
Cukup lama Leandra memandang dress yang diberikan oleh Leonel, karena rasanya dia tidak mungkin memakai baju dengan model seperti itu.
Jika dia memakai dress tersebut, rasanya dia akan menjadi orang lain. Bukan menjadi dirinya yang selalu berpenampilan tomboy.
Namun, setelah dia mempertimbangkannya, akhirnya dia pun memakai baju yang menurutnya sangat aneh itu.
"Mungkin aku harus mencoba baju ini, siapa tahu aku terlihat lebih cantik." Leandra menurunkan resleting depan dress tersebut dan memakainya.
Setelah selesai memakai dress yang diberikan oleh Leonel, Leandra terlihat melenggak-lenggokan tubuhnya di depan cermin.
Dia terlihat menatap dirinya dengan tatapan aneh, dia seperti melihat seorang wanita yang bukan dirinya. Dia seperti melihat sisi lain dari dirinya.
"Oh, ya ampun. Lenganku kelihatan, ini terlalu seksi. Kakiku juga kelihatan banget, terlalu terbuka." Leandra mengerucutkan bibirnya seraya mencoba menurunkan dress yang dia pakai agar menutupi lututnya, sayangnya tidak bisa.
Leandra terlihat berdecak karena dia merasa tidak suka dengan dress yang dia pakai, apalagi saat melihat lengannya yang terekspos ke mana-mana.
Dia juga terlihat kesal kala melihat belahan di bagian punggungnya yang terlihat begitu rendah, jika seperti itu dia benar-benar merasa banyak bagian tubuhnya yang terekspos.
"Apakah tuan Leonel itu merupakan seorang pria yang sangat messum? Kenapa bisa dia memilihkan baju seperti ini untukku?" tanya Leandra dengan kesal.
Cukup lama dia menatap wajahnya di depan cermin, tidak lama kemudian dia terlihat menatap rambutnya yang diikat secara asal.
Dia nampak tersenyum dengan lebar, karena sepertinya ada hal yang bisa dia lalukan untuk sedikit menutupi bagian tubuhnya yang terekspos itu.
"Sepertinya rambutku harus diurai saja, karena dengan seperti itu bisa menutupi lenganku ini. Aku juga bisa menutupi punggungku, dasar aneh. Bisa-bisanya dia membeli baju yang biasa dipake sama sundel bolong seperti ini!" keluh Leandra.
Setelah mengatakan hal itulah, Leandra nampak membuka ikatan rambutnya. Lalu, dia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.
"Nah! Seperti ini lebih baik," ucap Leandra seraya merapikan rambutnya.
Walaupun dia merasa kecewa karena lengannya ternyata tidak bisa tertutupi oleh rambut, tapi setidaknya itu terlihat lebih baik.
Setelah merasa sudah rapi, Leandra terlihat keluar dari dalam kamar mandi. Dia terlihat mengedarkan pandangannya, ternyata di ruangan tersebut tidak ada siapa pun.
Dia terlihat kebingungan harus melakukan apa, lalu dia terlihat mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja Leonel dan duduk di atas sofa.
__ADS_1
"Sebenarnya kenapa dia mengajakku ke kantor coba, kalau tidak untuk melakukan apa pun? Bukankah dia berkata jika dirinya sedang tidak sehat dan aku harus merawatnya? Lalu, siapa yang harus kurawat kalau dia saja pergi?"
Leandra terlihat menggedikkan kedua bahunya dengan bibir yang mengerucut, setelah dia pikir-pikir ada bagusnya juga Leonel tidak ada di ruangannya, karena dengan seperti itu dia bisa bebas bermain ponsel saja, pikirnya.
"Sudahlah, Leandra. Tidak usah memikirkan pria dewasa yang menyebalkan itu, lebih baik aku bermain ponsel saja."
Leandra mencoba untuk tidak memikirkan hal-hal yang akan membuat otaknya pusing, dia langsung membuka aplikasi pesan chat dan dia pun terlihat berbalas pesan dengan Lana dan juga Lingga.
Cukup lama Leandra bermain dengan ponselnya, sesekali dia akan tersenyum dan sesekali dia akan terlihat marah-marah. Karena dia merasa lucu dan juga kesal dengan pesan yang dikirimkan oleh kedua temannya itu.
"Haish! Mereka itu menyebalkan, tapi mereka adalah sahabatku." Leandra tertawa seraya menggelengkan kepalanya.
Lama berselancar dengan ponselnya membuat dia merasa bosan, tidak lama kemudian Leandra terlihat menatap pintu ruangan tersebut.
Entah kenapa, dia begitu berharap jika pintu itu akan terbuka. Leonel akan datang untuk duduk dan kembali bekerja.
Sayangnya, pintu tersebut tidak juga terbuka. Hal itu membuat Leandra benar-benar merasa kesal dan juga bosan secara bersamaan.
"Oh ya ampun, sebenarnya dia itu ke mana sih? Aku benar-benar bosan, rasanya lebih baik jika dia ada di dalam ruangan ini. Karena dengan seperti itu aku bisa mengerjainya," ucapnya dengan kesal.
"Hastaga, Leandra! Stop berpikiran seperti itu, bukankah karena kejahilanmu yang membuat kamu sengsara sendiri?" keluh Leandra.
Setelah mengatakan hal itu Leandra terlihat mengedarkan pandangannya, dia mencoba mengamati ruangan tersebut.
Di salah satu dinding ruangan tersebut ada sebuah foto yang menunjukkan di mana Leana sedang tertawa begitu lepas, Leonel juga terlihat tersenyum seraya memeluk istrinya dari belakang.
Lalu, Leonel terlihat mengecup pipi istrinya dengan begitu mesra. Leonel dan juga Leana terlihat begitu bahagia, tapi ada satu hal yang membuat pikiran Leandra terganggu.
Dia bahkan terlihat mengernyitkan dahinya, dia bangun dari duduknya dan mengusap bibir Leana yang sedang tersenyum dengan sangat manisnya.
"Ya ampun, senyuman wanita ini terlihat begitu manis. Aku seperti mengenali senyuman ini, senyuman ini tidak begitu asing bagiku. Senyuman ini seperti senyuman milik--"
Leandra tidak berani meneruskan ucapannya, dia malah terlihat menggelengkan kepalanya saat terlintas senyuman siapa yang begitu mirip dengan Leana.
"Ah! Itu rasanya sangat tidak mungkin," ucapnya.
__ADS_1
Kembali Leandra duduk di atas sofa, dia masih memikirkan senyuman Leana dan garis wajahnya yang begitu mirip dengan seseorang yang begitu dia sayang.
"Haish! Stop Leandra, jangan mikir yang aneh-aneh."
Leandra terlihat menghela napas berat, rasa bosan benar-benar melanda dirinya karena tidak ada pekerjaan dan tidak ada orang yang menemaninya di sana.
Pada akhirnya Leandra memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan Leonel, lalu dia terlihat melangkahkan kakinya menuju ruangan Lucky.
Leandra tersenyum kala dia melihat pintu ruangan Lucky yang nampak sedikit terbuka, dia bisa melihat Lucky yang sedang serius dalam bekerja.
Lucky terlihat duduk di kursi kebesarannya seraya berselancar dengan laptop miliknya, pria muda itu terlihat begitu tampan dan juga serius saat melakukan pekerjaannya.
Leandra kembali tersenyum, lalu dia mengetuk pintu ruangan Lucky. Karena sepertinya, menemani Lucky saat bekerja akan terasa lebih baik dari pada sendirian di dalam ruangan Leonel.
"Maaf, Tuan Lucky. Aku sangat bosan, bolehkah aku masuk? Siapa tahu ada hal yang bisa aku bantu," ucap Leandra dengan sopan.
Lucky yang sedang bekerja terlihat menghentikan aktifitasnya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Leandra.
"Maaf, Nona. Bukankah anda sedang mengerjakan tugas dari tuan Leonel?" tanya Lucky.
Leandra langsung mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari Lucky, karena itu adalah pertanyaan yang tidak masuk di akal, pikirnya.
Padahal, Lucky sendiri melihat jika Leonel keluar dari ruangan kerjanya tersebut. Lalu, bagaimana mungkin dia bisa mengerjakan tugas dari Leonel, jika pria itu saja tidak ada di dalam ruangannya?
"Tugas apaan? Dari tadi aku di dalam ruangan tuan-mu itu sendirian saja, aku bosan. Makanya aku ke sini," jawab Leandra.
Mendengar jawaban dari Leandra, Lucky terlihat mengernyitkan dahinya. Karena, seingatnya Leonel tidak jadi pergi.
Dia kembali masuk ke dalam ruangannya dan berkata jika dirinya tidak ingin pergi kemana pun. Dia berkata jika dirinya masih sangat lelah dan harus menyiapkan tenaga untuk bertemu dengan klien siang ini.
Lalu, ke mana perginya tuan-nya itu? Kenapa Leandra berkata jika Leonel tidak berada di dalam ruangannya?
Melihat Lucky yang hanya diam saja, Leandra terlihat masuk ke dalam ruangan tersebut. Lalu, dia menepuk pundak Lucky dengan cukup kencang
"Hastaga! Apa yang anda lakukan?" tanya Lucky dengan begitu kaget, karena memang pria itu sedikit melamun. Makanya dia terlihat sangat kaget saat mendapatkan tepukan di pundaknya.
__ADS_1