.
Walaupun tuan Leonard merasa khawatir akan keadaan putrinya saat ini, tetapi dia yakin kita putrinya bisa menyelesaikan masalahnya dengan Lucky.
Satu hal yang dia rasa senang, putrinya mau memutuskan untuk berdiam diri di apartemen milik suaminya tersebut. Dengan seperti itu, dia berharap jika Liliu akan segera mengingat hubungannya dengan Lucky.
"Baiklah, Dad akan pulang. Dad sangat lelah karena baru sampai dari luar kota, Kalau ada apa-apa langsung telepon Daddy," ucap Tuan Leonard pada akhirnya.
"Yes, Dad!" jawab Liliu.
Tuan Leonard memutuskan untuk segera pergi dari sana, tentunya sebelum itu dia memerintahkan dua orang bodyguard untuk berjaga di depan apartemen milik Lucky.
Takut-takut Liliu akan kabur atau melakukan hal yang tidak-tidak, karena terus terang saja dia belum percaya dengan putrinya tersebut.
Selepas kepergian tuan Leonard, Liliu mulai merapikan barang-barang yang ada di dalam kamar tersebut. Bajunya dan baju Lucky yang begitu berantakan dia pungut dan dia masukkan ke dalam keranjang kotor.
Lalu, dia duduk di tepian tempat tidur. Dia mengambil sprei dan juga selimut, dia tetap bercak darah yang sudah mengering itu. Lalu dia usap dengan lembut.
Dia memang belum mengingat kejadiannya seperti apa, tetapi dia seakan merasakan sentuhan yang membuat tubuhnya meremang ketika dia menutup matanya.
__ADS_1
"Kenapa seakan begitu nyata?" tanya Liliu seraya membawa sprei dan selimut kotor itu ke dalam keranjang kotor.
Lalu, dia mencari selimut dan sprei baru dari dalam lemari. Karena dia ingin menggantinya, tatapannya sempat terpaku kala dia melihat banyaknya lingerie seksi di dalam lemari milik Leonel.
Bahkan, ada beberapa baju miliknya yang tergantung dengan rapi di sana. Melihat akan hal itu, Liliu seakan merasa yakin dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya dan juga Lucky.
Dia adalah istri dari Lucky, dia adalah wanita yang sudah dinikahi oleh Lucky. Dia bahkan masih mengingat isi dari video yang dia tonton, dia begitu agresif saat mencumbui suaminya tersebut. Itu artinya, dia yang memulai semuanya.
"Oh, God! Aku harus meminta maaf kepada suamiku, setidaknya walaupun aku belum ingat, aku harus berbuat baik terhadap suamiku. Aku harus menjadi wanita baik, toh percuma jika aku harus mengejar Leonel. Karena pria itu juga sudah beristri," putus Liliu.
Liliu tersenyum, lalu dia mulai merapikan kamar yang terlihat berantakan itu. Setelah selesai, dia bahkan langsung merapikan semua ruangan yang ada di dalam apartemen tersebut.
Wanita yang tidak pernah melakukan apa pun di dalam hidupnya itu kini nampak sibuk, dia ingin mempersiapkan hal yang baik untuk suaminya.
Dia ingin meminta maaf dengan cara yang spesial, Liliu bahkan berencana akan memasak untuk suaminya. Lebih tepatnya ingin belajar masak.
Karena Liliu tidak tahu apa makanan kesukaan suaminya, dia menelpon tuan Leonard. Dia meminta pria paruh baya itu untuk menanyakan makanan kesukaan Lucky kepada Leonel.
Jika dia yang bertanya kepada atasan dari Lucky itu, dia takut jika Leandra akan salah paham. Entahlah, dia pun merasa tidak paham kenapa bisa memiliki perasaan seperti itu.
Setelah mengetahui makanan kesukaan dari suaminya, dia bahkan langsung menelpon salah satu pelayan yang ada di rumahnya, dia meminta pelayan itu untuk membawakan bahan-bahan makanan dan membantunya untuk memasak.
Tentu saja hal itu dia lakukan karena memang dia tidak pernah bisa memasak, bahkan untuk merebus air pun dia tidak pernah.
"Apakah semuanya sudah dibawa?" tanya Liliu ketika dia membuka pintu apartemen.
"Sudah, Nona," jawab Bibi.
"Masuklah, Bi. Bantu aku memasak, aku ingin memasak masakan yang spesial untuk suamiku," ucap Liliu.
Saya tiba di dapur, bibi dan Liliu langsung memasak. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, dia takut Lucky keburu datang dan masakan yang akan dia siapkan belum matang.
Walaupun sebenarnya dia sudah meminta ayahnya untuk bertanya kepada Leonel, akan pulang jam berapa pria itu.
Leonel berkata jika Lucky akan pulang pukul 7 malam, semoga dia bisa selesai memasak dalam waktu 2 jam. Karena satu jam akan dia gunakan untuk mandi dan berdandan untuk menyambut kedatangan suaminya.
Liliu memang belum mengingat jika Lucky adalah suaminya, tetapi dia tidak paham, kenapa hatinya selalu berdebar dengan begitu kencang ketika nama Lucky disebutkan. Bahkan, ketika dia mengingat video kemesraan antara dirinya dan juga Lucky, tubuhnya kembali meremang.
__ADS_1
"Bi, jangan lupa bantu aku agar bisa bikin bakwan jagung yang krispi. Karena suamiku menyukainya," ucap Liliu.
"Siap, Nona,'' jawab Bibi seraya tersenyum senang saat melihat anak majikannya terlihat begitu bahagia.
"Oiya, Bi! Apakah Bibi menyaksikan pernikahan aku dengan Lucky?" tanya Liliu penasaran.
"Bibi tidak ikut ke gereja, tapi saat Nona makan malam di rumah dengan tuan Lucky, anda terlihat begitu mencintai suami anda. Bahkan, anda seolah tidak mau bergeser sedikit pun dari sisi tuan Lucky.
Wajah Liliu memerah ketika mendengar hal itu, dia tidak menyangka jika dirinya begitu posesif terhadap Lucky.
Di perusahaan Harold.
Lucky menyibukkan dirinya dengan bekerja, ya bahkan tidak mengingat untuk mengisi perutnya. Hal itu jadi karena dia begitu kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Liliu terhadap dirinya.
Padahal, satu minggu lagi dia berencana akan mengajak istrinya itu untuk berlibur ke kampung halamannya. Itu merupakan keinginan dari kedua orang tuanya.
Lalu, apa yang nantinya akan dia sampaikan kepada kedua orang tuanya, pikirnya. Padahal, mereka begitu senang ketika melihat dirinya menikah dengan Liliu.
"Ck! Kepalaku pusing sekali," keluh Lucky.
Leonel tersenyum, lalu dia menghampiri Lucky. Dia duduk dapat di hadapan sang asisten pribadinya tersebut, lalu dia berkata.
"Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, pulanglah dan beristirahatlah," ucap Leonel.
"Eh? Katanya mau ditemani lembut sampai jam 9 malam?" tanya Lucky.
"Tidak jadi, sepertinya kamu perlu pulang lebih cepat. Karena yang aku dengar apartemenmu sudah seperti kapal pecah, pulang dan rapikanlah." Leonel terkekeh setelah mengatakan hal itu.
"Anda benar, kalau begitu aku pulang," ucap Lucky.
Tubuh, hati dan pikirannya benar-benar sedang lelah. Saat ini yang dia inginkan adalah pulang ke apartemennya, dia ingin merendam tubuhnya dengan air hangat. Lalu tertidur dengan pulas.
Saat tiba di apartemennya, Lucky langsung membuka pintu apartemen tersebut. Matanya langsung mengernyit heran, karena gini apartemen ini terlihat begitu gelap.
Tidak ada cahaya sama sekali, padahal dia tidak pernah mematikan lampu depan. Satu hal lagi yang membuat dirinya semakin aneh, ada lilin yang menyala di dalam ruang makan.
"Ada apa ini? Apakah sedang mati lampu? Tapi, siapa orang yang sudah menyalakan lilin?" tanya Lucky.
__ADS_1