Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 36


__ADS_3

Leonel begitu merindukan sahabatnya, Lukas. Walaupun dia begitu lelah, bahkan pikirannya terasa tidak bisa berpikir dengan benar, tapi dia tetap menyempatkan waktu untuk bertemu dengan sahabatnya itu.


Namun, ketika melihat interaksi antara Leandra dan juga Lukas, kecurigaan Leonel semakin besar. Apalagi ketika mengingat apa yang Lucky katakan terhadap dirinya.


Dia merasa jika Lukas sudah berubah, sikapnya terkesan aneh. Apalagi saat Leandra menyatakan jika Lukas sering bertemu dengan Leandra ketika di negara A, Leonel semakin curiga.


Begitu pula saat Leandra berkata jika pacar Lukas tinggal di apartemen yang sama dengan Leandra, Leonel semakin resah dibuatnya.


Setahunya Lukas tidak pernah berpacaran, dia selalu berlata jika pacaran itu tidak perlu. Dia akan menikah ketika sang ayah memilihkan wanita untuk dia nikahi, karena perempuan yang dia cintai tidak mau menerima dirinya.


Begitupun saat dia melihat reaksi dari Leandra, rasanya Lukas menyimpan rahasia besar dari dirinya. Itulah yang Leonel rasakan.


'Ada apa ini? Apa yang sebenarnya dirahasiakan oleh Lukas?' tanya Leonel dalam hati.


Leonel masih terdiam seraya memperhatikan apa yang Lukas lakukan kepada Leandra, dia melihat jika Lukas meremat tangan Leandra dengan begitu kencang. Bahkan, Leandra terlihat meringis menahan sakit.


Namun, dia masih terdiam karena ingin tahu dengan apa yang akan mereka berdua lakukan. Tidak lama kemudian Leandra nampak melepaskan diri dari rangkulan Lukas.


Dia terlihat memaksakan untuk tersenyum kepada Leonel, lalu gadis nakal yang saat ini sedang ketakutan itu langsung bersuara.


"Tuan, kalau anda mau berbicara dengan sahabat anda silakan saja. Aku mau menunggu anda di meja yang ada di dekat pintu masuk saja," ucap Leandra.


Selain dia memiliki janji temu dengan Lana dan juga Lingga, Leandra merasa tidak nyaman jika harus berada di antara Leonel dan juga Lukas.


Terlebih lagi Lukas memandang dirinya seakan ingin menguliti tubuhnya, hal itu membuat Leandra merasa tidak nyaman.


Padahal, dirinya hanya ingin berkata dengan jujur saja. Bahwa benar adanya jika dirinya memang sering bertemu ketika di negara A dengan Lukas, karena Lukas hampir setiap malam menginap di apartemen pacarnya.


"Tapi, Leandra. Aku tidak bisa membiarkan kamu sendirian, aku sudah berjanji pada ayahmu akan selalu menjagamu."


Leandra ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, karena kini dia bisa bersama dengan Leonel bukan karena Leonel yang bertanggung jawab untuk menjaga dirinya.


Namun, karena Leonel yang meminta dirinya untuk menjaga pria itu. Pria dingin yang katanya butuh pertanggungjawaban dari dirinya.


"Terbalik, Tuan. Bukannya aku yang harusnya menjaga kamu? Tapi, karena anda sudah sangat pbaik-baik saja, jadi aku akan menunggu anda di meja sana saja. Lagi pula Lana dan juga Lingga sebentar lagi akan datang, boleh, kan, Tuan?" tanya Leandra lagi.


Leonel langsung menghela napas berat ketika mendengar nama Lana dan juga Lingga disebutkan, sudah barang pasti akan ada sesuatu hal yang terjadi jika kedua makhluk yang selalu disebut oleh Leandra sebagai sahabat itu datang menghampiri.


"Kalau begitu pergilah, ajaklah Lucky bersamamu. Agar aku merasa tenang," titah Leonel.

__ADS_1


"Tidak usah, bukankah Anda tahu di dalam tas ini ada apanya?" tanya Leandra seraya mengangkat tas jinjing miliknya. "Lagi pula tuan Lucky berkata jika dia akan makan malam terlebih dahulu, nanti kalau sudah selesai dia akan datang lagi kemari untuk menemani anda," imbuhnya.


Leonel langsung terkekeh ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, apalagi ketika melihat Leandra yang menunjukan tas milik gadis itu. Tentu saja dia sangat ingat jika di dalam tas itu ada alat kejut listrik dan juga sprei cabai.


"Iya iya, aku percaya padamu. Tapi, aku tidak percaya kepada kedua sahabatmu. Berhati-hatilah, jika ada sesuatu hal yang mencurigakan kamu bisa langsung menghampiriku."


Entah kenapa Leonel merasa tidak tenang saat Leandra mau bertemu dengan kedua sahabatnya, terlebih lagi dia sempat melihat tatapan lain dari keduanya.


"Wah! Anda baik sekali, Tuan. Terima kasih," kata Leandra seraya menggelitik dagu Leonel tanpa dia sadar.


Setelah melakukan hal itu, dia langsung meninggalkan Leonel dan juga Lukas yang menatap Leandra dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikanm


Setelah kepergian Leandra, akhirnya Leonel dan juga Lukas nampak duduk di salah satu meja yang memang sudah mereka pesan. Lalu, mereka pun mulai bercerita tentang apa yang selama 2 tahun ini mereka lakukan.


"Kamu tuh keren banget, baru tinggal sebulan di ibu kota tapi kamu sudah bisa memajukan usaha bokap." Leonel memuji sahabatnya seraya menonjok pelan lengan Lukas.


"Kamu lebih keren lagi bisa membangun usaha sendiri tanpa bantuan dari orang lain," kata Lukas seraya mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Hastaga! Dari tadi kamu ngomongin pekerjaan terus, aku sudah sangat haus. Tidak bisakah kamu memesankan minuman untukku?" tanya Leonel kepada sahabatnya tersebut.


Lukas terkekeh karena terlalu asik mengobrol dengan sahabatnya itu, dia sampai lupa jika mereka belum memesan minuman.


Seingatnya sahabatnya itu begitu menyukai kopi hitam, padahal di dunia ini begitu banyak pilihan selain kopi hitam pastinya.


"Ya, kopi hitam dan tidak terlalu manis."


Lukas langsung tertawa ketika Leonel mengatakan kopi hitam, menurutnya kopi hitam itu sangat pait. Lebih enak kopi susu apalagi kalau dicampur creamer.


"Oke, aku pesankan!" jawab Lukas.


Lukas terlihat memanggil pelayan dan memesan kopi untuk Leonel dan juga sahabatnya tersebut, sedangkan Leonel nampak memperhatikan Leandra yang ternyata sedang mengobrol begitu asik dengan Lana dan juga Lingga.


Gadis itu tertawa dengan lepas ketika mengobrol dengan kedua sahabatnya tersebut, entah apa yang sedang mereka bicarakan Leonel tidak bisa mendengarkan.


Karena jarak di antara mereka cukup jauh, tapi satu hal yang Leonel tidak suka. Lana nampak merangkul pundak Leandra, sesekali tangan Lingga juga terlihat mengusap-usap lengan Leandra.


Ingin sekali Leonel menyingkirkan tangan-tangan nakal itu, tapi dia merasa tidak berhak dan hanya bisa menghela napas panjang.


'Seharusnya Lucky sudah datang dan memperhatikan Leandra,' keluhnya dalam hati.

__ADS_1


Tidak lama kemudian kopi yang mereka pesan nampak datang, Leonel terlihat menyesap kopi hitam yang dipesankan oleh Lukas. Begitupun dengan Lukas, dia menikmati kopi latte yang sudah dia pesan.


"Oh iya, Leon. Aku minta maaf karena pada saat istrimu meninggal, aku tidak ada di sini. Aku minta maaf karena aku tidak bisa mendampingimu di saat kamu berduka," ucap Lukas dengan penyesalan yang begitu jelas di wajahnya.


Wajah Leonel terlihat sendu mendengar apa yang dikatakan oleh Lukas, tapi tidak lama kemudian dia nampak tersenyum dan dia pun berkata.


"Tidak apa-apa, santai saja," jawab Leonel.


Saat Lyra membunuh istri tercintanya dan juga calon buah hati mereka, Leonel menutup akses seolah-olah istrinya meninggal karena terjatuh saat sedang berada di dalam kamar mandi.


Dia bahkan menyembunyikan kejadian yang sudah dilakukan oleh Lyra terhadap istrinya, bukan karena dia ingin melindungi wanita tersebut. Namun, karena dia ingin menyiksa Lyra dengan waktu yang sangat lama.


Bagi Leonel, Lyra sudah berani berbuat hal yang membuat dirinya hancur. Tentu saja Leonel juga ingin melihat Lyra hancur secara perlahan dengan caranya.


"Oh ya, Leon. Apakah kamu mengetahui tentang keberadaan Lyra?" tanya Lukas karena Leonel sedari tadi hanya diam saja.


Leonel langsung menolehkan wajahnya dengan dahi yang berkerut dalam ketika Lukas menanyakan mantan kekasihnya tersebut, karena sejak dulu Lukas tidak pernah bertanya tentang hubungannya bersama dengan Lyra.


Menurut Leonel, pertanyaan yang dilontarkan oleh Lukas merupakan hal yang sangat mencurigakan.


Dia bahkan langsung teringat akan apa yang dikatakan oleh Lucky jika dirinya harus berhati-hati terhadap Lukas, karena pria itu memang terlihat berubah.


Leonel jadi merasa jika untuk saat ini dia tidak harua jujur terhadap sahabatnya itu, dia harus lebih waspada.


"Loh, kok tumben nanyain Lyra sama aku? Aku ini adalah pria yang sudah ditinggalkan oleh wanita cantik itu selama 2 tahun, tentu saja kami sudah tidak pernah bertemu. Lalu, kenapa tiba-tiba saat ini kamu bertanya tentang Lyra kepadaku?"


Setelah menanyakan hal itu Leonel menatap wajah Lukas dengan begitu lekat, hal itu membuat pria itu tidak nyaman dan terlihat gugup sekali.


Lukas bahkan dengan cepat menolehkan wajahnya ke arah lain, lalu dia mengusap-ngusap pahanya dengan cukup kencang.


Jika Lukas sudah bersikap seperti itu, Leonel sangat paham jika sahabatnya itu sedang dalam keadaan gugup dan juga panik.


"Lukas, apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Leonel dengan begitu penasaran.


Lukas begitu salah tingkah ketika Leonel bertanya kembali kepada dirinya, untuk sesaat dia terdiam seolah sedang mencari jawaban yang tepat agar sahabatnya itu tidak curiga terhadap dirinya.


Namun, tidak lama kemudian Lukas nampak memaksakan diri untuk tersenyum. Lalu, dia pun mulai bersuara.


"Eh? Anu, itu---"

__ADS_1


__ADS_2