
Lili merasa tidak enak hati, dia bahkan terlihat menolehkan wajahnya ke arah Lain. Rasanya dia sangat malu untuk mengakui jika dirinya masih sangat lemah untuk berjalan.
Namun, dia juga merasa malu untuk mengakui jika dia membutuhkan bantuan Lukman. Lelaki yang sudah menjadi temannya semenjak dia bekerja di swalayan, dua tahun yang lalu.
"Padahal gue bisa jalan sendiri, gue ngga enak tau. Masa udah nikah malah digendong sama cowok lain, bukan sama suami gue." Lili terlihat mengerucutkan bibirnya di dalam gendongan Lukman.
Lukman tertawa melihat kelakuan Lili, bahagia, sedih dan juga kecewa. Itulah rasa yang kini bersarang di hati Lukman.
Namun, walau bagaimanapun juga dia merasa bersyukur karena Lili sudah menemukan kebahagiaannya.
"Ngga apa-apa, Lili. Seengganya gue masih berkesempatan buat meluk tubuh elu, walaupun tidak dengan hati elu."
Lili terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Lukman, begitupun dengan Lukman. Dia tidak lagi berbicara setelah mengatakan hal itu.
Beberapa saat kemudian.
"Bagaimana, Dok?" tanya Lili ketika dia sedang melakukan USG.
Lili memandang layar monitor dan wajah dokter secara bergantian, karena jujur saja dia hanya bisa menatap layar monitor tanpa tahu artinya.
"Selamat, Nyonya. Anda benar-benar sedang mengandung, usia kandungan anda sudah 8 minggu," jawab Dokter.
Lukman yang sedari tadi diam di samping dokter, langsung memelototkan matanya mendengar usia kandungan Lili.
Jika itu benar, berarti setelah menikah dan setelah tuan Lincoln membuka segel, kecebong premium milik tuan Lincoln langsung membuahi sel telur yang berada di dalam rahim Lili.
"Eh, buset? Tokcer banget tuh laki bisa langsung bikin elu bunting," ujar Lukman kelepasan.
Plak!
Satu pukulan mendarat tepat di lengan Lukman, Lili yang merasa malu dengan apa yang sudah Lukman katakan membuat dia tidak tahan untuk memukul teman kerjanya itu.
"Mulutnya tolong dijaga," ucap Lili.
Lukman langsung mengusap-usap lengannya yang terasa panas akibat pukulan dari Lili, ternyata pukulan wanita sekecil Lili bisa membuat tangannya sakit, pikir Lukman.
"Iya, sorry. Refleks gue, selamat ya," ucap Lukman seraya nyengir kuda.
"Terima kasih," ucap Lili.
Setelah memeriksakan kehamilannya, Lili berinisiatif untuk memberikan kado kepada suaminya. Kado yang sangat spesial dan pasti suaminya akan sangat suka, pikirnya.
Dia membungkus foto hasil USG dengan hasil pemeriksaan yang menyatakan jika dia hamil dalam sebuah kotak, lalu dia rias dengan pita yang terlihat begitu cantik.
Lili yang begitu bahagia berniat ingin mengejutkan suaminya, dia bahkan langsung meminta izin pulang kepada bosnya.
__ADS_1
Tentu saja hal itu dia lakukan karena Lili ingin segera memberitahukan kabar bahagia ini kepada tuan Lincoln, dia ingin segera bertemu dengan suaminya itu.
"Aku sangat yakin, pasti Alex sangat senang kalau tahu aku hamil. Bukankah dia pernah berkata jika dirinya adalah anak tunggal? Bukankah dia berkata ingin memiliki anak banyak agar tidak kesepian?" tanya Lili lirih.
Lili dengan cepat pulang ke rumahnya dengan menaiki angkot, karena memang dia tidak memiliki kendaraan.
Pada saat dia tiba di halaman rumahnya, dia benar-benar merasa kaget. Karena di sana ada dua mobil mewah yang terparkir, seingatnya dia tidak mempunyai saudara ataupun kerabat yang memiliki mobil mewah.
Kedua orang tuanya sudah meninggal, bahkan kerabat pun dia tidak punya. Dia menjadi bertanya-tanya, siapakah yang datang dan apa mungkin itu adalah sahabat dari suaminya, pikirnya.
"Sebenarnya ini mobil siapa? Apakah ada tamu yang datang? Mungkinkah sahabat atau kerabatnya Alex?" tanya Lili seraya berjalan menuju pintu.
Saat dia perhatikan, ternyata pintu rumahnya tidak tertutup. Dengan perlahan Lili melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumahnya tersebut.
Dahinya langsung mengernyit dalam, ketika dia melihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk di ruang tamu seraya menatap dirinya dengan tatapan merendahkan.
"Maaf, anda siapa ya? Kenapa anda berada di dalam rumah saya?" tanya Lili.
Pria paruh baya yang tidak lain dan tidak bukan adalah tuan Luke langsung bangun dan menghampiri Lili, dia memutari tubuh Lili seraya menatap jijik ke arah wanita itu.
"Ck! Perempuan miskin seperti ini saja dijadikan pilihan, cih! Alex memang buta," ucap Tuan Luke.
Lili ingin sekali rasanya menangis mendapatkan hinaan seperti itu dari pria paruh baya yang berada di dekatnya, tapi dia belum berani mengatakan apa pun. Karena memang dirinya merasa tidak mengenal pria itu.
"Maaf, saya tidak mengenal anda. Jadi, tolong segera pergi dari rumah saya!" pinta Lili dengan lantang.
Pria yang berpenampilan sangat rapi dan terlihat memakai baju yang begitu mahal itu menurut Lili tidak mempunyai kesopanan sama sekali, baju yang dia pakai tidak sesuai dengan ucapan yang keluar dari mulut pria paruh baya itu.
Seharusnya orang itu bisa berkata lebih sopan, bukan berkata-kata yang tidak pantas dan kasar terhadap dirinya.
"Cih! Perempuan murahan, kalau aku perhatikan kamu itu tidak ada cantik-cantiknya. Kamu pasti pake guna-guna untuk mendapatkan anak saya!" tuduhnya dengan kejam.
Lili benar-benar merasa geram dengan tuduhan yang dilontarkan oleh tuan Luke, jika saja lelaki yang berada di hadapannya bukan seorang pria paruh baya, sudah barang tentu Lili akan menampar mulutnya.
Jika perlu dia akan memberi pelajaran kepada pria paruh baya itu, sayangnya Lili masih menghormati pria yang berada di hadapannya.
"Guna-guna? Anak? Anak siapa? Siapa yang memakai guna-guna?" tanya Lili dengan bingung.
"Perkenalkan, aku adalah Luke William Axton. Aku adalah ayah dari Lincoln Alex Axton. Pria muda yang menjadi pewaris tahta kerajaan bisnis Axton," ucap Tuan Luke memperkenalkan diri dengan sombongnya.
Mendengar kata Axton disebutkan, Lili sangat paham jika Axton adalah sebuah perusahaan besar di tanah air yang bekerja di bidang makanan siap saji.
Setahunya keluarga Axton itu sangatlah kaya, lalu apa hubungannya dengan dirinya. Kenapa tiba-tiba ada orang yang datang membawa banyak kebingungan untuk dirinya.
Dia benar-benar merasa tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh pria paruh baya itu, dia merasa semua ucapan yang keluar dari bibir pria di hadapannya itu sangat memusingkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidak paham, sebenarnya apa yang terjadi? Sebenarnya anda siapa? Tolong jelaskan semuanya dengan benar, aku tidak paham." Lili memeluk kado yang akan dia berikan untuk tuan Lincoln dengan perasaan yang mulai berkecamuk.
"Dasar gadis bodoh! Suamimu adalah putraku, dia rela meningglkan rumah demi dirimu. Dasar perempuan pembawa sial, sekarang tinggalkan putraku jika kamu memang tahu diri. Jika putraku terus bersamamu, maka aku jamin jika kalian akan sengsara seumur hidup kalian," jelas Tuan Luke dengan suara yang menggelegar.
"Suamiku, putra anda?" tanya Lili dengan syok.
"Iya, dia putraku. Sekarang pergilah yang jauh, tinggalkan putraku!" sentak Tuan Luke.
Lili merasa kesal dengan apa yang dikatakan oleh tuan Luke, ini adalah rumahnya. Ini adalah tempat tinggalnya yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.
Kenapa pria paruh baya yang berada di hadapannya itu dengan seenaknya menyuruh dia untuk pergi, padahal itu adalah rumahnya sendiri.
Ingin sekali dia marah, tapi nyatanya ketegangan yang terjadi membuat dirinya merasa jika tubuhnya malah melemah.
Bahkan, dia merasa jika perut bagian bawahnya terasa mulai kram. Namun, dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk menahannya.
"Ini rumahku, kenapa aku harus pergi?" tanya Lili dengan suara yang mulai melemah.
Tuan Luke tertawa mengejek, menurutnya wanita yang berada di hadapannya itu sangatlah sombong. Padahal, rumah yang dimiliki Lili adalah rumah yang begitu sederhana dan tidak bisa dibanggakan sama sekali.
Namun, wanita itu seakan begitu enggan untuk meninggalkan rumahnya. Padahal, dengan uang yang akan dia berikan Lili bisa membeli rumah yang mewah.
"Aku membeli rumahmu, pergilah yang jauh!" ucap Tuan Luke seraya melemparkan amplop coklat besar yang terlihat sangat tebal.
Lili langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia bukan wanita materialistis yang dengan mudahnya bisa menerima uang yang menurutnya tidak jelas.
"Aku tidak mau, di mana suamiku?" tanya Lili.
Lili tidak menerima uang yang diberikan oleh tuan Luke, amplop coklat yang berisikan uang tersebut dia lemparkan ke arah pria paruh baya yang berada di hadapannya itu.
Tuan Luke berdecih, dia merasa jika Lili benar-benar merupakan wanita yang keras kepala. Padahal, pergi dengan membawa uang yang dia berikan adalah hal yang terbaik.
Bukan bersikeras untuk bertahan dengan putranya, karena sampai kapan pun juga dia tidak akan pernah menyetujui hubungan antara putranya dengan Lili.
Baginya, Lili hanyalah terlahir dari keluarga miskin. Perempuan seperti Lili tidak pantas mendampingi putranya.
"Pergilah ke kamar dan lihat suamimu, jika memang kamu ingin bertemu dengan suamimu," ucap Tuan Luke dengan seringai mengerikan di bibirnya.
Tanpa banyak bicara, Lili langsung melangkahkan kakinya menuju kamar utama. Saat dia membuka pintu kamarnya, Lili benar-benar syok.
Dia sungguh tidak menyangka, jika suaminya kini sedang tidur bersama dengan perempuan lain di atas tempat tidur yang biasa mereka tempati.
Suaminya terlihat memeluk seorang wanita dengan sebagian tubuh atasnya yang terlihat polos, hanya selimut yang menutupi tubuh tuan Lincoln sampai sebatas pinggang.
Lili terlihat menjatuhkan kado yang hendak di berikan kepada suaminya, setelah itu dia langsung pergi dari kediamannya sendiri tanpa membawa apa pun.
__ADS_1
"Dasar perempuan bodoh!" ucap Tuan Luke dengan tawa di bibirnya.